Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Percaya


__ADS_3

Keesokan paginya Zahra bangun lebih lambat dari biasanya. Turun ke lantai bawah dengan langkah gontainya sambil menarik tas yang tidak di gendongnya.


"Non, nanti tas non kotor"


"Nggak papa bi, berat"


"Sini biar bibi bantu"


Bi Sari membawakan tas Zahra dan menaruhnya di sampingnya.


"Aneh, padahal enteng banget kok di bilang berat. Pasti ini ada masalah" gumamnya.


"Bi, ayo duduk. Bibi ngelamunin apa"


"Nggak tuan nggak ngelamunin apa-apa kok, saya panggil pak Johan dulu"


"Iya bi silahkan"


Setelah bi Sari menjauh, Hanan memandangi Zahra yang sedang menopang kepalanya dengan kedua tangannya.


"Kamu kenapa"


"Bukan urusan bapak"


"Soal kemarin saya minta maaf karena kurang pengertian dengan kamu dan terima kasih juga untuk kopinya. Kopinya enak, bisa buatkan lagi untuk saya"


"Males pak, suruh aja bi Sari"


"Kamu kenapa, saya kan udah minta maaf. Ngga baik loh kalau terus marah kaya gini"


"Bapak tumben mau ngebujuk saya, biasanya di biarkan begitu saja"


"Tadi malam saya mendapat salam dari orang tua kamu. Saya akan merasa bersalah jika membuat mu murung dan bersedih. Apalagi marah dengan saya"


"Salam pak, saya tidak salah dengar"


"Iya salam"


"Ba-bagaimana itu mungkin"


"Mungkin mereka ingin di doakan oleh kamu, pulang sekolah nanti kita ke makam ya"


"Iya pak, terimakasih banyak ya pak"


"Sama-sama"


"Tuan, nona"


"Bi, Pak duduk yuk cepetan makan. Pasti enak ini"


"Mood non udah baik non"


"Mungkin"


"Alhamdulillah" ucap Bi Sari.


"Memangnya kenapa bi"


"Ngga papa non, mari non makan"


"Iya bi"


*****


....Di mobil.


"Pak"


"Kenapa"


"Lahhhh.. nggak jadi"


"Loh kenapa, ada yang salah"


"Nggak kok pak, ngga papa. Bapak fokus nyetir saja"

__ADS_1


"Katakanlah jika ada masalah atau sesuatu yang mengganggu, saya akan membantu sebisa saya"


"Nggak pak, belum ada kok. Saya mau baca buku sebentar"


"Belajar dengan giat, saya mendoakan mu selalu"


Pak Hanan mengelus kepala Zahra yang sedang fokus membaca buku pelajaran untuk tes pertama hari ini. Seketika kefokusannya buyar dan membuat jantungnya berdetak tidak karuan, dengan cepat Zahra menghempaskan tangan Hanan.


"Jangan pegang-pegang saya tanpa seizin saya"


"Hahaha... baiklah..."


"Ehhh... bapak nggak salah tertawa kepada saya"


"Memangnya salah kenapa"


"Bapak kan dingin, cuek, nyebelin tiba-tiba ketawa gitu aja, ya.. berasa aneh aja gitu"


"Untuk apa selalu dingin kepada orang yang saya sayangi."


"Maksud bapak"


"Sudah sampai, silahkan masuk kelas dan semoga di lancarkan segala urusanmu"


Hanan keluar dari mobilnya begitu juga Zahra. Kini pikiran Zahra benae-benar berkecamuk. Dan hanya satu yang dia pikirkan saat ini.


"Pak Hanan mencintaiku".


*****


Tes hari pertama pun selesai. Hanan sudah menunggunya di depan ruang tesnya.


"Loh pak, bapak di sini. Ada urusan apa ya pak" Tanya Fany yang melihat Hanan duluan.


"Saya mau bertemu Zahra"


Zahra pun keluar dari ruangannya dan menuju ke arah Fany.


"Ada apa Fan, kayaknya ada yang sebut nama gue"


"Saya yang menyebut nama kamu tadi. Oiya saya mau bertanya, tugas-tugas yang saya berikan kepada kamu sudah di amanahkan dengan baik bukan?"


"Tugas kelas 11 PBS dan kelas kamu nggak ada yang numpuk. Kelas kamu hanya kamu dan Fany yang numpuk. Yang lainnya dimana"


"Nggak tau pak, mungkin nggak pada numpuk" jawab jujur Zahra.


"Dia nggak ngasih ke kami pak" ucap Rena salah satu teman sekelas Zahra.


"Iya pak, dia nggak ngasih ke kita. Dia hanya nulis sendiri sama Fany pak" ucap salah satu pendukungnya.


"Benar Zahra"


"Oohhhh... Kalian udah berani fitnah gue ya. Kalian aja yang waktu itu nyolot kok, gue udah nawarin baik-baik, tapi kaliannya ada yang nolak. Kalau kalian mau fitnah fitnah ya silahkan, gue punya saksi Fany dan Allah subhanahuwata'ala yang maha tau segalanya."


"Benar pak, Zahra sudah menyerahkannya kepada kami, namun cuma saya dan Zahra yang mengerjakannya" ucap Fany.


"Bohong pak, Zahra tidak ke kelas 11 PBS juga" ucap Sella yang tiba tiba datang karena mendengar perdebatan di antara mereka.


"Astagfirullah, apakah kalian sengaja mau ngejatuhin gue biar gue di usir dari keluarga pak Hanan. Mereka itu berbohong pak, kalau semisal saya tidak menyampaikan amanah bapak, pasti kelas 12 TBSM juga tidak mengumpulkan pak"


"Zahra, Sella, Fany, dan Rena, ikut saya ke kantor sekarang. Yang lainnya pulang sekarang juga"


"Baik pak" jawab semua murid yang mengerumuni mereka.


Mereka berlima berjalan menuju ke ruang guru, semua guru hanya memperhatikan secara seksama dan sebagian ada yang bersiap untuk pulang. Mereka berlima duduk di sofa yang tersedia dan hanya saling terdiam.


"Zahra, siapa yang menemani kamu ke kelas PBS dan TBSM"


"Fany pak" jawab Zahra.


"Fany, apakah benar kamu yang menemani Zahra mengantarkan tugasnya"


"Iya pak benar"


"Tunggu sebentar" ucap pak Hanan kepada salah satu siswa yang melewatinya.

__ADS_1


Semua yang tertunduk langsung melihat ke arah pak Hanan dengan pikiran yang tidak tenang sekaligus canggung.


"Iya pak ada yang bisa saya bantu."


"Tolong panggilkan anak kelas 12 TBSM"


"Saya di sini pak" ucap seseorang yang tak lain adalah Leon.


"Kak Leon" ucap Zahra lirih.


"Mohon maaf pak telat"


"Iya nggak papa."


"Jadi tidak pak" tanya siswa yang tadi dia panggil.


"Tidak, terimakasih"


"Ya sudah pak, assalamualaikum"


"Wa'alaikumasalam"


Hanan menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan sambil melihat murid-murid yang di depannya.


"Leon, apakah benar Zahra menyampaikan amanah ke kelas kamu"


"Pak, Zahra kan suka sama ka Leon, pastinya di anterin sekaligus apel pak" ucap Rena.


"Jangan fitnah kamu Ren, lo ngomong bisa di jaga atau nggak si. Iya gue tau lo benci sama gue entah karena apa, dan jujur gue juga benci sama lo karena sikap lo yang kurang ajar itu"


"Diem lo ya, jangan asal tuduh lo"


"Kalian berdua diam." Bentak Hanan.


"Assalamualaikum, maaf mengganggu semuanya" ucap Alvero.


"Wa'alaikumsalam" ucap Hanan dan yang lainnya.


"Alvero, kebetulan kamu datang. Kenapa kamu dan teman-teman kamu nggak ada yang mengerjakan tugas saya"


"Saya ada pak, ini. Maaf pak telat" ucap Alvero sambil memberikan selembar kertas kepada Hanan.


"Kamu nyontek"


"Nggak pak, ngerjain soal yang di beri sama Zahra kemarin"


"Soalnya di mana"


"Ada pak di kelas"


"Terbukti sekarang." ucapnya sambil menggebrak meja.


Semua yang ada di sana kaget seketika dan memegangi dadanya yang semakin berdegup kencang.


"Saya sudah percaya dari awal dengan Zahra. Kalian lah yang berbohong untuk memfitnahnya. Juga sudah jelas dari awal, dia yang menuduhnya maka tidak lain dialah pelakunya. Kalian bersekongkol agar dia tidak di sukai oleh semua orang. Jadi untuk kelas 11 PBS dan kelas 10 MM 2 selain Zahra, Fany dan Alvero untuk mengerjakan soal di setiap buku paket dari bab 6 hingga bab 12. Besok harus mengumpulkan, jika tidak siap-siap saja nilai rapot kalian kurang dari 75. Sekarang kalian pulang"


Semuanya tertunduk dan menjawab "iya" secara bersamaan. Mereka juga langsung meninggalkan ruang guru.


"Akhirnya, keluar juga" ucap Fany.


"Zahra, kali ini lo selamat, dan tidak untuk kedepannya" ancam Sella dan langsung pergi dari hadapan mereka.


"Gue benci sama lo" ucap Rena sambil mendorongnya.


Zahra terhuyung ke belakang dan dengan cepat Leon memeganginya.


"Hhmm..hmm"


Deheman Hanan membuyarkan lamunan mereka.


"Pak Hanan"


"Ayo pulang Zahra"


"I-iya pak. Gue pulang dulu ya teman-teman, terimakasih atas bantuan kalian. Assalamualaikum" ucap Zahra.

__ADS_1


"Wa'alaikumasalam"


//**//


__ADS_2