Misteri Menantu Pengganti

Misteri Menantu Pengganti
Teringat akan Sesuatu


__ADS_3

Nayla yang berada di rumahnya saat rebahan tiba-tiba teringat akan sesuatu. Nayla langsung berdiri dan bergegas mengambil kunci yang berada di bajunya. Nayla lupa kalau dirinya diberi amanah oleh Agam untuk menyerahkan kunci brankasnya Agam kepada Kiara.


Nayla berlari menuruni tangga kemudian mengambil kunci mobilnya dan langsung berangkat menuju rumah Kiara. Dan kebetulan di rumah Kiara nampak ramai karena ada papa Bagas dan mama Sandra. Dihadapan papa Bagas dan mama Sandra, Nayla  menyerahkan kunci brankas milik Agam kepada Kiara. Kiara nampak ragu-ragu menerima kunci brankas tersebut.


Mama Sandra meminta Kiara untuk menerimanya.  Mama Sandra yakin kalau Agam hendak memberikan sesuatu kepada calon menantunya.


“Maaf tempo hari kelupaan,” ucap Nayla di hadapan mereka bertiga.


“Tidak apa-apa nak, manusia itu tempat lupa!” ucap mama Sandra kepada Nayla,  Mama Sandra pun juga meminta Kiara untuk menerimanya.  Mama Sandra yakin kalau Agam hendak memberikan sesuatu kepada calon menantunya.


“Mama,  sebenarnya ini tidak perlu. Karena kunci brankas ini biasanya yang pegang juga Kak Agam,” ucap Kiara kepada mama mertuanya. Mama Sandra mengambil kunci tersebut dan mengajak Kiara untuk membuka brankas tersebut. Kebetulan brankas tersebut berada di ruang kerja Agam.


Nayla yang sudah terbiasa di situ dan dianggap keluarga sendiri oleh Mama Sandra maka Nayla pun diajak oleh Mama Sandra untuk membuka brankas tersebut.  Sebenarnya Nayla sungkan untuk ikut dengan mama Sandra,  akan tetapi Mama Sandra memaksanya.


“Sayang, ayolah! Tidak apa-apa kok! Ini bukan Rahasia,” ucap mama Sandra kemudian membuka brankas tersebut. Mama Sandra kemudian mengeluarkan surat yang isinya nama calon bayinya dan beberapa sertifikat rumah untuk calon bayinya.


“Astaga…, mama kenapa kak Agam bisa seperti ini? Kelahiran putranya masih sebulan lagi, dan aku berharap dirinya bisa menemaniku saat kelahiran. Aku berharap dia sendiri yang mengucapkan Adzan untuk putraku. Dan aku juga berharap semua hadiah ini dia yang memberikan langsung untuk calon anak kita!” ucap Kiara menangis sesenggukan. Bagaimanapun dirinya akan nyaman jika ditemani oleh suaminya.


“Iya nak! Tidak apa-apa, mungkin Agam melakukan ini jika pulangnya terlambat saat proses kelahiran putramu!” ucap mama Sandra.


“Benar-benar anak sultan. Belum lahir saja sudah disiapkan rumah untuk putranya!” gumam Nayla lirih.

__ADS_1


“Ma…, bisakah besok kita menyusul kak Agam?” ucap Kiara meminta kepada mama Sandra mertuanya.


“Astaga sayang kamu jangan ngaco, pasti Agam tidak menyetujuinya,” ucap mama Sandra memberi pengertian kepada menantunya.


“Iya, Kiara. Kasihan calon bayi kamu! Aku dengar dari kak Varel masalah perusahan kita di sana juga sudah mencapai titik terang. Kak Varel bilang kemungkinan paling lama seminggu lagi sudah pulang!” ucap Nayla menyakinkan.


“Betul nak apa yang dikatakan oleh Nayla, papa juga memantau dari laporan anak buah papa, mereka bekerja dengan sangat baik sehingga mereka kemungkinan besar akan segera pulang!” ucap papa Bagas menyakinkan menantunya.


“Iya pa! Terimakasih! Semoga kak Agam segera pulang,” ucap Kiara sambil menghela nafasnya seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.


Sementara itu Agam yang berada di lokasi sedang melakukan negosiasi dengan pemangku adat yang menguasai lahan yang sudah mereka beli.


“Maaf pak! Ini lahan sudah kami beli jadi kami minta jaminan dari pekerja kami. Kami berharap keselamatan pekerja kami dalam menjalankan tugasnya di perkebunan, karena bagaimanapun mereka memiliki keluarga yang harus dihidupi. Setiap bekerja mereka mendapatkan teror secara fisik dan mental yang mengatasnamakan pemilik lahan membuat mereka bekerja tidak nyaman. Dan kami juga punya perjanjian dan sertifikat dengan pemilik yang terdahulu!” ucap Agam berusaha menegosiasi dengan pemangku adat daerah tersebut.


Sang gadis nan cantik dan anggun seolah-olah memang dipersiapkan untuk merayu Agam dan menjeratnya dalam pelukannya. Meskipun gadis tersebut tampil dengan busana adat namun kerah bajunya terlihat sangat rendah sehingga menampakan aurat yang ada di dalamnya. Tidak bisa dipungkiri Agam sebagai laki-laki nalurinya sangatlah kuat dan harus bisa mengendalikannya.


“Bro, hati-hati. Aku rasa ini jebakan untuk kamu dan kita! Lihatlah mereka terkesan sengaja mempersiapkannya!” bisik Varel kepada sahabatnya.


“Diamlah! Aku juga masih waras. Aku masih ingat istri dan calon anak aku di rumah. Ingat kamu juga sudah ada Nayla. Jangan macam-macam!” bisiknya sambil menghela nafasnya.


“Pak Agam, masalah tanah bisa kita bicarakan! yang terpenting mari kita bersuka-ria dulu! Perkenalkan ini putri ku, cantik bukan?” ucap pak tua yang mereka yakini sebagai ketua adat di situ.

__ADS_1


“Eh…, iya pak!” ucap Agam yang langsung berjabat tangan menerima uluran tangan gadis tersebut.


“Kak, mari minum! Dijamin kakak akan senang dan bisa ngeplay sesaat!” ucapnya sambil menuangkan minuman tersebut di depan Agam. Bahkan dengan beraninya sang gadis duduk dipangkuannya dan bergelayut manja dalam pangkuan Agam. Sang gadis dengan sengaja mengalungkan salah satu tangannya di leher Agam kemudian mengambil secangkir minuman dan hendak diminumkannya ke mulut Agam. Agam dengan cepat menghalaunya dan meminta gadis tersebut untuk duduk di kursi lain.


Namun tanpa disadari ada seseorang yang memotret kejadian tersebut dan menjualnya kepada wartawan.


“Maaf pak saya tidak minum. Dan kami tidak terbiasa dengan kehidupan seperti ini!” ucap Agam sopan berupaya menolaknya, namun membuat ketua adat tersebut marah dan menggebrak mejanya.


“Brak…! Kami bersikap seperti ini tidak pada sembarang orang. Kami meyakini kalau kamu akan membawa kebaikan kepada kehidupan masyarakat kami. Jadi aku dengan rela hendak mempersembahkan putri kesayangan aku ini untuk anda. Putri kami sangatlah berharga untuk kami. Jadi itu merupakan bentuk kehormatan bagi tamu kita untuk menjamunya. Kami juga ikhlas menikahkan putri kami dengan anda!” ucap ketua adat tersebut dengan marah.


“Maaf pak! Bukannya kami tidak menghargai bentuk kehormatan dari bapak selaku tetua adat disini, tapi saya sudah beristri dan pantang bagi kami untuk menikah lagi!” ucap Agam berupaya menjelaskan.


“Itu tidak masalah bagi kami, yang terpenting kamu mau menikah secara adat dengan putri kami dan menghasilkan keturunan untuk putri kami itu sudah cukup. Semua aset kami akan kami serahkan untuk perusahaan anda,” ucap tetua adat tersebut dengan geram karena apa yang diinginkan tidak terlaksana.


“Maaf pak! Kami akan membantu tapi dengan cara yang lain!” ucap Agam sambil menyodorkan isi perjanjian dengan mereka.


“Apa ini! Kami tidak butuh perjanjian seperti ini. Kami hanya butuh jaminan hidup kami jadi nikahilah putri kami!” ucap tetua adat tersebut dengan harapan keluarga dan masyarakatnya tidak terlupakan kesejahteraannya.


“Baiklah pak! Aku kasih waktu sampai 2 x 24 jam, kalau tidak terselesaikan akan kami tempuh melalui jalur hukum! Dan akan kami pastikan anda dan masyarakat anda tidak akan mendapatkan keuntungan apapun,” ucap Agam yang sekaligus gertakan untuk mereka.


“Tapi pak! Keuntungan apa yang akan kami peroleh dari perjanjian ini?” tanya tetua adat tersebut dengan nyali agak ciut mendengar gertakan Agam. Agam pun kemudian menjelaskannya kembali dan memberinya waktu untuk berpikir dan pamitan pulang bersama rombongannya.

__ADS_1


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar,  like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?


__ADS_2