Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
S2. -


__ADS_3

Hanan melihat ruangan Zahra yang hanya berbataskan kaca. Hanan mengangkat gagang telepon dan yang berbunyi adalah telepon yang ada di ruangan Zahra.


"Hallo, apa benar ini XB Group?"


"Oohh, iya benar. Saya adalah sekretaris sementara pak Hanan sendiri, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya Hanan sendiri. Kamu kelihatan serius sekali di sana. Kamu sedang apa?"


Zahra langsung mendongakkan kepalanya ke ruangan di sebelahnya dan melihat Hanan tengah tersenyum kepadanya.


"Kenapa pake telepon ini mas, ada perlu apa?"


"Begitukah caramu berbicara dengan atasanmu. Cepat ke sini!!"


Hanan langsung menutup telepon, dan dengan malas Zahra pun terpaksa ke ruangannya dengan malas.


"Ada yang bisa saya bantu pak?"


"Bawa berkas yang sedang kamu baca."


"Baik pak."


"Sabar Zahra.. Sabar.." batin.


Dia kembali ke ruangannya dan mengambilnya. Dia kembali ke ruangan Hanan dan duduk di depannya.


"Siapa yang menyuruhmu duduk?"


"Iya, maaf pak. Ini berkas yang tadi bapak minta, ada lagi?"


"Sekarang duduk."


Raga Zahra sejujurnya sudah muak, namun karena sadar posisinya sekarang, dia hanya bisa menurut.


"Suami gue kenapa ini.. Dia sakit kah?" batin.


"Semuanya lancar kan?"


"Lancar pak."


"Besok bawa laptop kamu."


"Iya pak."


Hanan masih tak berkutik dan masih fokus pada kertas yang tadi diberikan Zahra. Zahra masih terdiam dengan pandangan mata kemana-mana. Hanan meliriknya dan kemudian menghembuskan nafasnya kasar.


"Sampai kapan kamu kaya gini? Kenapa kamu panggil saya pak, kita hanya berdua. Dan apakah tadi kamu tidak mengenali suara suamimu sendiri?"


Zahra hanya mengerutkan keningnya, karena tiba-tiba Hanan membanting kertasnya dan kelihatan marah kepadanya.


"Tunggu mas, mas kenapa jadi marah? Memangnya aku tau itu mas, aku nggak mikir dong tadi mas atau bukan. Aku juga sedikit gugup karena baru pertama kali. Kenapa sikap mas kaya orang baru ketemu? Lagian kan juga tadi mas bilang, apakah begini kamu berbicara dengan atasan, ya udah aku panggil mas jadi pak. Menyebalkan. Aku jadi males kalau kayak gini jadi bertengkar."


"Maafin mas, mas hanya sedang uji kamu saja."


"Ya nggak kaya gitu juga dong mas ngujinya. Apalagi bersikap dingin kayak tadi, aku yang males jadinya. Sudahlah, mana tadi kertas yang tadi aku kasih, aku perlu belajar."


"Ini. Jangan terlalu kecapean oke."


"Hmm.."


Zahra membalikkan badannya, namun tangannya di pegang oleh Hanan. Diapun membalikkan badannya dan betapa terkejutnya saat dahinya di cium oleh Hanan.


"Maafin mas, mas nggak akan ngulangi lagi. Kalau ada yang ditanyain, tanyakan sama mas."


"Iya mas, aku balik lagi. Kalau ada perlu apa-apa bilang. Eh.. Mas udah ngopi?"


"Belum, tolong bikinin ya."

__ADS_1


"Iya mas."


Zahra turun ke lantai bawah dan membuatkan kopi untuk Hanan. Setelahnya dia pun kembali ke ruangannya dan Hanan.


"Selamat menikmati suamiku."


"Terimakasih istriku."


Zahra pun kembali ke ruangan nya, dan kembali membaca berkas itu lagi. Tak ia hafalkan, tetapi ia pahami tentang berbagai macam hal menjadi sekretaris sementara.


Hanan juga melihatnya dari ruangannya. Dia melihatnya sambil menopang dagunya menggunakan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya di gunakan untuk menyesap kopinya.


"Nggak jarang kalau seorang sekretaris menjadi seorang istri atasannya." batin.


Tak terasa, waktu pukul 5 sore telah tiba. Teman-temannya pamit pulang. Dan setelahnya dia kembali lagi dan kembali memegang berkasnya.


"Bisakah kau beristirahat, apakah kamu tidak bosan terus membaca?" keluh Hanan sambil mengambil kertas yang di pegang Zahra.


"Ih mas, mas kenapa lagi, tentu aja nggak."


"Udah pukul 5 sore, ayo pulang."


"Hmm.. Baiklah..."


*****


Keesokan harinya, Zahra bangun lebih siang dari biasanya. Karena mulai hari ini dia akan berangkat dengan Hanan, sehingga ia memilih untuk bangun lebih siang.


Zahra menuju ke dapur untuk membantu bi Fitri memasak. Setelahnya dia baru bersiap untuk berangkat ke kantor Hanan.


"Mas ayo berangkat. Nggak bawa apa-apa kan?"


Seketika mata Hanan berbinar dengan penampilan Zahra yang menurutnya berbeda dari hari biasanya. Sedikit polesan di wajahnya dan pakaian yang begitu formal dan kebetulan senada dengan baju Hanan.


"Mas, liatinnya biasa aja kali"


"Udah dari tadi lah."


"Bawa laptop."


"Ini yang aku pegang laptop mas."


"Ya udah, Yuk.."


Hanan me lebaran sedikit lengannya, Zahra hanya bingung dan memutuskan untuk meninggalkannya, namun, tangannya di pegang oleh Hanan di gandengkan di lengannya.


"Haduh mas, bilang dong kalau mau gandengan kek gini."


"Kamu sangat cantik hari ini."


"Sudahlah mas, jangan mulai gombal pagi pagi kaya gini, mending kita berangkat."


"Udang rebus."


"Mas isshh.."


"Iya ayo berangkat. Bi Fitri.. Bi Narti, kami berangkat."


"Uluh.. Uluh.. Tuan sama nona serasi sekali. Seneng liatnya kalo terus kayak begini."


"Iya bi Narti, terimakasih. Kami mau berangkat. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Mereka bergegas berangkat ke kantor Hanan, dan ketika mereka sampai rekan Zahra juga sudah datang di ruangan mereka. Setelah menemui para teman-temannya, dia ke ruangannya dan meletakkan tas berisi laptopnya.


"Mas"

__ADS_1


"Ikut mas ke bawah, kamu panggil Gavin ya."


"Iya mas."


Zahra menuruti apa yang di perintahkan Hanan. Gavin begitu terkejut saat Zahra datang ke ruangannya.


"Zahra, ada apa?"


"Begini kak. Kakak di suruh turun sama mas Hanan ke lantai bawah."


"Iya, kakak mengerti, kamu ke bawah duluan saja. Kakak menyusul."


"Baik kak."


Zahra turun ke bawah menggunakan lift seperti biasanya. Setelah dia sampai di ruangan teman-teman Zahra berada.


"Dimana dia Ra?"


"Sebentar lagi dia turun."


"Baiklah, kamu duduk."


"Iya pak."


Zahra pun duduk di samping temannya. Di saat itu pula Gavin datang bersama dengan beberapa karyawan lain.


"Selamat pagi Bos."


"Pagi Gavin. Semuanya sudah siapa?"


"Sudah bos."


"Baiklah, kita mulai sekarang. Ini hari kedua kalian dan ini adalah jadwal kalian latihan beserta hari esok. Jadi, kalian semua harus siap. Baiklah, disini bapak akan membagi kalian menjadi dua shift, atau mau di bagi sendiri?"


"Tidak, bapak saja yang membagi."


"Baiklah kalau begitu. Anggun, Ega dan Rendy, kalian sift pagi dan yang lain shift sore. Ada yang keberatan?"


"Tidak pak." jawab mereka kompak.


"Bos, Zahra."


"Untuk Zahra, ikut saya sekarang."


"Baik pak."


"Hmm.. Aku pasti full sampe malem. Kan aku buntut mas Hanan." batin.


"Hmm.. Semangat ya kalian. Aku tinggal dulu."


Teman-teman Zahra mengangguk, dan Zahra pun meninggalkan ruangan tersebut bersama Hanan.


"Zahra, pukul 10 siang nanti ikut mas ketemu sama klien."


"Iya mas. Aku sebelum jam 10 ngapain?"


"Memangnya kamu bisa mempelajari hal bisnis sendiri, mas akan ajarkan cara menjadi sekretaris mas."


"Sungguh, oke baiklah, ayo mas cepet."


"Semangat sekali kamu."


"Bagaimana aku nggak semangat mas, mas."


"Iya baiklah ayo."


Setelah sampai di ruangannya, dia segera membuka laptopnya dan Hanan selalu di sampingnya untuk mengajarkan apa yang harus ia kerjakan. Karena Zahra begitu semangat, dia lebih mudah paham dengan semua yang di ajarkan Hanan.

__ADS_1


//**//


__ADS_2