
Setelah semalaman menghabiskan waktu berdua dengan suaminya Kiara enggan untuk turun dari ranjang. Hingga akhirnya Agam menggendong Kiara untuk membersihkan diri supaya cepat melaksanakan shalat.
“Sayang, apa yang kamu lakukan? Aku malas mandi!” ucap Kiara merengek kepada suaminya namun tangannya tetap bergelayut manja dikalungkan di leher suaminya.
“Memandikan kamu. Kita harus segera mensucikan diri dan melaksanakan salat subuh. Apa kamu lupa dengan jadwal kita pagi ini?” tanya Agam kepada istrinya.
“Jadwal? Aku malas keluar sayang!” ucap Kiara yang memang lagi bermalas-malasan karena dinginnya cuaca.
“Astaga…, sayang mana boleh seperti itu! Kamu tidak boleh meninggalkan kewajibanmu!” ucap Agam yang terus memandikan istrinya dan dirinya pun ikut mandi. Setelah semuanya selesai, Agam menggendong kembali ke arah juga ke ranjangnya. Kemudian Agam menyiapkan baju untuk istrinya.
Setelah semuanya siap mereka melanjutkan ibadah. Agam selesai melaksanakan ibadah langsung membuat secangkir kopi untuk dirinya dan susu ibu hamil untuk Kiara.
“Sayang…, aku gak mau minum susu!” ucap Kiara tiba-tiba.
“Kenapa? Bukannya kamu di rumah sering minum susu?” tanya Agam bingung menghadapi ulah istrinya.
“Entahlah perut aku mual kalau minum susu!” Kiara kemudian meringkuk di sofa sambil menutup mulutnya.
“Sayang sini aku suapin kamu ya sedikit demi sedikit biar anak kita dapat gizi dan nutrisinya sayang?” ucap Agam sambil menyuapi dengan sendok sedikit-dikit ke mulut Kiara. Entah mengapa begitu disuapin oleh suaminya rasa mualnya hilang.
“Tok…, tok…,” saura pintu kamar hotelnya diketuk oleh seseorang. Agam dengan cekatan membuka pintunya yang ternyata mamanya sudah beradaa di depanpintu kamaarnya.
“Sayang, apa yang kalian lakukan kenapa tidak segera ke lobi?” tanya mama kepada mereka berdua.
“Ke Lobby? memangnya ada apa ma?” tanya Kiara penasaran.
“Ada deh pokoknya. Ayo kita segera kesana sayang? O…, iya bagaimana dengan cucu oma sayang?” tanya mama Sandra sama Kiara. Mama Sandra dan dengan sayang nya mengusap-usap perut anak menantunya.
__ADS_1
“Alhamdulilah baik-baik saja kok! Yang rewel papanya ma?” ucap Kiara yang melirik suaminya.
“Gak kok ma! Cuman dikit kok!” ucap Agam sambil memeluk dan mencium kening istrinya.
“Ah…, kacau kalau begini terus, acara bakal batal nanti!” ucap mama Sandra memberi peringatan.
“Batal? Batal kenapa ma?” tanya Kiara penasaraan. Akhirnya mereka bertiga keluar kamar dan berjalan menuju lobby. Begitu sampai di lobby semua menyambut dengan gembira dan nyanyian selamat ulang tahun. Kemudian mama Sandra mengeluarkan sertifikat kepemilikannya untuk sebuah rumah di Turki seperti yang Kiara mimpikan.
“Astaga, ini untuk aku ma?” tanya Kiara penasaran dengan wajah memerah seperti tomat karena hatinya bercampur aduk tidak menentu.
“Iya…, untuk kamu! Kalau kamu berlibur kesini bisa menempatinya. Nanti kita juga akan pindah kesana menempati rumah baru kamu!” ucap mama Sandra dengan senyum penuh kasih sayang.
“Beneran ma?” tanya Kiara ragu menatap mama mertua dan suaminya secara bergantian.
"Iya," mama Sandra menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju dengan ucapan menantunya. Kemudian mama Sandra mendekati Kiara, untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Mama Sandra mencium dan memeluk menantunya dengan perasaan bahagia.
Nayla pun juga mengikuti jejak mama Sandra memeluk dan mencium Kiara. Nayla juga tidak lupa mengucapkan selamat ulang tahun serta mberinya hadiah untuk Kiara yang tadi malam dia beli bersama Varel.
"Sayang ini tidak mimpi kan?" tanya Kiara bingung.
"Tidak. Ini wjud impian kita dan kita bisa menikmati indahnya kota Cappadocia serta bisa naik balon udara kapanpun kamu suka," ucap Agama sambil memeluk dan mencium istrinya.
"Benarkah. Wah seru dong sayang, ayo kita kesana sekarang juga. Pasti senang dong pastinya," ucap Kiara yang melonjak-lonjak seperti anak kecil hingga Agam menahannya karena takut terjadi sesuatu dengan kandungannya.
"Sayang, hati-hati dengan calon bayi kita, " ucap Agama tertahan sambil menghela nafas panjang karena ulah istrinya.
Kiara langsung terhenyak dan berhenti hingga menundukkan kepalanya menahan malu.
__ADS_1
"Iya… , maaf. Tapi calon bayi kita kuat kok kak.
" Sayang…, itu papa dan Varel. Ayo kita berangkat naik balon udara," ucap Kiara kembali merajuk setelah papa Bagas dan Varel datang.
"Sayang, selamat ulang tahun. Semoga jadi istri yang baik dan jadi ibu yang baik untuk anak-anak kalian kelak, " ucap papa Bagas.
Kemudian setelah semuanya siap mereka pergi ke rumah baru hadiah dari mertuanya. Kiara sangat menyukai rumah tersebut karena gaya etnik yang menonjol. Mereka masuk di setiap ruangan yang ada di rumah tersebut. Kiara menyukai desain kamarnya juga sesuai dengan keinginannya dimana di kamar tersebut langsung menghadap ke luar sehingga pemandangan di setiap sudut kota akan nampak.
“Papa…, mama ini benar-benar sesuai dengan selera Kiara! Tidak diragukan kalian mertua yang sangat menyayangi menantunya,” ucap Kiara kepada suaminya yang rebahan di sofa kamar tidurnya.
“Iya lah! Papa dan mama aku pastilah baik!” ucap Agam memuji papa dan mamanya. Namun tiba-tiba ada balon udara melintas di samping kamar mereka sehingga Kiara menjadi teringat akan keinginannya untuk naik balon udara.
“Sayang ayo keburu siang katanya mau naik balon udara!” ucap Kiara nagih janji pada suaminya.
“Iya. Tapi kamu tidak takut terjadi apa-apa sama calon bayi kita sayang! Dan satu lagi coba tanyakan kepada dokter kandungan.
“Tidak kok…, aku rasa jagoan kita baik-baik saja. Papa dan mamanya saja pendekar lo pa?” jawab Kiara sambil menggandeng suaminya untuk keluar kamar dan memanggil mama Sandra dan papa Bagas agar mengikuti dirinya naik balon udara.
Papa dan mama Sandra sangat senang. Merak berenam akhirnya naik balon udara dengan pasangannya masing-masing.
Agam dan Kiara tampak sumringah senang dengan kebersamaan mereka. Apalagi Varel tampak menikmati bersama Nayla. Bahkan Varel menembak kalau dirinya sangat mencintai dan melamarnya untuk menjadikannya istri. Varel berharap Nayla mau menerimanya. Nayla yang sudah mendapat restu dari orang tuanya meminta Varel untuk segera melamarnya.
“Sayang, aku rasa hubungan kita harus segera diresmikan. Aku siap menjadi suami kamu hingga akhir hayatku! Aku janji dalam suka maupun duka akan tetap mencintaimu dengan tulus,” ucap Varel kepada Nayla. Varel nampak memeluk Nayla dari belakang dan mencium leher jenjang Nayla.
Nayla sangaat menyukai keromantisan Varel yang tentunya dipengaruhi oleh Agam.
“Sayang…, kalau apa yang kamu ucapkan benar adanya, setelah pulang dari sini bisa kamu wujudkan untuk melamar aku. Kebetulan papa dan mama aku pulang dari Amerika!” ucap Nayla memberi lampu hijau kepada Varel calon suaminya.
__ADS_1
“Tentu, Sayang aku usahakan. Lagian aku keburu tua nanti. Lihatlah Agam saja sudah hampir mempunyai anak! Aku juga ingin seperti Agam,” ucap Varel terus berperilaku seperti bosnya.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?