Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Seseorang yang Istimewa


__ADS_3

"Pak, bisakah bapak menunggu saya untuk perlahan membukakan hati saya untuk bapak. Saya akan mencoba dengan untuk membuka hati ini untuk bapak."


"Iya itu pasti, saya bersedia menunggu kamu hingga kapanpun itu"


"Terimakasih banyak, telah memberi saya kesempatan. Kalau begitu kita akan memulainya dari sekarang, bagaimana?"


"Caranya"


"Bapak seolah olah baru mengenal saya, dan saya baru mengenal bapak, tetapi sebagai seorang teman... eehhh.. bukan bukan, sahabat, bagaimana? Oiya bapak juga harus menyimpan terlebih dahulu perasaan bapak kepada saya, dan jangan ungkapkan lagi sebelum waktunya tiba, bagaimana? Bapak setuju? Satu hal lagi, jangan pakai bahasa formal ya pak, pakai bahasa aku kamu saja dan mulai hari ini aku akan panggil kamu dengan sebutan bang... aaahhh.. tidak tidak... kak.... eehh... jangan deh... emmm... mas aja, kalau panggil bang itu sebutan kamu dan aku kepada bang Hendra. Terus kalau aku panggil bang pas kamu sama bang Hendra lagi bareng bisa nyelingak bareng nanti kan repot, kalau kak.. terlalu formal juga menurut aku, dan mas... hitung hitung pdkt lah.... gimana pak... eh.. mas.."


Hanan tersenyum mendengar omongan Zahra yang begitu menggemaskan seperti anak kecil yang terkadang berubah menjadi dewasa.


"Itu terserah kamu"


"Kalau begitu ayo kita janji kelingking" ucapnya sambil menunjukkan jari kelingkingnya.


"Janji kelingking maksudnya"


"Iya pokoknya janji ibarat kayak persetujuan gitu kaya di drakor yang waktu itu pernah aku lihat bareng sama Fany"


"Kamu suka drakor"


"Bukan aku tapi Fany, mau nggak pak, kalau nggak mau ya sudah"


Hanan dengan cepat menautkan jari kelingking Zahra dengan jari kelingkingnya tepat sebelum Zahra menurunkan jarinya. Zahra menatapnya begitu juga dengan Hanan.


"Sudah kalau begitu kita setuju, mas balik sana ke kamar mas, aku mau lanjut tidur"


"Subuhan dulu"


"Kamu saja, aku libur satu minggu dulu"


"Jangan tidur, gunakan waktu itu untuk belajar, cepat masuknya loh ke otak"


"Iya sudah, terimakasih perhatiannya, mas balik sana ke kamar, subuhan habis itu mandi terus sarapan"


"Kamu juga belajar yang rajin ya, mas ke kamar"


Dan Hanan pun berdiri lalu mengecup kepala Zahra sebelum dia pergi.


"Assalamu'alaikum"


"Mas, nggak perlu pakai salam lagi, lagian kan masih di dalam rumah, kalau habis dari luar rumah aja"


"Kan ada pahalanya"


"Iya udah si terserah, udah gih.. sana nanti keburu siang"


Hanan mengangguk dan tersenyum sekilas kepada Zahra. Zahra memandang Hanan hingga keluar dan menutup pintunya dengan rapat. Setelah pintu benar-benar tertutup dengan rapatnya, Zahra langsung menutup wajahnya dengan bantalnya.

__ADS_1


"Oohhhh... apakah benar yang gue katakan tadi?, apakah itu semua masuk akal?, Dan... tadi...janji jari kelingking, senyuman dan kecupan itu apakah itu nyata... haaiiissshhhh... benar benar sudah hilang akal gue ini... Mama bapak kenapa aku jadi rindu kalian, kalian pasti menyaksikannya tadi dari atas bukan... anakmu ini sedang kesambet apa pagi buta ini.... Oooohhhh... Zaahhhrrraaaaa... kenapa jadi begini, kalau pak Hanan kegeeran bagaimana? apa yang aku lakukan .... aaarrrrggghhhh..... oke... gue harus istigfar... astagfirullah... Gue harus tenang... bersikap biasa aja oke.... huhhh... tenang tenang...... oke Zahra lebih baik mandi aja yang lama terus keluar tinggap makan terus sarapan aja ya... lahhh.. kenapa gue jadi bermonolog kaya orang gila giniii... aaahhh.. bodoamat lah mending mandi... cukup stop.. otak hati jangan pada berisik."


Selesai Zahra bermonolog, zahra ke kamar mandi dan cukup lama sambil bermain air dan menenangkan pikiran dan hatinya.


Selesai mandi dia memakai seragam dengan rapinya dan tidak lupa dengan hijabnya yang putih untuk memadukan seragam osisnya. Dan segera keluar untuk bersiap sarapan.


"Selamat pagi bi"


"Pagi non"


"Pagi bi" ucap Hanan.


"Pagi tuan"


"Mari bi Sarapan, pak Johannya jangan lupa"


"Saya di sini non"


*****


....Di mobil.


"Mas, nanti siang anterin Zahra ke makam ya, mas ada meeting atau nggak"


"Kebetulan nggak ada"


"Tapi mas, emangnya boleh ya pergi ke makam saat datang bulan"


"Begitu ya mas, mas sampe hafal loh hadisnya, hebat.."


"Ini materi kelas 11, tahun depan pasti akan tau"


"Oohhh.."


"Ada lagi yang ingin kamu tanyakan"


"Belum mas"


Sekitar 15 menit sudah akhirnya mereka sampai di sekolah. Zahra melepas sabuk pengamannya dan berniat untuk bersalaman dengan Hanan.


"Mas"


"Hm.. oohh"


Hanan menerima tangan Zahra dan Zahra pun mencium punggung tangan Hanan.


"Wangi" gumamnya.


"Belajar yang rajin ya, sana masuk jangan lupa belajar lagi"

__ADS_1


"Oke"


Zahra keluar dari mobil Hanan dan segera menuju ke kelasnya dan duduk di teras kelas karena pintu yang masih terkunci.


"Zahra" panggil Leon.


"Kak Leon"


Zahra yang sedang terduduk pun akhirnya berdiri dan menghampirinya.


"Setelah tes lo akan kunjungan industri kan, hari apa?"


"Kalau nggak salah dari hari Rabu minggu depan kak? ada apa"


"Nggak papa, cuma nanya aja. Oiya lo nggak ikut ekstrakulikuler PKS(Polisi keamanan sekolah)"


"Nggak kak, males ikut begituan, memangnya kenapa?"


"Pak Hanan kan jadi pembinanya, lo nggak tau"


"Enggak, emang pak Hanan jadi pembina apa aja"


"PKS sama badminton doang"


"Oohh, nggak kak, nggak tertarik. Ehhh... bilang aja mau deket sama gue... ya kan"


"Iya"


"Maaf kak, gue nggak bisa, gue sedang mencoba membuka hati untuk seseorang dari amanah mama dan bapak. Sudah ya kak gue mau kembali belajar dulu"


Zahra membalikkan badannya membelakangi Leon.


"Memangnya siapa yang kamu maksud"


"Seseorang yang istimewa di mata almarhum kedua orang tua saya" jawabnya tanpa membalikkan badanya.


"Jadi tidak istimewa di mata kamu kan, kenapa kamu harus membuka hatimu kepada orang yang belum kamu cintai dan tidak menerima cintaku"


"Karena dia adalah masa depanku dan imamku yang harus aku ikuti kemanapun dia pergi"


"Imam, maksudmu"


"Maksudku adalah dia adalah orang yang di pilihkan almarhum orang tuaku sebelum mereka meninggal, dan aku tidak bisa menghianati mereka walaupun mereka sudah tiada, aku harap kau mengerti"


Zahra menjauhinya dan duduk kembali di depan kelasnya.


" Semoga dia benar-benar menjadi imam terbaikmu Zahra dan pasti aku akan segera mengetahuinya "


Leon pergi dari tempatnya dan menuju ke tangga lantai 3 tempat ruang tesnya. Zahra hanya menghembuskan nafasnya kasar.

__ADS_1


"Memang aku mencintai Leon, namun saat gue melihat wajahnya gue teringat akan Zeon, dan itu membuat aku trauma dengan yang akan Zeon yang hampir merenggut sesuatu yang berharga dariku dan itu sangat menyakitkan bagiku, maaf sepertinya aku tidak bisa menaruh hati kepadamu lagi"


//**//


__ADS_2