
Check Up Kandungan
Mama Sandra sudah siap di rumah Kiara, mereka hendak pergi ke rumah sakit check up kandungan Kiara. Nayla pun juga sudah siap di tempat Kiara.
“ Ayo Sayang, Kamu duduk di depan aja bersama dengan Nayla. Biar Nayla yang menyetir mobilnya! Mama duduk di belakang saja!” ucap mama Sandra kepada menantunya.
“Siap ma!” Kiara masuk kedalam mobil bagian depan disamping Nayla.
Mereka melajukan kendaraannya dengan pelan membelah jalan raya yang beraspal. Nayla sesekali memperhatikan jalan raya dengan tegang. Dan kebetulan ada rombongan moge lewat berlawanan dengan nya. Mereka memakai jalan raya dengan sangat arogan hingga Nayla meminggirkan kendaraan takut kalau mereka berbuat Anarki.
“Kiara bukankah itu Indri?” tanya Nayla tiba-tiba ketika melihat Indri ngamen di jalanan.
“Eh…, iya betul! Astaga kelihatannya perekonomiannya berantakan sekali. Pasti papanya sudah tidak mau menghidupi dia dan mamanya kembali?’ ucap Kiara sambil menghela nafasnya.
“Eh…, iya bukankah itu si Indri biang kerok di sekolah kita. Kasihan sekali nasibnya, kalau mau di boleh kok bekerja di yayasan kita,?” ucap mama Sandra penuh simpati melihat keberadaan Indri yang hidup terlunta-lunta.
“Iya ma! Tapi kita periksa kandungan dulu, nanti setelah selesai kita temui Indri!” ucap Kiara kemudian mengajak Nayla meneruskan perjalanan. Mereka sengaja tidak menyapa Indri dulu takutnya nanti Indri malu.
“Baiklah! Ayo Nay…, terus jalan!” ucap mama Sandra memberi perintah.
“Baik tante,” Begitulah Nayla sekarang juga jadi dekat dengan mama Sandra.
Setelah beberapa menit mereka sampai di rumah sakit. Kiara dan Nayla berjalan berdampingan sedangkan mama Sandra berada di belakang mereka.
“Nay…, kita kesana! Disanalah lorong pemeriksaan ibu hamil!” ucap Kiara yang langsung menarik tangan Nayla yang salah belok.
“Iya! Maaf gak pernah kesini!” ucap Nayla pasrah.
“Ini dia! Ayo tolong kamu ambilkan nomor antriannya!” ucap Kiara langsung duduk di bangku antrian pasien.
“Maaf nyonya Kiara ya?” tanya perawat yang jaga di depan ruang pemeriksaan.
“Iya!” jawab Nayla.
“Tadi suaminya sudah ambil antrian, dan sebentar lagi setelah pasien ini nyonya Kiara bisa masuk!” ucap perawat tersebut memberi arahan.
__ADS_1
“Baik, terimakasih!” ucap Nayla menjelaskan kepada Kiara.
“Kiara…, kak Agam sudah mengambilkan nomor antrian dan sebentar lagi kamu boleh masuk!”ucap Nayla kepada Kiara sahabatnya.
“Baiklah!” ucap Kiara sambil celingukan mencari suaminya.
“Kamu ngapain nak!” tanya mama Sandra yang tahu kalau menantunya kelihatan gelisah mencari seseorang.
“Cari kak Agam ma! Katanya tadi ambil antrian untuk aku!” ucap Kiara hingga akhirnya pandangannya terhenti dengan sesosok laki-laki yang dia kenal sedang telepon.
“Astaga! Itu kak Agam!” Kiara sambil melambaikan tangannya membalas Agam yang sedang telpon di pojokan depan ruang pemeriksaan kira-kira 4 meter darinya. Agam langsung menghampirinya dan mencium kening istrinya.
“Kejutan!” kata Agam terus duduk di samping istrrinya.
“Lo bukannya kakak ada rapat penting?” tanya Kiara penasaaran kepada suaminya.
“Rapat sudah selesai sayang, dan aku langsung meluncur ke sini!Eh…, tak tahunya kamu belum samapai. Ya sudah aku daftarkan saja kamu!” ucap Agam yang tak henti-hentinya dia memegangi tangan Kiara hingga membuat para bumil yang lain iri memandanganya.
“Wah…, ini pasti kehamilan pertama ya?” ucap salah satu bumil tiba-tiba karena iri memandang kemesraaan mereka.
“I..ya, ibu ini kehamilan istri saya yang pertama!” ucap Agam sopan sambil menundukan wajahnya.
“Hem…, tidak bu! Mudah-mudahan saya tetap amanah bisa menjaga istri dan anak-anak saya dengan baik!” ucap Agam sopan sambil menarik tangan istrinya untuk ditaruh di dadanya hingga membuat ibu-ibu tersebut bersungut-sungut karena iri melihat mereka semakin mesra.
“Alhamdulilah kalau begitu!” ucapnya semakin sewot. Sementara itu Nayla yang gemas hendak mendamprat ibu-ibu tersebut tapi dilarang oleh mama Sandra.
“Tidak usah!” ucapnya sambil memberi kode kepada Nayla.
“Baik tante!” ucap Nayla nurut.
“Nyonya Kiara!” perawat memanggil Kiara untuk masuk.
“Ayo sayang…, Agam membimbing istrinya untuk berdiri kemudian menuntunnya masuk ke dalam. Ibu-ibu yang iri sama Kiara tiba-tiba menjulurkan kakinya menjegal Kiara hingga Kiara hendak terjatuh untung dengan sigap Agam menarik Kiara dalam pelukannya hingga tidak sampai terjatuh.
“Maaf ibu? Anda juga hamil kalau hal itu terjadi sama anda bagaimana? untung istri saya tidak jatuh!” ucap Agama berlalu meninggalkan ibu-ibu tadi yang kena marah oleh bumil yang lainnya.
__ADS_1
“Maaf!” ucapnya lirih setelah diomelin oleh ibu-ibu muda di sebelahnya.
Agam sudah berada di dalam bersama Kiara kemudian Kiara disuruh berbaring untuk dilakukan pemeriksaan. Agam nampak senang ketika melihat bayinya yang berada di monitor bergerak-gerak.
“Sayang putra kita sudah bisa bergerak, aku yakin ini pasti cowok!” ucap Agam penuh percaya diri.
“Iya! Ini juga menendang-nendang perut mamanya!” ucap Kiara senang.
“Astaga sayang?” anak kita serasa main bola di dalam kandungan kamu.
“Kamu terlalu lebay sayang?” ucap Kiara lucu sambil melirik monitor di sampingnya.
“Pak untuk kandungan ibu Kiara dan bayinya bisa dikatakan baik-baik saja! Jadi kalau mau ke luar negeri itu tidak masalah yang terpenting nyaman dan vitamin serta makan makanan yang bergizi jangan ketinggalan.
“Baik bu!” ucap Kiara semangat.
“Dan satu lagi untuk begituan jangan terlalu sering dan tolong cari gaya yang tidak berbahaya untuk calon bayinya,” ucap dokter kandungan memberi pengarahan.
“Tuh kan sayang, dengarkan kata dokternya!” ucap Kiara memberi nasehat suaminya.
“Iya…, aku kan melakukannya dengan pelan sayang!” ucap Agam tidak mau kalah dengan istrinya hingga dokter pun tersenyum melihat tingkah mereka.
“Pak Agam, ini resepnya! Jangan lupa dibeli dan diminum rutin ya?” ucap sang dokter sambil memberikan resepnya untuk Agam.
“Baik bu! Terimakasih!” Agam dan Kiara keluar dari ruang pemeriksaan.
“Ayo ma, kita pulang!” ajak Kiara kepada mereka berdua.
“Resepnya bagaimana sayang?” tanya Kiara begitu sadar kalau tadi ada resep khusus untuk dirinya.
Sayang…, resep obatnya bagaimana?” tanya Kiara kepada Agam yang masih berdiri di sampingnya.
“Kamu tenang saja! Aku yang akan membeli obatnya! Pulanglah duluan janganlah kau terlalu capek!” ucap Agam sopan dan mengecup kening istrinya kembali.
“Baiklah!” ucap Kiara hendak berjalan menuju parkiran namun tiba-tiba Agam mengambil kursi roda dan mendorong istrinya untuk diantaranya sampai di parkiran. Begitu selesai mengantar istrinya Agam kembali lagi ke dalam untuk membeli obat di apotik.
__ADS_1
Nayla dengan cekatan mengemudikan mobilnya hingga akhirnya sampai dimana tadi melihat Indri namun kali ini Indri tidak ada di tempatnya seperti tadi pagi. Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk kembali ke rumah.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?