Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Pernikahan


__ADS_3

Dokter pun memeriksa keadaan Zahra sekaligus mama Kirana. Dokter pun keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan mereka dok"


"Nona Zahra sakit demam dan sedangkan Ibu Kirana.. " ucap sang dokter terhenti.


"Ibu Kirana kenapa dok" ucap Pak Hanan khawatir"


"Keadaannya tiba-tiba menurun, sekarang tinggal tunggu perkembangan nya saja.Saya masih ada urusan. Permisi"


Pak Hanan menghela nafas panjang dan masuk ke dalam ruangan dan masih mendapati suster sedang mengompres Zahra.


"Biar saja saya Sus, suster bisa melanjutkan tugas suster"


"Baik Tuan"


Setelah suster pergi, Pak Hanan pun mengompres Zahra.


"Bagaimana pun, apapun yang terjadi selanjutnya, aku akan mengusahakan yang terbaik. Semua keputusan akan aku serahkan kepada mu dan aku harap kamu bisa menerima kenyataan ini bahwa kamu akan berstatus menjadi istriku" ucap pak Hanan.


Ucapan tersebut masih bisa di dengar oleh Zahra. Zahra sebenarnya sudah sadar, namun karena pak Hanan yang sedang mengompresnya, dia tidak jadi membangunkan dirinya dan memilih untuk tertidur.


****


Pagi harinya, Zahra bangun pukul 7 pagi dan mendapati Pak Hanan dan beberapa orang asing berada di ruangan nya.


FLASHBACK ON


Pak Hanan tidak tertidur sepanjang malam. Setelah subuh akhirnya dia memutuskan untuk pergi memberi tahu kedua orang tuanya tentang ini.


Bagaimana pun menurutnya pernikahan adalah hal yang sangat sakral bagi dua insan, namun pernikahan tidak bisa dilaksanakan secara sakral tanpa restu dari orang tua. Lagi pula pernikahan juga tidak hanya menyatukan dua insan namun juga dua keluarga.


Sekarang yang perlu dilakukan hanyalah meminta yang terbaik dengan kedua orang tuanya saat ini.


"Assalamualaikum" ucap pak Hanan sambil mengetuk pintu.


"Wa'alaikumsalam, mari nak masuk" ucap mama Hana, ibu pak Hanan.


Pak Hanan pun mengikuti nya dan duduk di sofa. Mama Hana pun mengambil kan minum untuk Pak Hanan, tak lama ayah dari pak Hanan menemui nya.


"Hanan kenapa pagi sekali kamu ke sini nak. Apa ada masalah" tanya papa Nanda.


"Begini pah, sebenarnya Hanan ke sini mau meminta restu dari papa sama mama dan untuk menjadi saksi di pernikahan ku nanti"


"Serius kamu, Siapa gadis nya? Dimana dia? kapan kamu akan menikah biar papa yang mengurus nya? " ucap papa Nanda bertubi tubi.


" Apa pah, siapa yang akan menikah" ucap mama Hana sambil meletakkan minum di meja.


"Aku mah, gadis nya adalah Zahra, anak murid ku di sekolah. Aku meminta restu kepada kalian, tolong restuilah kami." ucap pak Hanan sambil bersungkem di pangkuan papanya.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah kamu melakukan sesuatu kesalahan kenapa anak tersebut" ucap papa Nanda.

__ADS_1


"Ti-tidak, bukan itu alasan nya"


"Nak, duduk lah dulu dan ceritakan kepada kami agar kami merestui kalian" ucap mama Hana.


Hanan pun duduk dan menceritakan semua kejadian demi kejadian tanpa terlewat sedikit pun. Orang tuanya juga manggut manggut saat mendengarkan cerita dari putra bungsu mereka.


"Baiklah, kalau begitu kita temui dia. Sebelumnya papa mau bertanya, apa kau menyukai nya"


"Iya aku menyukai nya"


"Bagus pertahankan, ayo kita bersiap"


"Bersiap kemana"


Semua pandangan mata menuju ke arah sumber suara yang tak lain adalah putra sulung keluarganya yaitu Hendra kakak dari Hanan yang hanya berbeda 3 tahun. Hendra datang sambil mengucek matanya yang masih setengah tertutup.


"Bang Hendra, kapan ke sini bang. Mbak Wina nggak ikut ke Jakarta Bang" tanya pak Hanan.


"Ada, kami lagi liburan ke sini, juga untuk menyenangkan si kecil" ucap Hendra sambil duduk di sebelah nya.


"Indri ikut, mana" tanya Pak Hanan bersemangat.


"Ada, masih tidur di dalam sama ibunya. Oiya, tadi siapa yang mau nikah"


"Aku, kamu juga ikut ya bang"


"Kemana"


"Rumah sakit"


"Panjang ceritanya bang, aku ke kamar dulu ganti baju"


Mereka semua akhirnya bersiap dengan pakaian yang layak dan segera bergegas menuju ke rumah sakit.


FLASHBACK OFF


"Akhirnya kamu bangun" ucap pak Hanan.


"Pak Hanan"


Zahra melihat di sekelilingnya, mama Kirana sedang berbicara dengan mama Hana dan papa Nanda. Sedangkan Hendra bersama dengan istri dan anaknya. Zahra mencoba untuk bangun dan duduk di ranjangnya.


"Mereka siapa pak"


Belum sempat pak Hanan menjawab, kedua orang tua pak Hanan menghampiri nya.


"Kamu sudah sehat nak" tanya mama Hana.


"Su-sudah"


"Syukurlah, mama senang dengarnya."

__ADS_1


"Mereka orang tua saya Zahra dan yang sedang duduk di sana adalah kakak saya dan kakak ipa, sedangkan yang kecil adalah keponakan kita nanti"


Sungguh Jantung Zahra sangatlah berdebar. Pada kenyataannya dia belum siap untuk bertemu dengan keluarga pak Hanan, namun apa daya nya hal ini sudah terjadi.


"Iya nak, kamu nggak usah canggung dan ragu kepada kami, kami akan menjadi keluarga kamu juga nanti." ucap mama Hana sambil mengelus pipinya.


"I-iya"


"Sebaiknya kamu bersiap ya nak, sebentar lagi penghulu akan datang"


"Pe-pe-penghulu" ucapnya gugup.


"Iya nak, mama akan bantu."


"Aku juga mah, lagi pula dia juga akan menjadi adik iparku nanti. Mas, titip Indri ya"


Hendra pun mengangguk dan menerima Indri dari tangan Wina.


"Sebentar ya sayang, mama tinggal dulu" ucap Wina sambil mengelus anaknya yang masih berumur 8 bulan.


Indri hanya tersenyum layaknya anak kecil yang menggemaskan.


Mama Hana, mba Wina masuk ke ruang lain yang ada di dalam ruangan VIP tersebut untuk mendandani Zahra. Setelah penghulu datang, Zahra pun keluar dari ruangan tersebut dan duduk di sebelah pak Hanan yang juga tengah bersiap. Zahra tidak bisa berfikir dengan tenang seakan akan pikiran nya terbang kemana-mana.


"Saya nikah kan dan kawin kan engkau dengan Zahra Zanira binti Almarhum Nanto Indrawan dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai" ucap pak penghulu sambil menghentakkan tangan pak Hanan.


"Saya terima nikah dan kawinnya Zahra Zanira binti Almarhum Nanto Indrawan dengan mas kawin tersebut tunai"


"Bagaimana saksi"


"Saahhh" ucap semua orang.


Pak Hanan pun melepaskan tangannya dan menggadahkan kedua tangannya untuk berdoa. Tak lupa juga Gavin memberikan cincin. Pak Hanan pun menerima dan langsung memakai kan ke jari manis Zahra, begitu pula dengan Zahra lalu bersalaman dengannya. Pak Hanan juga mencium pucuk kepada Zahra.


Jantung Zahra benar-benar tidak karuan saat ini, dia tidak bisa berfikir dengan jelas. Mama Kirana pun tersenyum melihat mereka berdua. Setelah itu Zahra dan Hanan mencium tangan kedua orang tuanya dan tak lupa juga dengan mama Kirana.


"Selamat ya nak, semoga kalian berbahagia hingga maut memisahkan kalian. Mama akan mendukung kalian dari syurga."


"Mama bilang mama akan sembuh kan, mama harus sembuh" ucap Zahra sambil memegang tangannya erat.


Mama Kirana hanya tersenyum lalu menutup matanya pelan. Bersamaan dengan itu pendeteksi denyut jantung juga terhenti.


"Mama.. Mama.. Mama bangun mah.. Mama... Bangun hiks.. Mama... Hiks.. Mama nggak boleh ninggalin Zahra... Mama... Hiks... Mama.... " ucapnya sambil menangis.


Pak Hanan mengelus pundak Zahra, bagaimana pun dia adalah istrinya sekarang. Tak lama dokter pun datang dan benar saja, mama Kirana sudah meninggalkan mereka.


" Biar mama saja yang menenangkan nya" ucap mama Hana.


"Ssttt.. Sudah nak sudah.. Ikhlas kan ya nak... Sini peluk mama"


Zahra memeluk nya erat dan menangis sesegukan di pelukan mama Hana. Air mata mereka pecah bersama. Hanan benar-benar tidak tega melihatnya menangis seperti itu. Wina yang melihatnya juga menangis di pelukan suaminya.

__ADS_1


Indri hanya bermain dengan kakeknya. Suasana duka sedang menyelimuti mereka, terlebih lagi dengan Zahra sendiri.


//**//


__ADS_2