
Agam sangat siap untuk menjalankan tugasnya sebagai suami siaga. Agam yang sangat posesif dengan istrinya memperhatikannya terlalu berlebihan. Bahkan Agam terkadang sangat keterlaluan memperlakukan Kiara.
Seperti kali ini karena dirinya ada tugas mendadak keluar kota, Agam berniat membawa istrinya untuk ikut serta bersamanya. Mama Sandra yang tahu kondisi Kiara yang sedang hamil tua tidak mengijinkan Agam membawa serta Kiara.
“Sayang, kamu jangan keterlaluan. Tempatmu bekerja kali ini sangat jauh, meskipun kamu naik pesawat pribadi kita akan tetapi mama mohon kamu jangan membawa serta istrimu. Biarkan istrimu yang merawat mama dan si mbok,” ucap mama Sandra memberi peringatan kepada putranya.
Agam yang begitu keras tetap berusaha menyakinkan mamanya untuk mengizinkan Kiara ikut serta dengannya. Karena mama Sandra punya banyak pertimbangan dengan kehamilan Kiara maka Mama Sandra Tetap tidak mengizinkan menantunya dibawa serta oleh suaminya ke tempat tugasnya yang sekarang.
“Mama aku mohon. Bagaimanapun aku juga ingin in tetap berada di sisi-nya di saat nanti Kiara melahirkan. Aku bertugas ke luar Jawa itu sangatlah lama kira-kira sampai Kiara melahirkan pun aku belum bisa pulang. Masalah di kantor cabang kita sangatlah rumit karena berurusan dengan pemilik lahan kelapa sawit yang telah kita beli akan tetapi mereka memintanya kembali. Anehnya sertifikat yang sudah berada di perusahaan kita Mereka pun juga memilikinya,” ucap Agam serius.
“Makanya demi keselamatan istrimu dan dan calon bayi yang dikandung nya lebih baik piara tetap tinggal bersama mama. Untuk urusan lahan yang ada di perusahaan kita mama yakin kamu bisa menyelesaikan dengan baik. Bahkan Mama rasa sebelum Kiara melahirkan kamu sudah bisa pulang ke sini,” ucap mama Sandra penuh keyakinan menyakinakan putranya.
Kiara yang bingung dengan posisinya juga tidak bisa komentar apapun. Kiara yakin keputusan mertuanya menurutnya paling tepat untuk kebaikan bersama. Papa Bagas juga menyakinkan Agam kalau Kiara akan mereka jaga baik-baik. Papa Bagas tidak ingin Agam terlalu berat memikirkan pekerjaan sekaligus istrinya.
“Baiklah, aku nurut apa kata papa dan mama saja. Aku akan membawa serta Varel ikut dengan aku karena Varel dulu yang mengurus lahan kita yang sengketa ini!” ucap Agam kemudian memohon pamit kepada papa dan mamanya menuju ke bandara.
Agam nampak berat meninggalkan istrinya, Agam secara khusus berpesan kepada istrinya terutama untuk menjaga kesehatan dan asupan gizi untuk calon anaknya. Kiara nampak berkaca-kaca melepas kepergian suaminya. Untuk sesaat mereka tampak terdiam dengan bahasa kalbu mereka masing-masing. Mereka berpelukan mesra hingga orang yang ada disekitarnya nampak malu melihat pasangan sejoli yang sedang dimabuk cinta dan kasih sayang.
“Sayang, nanti kalau sudah sampai tolong segera hubungi aku ya?” ucap Kiara yang tak kuasa melepas kepergian suaminya. Kiara juga meminta jangan terlalu keras jika berurusan dengan orang pribumi di daerah tersebut. Agam hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda menyetujui permintaan istrinya. Agam pun pergi diantar sopir. Agam sengaja tidak menunggu Varel karena varel langsung berangkat menuju bandara dari rumahnya.
__ADS_1
Varel juga berpamitan dengan Nayla yang secara shah sudah menjadi istrinya. Varel atas suruhan Agam meminta Nayla untuk menemani Kiara di rumahnya selama mereka berdua pergi. Nayla yang menganggap Kiara sebagai saudara nya sendiri langsung menyetujuinya.
Nayla kali ini langsung mengantar sendiri Varel ke bandara. Varel senang istriya perhatian terhadapnya. Varel dengan bucin memberi catatan khusus kepada Nayla selama Nayla berada di rumah sendiri.
“Ini apa sayang?” tanya Nayla curiga dengan kelakuan suaminya.
“Catatan pribadi untuk kamu sayang,” ucapnya lembut sambil mencium kening istrinya.
“Astaga aku kira ini bon belanja kamu sayang? Ada-ada saja kamu ini!” ucap Nayla mengambil catatan itu kemudian memasukkannya dalam dashboard mobilnya.
“Bon belanja, kamu itu lucu sayang? Mana ada aku ngasih bon belanjaan ke kamu?” goda Varel untuk istrinya.
Tidak lama kemudian Agam datang bersama salah satu bodyguard andalan keluarganya. Varel sangat lega setidaknya keamanan dirinya dijamin oleh bodyguard keluarganya Agam.
“Wah, parah juga kamu bro. Aku nunggu hampir satu jam penuh! Emangnya Kiara masih belum puas ya dengan jatah kamu?” ucap Varel asal nyablak hingga membuat Agam nyengir kuda dibuatnya.
“Sial, mulutmu harimaumu bro! Kalau ngomong direm dong!” ucapnya cengar-cengir mendekati Varel.
“Maaf remnya lagi blong bro! Gimana kakak ipar kamu tinggal tidak apa-apa?” tanya Varel penasaran.
__ADS_1
“Tidak apa-apa sih, tapi aku tidak tega meninggalkannya. Kondisinya saat ini hamil besar dan sebentar lagi melahirkan! Sebenarnya aku juga akan membawanya tapi mama Sandra tidak mengizinkannya karena banyak pertimbangan. Aku berharap masalah perusahaan kita akan cepat terselesaikan. Dan mudah-mudahan di saat melahirkan aku bisa pulang ke rumah!” ucap Agam sambil menghela nafasnya.
“Iya…, mudah-mudahan kita segera menyelesaikan masalah perusahaan kita! Untuk Kiara kamu tidak usah kuatir nanti Nayla biar sering kesana! Lagian Nayla juga di rumah tinggal sendirian sama pembantu saja,” ucap Varel menguatkan Agam agar bisa meninggalkan Kiara dengan tenang.
“Iya kak! Aku akan sering kesana, kalau bisa aku juga kan menginap di sana! Disini aku akan membantu Kiara dan menjaganya. Aku mohon kakak disana juga menjamin keselamatan kak Varel!” ucap Nayla memohon kepada Agam.
Agam menganggukkan kepalanya sebagai tanda menyetujui permintaan Nayla. Agam juga menitipkan sesuatu kepada Nayla.
“Tolong ini kamu berikan kepada Kiara, ini kunci brankas yang ada di kamar yang terbawa oleh aku!” ucap Agam sambil menyerahkan kunci tersebut kepada Nayla.
“Aduh-aduh bro kamu jangan aneh-aneh, kamu memberikan kunci brankas segala! Emangnya ada apa ya?” tanya Varel penasaran sekaligus ketakutan dengan spekulasi pemikiran mulai dari konsekuensi yang terburuk hingga yang positif.
“Plak…! Dasar pikiran yang negatif dan membuat orang lain ngenes bro! Aku memberinya kunci brankas karena di dalamnya sudah aku siapkan kejutan hadiah untuk kelahiran putraku!” Agam langsung menabok bahu sahabatnya hingga menyadarkan Varel dengan bayang-bayang buruknya.
Sementara itu mereka berdua segera masuk ke dalam pesawat, maka Nayla pun pamitan untuk pulang. Namun sebelum pulang Nayla berniat untuk mampir ke rumah Kiara. Nayla berniat untuk memberikan kunci brankasnya Agam untuk Kiara. Nayla dengan perasaan keponya juga penasaran ingin tahu isi brankas tersebut. Tidak berapa lama kemudian Nayla sampai di rumah Kiara yang ternyata papa Bagas dan mama Sandra masih ada di situ.
Nayla akhirnya bergabung dengan mereka yang sedang menikmati rujak bersama. Merka juga bersendau gurau menghibur Kiara yang nampak bersedih karena ditinggal Agam.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?
__ADS_1