
Setelah pulang dari kampus, Kiara menginginkan rujak jambu kristal yang berada di dekat alun-alun. Agam harus memutar kembali untuk pergi ke alun-alun karena sudah terlanjur berada di depan kompleks rumahnya. Agam menghela nafasnya dalam-dalam. Agam berusaha membujuk istrinya.
“Sayang, kamu jangan aneh-aneh deh. Jam segini yang jual rujak jambu kristal sudah pulang sayang?” ucap Agam.
“Iya…, tidak apa. Kita lihat dulu!Lidah aku sudah sangat gemetar ingin mencicipinya. Apa kamu ingin anak kita nanti ileran?” ucap Kiara merayu suaminya.
“Tidaklah sayang…. Masa iya sih Papa dan Mamanya cakep, anaknya ileran?” Agam kemudian putar balik mengarahkan mobilnya menuju alun-alun.
Sesaat kemudian mereka sudah berada di sekitar alun-alun. Rujak jambu Kristal yang diinginkan Kiara sudah tidak ada. “Sayang yang jual rujak jambu Kristal sudah pulang. Kita cari yang lain saja ya?” ucap Agam berusaha membujuk istrinya.
“Terserh kakak saja!” ucapnya kemudian tiba-tiba dia mengajak suaminya berhenti di pinggir jalan. Agam dengan cekatan menepikan mobilnya kemudian membuka pintu mobil Kiara. Kiara yang seperti anak kecil tiba-tiba turun dari mobil dan menghampiri pak tua penjual es krim dengan variasi es rujak serut.
“Sayang, ini apa?” tanya Agam yang tidak mengerti dan sangat risih melihat tingkah laku istrinya yang jajan sembarangan di pinggir jalan. Agam yang memakai setelan jas menjadi pusat perhatian semua orang. Kiara semakin menjadi-jadi dengan memanggil semua orang yang lewat untuk makan rujak bersamanya.
“Bapak…, ibu dan adik-adik yang berada di sekitar sini, ayo makan es krim dengan variasi es rujak serut bersama aku. Semuanya boleh kesini dan aku yang bayar! Hari ini suami aku mendapat rezeki lebih!” ucap Kiara sambil terus menikmati es krim rujak serutnya.
“Sayang…, kamu ini ya! Aku malu makan di pinggir jalan!” ucap Agam lirih.
“Ngapain mesti malu? Apa kamu mencuri? Tidak kan?” ucap Kiara sambil terus menyuapi suaminya es krim rujak serut.
“Hem…, enak sekali kan?” ucap Kiara dengan terus menyuapi suaminya dan dirinya secara bergantian.
“Pak…, tolong buatkan satu lagi untuk aku ya?” ucap Agam yang ternyata sangat menikmati es kriem rujak serut pak tua tersebut.
“Sayang…, bagaimana enak kan?” tanya Kiara begitu melihat suaminya sudah memegang es krim rujak di tangannya.
__ADS_1
“Iya…, sayang. Ini enak dan segar sekali dimakan waktu panas-panas begini!” ucap Agam yang terus menyendok es krimnya.
“Astaga…, kamu kok belepotan to sayang?” Kiara mengusap es krim di sudut bibir suaminya. Merekan berdua menikmati makan rujaknya di bangku taman alun-alun dan dalam sekejap dagangan pak tua bersih oleh mereka dan beberapa pengunjung yang lainnya.
“Kak…, ayo bayar! Pak tua sudah mau pulang, kasihan di rumah pasti istrinya sudah menunggunya!”
“Ini pak!” Agam memberikan uang 2 juta untuk pak tua tersebut.
“Terimakasih anak muda, tapi maaf ini kelebihan!” pak tua penjual es krim rujak serut mengembalikan separuh dari uang tersebut kepada Agam.
“Tidak pak! Ini uang untuk bapak karena bapak hari ini membuat istri dan calon anak aku senang!” ucap Agam yang mengembalikan uluran tangan pak tua tersebut.
“Terimakasih anak muda. Mudah-mudahan putranya kelak lahir sehat dan menjadi anak yang sholeh!” ucap pak tua tersebut mendo’akan calon putranya.
“Sayang…, ayo pulang!” Agam menggandeng istrinya untuk masuk ke dalam mobil.
Sebelum mobil melaju kembali di atas jalanan beraspal tiba-tiba Kiara menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Agam yang mengusap-usap pipi Kiara dengan tangannya.
“Kak…, aku sebenarnya dapat tugas dari kampus untuk penggalangan dana Diez Natalis kampus. Kakak sayang kan sama istri kakak?” ucap Kiara tiba-tiba.
“Iyalah sayang. Tentulah aku sayang sama kamu! Sudahlah kamu jangan mutar-mutar nanti kita bicarakan di rumah. Kakak akan berikan dana untuk kegiatan kampusmu 20 juta!” ucap Agam kepada istrinya kemudian pelan-pelan mencium kening istrinya.
“Benar nich kak!” ucap Kiara matanya berbinar memandang ke arah suaminya hingga mereka saling tatap dan dengan cekatan Agam menelungkupkan tangan nya pada dagu Kiara dan mencium bibir Kiara yang mungil hingga Kiara hampir kehabisan nafas karena ulah suaminya.
__ADS_1
Agam pun melepaskan ciumannya kemudian membisikan sesuatu ke telinga istrinya.
“Sayang…, aku masih menginginkannya lagi!” ucapnya genit sambil mengerlingkan matanya dengan nakal.
“Ih…, kak aku capek!” ucap Kiara lesu.
“Nanti aku pijitin. Dijamin capek-capek nya hilang sayang?” ucap Agam yang kemudian menyalakan mobilnya dan kembali ke rumah mereka.
Setelah sampai di rumah Agam membukakan pintu mobil untuk istrinya kemudian menggendongnya menuju ke rumah yang sudah dibukakan oleh asisten rumah tangga mereka.
“Sayang…, malu dilihat si mbok!” ucap Kiara manja sambil menggelayut kan tangannya di leher suaminya yang semakin membuat Agam ingin memakannya hingga tuntas. Agam terus membawa istrinya masuk ke kamar kemudian membuka dan menutupnya kembali pintu kamarnya. Agam dengan pelan merebahkan istrinya di ranjangnya. Agam dengan lembut duduk disamping istrinya membuka sepatu dan kemudian memijat kaki istrinya dengan lembut. Pelan namun pasti Agam terus memijat kaki istrinya namun lama-lama gerakannya menjadi eksotik sehingga mereka berdua tidak bisa membendung hasratnya kembali.
“Sayang, kamu benar-benar nakal ya? Ini namanya bukan pijatan sayang?” bisik Kiara lembut di samping telinga suaminya sambil menggelayut kan tangannya di leher suaminya dan sesekali mencium telinga suaminya.
“Sayang…, yang nakal kayaknya kamu deh!” ucap Agam yang terus mengimbangi permainan Kiara yang terus mendesah manja.
“Bukan kok sayang! Yang nakal calon anak kita minta dijenguk ayahnya! Nich coba kamu rasakan!” Kiara menuntun tangan suaminya ke arah perutnya. Agam pun mengusap-usap perut istrinya dan dirasakannya beberapa kali ada tendangan dari perut istrinya.
“Iya…, sayang kamu kangen ya sama papa! Bentar ya sayang?” Agam langsung memulai permainannya lagi hingga mereka berdua berada di puncak kenikmatan seperti biasanya. Setelah bermain cukup lama dengan calon anaknya yang masih di dalam kandungan Agam memeluk istrinya dengan tangannya sebagai alas kepala istrinya. Kiara pun terlelap tidur dalam dekapan suaminya hingga sholat Ashar mulai.
Agam terbangun setelah mendengar adzan kemudian membangunkan istrinya untuk dimandikan. Agam dengan sabar menggendong Kiara seperti anak kecil untuk dimandikan. Pelan-pelan dimasukan dalam bathup untuk mandi berdua. Setelah membersihkan diri mereka berdua melakukan sholat bersama.
Setelah selesai melakukan aktivitas di kamar mereka berdua berniat keluar untuk makan karena perut mereka lapar energinya terkuras. Agam dengan sabar membuat masakan kesukaan Kiara dan menyuapinya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?
__ADS_1