
Agam yang banyak pekerjaan di kantor pulangnya agak malam, sehingga ketika sampai di rumah Kiara sudah tertidur. Sudah 3 hari seperti itu hingga Kiara merasa tidak diperhatikan. Agam sibuk dengan klien yang menjalin kerjasama dengannya terkait dengan pengembangan perusahaannya yang merambah ke ke luar pulau.
“Nay…, aku hari ini ikut ke rumah kamu ya?” ucap Kiara ketika mereka berdua berjalan ke kantin karena perut mereka mulai lapar.
“Wah…, kita bisa mengulang saat-saat seperti dulu dong? Kamu sudah izin kak Agam belum?” ucap Nayla mengingatkan.
“Em…, belum. Aku memang gak ngomong!” ucapnya sambil memesan makanan yang dia suka sama abang kantin.
“Kamu ngambek ya sama kak Agam? Kalau seperti itu aku tidak berani mengajak kamu ke rumah aku. Aku takut kalau nanti mengancam kelangsungan pekerjaan kak Varel?” ucap Nayla bingung karena kalau ketahuan kak Agam pasti Varel juga kena imbasnya.
“Santai saja nanti aku yang menanggungnya! Aku jamin kamu sama kak Varel tidak akan kena pengaruh akan kemarahannya,” ucap Kiara menyakinkan sahabatnya.
“Ok…, terserah kamu saja! Aku nurut sama kamu yang terpenting nanti kita nonton dulu! Filmnya bagus lo?” ucap Nayla memohon.
“Apa iya? Paling-paling hanya layang putus yang tayang! Aku malas mending nonton di We TV saja!” ucap Kiara sambil terus menikmati makanya. Ketika mereka berdua lagi enak-enakan makan tiba-tiba ada Prawira nongol di hadapan mereka.
“Hai…, cantik!”Prawira langsung duduk depan Kiara dan menyerobot minuman Kiara yang belum sempat di minumnya.
“Bang minumnya tambah satu lagi!” Kiara meminta kepada pelayan kantin satu lagi.
“Kak kamu gak kapok juga ya? Ntar kalau kak Agam mengamuk kamu tahu rasa ya?” Nayla memberi peringatan.
“Ngamuk? Aku rasa tidak mungkin! Karena pak Agam sudah jinak sama aku!” ucap Prawira sambil terus minum dan makan cemilan punya Kiara.
“Plak! Kak pesan sendiri kenapa?” lagi-lagi Nayla memukul tangan Prawira dengan tangannya yang mulus untuk memberinya peringatan.
“Iya…, bang tambah gado-gado satu ya?” Prawira memesan makanan untuk dirinya sendiri. Sementara itu dirinya terus nyerocos tidak jelas dengan Nayla dan Kiara.
“Kiara…, bagaimana proposal kita? Sudah ada yang memberi dana untuk kegiatan kita belum?” tanya Prawira begitu teringat akan proposal yang dititipkan kepada Kiara.
“Santailah! Kita selesaikan makan kita dulu!” ucap Kiara yang terus mengunyah makanannya tanpa memperdulikan Prawira yang terus mendesaknya.
“Kak! Kamu itu sopan dikit kenapa?” ucap Nayla gemas dengan tingkah laku Prawira yang baginya sangat keterlaluan.
__ADS_1
“Eh…, Nay…, bagaimana kalau kita jadian saja! Kiara kan sudah punya suami, jadi bagaimana kalau aku dan kamu jadian?” ucap Prawira yang berusaha merayu Nayla.
“Enggak! Aku sudah tunangan kok!” ucap Nayla ketus tanpa basa-basi kepada Prawira. Prawira nampak terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Nayla.
“Yang bener Nay…, wah aku kalah untuk yang kedua kalinya dong? Bener-bener aku kurang beruntung kenapa cewek-cewek yang cantik-cantik sudah laku duluan ya? Apa salah dan dosaku ya? Setiap naksir cewek sudah bersuami dan bertunangan?” ucap Prawira lemas.
“Ya itu karena kakak kurang peka!” ucap Nyala tertawa kecil diikuti oleh Kiara.
“Kurang peka bagaimana?” tanya Prawira penasaran.
“Ya.., iyalah masa kakak tidak tahu mana cewek yang sudah menikah dan sudah tunangan? Mana cewek yang single dan yang sudah menikah? Peka dong kak jadi biar tidak jadi korban cewek-cewek ganjen!” ucap Nayla sambil cekikikan melihat tampang Prawira yang lucu.
Prawira mengusap rambutnya yang kelimis dan bercermin dengan ponselnya karena tidak percaya diri dengan Nayla yang dengan sngaja menertawakannya.
“Sudahlah kak, kakak itu sebenaranya cakep tapi itu cuman salah sasaran! Carilah target yang benar-benar masih single!” ucap Nayla yang masih terus menertawakan Prawira.
“Tuh kan ada cewek cantik duduk sendirian, sana samperin!” ucap Nayla yang memang dengan sengaja menggoda Prawira.
“Menjerumuskan bagaimana kak? Seksi lo kak!” ucap Nayla sambil menutup mulutnya menahan tawa.
“Seksi dari mananya! Kamu lihatnya dari monas ya? Wong kayak ondel-ondel gitu lo?” Prawira nampak jengkel hingga tidak menghiraukan Nayla lagi. Prawira memilih memakan makanannya yang baru datang. Kiara juga hanya tersenyum melihat mereka berdua ribut.
“Kiara…, apa kamu tidak ada saudara perempuan? Kenalin aku dong?” tanya Prawira memulai pembicaraan setelah menghabiskan makannya.
“Hem…, saudara perempuan? Ada sih tapi di Australia. Kemungkinan semester depan pindah kesini, karena nyokapnya pindah kerja ke Indonesia!” ucap Kiara yang tiba-tiba teringat Neta yang kemarin telpon dengannya.
“Bule kah?” tanya Prawira penasaran.
“Enggak! Anak Indonesia, keturunan jawa juga kayak kita!” ucap Kiara menceritakan sepupunya.
“Neta maksud kamu!” tanya Nayla penasaran.
“Iya, siapa lagi kalau bukan dia!” ucap Kiara sambil makan makanan kesukaannya,.
__ADS_1
“Seru dong! Kita bisa melanjutkan geng kita waktu SMP,” ucap Nayla.
“”Iya…, kemungkinan minggu depan sudah resmi pindah kesini!” ucap Kiara.
“Boleh dong aku jadikan kekasih aku!”
“Boleh saja kalau anaknya mau! Tapi Kiara mau gak ntar punya sepupu ipar kayak kamu,” ucap Nayla sengaja menggoda Prawira.
“Maulah, aku kan baik dan tampan ketua BEM lagi! Dan yang terpenting kalau aku jadian sama Neta sepupu kamu itu aku akan memberimu durian satu truk!” ucap Prawira.
“Durian? Emang kamu punya kebun durian?” tanya Nayla penasaran karena sesungguhnya suka maniak durian.
“Iyalah, sejarah kakek aku kan punya perkebunan durian!” ucap Prawira yang sengaja pamer sama mereka berdua.
“Kalian itu sengaja ya memancing-mancing ibu hamil untuk makan durian ya? Aku jadi ngiler, besok kamu kirim durian ke rumah ya?” ucap Kiara yang ngiler ingin makan durian.
“Kiara tapi bumil kan gak boleh makan durian kan ?” Nayla berusaha mengingatkan Kiara.
“Gak apa-apa yang penting tidak banyak! Kalau aku makanya banyak itu baru bermasalah!” ucap Kiara.
“Ngak ah. Aku gak berani ke rumah kamu! Aku takut sama laki kamu, bisa-bisa aku kena bogem mentah lagi!” ucap Prawira.
“Benarkah? Kakak gak mau nich donasi dari suami ku 20 juta?” ucap Kiara sengaja menyampaikan besarnya donasi agar Prawira mau ke rumahnya mengantarkan durian.
“Benarkah? 20 juta. Wah kalau itu sich aku mau-mau saja ke sana! Tapi bener lo ya suami kamu tidak memberikan bogemnya lagi kan?” tanya Prawira masih dengan rasa cemasnya.
“Iya nanti aku jamin tidak akan terjadi apa-apa! Suami aku orangnya baik kok kalau kamu sudah mengenalnya! Percayalah!” ucap Kiara memberi tahu Prawira.
“Baiklah, tunggu besok ya?” Prawira langsung pamitan ke kasir karena waktu istirahanya sudah habis.
“Kay…, semuanya sudah aku bayar sampai ketemu besok ya?” Prawira melambaikan tangannya meninggalkan mereka berdua.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?
__ADS_1