
Hari ini ini meeting bersama klien yang Agam lakukan sudah selesai. Agam kembali ke Villa nya untuk melihat sang kakek. Sementara itu kesehatan kakek sudah mulai membaik, bahkan kakek sudah nampak pulih kembali seperti sedia kala. Rencana Agam hari ini hanya ingin pamitan kepada kakeknya untuk kembali ke kotanya. Agam mengetuk pintu kamar kakek dan dan tidak lama kemudian dibukakan oleh kakek sendiri.
“ Ada apa ya nak Agam?” tanya kakek kamu. mu
“ Apakah saya boleh masuk kek?” tanya Agam yang sudah berada di depan pintu kamar kakek.
“Tentulah nak! Ini juga Villa kamu bahkan kakek disini hanya numpang saja!” jawab kakek Danu malu.
“Bukan kek saya di sini juga numpang. Kek…, aku besok akan pulang ke kota kita, Apakah kakek mau ikut dengan kami atau tetap tinggal di sini?” tanya Agam tiba-tiba.
“Nak Agam, Apakah boleh kakek tetap tinggal di sini saja?”tanya kakek Danu.
“Boleh kek, aku juga sudah izin ke atasan aku. Dan mereka mengizinkannya,”ucap Agam yang masih merahasiakan tentang jati dirinya.
“Terimakasih ya nak!Kamu begitu baik dan tulus. Padahal selama kamu menjadi cucu menantu aku cucuku telah menyakitimu!”ucap kakek Danu sambil mendesah nafasnya karena waktu itu dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya.
“Sudahlah kek aku tidak ingin mengingatnya! O…, iya kek, selama kakek tinggal di sini dan membutuh sesuatu Kakek bisa menghubungi mbok Mien,” ucap Agam serius kemudian langsung mencium tangan kakek untuk berpamitan.
Tidak berapa lama kemudian Agam sudah berada di teras bersama Varel. Mbok Min juga berada di teras untuk mengantar koper yang dibawa oleh Agam.
“ Mbok Min jangan lupa kamu perhatikan kakek Danu dengan serius. Dan tolong rawat kakek dengan baik,” perintah Agam kepada Mbok Min.
Setelah semua barangnya masuk di dalam mobil, mereka bersiap diri untuk berangkat. Varel seperti biasa yang memegang kemudinya.
“Agam, kamu serius mau menolong kakek Danu?”ucap Varel kembali karena dirinya masih mencemaskan keselamatan Agam atasannya. Varel sagat takut kalau terjadi apa-apa denganAgam.
“Salah bro, kamu jangan mencemaskan diriku! Yakinlah niat baik kita pasti akan diselamatkan oleh Allah,” ucap Agam santai seolah-olah dirinya tidak terjadi apa-apa.
Setelah beberapa jam melakukan perjalanan Agam dan Varel sampai di rumah. Mama Sandra sangat gembira karena putranya mau pertama kali terjun di bisnis meskipun belum sepenuhnya. Dan yang lebih menyenangkan lagi bagi Mama Sandra adalah kemahiran Agam dalam melakukan presentasi dengan klien hingga mereka mau bekerjasama dengan perusahaannya.
“Benar-benar anak keturunan Papa dan Mama, kamu memang anak berbakat sehingga apapun pekerjaannya kamu bisa menyelesaikannya dengan baik,” puji mama Sandra Sewaktu mereka ngobrol di di ruang keluarga.
“Betul tante! Ternyata Agam punya bakat terpendam. Waktu diskusi dengan klien, semua klien yang hadir langsung closing dengan apa yang dipresentasi oleh Agam,” ucap Varel sambil mengcungkan jempolnya.
“Ya…, tante senang nak ternyata Agam bisa memenuhi harapan papanya! Dan terimaksaih nak Varel kamu memang temen yang baik untuk Agam karena bisa membawanya pulang ke rumah dihadapan mamasetelah beberapa bulan menghilang,” ucap mama Sand ra sambil menepuk bahu Varel.
“Sebenarnya Agam pulang atas kemauan sendiri tante karena Agam...?” ucap Varel berusaha membongkar rahasia Agam namun tidak bisa dilanjutkan karena tiba-tiba Agam sudah membungkam mulutnya dengan telapak tangannya.
“Karena Kiara kah?” tanya mamanya sambil tersenyum simpul karena sesungguhnya mamanya sudah mengetahuinya melalui informannya. Mama Sandra memang jago kalau urusan menjadi detektif putranya. Muka Agam tampak memerah karena menahan malu.
“Kiara? Kiara siapa ma?” tanyanya pura-pura tidak taahu.
“Itu…, tuh Kiara si kucing cantik yang suka berkeliaran di depan ruang kantor kamu,” jawab mama Sandra yang sengaja memancing Agam agar berterus terang.
“Kucing…? Mana ada di sekolah tante ada kucing?” tanya Varel yang juga dengan sengaja berusaha mencari tahu tentang kucing yang dimaksud oleh Mama Sandra.
__ADS_1
“Ada Varel, kucingnya kucing spesial dan terlihat manis dan banyak orang yang mengincarnya!”Jawab Mama Sandra.
“ Pantas saja Agam nampak betah tinggal di sekolah situ! Aku jadi penasaran. Tante, bolehkah aku mengajar di situ juga?”Farel yang sengaja bekerjasama dengan tante untuk mengetahui isi hati Agam.
Namun Agam nampak terdiam tanpa sedikit pun mengatakan sesuatu. Dan tidak lama kemudian papa Bagaas pulang dari kantor dan ikut bergabung dengan mereka.
“Wih…, anak kesayangan papa sudah ulang.” ucap Papa Bagas senang.
“Iya pak Alhamdulilah meeting berjalan lancar sehingga aku bisa pulang cepat dari waktu yang telah ditentukan!”jawab Agam yang langsung mencium punggung tangan papanya.
“Apa papa sudah makan siang?” tanya mama Sandra.
“Belum ma, tadi papa tidak sempat!”
“Ya sudah, Mari pa, kita makan siang bersama, aku lihat kalian cukup lapar. Sekalian kita rayakan keberhasilan putra kita dalam memenangkan tender dengan clien. Dan aku rasa ini sebagai awa yang baik!” ucap mama Sandra dengan penuh gembira dan berharap bisa menjembatani papa dan putranya untuk berdamai.
“Benarkah?” tanya papa yang masih meragukan putranya.
“Iya om…, Agam ternyata jago berbisnis!” ucap Varel memberi penjelasan.
“Selamat ya nak! Semoga kelak kamu bisa menjadi pengusaha dan ceo yang baik untuk usaha kamu!” ucap papa Bagas sambil memeluk putranya. Mama Sandra nampak senang melihat kedekatan putra dan papanya kembali.
“Terimakasih pa, maafkan aku selama ini. Aku yang terlalu sibuk di duniaku tanpa memperdulikan keinginan papa?” ucap Agam yang membalas pelukan papanya dengan penuh kasih sayang.
“Satu lagi pa kita kayaknya harus berterimakasih sama Kiara dech!” ucap mamanya keceplosan.
“Jangan hiraukan mama pa? Ayo kita makan saja nanti masakan mama keburu dingin!” ucap Agam berusa mengalihkan perhatian. Tapi papa justru tertawa riang mendengar perkataan putranya. Papa seakan tahu kalau putranya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
“Kelihatannya kita akan segera dapat mantu pa?” ledek mamanya hingga Agam tidak bisa berucap sama sekali. Agam berpikir pasti kedua orangtuanya akan shock kalau tahu bahwa dirinya sudah menikah.
“Kayaknya begitu dech tante? Tante kelihatannya akan segera meminang cucu tuh? Agam kan sudah…,” Varel langsung menghentikan perkataan tatkala Agam memberi isyarat kepada Varel dengan mengedipkan matanya.
“Sudah apa nak?” tanya mama penasaran.
“Sudah ngebet kawin tante,”jawab Varel mengalihkan pembicaraannya.
“Baguslah memang sudah waktunya, kamu pun juga harus segera menikah nak Varel?” perintah mama Sandra yang menganggap Varel seperti putranya sendiri. Mereka memperlakukan Varel sama dengan Agam karena memang sejak kecil selalu bersama mulai sejak sekolah. Bahkan mama Sandra kalau membelikan
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Bagaimana kisah selanjutnya ya?
__ADS_1
__ADS_1