Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
S2. -


__ADS_3

Di tengah mereka makan, tiba-tiba Gavin datang dan duduk diantara teman-teman Zahra. Suasana berubah menjadi canggung seketika. Zahra yang menyadari bahwa teman-temannya canggung pun memecah suasana.


"Kak Gavin, mas Hanan dimana?"


"Biasalah sibuk. Kalian lanjutkan makan saja, nggak usah canggung."


"Iya pak." jawab semua.


Gavin mengerutkan keningnya saat mereka memanggilnya dengan panggilan "pak" dan dia pun memegangi kedua pipinya. Zahra hanya tersenyum kecil melihat tingkah Gavin yang sedang memegangi pipinya.


"Pak Gavin tidak makan" tanya salah satu teman Zahra.


"Kakak nanti saja. Emm... Kalian panggil kak saja. Kakak bukan bapak-bapak dan lagipula kakak belum menikah."


"Oh, maaf pak, kami tidak tau.. Emm.. Maksudnya kak."


Zahra menekuk bibirnya karena menahan tawa. Namun, dia segera menepisnya dan kembali melanjutkan makan. Tak lama, Hanan pun datang ke meja makan mereka dan ikut memesan makanan.


"Pak Hanan, apa kabar?" tanya salah satu teman Zahra, yaitu Nadia.


"Alhamdulillah baik, kalian sendiri?"


"Seperti yang bapak lihat, kami baik."


"Nggak nyangka bapak jadi pemilik salah satu perusahaan dan menjadi CEO" ucap Anton.


"Iya pak benar, gede banget lagi pak. Bapak keren" ucap Ega sambil mengagungkan jari jempolnya.


"Alhamdulillah, terimakasih. Kalian lanjutkan makan kalian, nanti kalian ikut bapak ke ruang meeting."


"Baik pak"


Setelah makan, mereka menuju ke ruang meeting. Semua siswa dan siswi kagum dengan ruangan meeting tersebut.


"Wahhh.. Seperti ini ruang meeting ya pak?"


"Iya, silahkan duduk. Bapak mau membagi tugas kalian hari ini."


Mereka mengangguk dan menurut. Mereka melepaskan tas yang di gendong mereka dan duduk di tempat yang tersedia. Zahra memilih duduk di kursi dekat Hanan.


"Emm.. Zahra, ambilkan map merah di meja mas."


"Baik pak."


Zahra mendorong kursinya ke belakang dan pergi sendirian ke ruangan Hanan. Zahra mengambil map dan kembali turun ke ruang meeting.


"Ini pak."


"Terimakasih."

__ADS_1


Zahra mengangguk dan kembali duduk di tempatnya. Hanan mengeceknya dan menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana setelah kalian berkeliling tadi? Apa kalian hanya berkeliling atau yang lain."


"Tidak pak, kami tadi berbincang sambil menanyakan tentang perusahaan ini."


"Apa yang kalian tanyakan?"


"Kami menanyakan kepada Zahra kapan tempat ini di bangun, jabatan apa saja yang ada di sini dan lain-lain pak"


Zahra hanya menghela nafas melihat Hanan seperti sedang mengintrogasi seseorang.


"Ya ampun, ini kaya lagi interview mas.. Mas.. " batin.


"Nah, kalau begitu sekarang bapak akan membagi tugas dan tempat kalian. Di sini kalian tidak boleh bergerombol. Kalian boleh bergerombol untuk menanyakan tugas yang penting. Kalian akan di sediakan ruangan khusus untuk kalian latihan. Sedangkan untuk kamu Zahra, karena ini perintah dari papa juga, kamu ada di ruangan saya sebagai sekretaris sementara. Ini berkas kerja kamu, kamu pelajari ya."


Mata Zahra berbinar dan menerima kertas tersebut. Teman-temannya juga bertepuk tangan untuk Zahra.


"Terimakasih pak, saya akan bekerja keras."


"Iya. Kalian sudah tau bukan berapa lama kalian PKL di sini?"


"4 bulan pak." jawab mereka kompak.


"Iya baiklah. Zahra, kamu tolong bawa mereka ke lantai 15. Ada ruangan di sebelah pojok kanan, kamu antar mereka ke sana ya."


"Iya pak."


"Iya pak, paham."


"Zahra, ini berkas untuk mereka. Kamu yang bagikan nanti sesuai nama mereka. Setelah selesai, kamu bisa kembali ke ruangan mas. Karena ini adalah hari pertama kalian PKL, dan dua hari ke depan kalian pulang pada pukul 5 sore. Oiya, kalian punya flashdisk kan?"


"Punya pak."


"Besok di bawa ya. Baiklah, saya ke ruangan saya kembali karena masih ada pekerjaan yang menumpuk."


"Iya pak."


Hanan pun keluar dari ruangan tersebut, masih ada Gavin di sana.


"Kalau ada yang ingin ditanyakan, tanyakan saja kepada kakak. Kakak yang menjadi pembina kalian di sini."


"Iya kak"


"Kalau begitu kakak tinggal. Kakak serahkan kepada Zahra sekarang. Semangat untuk kalian."


Gavin pun keluar, Zahra dan teman-temannya membereskan barang-barang mereka yang sempat mereka keluarkan sebelumnya.


"Zahra dimana-mana selalu sama pak Hanan, entah itu di sekolah maupun di rumah."

__ADS_1


"Hmm... Bukan seperti itu, itu karena perintah papa, jadi gue nggak bisa nolak."


"Gue yakin, kalau lo bakal nggak ngapa-ngapain Ra."


"Ya nggak mungkin lah. Namanya PKL ya PKL, mending pekerjaan kalian tau. Ayo cepetan, jangan di sini mulu, kita pindah ruangan baru ngobrol lagi."


"Baiklah."


Mereka mengikuti Zahra dan menuju ke ruangan yang sebelumnya di perintahkan oleh Hanan.


"Wah... Ini ruangan kita Ra?"


"Padahal kan udah ada komputer Ra, kok disuruh bawa Flashdisk sendiri?"


"Iya, kalian harus bawa flashdisk. Kita duduk dulu, biar aku yang jelaskan."


Mereka duduk di sofa yang ada, dan mulai memperhatikan Zahra.


"Aku bagiin dulu berkasnya. Ini buat Nadia, Ega, Rendy, Anton, Refa dan ini buat Anggun. Kalian ingat kan definisi PKL. Kalau kita tuh seakan sedang bekerja gitu loh. Kita juga nanti dibagi menjadi 2 sift. Nah sift pertama itu dari pukul 8 pagi sampai pukul 2 sore, nah untuk sift sore itu dari pukul 2 sore sampai pukul 8 malam. Istirahat sift pagi itu pukul 12 siang, untuk sift sore pukul 6 sore. Di berkas kalian juga ada kan?"


"Iya ada"


"Nah selebihnya bisa kalian pelajari di berkas itu. Ada syarat berpakaian, jam keterlambatan dan konsekuensi, peraturan perusahaan dan tugas-tugas kalian. Untuk siapa yang akan memberitahu cara mengerjakan tugas kita, itu akan diberi tahu besok."


"Terus, besok yang sift pagi siapa aja Ra?"


"Besok kalian masih berangkat pagi seperti biasa, karena besok dan lusa kalian akan ada pembekalan tentang tugas kalian. Maksudnya untuk latihan tugas kita di sini ngapain aja gitu. Kalian paham kan?"


"Iya ra paham."


"Nah kalau udah, kalian di sini mulai aja tuh pelajarin hal-hal yang kalian lakukan di sini. Kalian boleh buka komputer, tetapi jangan buat mainan, jika kalian melanggar, kalian akan mendapatkan konsekuensi karena di sini banyak kamera pengintai. Ingat itu baik-baik."


"Ra, gue berasa lo kaya sekretaris pak Hanan beneran loh." ucap Anggun.


"Iya, dari gaya bahasa lo ngucap ke kita itu, waah.. Imezing.." ucap Nadia.


"Fany nggak kerekrut di sini lo nggak sedih Ra?" tanya Refa.


"Sedih si sebenernya, tetapi kalau kita di satuin pasti nggak kelar kelar tugasnya nanti. Maka dari itu Fany sama Alvero di tempatkan di kantor papa yang satunya."


"Oohh, menurut lo sendiri lo sift apa ra?"


"Tergantung mas Hanan. Kalau mas Hanan pulang ya gue ikut, kalau nggak, gue ngapain coba."


"Pasti tugas lo lebih berat dari kami, semangat ya Ra."


"Terimakasih Nadia, kalian juga. Nggak ada yang ditanyakan lagi kan. Gue ke atas ya."


"Iya Ra."

__ADS_1


Zahra pun keluar dan langsung menaiki lift ke ruangan Hanan. Begitu dia sampai, dia langsung ke ruangannya sendiri sambil membaca berkas yang tadi diberikan Hanan.


//**//


__ADS_2