
Hanan menoleh ke ambang pintu yang terbuka lebar. Hanan satu per satu memandangi Fany dan Zahra.
"Fa-fany bantu saya"
"Ha..Hh.. Ke-kenapa ya pak"
"Bantu saya melepaskan tangan ini. Tolong ambilkan salah satu boneka itu"
"I-iya pak, se-sebentar"
Fany mengumpulkan buku yang terjatuh dan menaruhnya di atas meja yang tersedia. Dia berlari kecil untuk mengambil boneka beruang berwarna coklak dan menyerahkannya kepada Hanan.
Hanan perlahan melepaskan tangan yang di peluk erat oleh Zahra dan menggantikan tangannya dengan boneka yang tadi di berikan oleh Fany.
"Terimakasih ya Fan"
"Iya pak sama-sama, tapi ta-tadi pak.."
"Nggak papa, anggaplah tidak terjadi apa-apa. Sekarang kamu istirahat saja"
"I-iya pak. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumasalam"
Fany meninggalkan kamar Zahra dengan perasaan canggung.
"Pak Hanan menyukai Zahra, tidak salah lagi walaupun itu ketidak sengajaan, namun tersirat di matanya bahwa dia benar benar menyukai Zahra." gumamnya.
Hanan memandangi Zahra sebelum meninggalkan kamarnya. Dia juga bergegas ke kamarnya dan beristirahat untuk esok pagi.
*****
Zahra dan Fany meregangkan tubuh mereka di halaman belakang rumah Hanan di pagi yang cerah ini.
"Ra, lo tau nggak"
"Nggak tau lah, kan lo belum ngasih tau"
"Padahal ceritanya ada di lo sendiri loh"
"Maksud lo"
"Kemarin malam, lo ketiduran terus di bawa ke kamar sama pak Hanan"
"Itu gue udah sering kali"
"Lebih parah lagi Ra masalahnya."
"Kenapa, kalo ngomong jangan setengah setengah dong, satu kilo sekalian"
"Lo pikir timbangan, gue ini serius Ra"
"Iya apa.."
"Kemarin malam, lo tuh peluk tangan pak Hanan dan gue liat sampe pak Hanan cium dahi lo"
"Hah.. yang bener, gue tadi pagi peluk boneka kok"
"Iya emang karena pak Hanan yang nyuruh gue ambilin boneka buat gantiin tangan dia yang lo peluk itu"
"Ahhh... mampus gue"
"Makanya kalau tidur tuh jangan kaya kebo bule"
"Udah diem lo"
"Whaatt... gue meluk dan di cium sama pak Hanan... tidak tidak.. ini nggak bener. Ya ampun gueee, gimana nanti kalo ketemu sama pak Hanan. Malu bukan main gue" gumamnya.
"Raaaa... Ngelamun lagi kan,.pasti gara-gara tadi yang gue omongin kan"
"Iya lah, apa lagi. Ntar gimana coba kalau ketemu sama dia"
"Tadi sarapan ketemu biasa aja"
"Tadi kan gue kaga tau."
"Udah jangan di pikir, lama lama lo kesambet karena sering ngelamun lagi. Udah sana ambil sepeda"
"Bi, ada sepeda, tolong ambilkan..." teriak Zahra terpotong kepada bi Sari yang sedang menyiram tanaman di belakang rumah.
"Nggak usah, nih udah" ucap Hanan sambil mendorong sepeda untuk Zahra.
"Non temennya Zahra, ini sepedanya"
"Iya pak makasih, panggil saja saya Fany pak"
"Iya non sama-sama. Tuan saya permisi"
"Iya pak"
"Yuk Fan, kita jalan-jalan"
__ADS_1
"Yuk, pak Hanan mau ikut"
"Tidak, kalian saja"
"Ayuk pak ikut aja, biar tambah asik. Kalau aja Alvero di sini"
"Ciee... Kangen ya.." goda Zahra.
"Bukan gitu. Makin asik makin rame tauuu.."
"Panggil saja"
Seketika Zahra dan Fany saling menatap heran, kemudian menatap Hanan dengan penuh pertanyaan.
"Bapak serius" ucap mereka bebarengan
Hanan menatap mereka berdua dengan bingung dan mengangguk untuk meyakinkan.
"Beneran pak"
"Iya"
Dengan cepat Fany mengeluarkan ponselnya dan langsung mgenelepon Alvero.
"Seneng amat"
"Diem lah, daripada gue jadi nyamuk di sini kan asik juga ajak Alvero"
"Suka ya"
"Brisik lo."
Fany menempelkan benda yang di pegangnya di telinganya dan tak lama ponselnya pun tersambung.
"Assalamualaikum Al"
"Kenapa telfon gue pagi-pagi gini, kangen ya"
"Jangan kepedean lo. Mending cepet deh ke sini"
"Ke kuburan"
"Ke rumah pak Hanan cepet, lo bakal ngga percaya, beneran sini deh cepetan, ntar gue jadi nyamuk nih kalo lo nggak ada"
"Nyamuknya siapa"
"Zahra! sini cepetan"
"Hah.. Zahra pacaran, dasar tuh anak kaga pernah cerita. Sharelok gue otw"
"Bagus"
Fany menutup telfonnya dan segera mengirimkan lokasi rumah Hanan.
"Dih.. lu mahhh"
"Lo kesel, ya udah kesel aja. Pak ikut yuk"
"Kalian saja sana"
"Bener kata lo Ra, pak Hanan dingin, nggak asik banget kaya guru yang lain" bisik di telinga Zahra.
"Iihh.. diem lo."
Zahra mendorong wajah Fany untuk menjauhinya dan menuntun sepedanya menuju ke depan halaman rumah.
"Raaaa.. Tungguin..., mau kemana"
"Nyusul Vero ntrar nyasar"
"Ckk.. Pak saya pamit dulu ya. Assalamualaikum"
"Iya. Wa'alaikumasalam"
Fany mengayuh sepedanya dan menyusul Zahra yang sudah meninggalkannya.
"Kenapa nggak di naikin Ra"
"Kan gue kaga bisa"
"Harusnya kita latihan dulu di belakang"
"Males ah. Malu tau kalau ketemu sama pak Hanan"
"Ini mau ke jalan kalau ke tabrak motor bisa berabeh ntar"
"Gue kan dorong nggak naikin sepedanya, udah lo diem kita susul Alvero sekarang"
"Masih lama kali Ra"
"Bodo ah... Oiya pasal tadi jangan ngomong sama siapa-siapa ya"
__ADS_1
"Perasaan kita nggak ngomongin pasal-pasal loh Ra"
"Iihhh... lo nyebelin banget si, soal soal yang di sekolah lo bisa langsung nyantel, tapi kenapa sekali lo ngomong sama gue jadi begini si, nggak nyambung"
"Lah terus pasal apa, pasal 1 ayat 2"
"Pasal 15 ayat 30"
"Emang ada, bentar gue ingat dulu"
"Fffaaannyyy... bukan pasal yang ada di undang-undang itu, tapi tentang tadi malam"
"Oohh , siap lah. Masa iya gue cerita ke orang lain tentang itu, nggak lah."
"Makasih, gue percaya sama lo"
"Masama. Oiya, jangan terlalu di pikirin juga ya, anggap aja itu tanda kasih sayang seorang kakak kepada adiknya, jangan mikir macem-macem, jangan di bawa hati, inget dia abang lo sekarang walaupun hanya abang angkat"
"Bijak juga lo"
"Ya.. walaupun omongan gue kadang kagak nyambung, setidaknya nggak buat sahabat gue khawatir gitu"
"Sahabat aku memang pinter"
"Amiinnn...Alhamdulillah. Alvero kok nggak datang-datang ya"
"Sabar napa si, lo kangen apa cinta si"
"Nggak dua duanya"
"Tipe lo gimana si"
"Pinter, akhlak baik, sopan, ramah, perhatian, setia, intinya yang baik-baik lah"
"Alvero sendiri si"
"Jauh banget dari tipe gue."
"Tuh dia dateng"
"Lama loh" ucap Fany.
"Maaf, eh Ra, lo pacaran kok nggak cerita ke kita, hari ini juga gue minta traktir yang banyak"
"Salam dulu kek, dateng-dateng main nyolot aja"
"Assalamualaikum"
"Telat" ucap Zahra.
"Bukanya di jawab malah marah marah" ucap Alvero mengikuti gaya omongan Zahra.
"Wa'alaikumasalam"
"Telat"
"Lah kenapa niruin gue"
"Udah ih kalian berdua, dengerin gue dulu Al, Zahra nggak pacaran kok. Gue panggil lo buat ajak sepedaan bareng kita"
"Lahhh.. lo bohong sama gue. Gue nggak pakai baju biasa dan nggak bawa sepeda juga, terus gimana"
"Minta sama pak Hanan"
"Kirain abang lo kali main minta minta"
"Kan ada Zahra"
"Ogah amat gue minta sama pak Hanan. Gue nya juga yang nggak enak"
"Pak Hanan bukan PNS yang banyak duitnya masa iya sanggup beli sepeda, kali aja sepeda harganya 20 ribu"
"Mending lo pergi ke rumah pak Hanan dulu, simpen motor terserah Lo mau joging, mau tinggal di rumah pak Hanan, atau apapun itu terserah lo, yang penting kita udah tau rumah Zahra yang sekarang" ucap Fany.
"Bawel, ada di mana, di sini banyak rumah, anter gue dulu dah"
"Iya ayo" ucap Fany.
"Eeiiittt.. tapi jangan pingsan ya nanti"
"Nggak lah, emangnya gue cowok apaan dah pake acara pingsan segala"
"Diem"
"Kok nggak di naikin Ra sepedanya"
"Belum bisa, nanti lo ajarin ya"
"Siap, kalau di ajarin gue pasti langsung bisa"
*****
__ADS_1