
"Ini" tanya Fany untuk memastikan.
"Iya ini, kenapa emang"
"Ini ya"
Zahra manggut-manggut. Tiba-tiba Fany pingsan di hadapan Zahra.
"Eh..eh..lah kok malah pingsan. Haduh gimana ini. Pak Johhaann... Bantu saya pak..Pak Johan" teriak Zahra dari luar pintu gerbang.
"Iya non. Ini temen non kenapa pingsan"
"Nggak tau, bapak gendong ke kamar depan ya pak, saya bawa tasnya"
"Iya non iya"
Zahra berjalan di belakang pak Johan, dan menyuruh bi Sari untuk menelepon dokter.
"Bagaimana dok dengan keadaan temen saya"
"Dia hanya shok, sebentar lagi dia akan sadar, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan. Saya pikir saya di panggil karena Tuan Hanan sakit, ternyata bukan. Kalau begitu saya langsung permisi"
"Iya dokter terimakasih banyak"
"Sama-sama. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
"Mari pak saya antar" ucap pak Johan yang di jawab anggukan oleh sang dokter.
"Bi, tolong ambilkan air putih hangat ya"
"Iya non"
"Ya ampun Fan, Lo malu-maluin banget si. Begitu datang dan tau rumah ini milik pak Hanan, lo langsung pingsan. Apalagi kalau lo tau kalau gue udah nikah sama dia." gumam Zahra sambil menggelengkan kepalanya.
Tak lama Fany pun sadar dan mulai membuka matanya.
"Gue di mana. Udah di syurga ya" ucap Fany nglantur.
"Di jaga ngomongnya. Ini di rumah pak Hanan. "
"Kok gue bisa ada di sini"
"Kan lo yang minta nginep, terus waktu tau ini rumah pak Hanan malah lo pingsan di depan"
"Kirain itu gue mimpi, ternyata bener ya. Kamarnya gede, dua kali lipat kamar gue"
"Permisi, non ini airnya" ucap bi Sari sambil memberikan minum kepada Zahra.
Zahra mengambilnya dan memberikannya kepada Fany untuk di minum. Fany meneguknya hingga habis dan memberikan gelasnya lagi kepada Zahra dan estafet lagi kepada bi Sari.
"Terimakasih ya bi"
"Iya non, ada perlu lagi non"
"Ngga bi udah"
"Kalau begitu bibi ke belakang dulu ya non. Permisi"
Zahra mengangguk dan kembali fokus kepada Fany.
"Lo kenapa bisa pingsan? Padahal kan rumah lo gede juga"
"Iya, tapikan nggak segede gini rumahnya. Ini rumah tuh kaya rumah ala ala india tau nggak, gede banget bak istana"
"Udah ih, sebaiknya lo mandi, terus kita jalan-jalan ke belakang rumah. Tapi ada syaratnya"
"Apaan dah, pake acara syarat-syaratan segala" keluh Fany.
"Lo siapin mental lo biar nggak pingsan lagi."
__ADS_1
"Siap, gue mandi ya"
"Iya sana. Hati-hati loh ntar pingsan lagi"
"Iya tuan putri"
Setelah Fany mandi, Zahra dan Fany pun menuju ke taman belakang rumah Hanan.
"Ini Ra tamannya, gese banget kaya lapangan apel di sekolah ini mahh. Pasti kalau pak Hanan udah nikah, tempat ini di jadiin taman bermain anak-anak."
"Bi-bisa aja lo"
"Ra, pak Hanan kerja apa si, kok punya rumah gede gini. Nggak mungkin kan cuma jadi guru"
"Nanti lo tanya sendiri aja kalau udah pulang. Tapi inget nih, jaga mental"
"Insyaallah. Eh Ra, ada sepeda nggak, besok pagi main sepedaan yuk"
"Nggak mau dan nggak tau"
"Lah kenapa"
"Gue nggak bisa main sepeda"
"Hahaha.. masa sih, kalau ada gue ajarin besok"
*****
Zahra dan Fany sedang asiknya menonton tv di ruang keluarga sambil memakan camilan. Tanpa mereka sadari, Hanan sudah di belakang mereka.
"Assalamualaikum" ucap Hanan.
"Wa'alaikumasalam" jawab mereka berdua.
Fany mengibaskan tangannya untuk membersihkan tangannya dari sisa-sisa makanan dan kemudian menyalami Hanan.
"Eh salah, adeknya dulu yang harus salaman" ucap Fany lirih yang masih bisa terdengar oleh Hanan.
Fany yang sudah berdiri lantas menepuk bahu Zahra yang masih terduduk sambil menonton film yang di putarnya.
"Abang lo pulang, salim dulu gih. Ntar jadi adik baik"
"Harus gitu"
"Iya lah harus"
"Duh, kenapa jantung gue dag..dig..dug.. serr.. gini ya. Padahal cuma perkara salaman doang. Ahhh.. nggak bener nih jantung gue"
"Ra.. malah ngelamun. Cepetan gih , keburu pak Hanan pegel tuh"
"Iya-iya bawel banget si"
Dengan cepat Zahra bersalaman dengan Hanan dan menempelkannya di dahinya, kemudian bergantian dengan Fany. Ini adalah kedua kalinya Zahra bersalaman dengan Hanan.
"Ini ada sedikit makanan untuk kalian"
Hanan memberikan dua bungkus keresek berisi pizza dan martabak, kemudian dia berikan kepada Zahra.
"Apa ini pak" tanya Zahra.
"Pizza dan martabak. Kalian makanlah dulu. Saya mau ke atas"
"Iya pak"
Zahra dan Fany kembali duduk. Zahra membuka satu per satu kotak itu.
"Tunggu sebentar, jangan di makan dulu"
"Mana bisa gue makan tanpa izin dari tuan rumahnya dulu walaupun sebenarnya kepingin, tapi kalau tuan rumah ngelarang ya udah cuma gue ratapin"
"Sabar, tunggu bentar doang"
__ADS_1
"Iya"
Zahra mengambil piring di dapur kemudian mengambil beberapa potong Pizza dan martabak tersebut dan menaruhnya di piring yang ia bawa.
"Kok di taruh di piring Ra"
"Ini buat bi Sari dan pak Johan"
"Loh kok"
"Iya lah, memangnya kenapa"
"Kebanyakan kan majikan nggak ngebiarin pembantunya makan yang enak-enak"
"Dih, gue kan beda Fan. Mereka udah gue anggep keluarga sendiri. Apa salahnya?. Lagian gue nggak suka kalau ngebedain pembantu dan tuan rumah. Jujur gue nggak nyaman, berasa ada jarak gitu loh"
"Salut gue sama lo, kenapa nggak di panggil buat makan bareng kita aja"
"Tadinya si gitu, tapikan pasti bi Sari sama pak Johan nolak karena nggak enak sama kamu, pasti gitu alesannya"
"Ohh gitu, ya udah lo anter aja sana"
"Bi Sarriii... Bibi..." teriaknya.
"Iya non" jawabnya.
"Bi ini di makan ya , berengan sama pak Johan"
"Tapi non, mana pantas saya makan beginian"
"Ya pantas lah bi, semua orang berhak mendapatkan rezeki. Ini bi, jangan di tolak ya. Lagian masih banyak tuh, mubazir kalau nggak habis"
"I-iya non, terimakasih banyak ya non"
"Iya bi sama-sama"
Bi Sari meninggalkan Zahra dan Fany. Zahra pun kembali duduk.
"Dah, silahkan di nikmati"
"Nggak lah, lo duluan aja. Kan tuan rumah yang harus menikmati dulu"
"Tuan rumahnya bukan gue tapi pak Hanan. Udah lo makan aja dulu"
"Nggak lah, tunggu pak Hanan aja kalau gitu"
Tanpa perlu berdebat, mereka terdiam dan fokus ke layar Tv. Tiba-tiba Hanan datang dan duduk di samping Zahra.
"Kok masih banyak, kalian udah kenyang"
"Pake duduk di samping gue segala lagi" gumam Zahra.
"Masih belum di makan itu pak, bapak duluan aja, kami nyusul nanti" ucap Zahra.
"Kenapa harus nunggu saya, kalian kan bisa makan dulu"
"Udah tinggal nurut kenapa si pak, kasian tuh Fany udah ngiler"
"Lah kok bawa-bawa gue, gue kan lagi liat film"
"Udah jangan saling menyalahkan. Kalau mau makan, tinggal di makan saja, nggak usah malu dan ragu."
"Kalau gue nggak mengawali, Fany bakalan terus nolak. Gue udah ambil nih Fan, sekarang lo makan aja"
"Makasih ya pak, Zahra"
"Santai aja" ucap Zahra
//**//
maaf ya baru up, ada sedikit kendala soalnya. Terimakasih sudah setia menunggu..
__ADS_1
Salamku
Dewi M