
Mereka melanjutkan bersepeda di sekitar kompleks. Sekitar satu jam bersepeda akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon di pinggir jalan sambil memakan makanan yang tadi mereka beli.
"Lanjut yuk" ucap Zahra semangat
"Baru sebentar juga" jawab Fany.
"Habis sepedaan tinggal renang kayaknya seger kali ya" ucap Alvero.
"Gue nggak bisa renang" ucap Zahra.
"Lo nggak bisa semua olahraga atau gimana, apa-apa masa nggak bisa" ucap Alvero.
"Kan tau sendiri gue suka kabur, juga sering nggak berangkat kalau ada renang renang"
"Makanya jadi murid jangan suka kabur kabur, kalau nggak keterima kerja nanti gimana?"
"Lo nggak inget Al, kan ada pak Hanan"
"Uhukk..uhukk..uhuk.."
Ucapan Fany membuat Hanan dan Zahra berbatuk bebarengan, dengan sigap Fany dan Al memberikan minum kepada mereka.
"Bapak sama Zahra kenapa batuk barengan gitu" ucap Fany bingung.
"Ih lo kalo ngomong kaga pernah mikir Fan, gue juga butuh pengalaman kerja masa iya mau numpang terus kan nggak mungkin"
"Iya terserah si, gue kan cuma iseng"
"Lanjut yuk, tapi gantian ya aku yang pake sepeda sendiri"
"Kamu takuk nggak jatuh pakai sepeda gandeng" ucap Hanan.
"Bukan itu pak, kita tukeran sama mereka sekarang. Oiya, siapa nih yang ajarin gue"
"Pak Hanan aja, kan abang lo" ucap Alvero.
"Bener kata Al, kakak adek harus saling akur kan jangan berantem mulu. Lagian lo juga harus ngebuka hati lo buat abang lo Ra, jangan kaya kucing sama tikus di gudang"
"Emang di gudang ada tikus sama kucing"
"Ada, lah pastinya. Ya nggak pak"
Hanan hanya terdiam tidak peduli.
"Bapak juga dinginnya sama adeknya itu di kurangi biar adeknya kurang juga cueknya" ucap Alvero.
"Kenapa kalian jadi akur akurin gue"
"Jujur Ra, gue kesel liat lo berantem terus. Ntar Allah nggak suka loh sama sikap kamu sama abang lo gimana, kurangin gih sikap gitunya"
"Gue ngapain dan pak Hanan ngapain, masa iya cuma gue doang"
"Sudah jangan ribut, telinga saya lama-kelamaan panas karena kalian"
"Sama pak, saya juga. Kalau cewe udah bicara tuh cerewetnya minta ampun" ucap Alvero.
"Gue gampar, baru tau rasa lo. Pulang hayukk"
"Kamu dulu sama pak Hanan sama, sambil belajar sepeda"
"Kalau itu gue milih jalan"
"Jangan banyak omong ra, ikutin aja gih" ucap Fany.
"Lagian kan jauh" tambah Alvero.
"Nah tuh"
"Kalian saling suka ya, saling ngedukung gitu" ucap Zahra.
"Nggak lah, kita kan sahabat, mana mungkin" ucap Fany.
"Jangan salah Fan, awalnya sahabat ujungnya cinta kaya film kuch kuch hotahe itu"
"Al nikah sama gue, gue mati akhirnya nikah sama lo"
Seketika Zahra menyemburkan minuman yang di mulutnya kepada Fany dan Alvero.
"Zzahhhrrraaaaa" teriak mereka berdua.
"Iiihhh.. jorok banget sumpah." keluh Fany.
"Dendamnya jangan kaya mbah dukun dong main sembur... "
__ADS_1
"Yahh.. jangan pada marah dong, gue minta maaf, lagian si Fany"
"Jangan salahkan orang" ucap Pak Hanan.
"Tuh dengerin" ucap Fany.
"Sebagai ganti permintaan maaf, lo sepedaan sama pak Hanan, gue ogah" ucap Alvero.
"Gue juga" ucap Fany.
Zahra menghembuskan nafasnya kasar dan menatap Hanan yang sedang minum dengan jengah.
"Bagaimana, jadi atau nggak" ucap pak Hanan.
"Iya deh jadi, gue duluan ya"
"Sana, hati-hati" ucap Alvero.
"Kami duluan, assalamu'alaikum" ucap pak Hanan.
Hanan mendorong sepedanya Zahra dan Zahra sudah menaikinya.
"Pak ini gimana si pak susah"
"Udah baca bismillah belum"
"Sudah pak"
"Yang sabar, perlahan pasti bisa kok"
Dengan perlahan Hanan melepaskan sepeda Zahra dan Zahra mengayuh dengan perlahan dan mulai seimbang. Hanan mengikutinya dengan sepedanya.
"Pak masih di pegangin kan"
Hanan terdiam dan menjajarkan sepedanya dengan Zahra.
"Kamu udah bisa"
"Lah pak Hanan, pak...e..ehhh..ehh..pakk"
"Dubrak..." Zahra terjatuh karena terkejut, dahi sebelah kanannya terluka bersamaan dengan Zahra terjatuh, Hanan berhenti dan membanting sepedanya dan segera menolong Zahra.
"Kamu nggak papa" sambil memegang pundak Zahra untuk duduk"
"Aduhh...sakit..." keluhnya sambil memegang dahinya.
Hanan meniup niup dahi Zahra. Zahra menatap wajahnya yang hanya berjarak beberapa centi saja.
"Astagfirullah, Zahra lo jatuh" ucap Fany yang terhenti di dekat mereka.
Hanan langsung menjauhkan wajahnya dari depan Zahra dan membantunya berdiri.
"Iya, gue terkejut tadi"
"Maafkan saya"
"Nggak papa pak."
"Ya ampun sampe lecet gitu dahinya, mendingan cepetan pulang yuk pak" Ajak Fany.
"Iya, kamu bonceng saya aja biar cepet, luka kamu harus segera di obati"
"Bener tuh, tapi sepedanya pak"
"Tinggal aja, nanti pak Johan yang ambil"
"Bo-bo-bonceng?" ucap Zahra gugup.
"Iya gih cepetan"
Zahra duduk miring di belakang Hanan.
"Pegangan"
Tanpa berfikir Zahra memegangi bagian gagang jok sepeda. Hanan mengayuh sepeda dengan lumayan cepat. Tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah Hanan.
"Pak Johan, ambil sepeda di komplek sebelah ya pak" ucapnya sambil menyenderkan sepedanya.
"Loh non Zahra kenapa tuan"
"Jatuh, cepetan yak pak"
"Iya tuan"
__ADS_1
Hanan menggandeng Zahra. Zahra menatap Hanan dan melihat tangannya yang di gandeng oleh Hanan.
"Kamu duduk, saya ambilkan kotak obat dulu"
Zahra terduduk sambil memegangi dahinya yang terluka.
"Loh Zahra, kenapa dahi kamu luka begini nak" ucap mama Hana.
"Mama, kapan mama ke sini. Kok nggak ngabarin Zahra kalau mau ke sini" sambil menyalami mama Hana.
"Dari tadi. Kata Bi Sari kamu lagi sepedaan bareng temen-temen kamu dan pak Hanan, terus hp kamu kayaknya di tinggal. Tadi mama telfon kamu kok. Terus ini kenapa"
"Tadi jatuh mah"
"Kok bisa"
"Aku kaget karena mas Hanan tiba-tiba lepasin sepeda yang lagi aku naikin, terus jatuh"
"Hanan nya mana"
"Lagi ambilin kotak obat katanya"
"Hannnaannn.. cepetaaannn" teriak mama Hana.
Tak berselang lama teman teman Zahra sampai di rumah Hanan.
"Assalamualaikum" ucap mereka berdua.
"Wa'alaikumasalam" jawab mama Hana dan Zahra.
"Kamu duduk saja biar mama yang temui mereka"
"Iya mah"
"Iisshh.. pak Hanan mana si, keburu pusing nih pala gue.. dari tadi sakit cuma bisa gue tahan" gumamnya.
Hanan pun datang dengan membawa kotak obat lalu meletakkannya di meja dan mulai mencari plester dan obat merah.
"Eehhh.. bapak mau ngapain"
"Mau obatin"
"Saya aja pak"
"Nggak usah, nanti nambah sakit. Sekarang kamu diem"
"Ssstttt.. sakit pak, pelan pelan napa kalau mau ngobatin kaya nggak ikhlas gitu"
Hanan menggelengkan kepalanya lalu meniup niup bagian yang sedang ia obati.
"Hmmm.. bagus di obatin"
Hanan menengok ke arah sumber suara dan mendapati mamanya sudah duduk agak jauh darinya.
"Mama kapan ke sini" sambil menyalaminya.
"Sekitar setengah jam yang lalu, lanjutin obatinya. Kasian anak mama."
Hanan melanjutkan mengobati hingga selesai dan meletakkan barang yang di ambilnya dan menutupnya kembali di kotak obat. Mama Hana yang merasa gemas dengan sikap dingin Hanan tiba-tiba menarik telinganya.
"Kenapa bisa jatuh begini...hmmm....Sua..su..su..su..sulung bukannya jaga bungsu malah di lukain gini. Makanya sikap dinginnya di kurangi"
"Eeh..mah..mahh.. nggak usah di tarik mahh..."
"Astagfirullah mah sakit... Kenapa mama jadi jewer aku"
"Kamu tuh jadi sua...su..sulung jaga bungsu nya dengan benar dong, kalau gini terus Zahra akan mama bawa"
"Udah mah, jangan marah, istighfar dulu" ucap Zahra.
Dia menuruti kata Zahra dan beristigfar di dalam hati.
"Kalau gitu Zahra ke kamar dulu ya mah"
"Iya nak"
"Tante, saya ke kamar juga ya tan" ucap Fany.
"Iya nak. Kamu juga ke kamar" sambil menatap Alvero.
"Eh.. enggak tan, saya mau nonton tv, boleh nggak tan"
"Iya silahkan. Hanan ikut mama ke belakang"
__ADS_1
"Iya mah"
//**//