
Kiara yang tidak biasa harus berhadapan dengan bumbu-bumbu dapur yang ada di rumah Agam. Kiara nampak bingung dengan apa yang harus dilakukan sehingga mbok Asri pembantu Agam nampak kasihan dengan Kiara. Mbok Asri Entah mengapa sangat Simpati dengan Kiara, sehingga mau membantu Kiara untuk menyiapkan makan siang.
“Nak ini makanan yang di suka oleh nak Agam! Kalau kamu ingin meluluhkan hati nak Agam harus bisa masak makanan seperti ini!” ucap mbok Asri sambil menunjukan beberapa resep dan bumbu untuk memasak makanan kesukaan Agam.
Hari ini Kiara entah mengapa dirinya tampak bersemangat untuk memasak makan yang disuka oleh Agam sehingga tidak menyadari kalau mama Sandra sudah berada di dapur mengamatinya.
“Hem…, hem…, ada nak Kiara ya?” tanya nya hingga mengejutkan Kiara.
“E…, iya bu Sandra!” jawabnya gugup.
“Wah…, nak Kiara sedang masak makanan kesukaan Agam ya? Sini mama bantu nak?” ucap mama Agam penuh simpati.
“Tidak usah ibu? Aku yang akan menyiapkan sendiri biar aku bisa belajar memasak!” ucap Kiara malu-malu. Mama Sandra pun kemudian kembali ke kamarnya untuk berbincang-bincang dengan suaminya.
“Pa…, kayaknya anak kita benar-benar lelaki sejati! Kau lihatlah calon menantu kita sudah berada di rumah kita!” ucap mama Sandra tanpa mengetahui kalau sebenarnya Kiara sudah sah menjadi menantunya dan berada di rumahnya hanya untuk melampiaskan rasa sakit hatinya Agam.
“What…, Betulkah seperti itu ma? Terus mereka kumpul kebo maksud mama. Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan ma! Kita malu apa kata tetangga kita!” ucap papa Bagas sambil menghela nafasnya.
“Terus bagaimana ini pa?” ucap mama Sandra bingung.
“Nanti setelah makan siang kita bicarakan di ruang keluarga bersama mereka berdua ma! Ayo kita ke ruang makan dulu, aku rasa masakannya sudah siapkan ma?” tanya papa Bagas.
“Kelihatannya sudah pa, dan perlu papa tahu kita akan makan masakan menantu kita lo?” ucap mama Sandra bangga dan kemudian mereka berdua berjalan menuju ke ruang makan.
“Yang benar ma? Calon menantu kita juga pintar masak seperti mama?” tanya papa Bagas penasaran karena yang dia tahu anak-anak sekarang sangatlah manja dan sudah pasti mereka tidak akan bisa memasak.
“Benar dong pa? Aku yakin menantu kita ini menantu idaman,” ucap mama Sandra sambil tersenyum hingga membuat papa Bagas percaya begitu saja. Tidak berapa lama kemudian mereka berdua sudah berada di ruang makan.
"Tuh kan pa masakan sudah siap! Papa silahkan duduk dulu!” kemudian mama memanggil mbok Asri untuk memanggil Agam dan Kiara. Setelah dipanggil mbok Asri mereka berdua datang dan duduk di hadapan papa dan mama Sandra.
“Benar-benar selera anak papa bagus banget!” bisik papa Bagas kepada mama Sandra dan mereka pun tersenyum senang karena begitu melihat Kiara perasaan mereka langsung menyukainya.
__ADS_1
“Ayo nak, kamu harus membiasakan diri melayani suami kamu ya? Ambilkan makanan kesukaan suami kamu!” ucap mama Sandra seraya memberi contoh dengan mengambilkan makanan untuk suaminya. Kiara dengan perasaan canggung juga berusaha mengikutinya.
Kiara juga mengambil jus alpukat kesukaan Agam yang sudah disiapkannya, tidak lupa untuk papa dan mama mertuanya. Setelah semuanya siap mereka berdo’a dilanjutkan makan makanan hasil masakan Kiara.
Semua orang nampak menikmati masakan tersebut, papa dan mama Sandra juga nampak tersenyum puas.
“Wah, masakannya terasa lezat nak, kalau begini sudah pasti Agam akan sering pulang ke rumah untuk makan ya ma?” ledek papa Bagas hingga membuat Agam malu.
“Ih…, apaan pa? Masakan kayak gini saja dibilang lezat,” ucap Agam yang mengingkarinya dan sesungguhnya hatinya juga sependapat dengan papanya namun gengsi untuk memuji Kiara.
“Huk…, huk…, byur…,” jus alpukat yang Agam minum tumpah semuanya hingga mengenai semua bajunya.
“Agam, kamu kenapa nak?” tanya papa dan mamanya spontan.
“Nich kan pa? buat jus saja gak becus, masa asin?” ucap Agam dengan penuh emosi.
“Masa sih Gam…? Punya papa tidak? Manis? Mama bagaimana?” tanya papa sambil melirik istrinya.
“Ha…, ha…,” papa Bagas dengan mama Sandra tertawa terbahak-bahak secara bersamaan hingga membuat Agam bertambah Kesal.
“Bagus Kiara, papa suka dengan gaya kamu! Memang anak papa sesekali perlu diberi pelajaran!” ucap papa Bagas masih tertawa terpingkal-pingkal ternyata Kiara sengaja melakukannya untuk mempermainkan Agam.
“Papa…, mama…, anak papa aku atau Kiara sih?” ucapnya kesal sambil terus berlalu meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
“Bagus Kiara!” ucap mama Sandra mengacungkan jempol untuk calon menantunya, namun Kiara nampak menundukkan kepalanya karena sebenarnya Kiara takut kalau kena marah kedua mertuanya. Kemudian pelan-pelan Kiara mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap mama Sandra.
Belum sempat Kiara tersenyum puas karena kemenangannya tiba-tiba dari kamarnya terdengar teriakan Agam memanggilnya.
“Kamu tetap duduk di sini nak, biar mama yang ke sana!” ucap mama Sandra sambil berlalu meninggalkan meja makan dan menghampiri putranya.
“Agam..., kamu itu sudah dewasa nak? Apa pantas berteriak-teriak seperti itu?” ucap mamanya yang sudah berada di dekatnya.
__ADS_1
“Eh mama, iya habisnya aku kesel ma sama Kiara!” ucap Agam sambil melepas bajunya dan menggantinya dengan yang kering.
“Sudah lah, habis ini kau ke ruang keluarga! Papa dan mama menunggu kamu di sana!” ucap mama Sandra kemudian meninggalkan Agam yang masih sibuk mengganti bajunya.
“Ok, ma!” kemudian Agam mengikuti mamanya dari belakang.
Setelah semuanya berkumpul termasuk Kiara, papa Bagas memulai pembicaraan.
“Sayang, papa dan mama sudah diskusi soal keberadaan Kiara. Dan papa tidak ingin ad perkataan sumbang untuk keluarga kita apalagi kamu Agam? Sudah sebaiknya kalau kalian tinggal serumah maka harus menikah terlebih dahulu,” ucap papa Bagas dengan tegas dan penuh wibawa.
“Menikah pa? Kita juga sudah menikah!” ucap Agam yang tanpa sengaja membongkar rahasianya sendiri dihadapan papa dan mamanya hingga mengejutkan papa dan mamanya. Papa Bagas dan mama Sandra saling pandang satu dengan yang lainnya.
“Nak! Pernikahan itu tidak main-main nak? Apa yang kamu sampaikan itu benar?” tanya papa Bagas kembali karena meragukan pernyataan anaknya.
“Iya pa! Itu benar adanya! Dan itu terjadi karena aku diminta kakeknya untuk menolong keluarganya agar tidak malu karena calon suaminya tidak datang!” jelas Agam sehingga papanya mau tidak mau akhirnya minta bukti pernikahan mereka.
“Kiara apa memang seperti itu?” tanya papa Agam sekali lagi ingin menegaskan kejelasannya.
“Iya pa! Aku bawa kok buku nikahnya!” ucap Kiara yang kemudian minta izin mengambil berkas ke kamarnya dan menyerahkan kepada papa Bagas.
“Bagus kalau begitu, aku sangat senang mendengarnya! Papa akan mendukung pernikahan kalian, untuk itu kita akan mengadakan pesta pernikahan kalian setelah Kiara lulus,” ucap papa Bagas yang tersenyum sumringah sambil menimang-nimang buku nikah putranya.
“Papa tidak marah?” tanya Agam penasaran.
“Kenapa harus marah. Papa suka kalau kalian sudah menikah, berarti sebentar lagi papa dan mama akan mendapatkan cucu dari kalian! Iya kan ma?” ucap papa Bagas sambil melirik istrinya.
“Ya iyalah pa! Mama sudah ingin menimang cucu mama!” ucap mama tersenyum senang dengan angan-angannya melambung tinggi membayangkan dirinya di panggil oma oleh cucunya.
“Benar-benar, papa dan mama tidak mendukung aku!” ucap Agam sambil pergi meninggalkan mereka bertiga.
“Kiara, kamu santai ya nak? Kalau kak Agam memarahi kamu tolong adukan saja sama papa!” perintah mama Sandra sambil menepuk bahu Kiara kemudian berpamitan untuk menuju ke kamar untuk istirahat. Tidak berapa lama kemudian kiara menyusul untuk pergi ke kamarnya juga.
__ADS_1
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Bagaimana kisah selanjutnya ya? Simak kelanjutannya ya?