
Varel yang mengenal Nayla berusaha mendekatinya meskipun dirinya seolah-olah terkesan jutek sama Nayla. Setelah mengantar Nayla menjemput orang tuanya ke bandara Varel pun berusaha mengenal baik keluarga Nayla.
Sementara itu Kiara yang sudah berada di rumah diperlakukan dengan baik oleh mama Sandra. Bahkan mama Sandra sangat menyayanginya melebihi putranya.
“Kiara sini nak! Mama ingin mengatakan sesuatu kepadamu! Mama berharap kamu kedepannya bisa menjadi istri yang baik untuk suamimu!” ucap mama Sandra kepada Kiara ketika mereka berada di ruang keluarga.
“Iya Ma, sebentar,” Kiara langsung mendekati mama Sandra dan duduk di dekatnya.
“Ini ada catatan Mama tentang Agam. Semua hal yang berhubungan dengan Agam sudah saya catatkan disini! Kamu harus bisa menerapkan semua hal yang ada di sini agar Agam semakin menyayangi!” ucap mama Sadra kepada menantunya.
“Ma…, aku belum siap ma! Maaf ma sepertinya aku belum bisa sepenuhnya menjalankan kewajibanku sebagai istri. Apalagi itu ma…, melayani kak Agam begituan, aku masih ingin sekolah dan melanjutkan ke perguruan tinggi!” ucap Kiara sambil membaca catatan-catatan yang diberikan oleh mama Sandra sambil terus menundukan kepalanya tidak berani menatap wajah mama Sandra.
Namun mama Sandra yang pengertian, mengusap-usap kepala Kiara dengan penuh kasih sayang. Mama Sandra sama sekali tidak keberatan dengan pernyataan Kiara. Justru mama Sandra memaklumi Kiara yang memang masih sekolah dan jaraknya terpaut 5 tahun dengan putranya.
“Tidak apa nak! Meskipun mama dan papa ingin segera memiliki cucu tapi juga tidak memaksa. Yang itu nunggu kesiapan kamu saja! Kamu penuhilah kebutuhan suamimu yang lain dulu! Mama yakin Agam akan memakluminya. Agam putra mama itu anak baik, pengertian dan tahu situasi dan kondisi,” ucap mama Sandra tanpa menyinggung perasaan Kiara.
“Terimakasih ma! Mama benar-benar mertua yang baik. Tapi aku belum bisa menjadi menantu dan istri yang baik untuk keluarga ini!” ucap Kiara sambil menahan nafasnya.
“Tidak apa nak! Mama yakin suatu saat kamu pasti akan mengerti hak dan kewajiban menjadi seorang istri,” ucap mama Sandra. Disaat mereka berdua sedang ngobrol asyik tiba-tiba Agam datang. Agam dengan berbisik manja meminta izin mamanya untuk membawa Kiara jalan-jalan di taman belakang.
Mama Sandra yang mengerti keinginan putranya menganggukan kepalanya sebagai tanda menyetujui permintaan putranya.
“Sayang…, ayo kita ke taman belakang. Kita jalan-jalan sambil menikmati keindahan sore hari di sekitar kolam renang!” ucap Agam dengan spontan menarik tangan Kiara.
“Ma…, Kiara ke belakang dulu!” ucap Kiara sambil mengikuti langkah suaminya.
__ADS_1
Agam kemudian mengajak Kiara berjalan di sekitar kolam renang. Agam dengan sengaja membawa Kiara masuk ke dalam suatu ruangan khusus yang di sekitar kolam renang.
“Kakak! Ini ruang apa?” tanya Kiara yang tidak mengerti juga apa yang diinginkan oleh Agam hingga membawanya ke ruangan tersebut.
“Ayolah, kamu lihat dulu baru komentar,” ucap Agam dan terus membimbing Kiara masuk ke dalam ruangan yang ternyata sebuah studio yang berisi banyak lukisan. Kiara sangat tertarik dengan lukisan gadis cantik yang duduk di atas batu pinggir sungai.
Kiara menghela nafasnya seolah mengenal lukisan tersebut.
“Kak! Bukankah ini lukisan aku?” ucap Kiara sambil mendelik menatap Agam.
“Iya sayang, memangnya kenapa kalau itu lukisan kamu?” tanya Agam yang mengajaknya mendekati lukisan tersebut.
“Bagus sih kak! Aku suka, cuman lukisannya tidak secantik yang punya,” goda Kiara yang sengaja menguji keprofesionalan suaminya dalam melukis.
“Sayang…, aku rasa tidak ada yang berbeda dari semua bagian yang ada diwajah kamu hanya saja bagian ini yang sangat terasa sensasinya!” ucap Agam sambil tersenyum geli melihat Kiara yang wajahnya kemerah-merahan.
“Kak Agam, jangan begitu aku malu!” ucap Kiara yang menutup mukanya dengan kedua belah telapak tangannya.
“Iya sayang…, malu tapi mau ya?” goda Agam sehingga membuat Kiara gemas dan langsung mencubit pinggang Agam. Agam yang mendapatkan cubitan dari Kiara secara spontan langsung berusaha menghindarinya namun sayang kakinya tidak sengaja menyandung bi bola yang ada di depannya hingga Agam terhuyung menabrak tubuh Kiara yang ada di depannya.
Kiara yang berdiri di depannya berusaha sekuat tenaga menahannya hingga menyenggol bahunya yang terluka.
“Au…, Au…, sakit kak!” ucap Kiara yang manja padahal lukanya sudah mulai mengering.
“Mana sayang, yang sakit?”Agam langsung membuka kancing atas hem Kiara dan memeriksanya yang tanpa sadar Agam sudah melihat bagian dalam tubuh Kiara. Agam beberapa kali menelan salivanya karena tubuhnya seolah bergetar hebat melihat sesuatu milik Kiara.
__ADS_1
“Kakak…, apa an sih kak!” ucap Kiara yang sadar mendapat perlakuan seperti itu dari Agam langsung menarik tubuhnya menjauh dari Agam. Agam yang belum tersadar tidak melepaskannya hingga akhirnya kancing baju atasan Kiara lepas dan memperlihatkan semua isinya.
“Sayang…, maafkan kakak ya? Kakak tidak akan memintanya sekarang selama kamu belum siap!” bisik Agam di telinga Kiara sambil membetulkan baju Kiara kembali. Kiara nampak ketakutan, tapi begitu dilihatnya Agam sangat tenang, Kiara hanya diam dan tidak bereaksi apapun.
“Terimakasih kak! Kakak memang suami yang baik dan pengertian,” ucap Kiara tiba-tiba dan langsung mencium pipi Agam.
“Wah…, kamu semakin pandai ya sayang? Boleh dong sekali lagi?” goda Agam yang memajukan wajahnya dekat bibir Kiara.
Kiara pun seperti anak kecil menurut apa yang disampaikan oleh Agam sehingga satu ciuman lagi mendarat di pipi Agam. Agam yang senang tersenyum ceria kemudian mengajak Kiara untuk berkeliling melihat lukisannya.
“Kakak ini semua karya kakak ya?” ucapnya yang mengagumi banyak lukisan yang dipajang Agam.
“Iya sayang…, cuman aku tidak bisa mendalami karyaku dengan baik karena aku harus memimpin perusahan papa yang tidak aku sukai. Aku sebenarnya lebih suka bekerja sebagai seniman. Bisa ketemu model cantik sayang?” ucapnya sekenanya bermaksud menceritakan masalahnya kepada Kiara.
“Plak... Model cantik? Kakak asal bisa bagi waktu, aku rasa dua-duanya bisa dilakukan! Aku juga mau dong menjadi asisten kakak sekalian belajar,” ucap Kiara sambil tangannya bergelayut manja ke lengan Agam.
“Betul nih nyonya Agam . Aku tunggu ya, kamu harus menemani aku?”ucap Agam kepada istrinya.
“Ya iyalah…, masa iya aku ada tampang pembohong?” tanya Kiara yang terus berjalan disamping Agam.
“Iya tapi kakak takut sama papa sayang? Papa minta aku fokus sama satu pekerjaan yaitu mengurus perusahaan!” ucap Agam yang memang menyembunyikan dirinya yang sebenarnya dia kabur dari rumah untuk meneruskan perusahaan papanya.
“Tak apa kak! Kita nanti kerjakan sama-sama dan aku yakin papa pasti senang!” ucap Kiara bergelayut manja menuju ke tampat pajangan berikutnya
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Semakin seru ya?
__ADS_1