
Di ruang guru pak Hanan hanya duduk santai sambil merapikan buku yang dibawanya.
"Bagaimana pak Hanan, apa benar Zahra menggenakan hijab" tanya guru olahraga.
"Iya pak, tadi saya melihatnya."
"Saya juga pak, saya kaget saat mengabsen Zahra. Benar-benar sudah berubah. Biasanya di pelajaran saya dia akan kabur, namun kali ini tidak" tambah guru matematika.
"Syukurlah kalau dia berubah, semoga saja dia bisa lebih baik lagi" ucap guru olahraga.
"Syukurlah dia bisa merubah dirinya menjadi lebih baik. Semoga kamu nyaman dengan hijab itu" gumam pak Hanan.
Pak Hanan meraba sakunya dan merasa bahwa dia kehilangan ponselnya.
"Ada apa pak" tanya guru matematika.
"Sepertinya hp saya ketinggalan di kelas, saya ambil dulu"
Pak Hanan berlalu dan meninggalkan ruang guru. Tepat di depan ruang guru, Zahra dan pak Hanan bertemu.
"Permisi pak, apakah ini ponsel bapak?" tanya Zahra dengan sopan sambil menunjukkan ponselnya.
"Ahh.. Iya benar, Terimakasih. Sebagai rasa terimakasih bapak kalian saya traktir. Ayo ke kantin"
"Ti-tidak usah pak, kami hanya mengembalikan ponsel bapak saja, jadi tidak usah" ucap Fany ragu.
"Rezeki ngga boleh di tolak loh, mari ikuti saya"
"Maaf pak kami sudah memesan makanan tadi"
"Ya sudah"
Pak Hanan mengambil dompet di sakunya dan menyodorkan uang 50 ribu 2 lembar.
"Tidak usah pak, itu terlalu banyak" ucap Zahra.
"Ini ambillah, jangan menolak rezeki, dosa loh"
Zahra menerima nya dan memberikan satu lembar uangnya kepada Fany.
"Ini pak, buat bapak, rezeki jangan di tolak loh pak nanti dosa"
"Loh kok seperti itu"
"Ini kan sudah menjadi uang saya, jadi tidak apa"
"Kenapa kamu memberikan uang kepada saya tanpa alasan. Sudah simpan saja, saya juga mau ke kantin"
"Terimakasih banyak pak. Semoga rezeki bapak dilancarkan dan di lipat gandakan oleh Allah swt. Aminn" ucap Zahra.
"Amin" jawab pak Hanan singkat.
Pak Hanan berlalu dari mereka berdua. Zahra dan Fany mengikuti nya dari belakang. Mereka berdua hanya diam di belakang pak Hanan.
Sesampainya di kantin, dia langsung duduk di tempat yang mereka tinggalkan. Makanan sudah menunggu mereka dan juga sudah setengah dingin.
"Lama banget si kalian" gerutu Alvero.
"Biasa lah, Zahra ngapel dulu" ucap Fany.
"Ngga lah. Bukan ngapel tapi debat" jawab Zahra ketus.
"Tadi gimana Ra, matematika susah atau gampang"
"susah susah gampang"
"Lahh kok gitu" ucap Alvero.
"Reaksi pak Hanan bagaimana tadi Ra" tanya Alvero penasaran.
"Ya gitu lah" sambil melahap makanannya.
"Kita di kasih duit tadi sama pak Hanan"
"Wihh, traktir dong ayolah ayolah" pinta Alvero.
"Permisi, lagi pada ngomongin saya ya?" tanya pak Hanan secara tiba-tiba.
"Astagfirullah, ya ngga lah pak. Pak guru jangan seuzon" ucap Alvero.
"Tidak kok, bapak boleh gabung"
__ADS_1
"Boleh pak, mari pak" Ajak Alvero untuk duduk di sebelah nya sambil menepuk kursi kosong yang di sebelahnya.
Pak Hanan duduk di sebelah Alvero dan berhadapan dengan Zahra. Sebenarnya Zahra tak nyaman dengan keadaan itu, tetapi dia bersikap seolah dirinya baik.
"Bapak bukannya seringnya duduk di warung nya pak Nada kan" ucap Fany
"Iya tetapi di sana ramai dan tempat duduknya penuh. Saya melihat satu kursi kosong di sini jadi saya ke sini. Kalau kalian tidak nyaman bapak pergi saja"
Pak Hanan beranjak dari tempat duduknya namun tangannya di pegang oleh Zahra. Pak Hanan melihat tangan yang di pegang oleh Zahra. Zahra juga mengikuti arah pandang pak Hanan dan segera melepaskan tangannya.
"Ekhm..hmm..maaf pak"
"Tidak apa"
"Pak, bukan begitu maksud dari kata-kata Fany, kami nyaman kok pak. Bapak jangan tersinggung. Bapak gabung saja saya akan memesan makanan untuk bapak"
"Tidak usah, bapak sudah makan tadi pagi dan masih kenyang, kalian lanjutkan makan kalian."
"Nggak enak pak kalau cuma kami yang makan" ucap Fany.
"Iya pak, bapak juga tadi bilang rezeki nggak boleh di tolak"
"Ya sudah terserah kalian, biar saya yang bayar"
Zahra beranjak dari tempat duduknya namun di cegah oleh Alvero.
"Biar aku aja, bapak mau makan apa"
"Nasi goreng saja"
"Siap pak"
Alvero memesan nasi goreng untuk pak Hanan. Pak Hanan, Zahra dan Fany hanya diam, tak ada percakapan. Tak lama makanan datang.
"Ini pak nasi goreng bapak"
Alvero meletakkan nasi goreng nya dan juga minum untuk pak Hanan.
"Terimakasih"
Zahra hanya terdiam dan mencoba fokus memakan makanan yang ada di depannya. Sesekali melirik pak Hanan.
"Ka Leon, ada apa?"
"Gue mau bicara sama lo, istirahat kedua ke taman belakang sekolah ya, gue mau ngomong sesuatu sama lo"
"Emm.. Iya"
"Ya udah aku cabut dulu ya"
"emm"
Zahra tersenyum mendengar ajakan Leon. Dia meminum jus yang di depannya.
"cieeeee di ajak kencan sama pangeran impian" goda Fany.
"Apaan si Fan, malu tau ada pak Hanan" ucap Zahra lirih.
"Saya sudah selesai, semua yang kalian pesan biar saya yang bayar. Terimakasih banyak"
"Tidak pak, justru kami lah yang harus berterima kasih karena bapak sudah mentraktir kami" ucap Zahra.
"Sama-sama bapak pergi dulu. Kalian masuk kelas dan ikut lah pelajaran dengan baik"l
"Iya pak" jawab Zahra dan kedua temannya.
*****
Istirahat kedua pun tiba. Sesuai dengan janji, Zahra pun menemui Leon di taman sekolah.
"Assalamualaikum, udah nunggu lama ya"
"Wa'alaikumsalam, belum kok."
"Maaf ya tadi wali kelas memberi pengumuman jadi telat"
"Iya ngga papa, sini duduk" ucap Leon sambil menepuk di sebelah nya.
"Ada apa kak, kok tiba-tiba panggil gue ke sini"
"Lo cantik banget"
__ADS_1
"Hmm.. Ma-maksud kakak"
"Hahaha, gue baru nyadar kalau gue sebenernya cinta sama lo. Setiap gue pergi kemana-mana selalu ada bayangan lo. Entah di tembok, di lantai, di lampu bahkan bayangan gue pun menjadi bayangan lo Ra. Lo mau kan jadi pacar gue"
"Haduh gimana ya, emang ini si yang gue impikan. Tapi syukur deh, rejeki nomplok sebab gue berhijab, gue bisa jadian sama Leon. Andai dari dulu gue berhijab gue pasti udah jadian sama Leon dari dulu" gumam Zahra.
"Kenapa Ra, lo nggak suka ya sama gue"
"Bu-bukan gitu kak, i-iya gue mau kok kak" jawab Zahra.
"Yes.. Akhirnya... Nanti siang gue anterin pulang ya."
"Iya kak"
"Ke kantin yuk"
Zahra mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju ke kantin.
"Kamu suka eskrim kan, gue beliin bentar ya"
"Iya kak"
Leon membeli 2 eskrim dan memberikan satu untuk Zahra. Zahra memakan dengan lahap hingga belepotan di sekitar mulutnya. Leon membersihkan nya dengan menggunakan tisu.
Di sisi lain pak Hanan melihatnya dengan tahapan yang tidak suka. Dia melihat nya sambil menyesap kopinya.
"Yang sabar pak, kalau udah jodoh pasti ngga akan kemana" ucap pak Nada.
"Eh pak, bukan seperti itu pak. Saya tidak suka saja melihat orang bermesra mesra an di sekolah. Sekolah ini tempat dimana siswa belajar bukan berpacaran"
Pak Nada hanya tersenyum mendengar jawaban pak Hanan. Tatapannya benar-benar tidak suka melihat Zahra dan Leon.
"Pak saya permisi mau sholat dzuhur dulu"
"Iya pak"
Pak Nada membersihkan meja yang ditinggalkan pak Hanan. Pak Nada menggelengkan kepalanya melihat Leon dan Zahra.
"Oiya kak, aku ke mushola dulu. Kita sholat yuk kak"
"Oohh.. Iya udah ayo"
Setelah mereka sholat mereka pun keluar untuk memakai sepatu. Zahra tak menyangka kalau sepatunya bersebelahan dengan pak Hanan. Zahra mencoba berdiri namun kepalanya terbentur oleh siku pak Hanan yang berada di atasnya.
"Aduh.. Aduh.. " rintihnya sambil memegang kepalanya.
" Maaf pak maaf" ucap Zahra.
"Ngga papa, saya yang minta maaf. Permisi sebentar saya mau ambil sepatu saya"
Zahra mengangguk. Lalu berlalu dari hadapan pak Hanan. Dan kembali berjalan bersama Leon.
"Aduh lancip juga ya siku pak Hanan"
"Memangnya kenapa"
"Tadi aku kejeduk sikut pak Hanan"
"Mana, sakit" sambil memegang kepala Zahra.
"Sekarang udah nggak terlalu. Emm.. Aku ke kelas ya bentar lagi masuk. Kita bertemu di parkiran nanti. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Zahra berjalan menuju ke kelasnya. Dia terus menundukkan kepalanya dan terus mengelus kepalanya yang mengenai sikut pak Hanan.
"Aduh.. " rintih Zahra.
"Astagfirullah" ucap pak Hanan kaget.
"Maaf pak maaf"
"Ada yg sakit, bapak juga minta maaf ngga ngeliat kamu tadi"
"Iya pak ngga papa. Saya permisi"
Zahra meninggalkan pak Hanan dan berlari ke kelasnya.
"Ya Allah, mimpi apa aku semalam. Aku terus celaka karena pak Hanan" gumam Zahra dengan kesal.
//**//
__ADS_1