
Di sepanjang perjalanan, Hanan dan Zahra hanya terdiam. Zahra hanya meremas remas jari jemarinya cemas Hanan akan memarahinya.
"Bapak marah sama saya pak" tanya Zahra memecah keheningan.
"Marah kenapa"
"Karena saya tidak menyampaikan amanah bapak dengan benar"
"Yang terpenting mereka sudah jujur, lagipula saya percaya dengan kamu"
"Percaya dengan saya, sejak kapan pak"
"Semenjak kamu masuk ke sekolah"
"Deg" begitulah jantung Zahra seakan berhenti berdetak dan langsung berbalapan tidak karuan.
"Ehhmm.. pak, boleh saya tanya sesuatu"
"Banyak juga boleh"
"Dari sikap bapak kepada saya, saya rasa bapak ..."
Tiba-tiba Hanan menghentikan mobilnya secara mendadak dan membuat Zahra terdorong ke depan.
"Astagfirullah bapak, bisa nggak mendadak nggak sih"
"Maafkan saya nggak sengaja, kamu nggak luka kan"
"Nggak kok pak, bapak ada apa, memangnya ada yang salah dengan yang saya ucapkan tadi, padahal belum selesai loh pak"
"Maksud kamu tadi adalah mencintai kamu bukan?"
"Iya. Bapak semenjak kapan menyukai saya, dan apa alasannya"
"Semenjak saya menghukum kamu di sekolah"
"Jadi bapak mendekati saya karena..."
"Benar, saya mencintai kamu"
"Deg..Deg..deg.." Jantung Zahra benar-benar sudah tak tenang dan kalian pasti tau begitu juga dengan Hanan. Itulah sebabnya Hanan menghentikan mobilnya karena rasa di dalam hatinya sedang tidak karuan.
"Tetapi saya tidak mencintai bapak"
"Saya akan menunggu kamu menerima saya hingga kapanpun dan hingga saya tiada saya akan menunggumu. Saya akan berusaha menjagamu semampuku. Dan saya berharap kamu tidak menjauhi saya karena pernyataan ini. Jika kamu menjauh, saya akan mengejarmu sekeras mungkin hingga mendapatkan hati kamu. Saya harap kamu mengerti."
Hanan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kita pulang atau jadi ke makam"
"Iya, pulang aja"
Zahra membuang pandangannya ke luar kaca mobil. Dan Hanan kembali fokus menyetir mobil.
*****
__ADS_1
Zahra belajar di kamarnya, dari semenjak dia pulang sekolah dia terus berdiam diri di kamarnya hingga menjelang makan malam.
"Non... non... makan malam dulu non" teriak bi Sari.
Zahra tidak keluar dari kamarnya, percuma dia berteriak karena semua kamar di rumah itu kedap suara jadi dia duduk diam di kamarnya.
Bi Sari berusaha keras untuk membujuk Zahra hingga Hanan terheran heran dengan bi Sari yang berteriak di luar kamar Zahra.
"Bibi kenapa nggak masuk" ucap Hanan.
"Tuan sudah pulang, sini tuan tasnya"
"Nggak usah bi"
Hanan memiringkan kepalanya dan melihat nampan yang di pegang bi Sari.
"Itu untuk Zahra bi, Zahra belum makan"
"Belum makan dari siang Tuan"
"Sini bi nampannya, bibi makan malam duluan saja"
"Kalau non sama Tuan belum makan, saya nggak bisa makan tuan"
"Iya sudah, bibi makan saja. Saya akan makan sama Zahra. Jangan sampai bibi sakit"
"Iya tuan, terimakasih banyak"
Hanan menerima nampannya dan menuju ke kamarnya untuk menaruh tas dan jasnya. Kemudian dia mengambil kunci cadangan di kamarnya dan menuju ke kamar Zahra.
"Wa'alaikumasalam, bapak kok bisa masuk"
"Saya punya kunci cadangan kamar kamu makanya bisa masuk."
"Bapak kok nggak ketuk dulu si"
"Percuma jika saya ketuk ataupun teriak. Bi Sari teriak aja kamu nggak jawab"
Zahra terdiam.
"Jangan kebanyakan ngelamun, nih makan dulu. Belajarnya nanti lagi"
"Ngga pak, saya nggak ingin makan malam"
"Dari siang kata bi Sari kamu nggak makan, nanti kamu sakit dan nggak bisa ikutan tes loh"
"Saya bilang nggak ingin ya nggak ingin pak. Bapak makan saja kalau lapar, saya nggak lapar" ucap Zahra dengan nada yang sedikit meninggi.
Hanan menghela nafas panjang.
"Kamu begini karena pernyataan saya tadi siang bukan? Maafkan saya jika perasaan itu menyinggung kamu, tetapi bukankah berkata kepada orang yang saya percaya apakah itu salah? Baiklah jika menurutmu itu salah, tetapi saya tidak bisa menarik kata-kata saya. Lupakanlah dulu sejenak dan jika hatimu sudah mau menerima saya maka cepat katakanlah, aku akan menunggu, tetapi bukan hari ini, melainkan di waktu yang tepat. Sudah, sekarang makan dulu, belajar lagi yang rajin"
"Iya pak, terimakasih banyak atas semua pengertian bapak kepada saya."
*****
__ADS_1
Zahra berjalan ke luar ke arah ruang tamu, karena ada tamu yang datang ke rumahnya.
"Bi, sini minumnya biar Zahra yang ngasihin"
Zahra berjalan menuju ke ruang tamu sambil menunduk dan meletakkannya di depan kedua tamunya.
"Bagaimana kabarmu nak"
Zahra mendongakkan kepalanya dan melihat orang yang berbicara di hadapannya. Dan dia kaget sekaligus terharu karena melihat kedua orang tuanya.
"Mama, bapak, kalian.. kalian di sini" ucap Zahra dengan senyum sumringahnya dan memeluk mereka berdua.
"Kami selalu ada di hati kamu nak" ucap bapak
"Mama sama bapak di sini mau ngapain"
"Mama sama bapak hanya mau menyampaikan pesan. Zahra, kamu harus berbakti kepada suami kamu sekarang. Jika kamu menginginkan sesuatu, mintalah kepadanya, jangan kepada kami lagi, tanggung jawabmu sudah di pegang erat olehnya. Jangan sampai kamu mengecewakan dia. Mama sama bapak berharap kamu bisa menerimanya di dalam hati kamu, karena kami percaya dialah yang terbaik untuk kamu. Maaf kami tidak bisa mengunjungimu untuk waktu yang lama, kami pamit ya, assalamualaikum"
"Mama sama bapak mau kemana"
Kedua orangtua Zahra hanya tersenyum dan menghilang bagaikan debu bercahaya yang terbang di hadapan Zahra. Zahra hanya berteriak memanggil kedua orang tuanya.
"Baaappaakkk...Maaamaaaaaa"
Zahra terbangun dari mimpinya dengan keringat dan air mata yang bercucuran. Zahra menangis tersedu sedu, Hanan yang melihat kamar Zahra belum memiliki tanda lampu yang menyala menghampirinya.
"Biasanya jam segini kamarnya sudah terang dan lagi subuh, kok masih belum bangun. Apakah dia libur? Kenapa kok aku jadi nggak tenang gini. Coba aku masuk."
Hanan membuka pintu kamar Zahra yang tidak terkunci dan melihat Zahra yang terduduk bersenderan kepala ranjang sambil memeluk bantal. Hanan perlahan menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Zahra, kenapa kamu menangis hheemmm.. ada apa katakan" ucap Hanan sambil mengelus kepalanya.
"Hiks..hikss..."
"Sudah, hentikan tangisan mu... ssstttttttt... sudah.. ada apa"
Tiba-tiba Zahra memeluknya dengan erat, Hanan kaget dan terpaku akan sikap Zahra padanya.
"Bapak... hhikkss.. maafkan saya... hikss.. karena saya... belum bisa menerima bapak seutuhnya.... "
Hanan mengelus punggung Zahra.
"Kenapa kamu tiba-tiba bilang seperti itu, kamu mimpi apa"
"Saya mimpi... hiks.. bertemu dengan almarhum orang tau saya... hikkss.. dan berpesan sesuatu tentang pak Hanan... Bapak..." ucapnya lirih.
Dia menghapus air matanya dan melepaskan pelukannya lalu menatap ke arah Hanan. Hanan melihatnya dengan sendu dan menghapus air mata Zahra yang masih tersisa dengan lembut.
"Ada apa, apa yang almarhum orangtua tuamu katakan kepadamu, bisakah kamu menceritakannya dan memberitahukannya"
//**//
Maaf ya para readers ku... maaf kemarin author nggak up... Maaf ya sudah menunggu, soalnya author sibuk juga mau persiapan buat tes bulan depan, tolong di maafkan ya... Mohon doanya ya semuanya semoga bisa naik kelas dengan lancar dan tanpa hambatan... Amiinnnn...
Salamku
__ADS_1
Dewi M