
Kiara sangat menyukai kota Paris, bahkan dia ditemani suaminya beserta sahabatnya berkeliling semua tempat wisata yang ada di kota Paris. Keindahan Paris telah membuat Kiara jatuh cinta terhadap kotanya.
Di setiap perjalanan wisata, Kiara selalu bermanja-manja kepada suaminya sehingga membuat sahabatnya beserta Varel jealous memandangnya.
“ Wah, kayaknya kita jadi obat nyamuk nih?” ucap ucap Varel sahabatnya yang dikuatkan oleh Nayla.
“Iya kak! Mereka yang enak kita yang pahit!” jawab Nayla sehingga membuat Agam dan Kiara serentak memandangnya.
“Ha…, nggak salah tuh? La tuh ada yang disamping kamu kenapa dianggurin?” ucap Kiara meledek sahabatnya.
“Dia…? Kalau dia sih muka tembok berbatu es,” ucap Nayla lirih namun terdengar oleh Agam hingga Agam tertawa terpingkal-pingkal dan menarik perhatian Varel.
“Gam…, apa sih yang kamu tertawakan?” tanya Varel penasaran.
“Ya…, dirimu lah, masa kamu tidak merasa?” tanya Agam kepada Varel yang masih tertawa terpingkal-pingkal.
“Astaga, aku?” ucap Varel sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Iya lah…! Si muka tembok berbatu es? Ha…, ha…! Varel…, Varel jadi cowok itu yang agresif dan ramah dong? Tuh ada cewek kenapa dianggurin?” tanya Agam kepada sahabatnya hingga membuat Varel mukanya memerah karena menahan malu.
Varel memang kelihatan PDKT dengan Nayla namun masih belum berani nembak langsung terhadap Nayla. Nayla sendiri juga rasa jatuh hati dengan Farel namun Nayla sebagai cewek tidak berani mengungkapkan rasa terlebih dahulu.
Agam yang merasa kalau mereka berdua ada rasa akhirnya berupaya mendekatkan mereka. Agam dan Kiara membuat rencana untuk mereka berdua.
Tiara cara membawa Nayla ke sebuah restoran yang sangat mewah dengan masakan khas Indonesia Dengan alasan kalau dirinya kangen masakan khas negaranya. Nayla yang berteman dengan Kiara tidak mencurigai apapun dengan rencana Kiara. Tidak berapa lama Kiara pamitan untuk ke toilet karena perutnya sakit.
__ADS_1
Sementara itu Agam dengan alasan yang sama mengajak Varel untuk makan karena dirinya merasa lapar dan kangen masakan Indonesia seperti halnya Kiara. Kemudian Agam yang sudah masuk ke restoran begitu sampai di dekat kasir dia membisikan sesuatu kepada Varel dan memberinya sebuah cincin untuk Varel.
“Bro…, Aku dan Kiara sudah berusaha membantumu! dan untuk selanjutnya aku serahkan sepenuhnya kepadamu! Semua acara dan tempat sudah aku siapkan dengan Kiara kamu tinggal mengendalikannya. Ini cincin dari kami! Kamu bisa menggunakannya untuk mengikat Nayla!” ucap Agam kemudian meninggalkan Varel sendiri.
“Tapi bro…? Ini terlalu cepat? Aku takut kalau ditolak oleh Nayla?” jawab Varel jujur karena memang dirinya sangat sulit berinteraksi dengan cewek karena selama ini dia hanya bekerja dan bekerja.
“Sudah sana pergi! Aku dan Kiara ada disana! Sukses bro?” ucap Agam yang mendorong Varel untuk segera pergi menghampiri Nayla.
Varel pelan-pelan menghampiri Nayla dengan perasaan yang tidak menentu meskipun biasanya dia sering bertemu dengan Nayla. seluruh badan Varel seolah terasa panas dan jantungnya berdetak begitu kencang. Varel merasa kalau dirinya takut jika ditolak oleh Nayla karena Varel sudah merasa cocok dengan Nayla.
Beberapa gadis yang pernah dia jumpai tidak semenarik seperti Nayla. Entah mengapa dirinya begitu tertarik dengan Nayla. Sikap dan kepribadian Nayla seperti halnya Tiara membuat dirinya seolah hidup dalam menghadapi semua tantangan kehidupan.
“Hai…, Nayla? Ternyata kamu ada di sini ya? Aku dari tadi mencarimu?” tanya Varel pura-pura secara tidak sengaja bertemu dengan Nayla.
“Iya, tadi Kiara cara menelpon ku kalau dia pulang yang ke Villa duluan dan Aku diminta untuk menjemputmu!” ucap Varel berusaha mencari alasan agar Nayla tidak curiga.
“O…, begitu ya? Baiklah kakak silahkan duduk! Aku tadi bersama Kiara sudah memesan makanan!” ucap Nayla semakin canggung bingung menempatkan dirinya meskipun biasanya dia juga sering bercanda dengannya tak kala ada Agam dan Kiara.
Tidak berapa lama kemudian masakan yang mereka pesan datang namun settingannya sekolah untuk dinner mereka berdua saja. Karena begitu mereka lihat yang ada hanya mereka berdua dan Agam beserta Kiara yang ada di pojokan restoran.
Nayla semakin gemetar hingga saat makan sendok yang dipegang jatuh. Hal Itu dimanfaatkan oleh Varel dengan menyuapi Nayla dan tidak berusaha meminta pelayan untuk menggantinya.
“Tidak apa Nay…, sini aku suapin kamu saja!” ucap Varel yang mulai mencairkan suasana. Varel dengan cekatan menyuapi Nayla dan sesekali makan untuk dirinya.
Begitulah mereka akhirnya dipertemukan dengan sengaja oleh Agam dan Kiara dengan maksud untuk menjodohkan mereka berdua. Setelah acara makan mereka berdua berlanjut untuk berdansa dengan iringan musik yang sudah dipilih oleh Agam dan Kiara. Kiara dan Agam pun yang berada di pojokan juga ikut memeriahkan acara dengan ikut dansa romantis.
__ADS_1
Varel dengan Nayla berdansa layaknya pasangan kekasih seperti halnya Agam dan Kiara. Varel memegang pinggang Nayla dan menghentakan kakinya mengikuti irama musik. Setelah beberapa menit berdansa tiba-tiba Varel memberi kode untuk menghentikan musik dan berlutut di hadapan Nayla untuk melamarnya.
“Nay…, maukah kau menjadi kekasihku dan kelak menjadi ibu dari anak-anakku?” ucapnya sambil mengeluarkan cincin yang telah disiapkan oleh Agam dan Kiara. Agam dan Kiara diikuti oleh pelayan restoran meneriaki Nayla untuk menerima lamaran Varel. Nayla wajahnya memerah menahan malu, namun dengan keyakinannya Nayla mau menerima lamaran Varel.
Varel senang dengan jawaban yang Nayla berikan meskipun hanya dengan kode anggukan kepalanya. Varel kemudian memakaikan cincin ke jari manis Nayla dan menggendong Nayla dengan rasa senang hingga Nayla diputar-putarnya.
Agam dan Kiara merasakan kebahagiaan yang dirasakan sahabatnya sekaligus saudaranya. Agam dan Kiara menghampiri mereka untuk memberi selamat kepada mereka berdua.
“Selamat Rel…, semoga kalian segera menikah dan mendapat restu dari orang tua Nayla!” ucap Agam kepada VArel dan Nayla.
“Terimakasih atas semua kejutan dan acara hari ini ya?” ucap Varel kepada Agam.
“Itu semua berkat kakak iparmu! Terima kasihlah padanya!” ucap Agam sambil melirik istrinya yang ada di sampingnya. Semantara itu Nayla menyenggol Kiara dengan bahunya.
“Kenapa…? Malu ya? Tapi mau?” goda Kiara kepada sahabatnya yang semakin membuat Nayla bertambah malu.
“Jangan gitu kakak ipar? Kasihan Nayla?” ucap Varel membela Nayla.
“Wah…, wah ada yang baper nich! Selamat ya kak Varel! Tolong dijaga sahabatku dengan baik ya? Dia itu anaknya baik dan pendiam lo?” ucap Kiara bermaksud menyanjung sahabatnya.
“Siap kakak ipar, Insyaallah amanah kakak ipar akan aku laksanakan dengan baik!” ucap Varel sambil melirik Nayla.
Demikianlah mereka akhirnya acara yang disiapkan Agam dan Kiara berjalan dengan lancar dan karena waktu mulai beranjak malam akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Villa. Agam dan Kiara berlanjut mengukir cintanya kembali hingga pagi hari.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?
__ADS_1