Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Oh no!


__ADS_3

Teriakan Alvero dan Fany membuat Hanan melihat ke arah sumber suara dan dengan cepat berenang ke arah Zahra. Zahra yang tidak bisa berenang hanya bisa pasrah dengan dirinya yang mulai tenggelam. Pernapasannya juga mulai terganggu hingga akhirnya dia menutup matanya. Alvero yang menolong nya tertunda karena kecepatan renang nya belum melebihi kecepatan renang Hanan hingga Hanan yang terlebih dahulu sampai menolong Zahra.


Hanan langsung menggiring tubuh Zahra hingga di ke atas permukaan dan mulai mengangkat tubuh Zahra ke daratan. Fany menghampiri nya begitu juga Alvero.


Hanan mendengar kan pernapasan Zahra, karena kondisi pernapasan Zahra yang semakin buruk membuat nya terdorong untuk memberikan nafas buatan nya.


Oohh.. Benarkah? Ini first kiss nya Zahra. Fany hanya di buat melongo dengan sikap Hanan dan Alvero yang melihatnya langsung melihat ke arah Fany dan menutup mulut dan matanya yang terbuka lebar.


"Isshh.. Kenapa di tutup, ini baru pertama kali aku lihat secara langsung loh, ngacauin aja"


"Emang lo pernah liat dimana"


"Drakor"


Zahra yang merasakan sesuatu yang memompa pernapasannya langsung terbangun dan mendorong tubuh Hanan. Dan seketika dia memutahkan semua air yang masuk ke dalam perutnya.


"Fany, tolong kamu ambilkan Handuk dan Alvero, cepat ambilkan air hangat. Cepat.."


Dengan segera, mereka berdua menuruti perintah Hanan. Hanan yang khawatir langsung memeluknya. Zahra hanya menetralkan Pernapasannya. Fany langsung memberikan handuk yang di berikan nya, dan tak lama Alvero juga datang memberikan air hangat.


"Ini pak"


Hanan langsung mengambil nya dengan kasar, tak peduli tumpah atau tidaknya karena dia khawatir dengan keadaan Zahra.


"Ini minum, pelan-pelan ya"


Zahra meminum nya dengan perlahan hingga habis.


"Kamu ke kamar ganti baju langsung istirahat"


"Aku antar ya Ra" ucap Fany.


"E-enggak usah Fan, tolong panggilkan bi Sari atau siapapun ya, kamu di sini aja. Sekalian aku ambilin baju buat kamu"


"Nggak usah Ra, nggak papa"


"Mas tolong panggilkan bi Sari atau siapapun"


"Bi... Bi.. Bi Sari.. " teriak Hanan.


"I-iya tuan, Non Zahra..." ucap nya panik.


"Bi, tolong bawa Zahra ke kamar dan sekalian ambilkan baju untuk Fany"


"Iya tuan, mari Non"


Bi Sari memegang pundak Zahra dan membawanya ke kamar.


"Bibi, bawakan ini kepada Fany ya bi, saya mau membersihkan diri dulu"


"Iya, non udah nggak papa kan"


"Nggak papa kok bi"


"Saya tinggal dulu ya non"


"Iya bi"


Zahra membersihkan dirinya, sedangkan mereka bertiga yang ada di bawah memutuskan untuk menuntaskan dirinya.


Fany juga membersihkan dirinya dan membawa pakaian basah nya dan memutuskan untuk pulang bersama dengan Alvero.


"Pak kami pamit, nanti tolong beritahu Zahra"


"Iya, kalian hati-hati"


"Iya pak, Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"

__ADS_1


Setelah pulang, Hanan juga membersihkan dirinya dan ikut terlelap di samping Zahra.


Zahra bangun pukul 5 sore dan melewatkan sholat asar. Begitu dia bangun, dia sudah mendapati Hanan yang sedang memeluknya. Iya.. memeluknya untuk memberikan kehangatan yang sebelumnya dia begitu kedinginan karena tenggelam di air yang menurut nya begitu dalam.


Zahra mendekatkan dirinya hingga di dada Hanan, begitu hangat baginya. Hanan yang merasa ada yang bergerak pun mengerjapkan matanya, matanya langsung bertemu dengan mata Zahra. Zahra pun tersenyum ke arahnya. Hanan yang memeluknya langsung melepaskan tangannya.


"Maaf"


"Nggak papa mas, ini hangat, nggak seperti tadi dingin... Sangat dingin"


"Mas juga minta maaf tadi di kolam renang"


"Kenapa mas"


"Kamu nggak ingat, intinya mas ngelakuin itu karena buat memberikan oksigen buat kamu"


"Oksigen?"


Zahra bingung dan mencoba mengingat kejadian saat di kolam. Dan setelah mengingat nya dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Oh no, my first gue dong ibaratnya"


"Mas minta maaf, sangat minta maaf"


"Nggak papa kok mas, lagian itu juga buat mengecek pernapasan aku kan"


Hanan mengangguk.


"Maaf ya mas akhirnya jadi nyuri.."


Zahra menenggelamkan kepalanya di balik selimut, tidak menginginkan Hanan berucap tentang kejadian di kolam renang. Mungkin seluruh wajahnya kini sudah memerah.


"Jangan begitu Zahra, nanti kamu sesak nafas"


"Tapi sebelum nya mas janji jangan bahas itu lagi"


"Mas nggak bisa janji, tapi mas usahakan"


Zahra mengeluarkan kepalanya dari balik selimut, wajahnya sungguh memerah membuat Hanan merasa panik di buatnya dan langsung memegangi pipi beserta dahinya.


"Kamu kok mukanya merah"


"Isshh mas, singkirin tangan kamu, aku ngga sakit kok"


"Terus kok muka kamu merah"


"Pasti udah kaya kepiting rebus ya mas, memang gini mas kalau udah malu sampe urat"


Hanan tertawa lepas mendengar omongan Zahra. Dan lagi-lagi wajah Zahra tambah memerah di buatnya.


"Mas.. Udah ihh"


"Maaf maaf... siap siap sholat maghrib yuk"


"Iya mas"


*****


Keesokan harinya, Zahra sangat antusias karena hari ini adalah pembagian rapot nya.


"Papa, papa di sini"


"Iya, Bagaimana kabar kamu"


"Alhamdulillah sehat pa"


"Syukurlah"


"Papa sendiri"

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat. Ruangan nya di sini kan"


"Iya pa"


"Papa masuk dulu"


"Papa baru yang ke sini ya Ra, hahahaha..."


"Memang nya kenapa Sari, ada yang salah"


"Ya salah lah, berani amat tuh orang masih tampil di muka umum"


"Maksud kamu apa"


"Nanti juga kamu tau kok"


Sari pergi dari hadapan Zahra, sungguh pikiran Zahra sangat khawatir dan bingung dengan ungkapan Sari.


"Ada yang tidak beres, tapi apa dan kenapa. Apa yang di rencana kan Sari sebenarnya"


"Zahra, lo kenapa. Ngantin yuk"


"Nggak, gue sini aja, pengen tau gue peringkat berapa"


Mereka menunda nya dan memutuskan untuk menunggu di depan kelas. Sekitar 1 jam papa Nanda keluar dan memeluk Zahra.


"Sabar ya nak"


"Maaf pa, aku nggak bisa masuk 5 besar"


"Siapa bilang"


Zahra mendongak. Papa Nanda memberikan rapotnya sambil tersenyum.


"Kedua Zahra"


"Beneran pa"


Papa Nanda hanya mengangkat kedua bahunya, dengan cepat Zahra membuka rapotnya dan benar sana, dia peringkat ke 2.


"Maaf ya pak, hanya peringkat 2"


"Tak apa nak, kamu sudah berusaha dengan baik. Papa langsung pamit ke kantor ya"


"Iya, pa"


Papa Nanda pun turun. Tak lama Hanan juga turun menemui Zahra.


"Sudah ada pak Hanan, aku turun ya"


Zahra mengangguk sambil tersenyum pada Fany. Zahra menatap kepergian Fany hingga menghilang dari matanya. Dia celingak celinguk untuk memastikan sudah tidak ada orang. Dia langsung menghamburkan dirinya dan ke pelukan Hanan.


"Bagaimana "


" Kedua"


"Alhamdulillah, yuk pulang, habis itu mas langsung ke kantor ya"


"Iya mas"


"Kamu kedua, pertama nya siapa"


"Antara Fany kalau ngga Reni"


Dan "Cup", Hanan mencium puncak kepala Zahra lalu mengelus nya.


"Selamat, usaha mu tak sia-sia."


"Terimakasih mas"

__ADS_1


"Oh no! Gue di cium lagi, jadi ke inget tadi pagi kan... Hiiissshhh.. "


//**//


__ADS_2