
Setelah urusan Rumah Sakit selesai, Kiara dan Agam meluncur ke rumah duka dengan mobil ambulans yang disediakan oleh pihak rumah sakit.
Neta yang pulang terlebih dahulu menyiapkan semua hal yang ada di rumah kakek ditemani oleh Varel dan Nayla.
“Kak…, terimakasih telah menemaniku!” ucap Neta kepada Varel.
“Tidak apa-apa. Kakek Danu enam bulan belakang memang hidup dengan kita jadi kita sangat menyayangi kakek Danu.
“Yang terpenting sekarang hubungilah kerabat terdekat kalian supaya semua perlengkapan di rumah sudah disiapkan,” perintah Varel kepada Neta.
“Baik kakak! Aku akan mencoba menghubungi adik kakek yang tinggal di kompleksa yang sama dengan kakek Danu,” ucap Neta kemudian berusaha menekan ponselnya dn tidak lama kemudian menyampaikan kalau kakek Danu sudah meninggal dunia.
“Nayla, kamu juga hubungi papa Bagas dan nama Sandra. Bagaimanapun mereka juga harus mengetahui hal ini!” Ucap Farel kepada Nayla.
“Sudah kak tadi! Bahkan papa dan mama Sandra sudah berada di lokasi!” ucap Nayla sambil memegangi pegangan tangan yang berada di atas pintu mobil
“Baguslah, kalau papa Bags disan dijamin semua urusan dan pemakaman kakek Danu,” ucap Varel menyakinkan Neta dan Nayla.
“Terimakasih kak! Ternyata mertua Kiara sangat baik,” ucap Neta memuji kebaikan mertua Kiara.
“Kak kita sudah sampai, Itu om Bagas dan mama Sandra sudah berada disana,” ucap Nayla. Setelah mobilnya terhenti mereka langsung menghampiri papa dan mama Sandra.
“Sayang mana Kiara dan Agam?” tanya mama Sandra.
“Mereka berdua pulang bersama ambulan ma. Kiara ingin menemani kakeknya dalam perjalanan. Sebentar lagi juga sampai ma?” ucap Varel untuk menjawab pertanyaan mama Sandra.
“Tuing…, tuingg…,” itu mereka sudah sampai ma!” ucap Nayla tiba-tiba dan seketika itu juga ambulan sampai di halaman rumah kakek Danu yang begitu besar.
Pak Bagas langsung memberi komando kepada anak buahnya untuk menyiapkan sesuai dengan instruksinya. Dan tidak berapa lama perawatan jenazah kakek Danu dilakukan. Setelah semuanya siap semua kerabat dan saudara ikut menyolatkan kakek Danu.
“Semua sudah siap termasuk makamnya. jadi kakek boleh dimakamkan sekarang. Kiara di rumah saja ya ditemani Nayla?” ucap Agam kepada Kiara.
__ADS_1
“Tidak kak. Aku juga ikut ke pemakaman! Aku ingin mengantarkan kakek di peristirahatan terakhirnya,” ucap Kiara memohon.
“Nak Kiara…, kasihan nak kamu sedang hamil, jadi kamu di rumah saja ya mama temani?” mama Sandra juga membujuk Kiara agar menuruti permintaan Agam yang mengkhawatirkan calon bayinya yang masih berada di dalam kandungan.
“Maaf ma, ini amanah kakek kepada kita berdua, aku dan Neta!” ucap Kiara yang akhirnya diizinkan oleh mertuanya karena dikuatkan oleh pernyataan Neta.
“Baiklah terserah kalian. Tapi tetap jaga keselamatan calon cucu mama,’ ucap mama Sandra yang akhirnya ikut menemani menantunya di pemakaman.
Setengah semuanya sampai di pemakaman, pemakaman dilaksanakan dengan sangat lancar dipimpin oleh tokoh masyarakat setempat. Setelah semuanya Kasihannya pergi hanya tersisa kerabatnya dan Kiara untuk mendo’akan kakek Danu.
Di saat terakhir hendak pergi Kiara tiba-tiba kembali ke pemakaman kakeknya dan mengusap batu nisannya seolah-olah ada sesuatu yang hendak disampaikan. Agam pelan-pelan membimbing istrinya untuk berdiri dan mengajaknya pulang. Namun baru setengah berdiri tiba-tiba tubuh Kiara ter huyung hendak jatuh pingsan. Agam langsung dengan sigap menangkapnya kemudian menggendongnya untuk dimasukkan ke dalam mobil mama Sandra.
“Sayang, bangunlah!” Agam memberi bau-bauan di hidung Kiara hingga Kiara tersadar.
“Kakek…, kenapa kakek begitu cepat meninggalkan Kiara?” Kiara mengigau kembali sehingga Agam berusaha menyadarkannya dengan mencium keningnya dan merengkuhnya dalam pelukannya.
“Varel kita jalan, pulang ke rumah kakek!” ucap Agam dan Varel mengemudikan mobilnya dengan pelan menuju rumah duka sementara papa Bagas dan mama Sandra pulang ke rumahnya.
Agam yang begitu perhatian langsung meminta si mbok pengurus rumah untuk membuatkan minuman hangat untuk Kiara.
“Ayo minum dik, aku mohon jagalah kesehatan kamu demi putra kita yang belum lahir,” ucap Agam yang menyuapi Kiara sesendok teh manis hangat buatan simbok pengurus rumah kakek.
“Kak…, kita tinggal di sini dulu ya? Aku tidak mau pulang!” ucap Kiara kepada suaminya.
“Iya tidak apa-apa sayang, aku akan berangkat kerja saari sini. Jarak kantor dari sini juga begitu dekat!” ucap Agam sambil mengecup pipi dan kening Kiara.
“Tok…, tok…,” seseorang mengetuk pintu kamar Kiara.
“Masuk,” ucap Agam memberi kode agar mereka masuk.
“Maaf Gam…, aku pulang dulu sekalian antar Nayla pulang. Mamanya dari tadi telpon meminta putrinya untuk segera dipulangkan. Takut aku buat tekdung kali? Karena mamanya Nayala tahu kalau aku kebelet ingin kawin,” ucap VArel sengfaja membuat Kiara agar merespon perkataannya.
__ADS_1
“Nikah dulu kali kak? Bukan bukan langsung kawin, enak saja temen gue mau dipermainkan!” ucap Kiara tiba-tiba karena berniat membela teman nya.
Varel mengangkat alisnya memberi tanda kepada Agam kalau Kiara sudah baik-baik saja.
“Terimakasih bro! Ingat langsung antar Nayla pulang jangan dibawa kabur lo ya?” ledek Agam kepada temannya.
“Siap bosku, jangan kuatir aku akan selalu menjaganya!” ucap Varel kemudian memeluk bahu Agam sebagai tanda simpatinya karena baru kehilangan kakek Danu.
“Kakak ipar jangan bersedih ya? Nanti malam Nayla akan aku ajak bermalam disini jika mamanya mengizinkan!”ucap Varel pamitan kepada Kiara dan berniat menguatkannya dengan rasa simpatinya.
Naylapun pamitan juga kepada shabatnya. Nayla mencium pipi kanan dan kiri Kiara.
“Ingat Kiara…, kamu harus tegar! Aku yakin kakek akan bahagia di surganya!” ucap Nayla memeluk Kiara.
“Terimaksih Nay! Kamu memang sahabat terbaik!” ucap Kiara yang merespon kebikan Nayla.
“Tidak apa Nay…, nanti Kiara aku temani! Jadi kalau kamu malam ini tidak bisa datang tidak masalah,” ucap Neta tiba-tiba menyelinap masuk ke kamar Kiara.
“Neta…? Mesti ya kamu suka nyelonong ke kamar aku! Ingat jangan seperti itu lagi? Sekarang aku ada suami aku!” ucap Kiara lirih!
“Ok…, Ok…, aku minta maaf! Maafkan aku ya kak Agam!” ucap Nayla memohon ambil menelungkupkan kedua tangannya menunjukan kalau dia memohon maaf.
“Iya…, tidak apa! untuk sementara kamu temani Kiara dulu ya? Aku mau membuat catatan untuk pembantuku yang ada di rumah untuk mengambilkan beberapa perlengkapan dan peralatan untuk beberapa hari di sini!” ucap Agam yang sengaja diperuntukan untuk Neta agar mereka dekat kembali setelah sekian tahun baru bertemu.
“Baik kak!” aku akan menjaganya.
“Kak…, aku tidak mau kakak pergi, aku ingin kakak tetap di sini menemani aku,” ucap Kiara manja.
“Baiklah! Varel kamu langsung minta saja ya ke simbok untuk perlengkapan kita selama seminggu ke depan!” ucap Agam kepada Varel.
Varel pun yang mengerti keadaan langsung pergi dan menghemat waktunya karena harus mampir ke Nayla, apartemennya dan ke rumah Agam.
__ADS_1
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?