Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Jujur


__ADS_3

Tidak hanya membuat kopi, dia juga menyempatkan membuat jus jeruk. Lalu dia membawanya ke kamar Hanan.


"Pak.." teriak Zahra.


"Pak.. Kopi nya ini pak.. "


Tidak ada respon.


"Pasti kedap suara nih ruangan" ucapnya.


Akhirnya dia memutuskan untuk mengetuk nya menggunakan kakinya. Tak lama Hanan keluar sambil mengerikan rambutnya yang basah, lalu mengalungkan handuknya di lehernya dan mengambil kopi yang tadi dia minta. Zahra mengikutinya dan Hanan berbalik untuk menutup pintu kaget karena ada yang menghadang nya.


"Astagfirullah Zahra, kamu mau ngapain di kamar saya"


"Siapa bilang ini kamar bapak, ini kamar saya juga kan pak, kalau nggak boleh ya sudah saya pergi"


Dengan cepat Hanan menarik tangan Zahra. Zahra memandang nya lalu melihat ke arah tangannya.


"Ma-maaf, maksud saya bukan itu Zahra. Maksud saya ada perlu apa ke kamar saya, apa ada masalah"


Zahra menepis kan tangan Hanan


"Banyak pak, saya boleh masuk"


"Silahkan"


Zahra terduduk di sofa kamar Hanan dan menyeruput jus nya. Setelah nya dia menaruh gelasnya dengan kasar.


"Kenapa bapak berbohong kepada saya" ucapnya tanpa basa basi.


"Berbohong? Tentang apa?" jawab Hanan sambil menyisir rambutnya dan berjalan menghampiri Zahra.


"Kenapa waktu itu bapak bilang kalau mobil yang pernah saya tumpangi adalah mobil kakak Hendra. Terus kenapa bapak waktu saya bilang kalau bapak hanya bekerja sebagai guru bapak mengangguk. Terus waktu di tanya bapak seorang pengusaha, bapak hanya menggeleng. Maksud bapak apa pak. Saya kira orang yang sudah di pilih oleh kedua orang tua saya adalah orang yang jujur, tetapi bapak hanya pembohong. Walaupun kebohongan itu bukan tentang masalah kejahatan, setidaknya bapak ngerti bahwa saya pernah di bohongi masalah cinta dan bapak tau, saya sakit pak sebenarnya. Saya trauma pak."


"Maafkan saya tentang masalah itu. Saya tidak mau yang lain tau tentang siapa diri saya sebenarnya. Tapi para guru sudah tau bahwa saya juga seorang general manajer, tapi untuk murid, lebih baik saya menghindari nya"


"Saya tau, pasti bapak takut di gilai para cewek di sekolah ya pak"


"Salah satunya itu. Juga satu lagi karena cita-cita saya ingin menjadi seorang guru"


"Kenapa cita-cita bapak ingin menjadi seorang guru pak. Padahal gaji general manajer lebih banyak dibandingkan dengan gaji guru. Katanya bapak ingin ke mekkah"


"Iya memang, tapi bukan saya sendirian, Melainkan dengan masa depan saya kelak"


Pipi Zahra memerah saat mendengar ucapan Hanan.


"Emm.. Pak memang berapa gaji general manajer dan guru swasta pak"


"Untuk general manager 12 juta dan guru swasta itu tergantung dari yayasan Zahra. Apalagi kan bapak bekerja di sekolah swasta jadi nggak tetap gajinya. Semua guru tuh beda-beda gajinya"


"Loh kok bisa pak"


"Iya kan tergantung tugasnya apa di sekolah dan ngajar apa di sekolah"


"Kan saya tanya gaji bapak bukan gaji orang lain"


"Saya satu juta dua ratus lima puluh ribu per bulan"


"Loh pak, mending jadi general manager loh pak, lumayan itu gajinya"


"Tapi saya lebih suka jadi guru, kalau jadi general manager itu pusing setiap hari lihat berkas"


"Bapak nggak pusing lihat murid setiap hari ya"


"Nggak, saya malah suka, juga lebih banyak meluangkan waktu di rumah. Kalau jadi general manager pulang rasanya letih banget."


"Oohh gitu, apa si pak istimewa nya jadi guru"


"Selain mengajar kan ilmu, kita juga dapat pahala karena mengajar ilmu tersebut kepada orang lain."


"Bapak kenapa nggak daftar PNS pak"

__ADS_1


"Belum dibolehkan sama ortu, jika ada waktunya pasti saya akan daftar kok"


"Semoga dilancarkan pak"


"Amiin... Oiya bentar lagi kamu akan tes semester pertama, kalau butuh bantuan tanya saja kepada saya. Tapi bukan tanya soal sama jawaban yang nanti keluar di tes ya"


"Hehehe.. Nggak pak, nggak bakal kok"


Tiba-tiba Zahra terdiam dan termenung.


"Eh.. Tadi gue ketawa, nggak salah" gumamnya.


"Ehhmmm.. Malah bengong. Ada lagi yang mau ditanyakan"


"Nggak pak, saya ke kamar dulu ya pak"


"Nanti kita sholat agar bersama, mau di kamar saya atau kamu"


"Bapak aja deh, yang penting sholat di tempat yang bersih"


"Iya sudah, ini kartu tes kamu"


"Loh pak, saya kan belum bayar tunggakan dan lainnya loh pak"


"Masalah itu udah lunas semua sampai kamu lulus"


"Diihhh.. Yang bener pak, masa iya si dari tunggakan sekitar 800 ribu, belum biaya praktek, pkl nanti kelas sebelas, PTS (Penilaian Tengah Semester) sama PAS (Penilaian Akhir Semester) sampai sekitar 10 kali, belum biaya yang lain masa iya bapak bayar sendiri. Bapak kerja jadi general manager berapa tahun pak"


"Sudah dua tahun yang lalu, dari saya umur 20 tahun"


"Lahh.. Bapak sekarang umurnya berapa jadi pak"


"23"


"Tua banget pak, saya aja baru 17 kurang 3 bulan pak pak"


"Iya saya tau. Sudah, sana ke kamar bersiap"


" Apa lagi"


"Pak saya minta nomor nya Fany pak boleh"


"Saya nggak punya, besok kamu bisa minta kan. Udah sana ke kamar"


"Pak.. "


" Kenapa lagi Zahra"


"Kalau saya ajak Fany ke rumah ini sama Alvero boleh kan pak"


"Boleh saja, mungkin sudah waktunya saya keluar dari persembunyian"


"Saya akan membuat mereka tutup mulut soal ini"


"Nggak papa, ungkap saja. Lagipula nggak baik nutupin ini terlalu lama"


"Iya pak iya deh. Saya keluar ya pak"


"Iya"


Pak Hanan menggelengkan kepalanya lalu membuka handphone yang tadi sempat tertunda untuk dia buka.


*****


Zahra memilih memainkan ponsel barunya di dalam kamarnya, tiba-tiba bi Sari mengetuk pintunya. Zahra pun membukanya.


"Kenapa bi"


"Tuan Hendra sama nona Wina dan nona kecil berkunjung non"


"Iya bi, pak Hanan udah di panggil"

__ADS_1


"Udah non, sudah di bawah"


"Kalau begitu saya akan menyusul nanti."


"Iya non"


Di ruang tamu, mereka berbincang bersama. Hanan berbincang sambil memangku Indri keponakan nya.


"Makannya cepet bikin momongan biar nggak kangen terus sama Indri"


"Mas, Zahra kan masih belum cukup umur, jaga bicaranya dong."


"Iya iya"


"Tuh adik ipar datang" ucap Wina.


Zahra datang dan duduk di samping Hanan.


"Udah lama kak"


"Belum, baru nyampe kok. Oiya, ini kue buat kamu dari mama"


"Iya kak makasih"


Tiba-tiba Indri yang sedang bermain dengan Hanan meminta Zahra untuk menggendong nya sambil menarik kerudung nya.


"Minta gendong kali" ucap Hendra.


"Coba sini"


"Emang bisa"


"Bisalah, aku kan pernah jaga bayi tetangga dulu waktu di tinggal ke sawah"


"Bisa bulan madu lagi dong, nanti bisa titip Indri sana Zahra dan Hanan"


Wina menyikut suaminya. Zahra membuka tangannya dan Hanan mulai memberikan Indri kepadanya dengan pelan.


"Sama bibi ya nak ya" ucap Wina.


"Jangan panggil bibi dong, panggil kakak aja ya.. Hmm.. "


Bayi kecil itu hanya tertawa mendengar Zahra. Mereka semua tersenyum melihatnya.


"Udah cocok tuh"


Wina hanya mencubit pinggang suaminya.


"Auhh" keluhnya kecil.


"Maksud kakak"


"Nggak kok Ra, bukan apa-apa. Lanjut aja ngobrol sama Indri, mumpung lagi diem. Selalunya rewel loh"


"Anak kalem gini di bilang rewel ya dek ya, ya nggak lah.. " ucapnya seperti anak kecil.


Zahra bermain main dengan Zahra sesekali berbicara dengan kakak dan Hanan. Sungguh indah kalau di bayangkan.


" Udah mulai sore, kami pamit ya"


"Kenapa buru-buru kak"


"Kan bawa anak kecil, nggak baik pulang nya terlalu malam. Keturunan Jawa lah biasa pamali katanya"


"Iya kak, hati-hati ya. Dadah adik kecil" ucap Zahra kepada Indri sambil mencium pipinya dengan gemas.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam" ucap Zahra dan Hanan bersamaan.


Mereka pun kembali ke dalam dan sibuk dengan dunianya masing-masing.

__ADS_1


//**//


__ADS_2