
"Gawat bos, gawat!!" ucap salah satu komplotan Zeon.
"Ada apa"
"Banyak polisi datang ke sini, kita apakan dia"
"Lucuti dia" ucap, Zeon dengan memegang dagunnya.
"A-Apa yang akan kalian lakukan!! Bu-bukankah itu sudah keterlaluan!! Me-menjauhlah dariku hiks.. Hiks..." ucap Zahra sambil menangis..
Tubuhnya bergetar ketakutan bulu kuduknya pun sudah berdiri karena merasa merinding di tempat itu. Kegelapan yang muncul dan hanya sinar bulan yang menerpa membuat nya semakin takut.
"Ya Allah aku tau aku banyak dosa dan kesalahan di dunia, berilah aku jalan keluar dari sini. Beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki diri ku sendiri ya Allah. Tolong kirimkan malaikat secepatnya" gumam Zahra.
Zeon dan komplotan nya mulai mendekati Zahra. Zeon memegang dagu Zahra, Zahra sekuat tenaga memalingkan wajahnya. Ia ingin berbicara namun perasaan takut sedang menerpanya.
"Siapapun tolong.. " ucap Zahra dalam hati nya.
Tiba-tiba seseorang mendobrak pintu dan semua mata tertuju kepada arah pintu dengan cepat Zahra di sekap oleh Zeon dengan pisau yang ada di depannya.
" Zahra" ucap pak Hanan panik.
"Kalian semua angkat tangan" ucap polisi sambil menodongkan pistol.
"Silahkan kalian tembak, jika kalian satu langkah mendekatiku, maka gadis ini tidak akan selamat"
Zahra hanya terus menitikkan air matanya, dia tidak bisa berkutik dengan tangannya yang di ikat juga tenaga yang sudah hampir habis untuk melawan para komplotan tersebut.
Gavin secara diam-diam mengendap-endap ke belakang Zeon. Semuanya sudah mewanti wanti agar tidak ada yang terluka. Tiba-tiba mama Kirana datang dan langsung berlari ke arah Zahra, Gavin yang melihat Zeon yang akan bertindak langsung memegang tangannya dan memutar tangannya.
Mama Kirana memeluk nya dan langsung membuka tali yang mengikat tangannya. Ruangan langsung ribut saat mama Kirana datang. Semua polisi juga menembak peluru peringatan. Zeon masih melawan Gavin dan Pak Hanan, dia juga masih memegang pisaunya.
Mama Kirana dan Zahra mencoba menjauh, namun Zahra tidak memiliki tenaga yang cukup untuk berjalan. Zeon yang melihat Zahra tidak bertenaga langsung menyelinap di antara Hanan dan Gavin langsung menancapkan pisau ke punggung Zahra, dan "JLEEBB...".
" Sial meleset" ucap Zeon.
"Ma,mama..ma..hiks.."
Isak Zahra yang mencoba membangun kan mamanya yang menyelamatkan nya. Darah mengalir dari perut mama Kirana. Pak Hanan yang melihatnya langsung menginjak kaki Zeon dan memegang kedua tangannya dengan erat. Para polisi juga berhasil menangkap para komplotan Zeon.
Gavin yang melihat Mama Kirana tergeletak juga langsung membawanya ke luar dari markas tersebut. Pak Hanan memakai kan jasnya kepada Zahra lalu menuntunya berjalan. Langkah Zahra melambat sambil memegangi kepalanya.
"Zahra kamu ngga papa" tanya pak Hanan panik.
Zahra langsung pingsan dan dengan sigap pak Hanan membopongnya dan menaruhnya di mobilnya. Sementara itu, mama Kirana di masukan ke dalam mobil orang tua Leon. Pak Hanan membawanya dengan sangat cepat menuju ke rumah sakit terdekat.
Mama Kirana langsung di masukan ke ruang operasi dan Zahra langsung di bawa ke ruang ICU.
__ADS_1
"Permisi tuan, silahkan urus administrasi terlebih dahulu" ucap Suster.
Pak Hanan mengangguk namun langkahnya terhenti karena pak Danu menepuk bahunya.
"Biar saya saja pak, saya akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi"
Merasa perkataan itu benar, pak Hanan mundur dan mempersilahkan pak Danu untuk membayar semua registrasi nya.
2 jam kemudian Zahra dan Mama Kirana di pindahkan di ruang rawat yang sama. Mereka di rawat di salah satu ruang VIP di lantai 3 rumah sakit tersebut.
"Pak Hanan, kami pamit terlebih dahulu untuk mengecek keadaan Leon di rumah, kami takut dia Kenapa-kenapa di sana" ucap bu Lili.
"Iya bu, silahkan"
"Assalamualaikum" ucap pak Danu.
"Wa'alaikumsalam" jawab Gavin dan Pak Hanan.
Hanan terduduk lemas di sofa sambil memijat kening nya. Gavin yang melihatnya langsung memberinya minum.
"Nih, biar nggak kehabisan mineral dalam tubuh kamu"
"Terimakasih"
Pak Hanan meneguknya hingga habis dan kembali bersandar di sofa. Tiba-tiba mama Kirana memanggilnya, dengan sigap dia mendatangi nya.
"Iya bu, ada apa"
"Maaf jika ini merepotkan, tetapi.. "
Mama Kirana mengambil amplop coklat yang ada di bawah bantal nya lalu memberikan nya kepada pak Hanan. Pak Hanan mulai membacanya dengan detail. Dia menghela nafas panjang setelah membacanya.
" Bagaimana pak?" tanya mama Kirana penuh dengan harapan.
"Kalau masalah ini tergantung dari keputusan Zahra nanti bu"
"Ibu percaya sama kamu, bawakan berkas nya terlebih dahulu. Jika Zahra menolak, suruh dia untuk menyobek semua berkas, jika dia menerima, maka suruh dia untuk bertanda tangan di berkas tersebut"
" Tapi bu, ini memakan waktu lama untuk menyiapkan semua berkas ini"
"Sahabat mu pasti bisa membantu mu"
"Akan saya coba lakukan"
Pak Hanan dam Gavin menyiapkan semua yang diperlukan. Mereka keluar dari ruang rawat dan duduk di bangku depan. Pak Hanan memegang kepalanya, dia merasa frustrasi dan bingung dengan keputusan nya saat ini.
"Kamu benar akan melakukan ini Nan" tanya Gavin.
__ADS_1
"Entahlah, ini semua tergantung pada Zahra"
"Dari raut wajahmu, aku melihat adanya cinta dan juga pengorbanan. Kamu benar menyukai Zahra bukan"
Pak Hanan terdiam.
"Jika kamu tidak menyukai nya, kamu pasti akan menolak ini mentah-mentah. Lagipula kau juga menolak di jodohkan dengan ortumu waktu itu bukan"
"Aku tau itu, namun yang aku khawatir kan sekarang adalah aku seorang guru dan dia murid. Namun apakah aku akan menghancurkan masa depannya dengan cara seperti ini"
"Kamu tidak akan menghancurkan nya, kamu hanya perlu mendukung apa yang dia perbuat. Aku akan ke rumah Zahra sekarang mengambil barang yang di perlukan. Aku akan berusaha. Telpon aku saat ada kabar baik. Oiya, bajumu sudah akan di kirim ke sini. "
Gavin meninggalkannya, lalu dengan langkah gontai Pak Hanan memasuki ruang itu lagi dan memutuskan untuk menyegarkan dirinya setelah bajunya datang.
15 menit berlalu, dia menggosok rambutnya dengan handuknya lalu melihat keadaan dua orang yang terbaring di atas ranjang yang berbeda. Dia meletakkan handuknya dan duduk di samping Zahra. Menatap nya dengan lekat lalu mengusap rambutnya.
"Jangan.. Jangan sentuh aku.. Jangan.. Jangan lukai aku.. Pergi... Pergiiiiii" teriak Zahra.
Pak Hanan yang ada di samping nya merasa panik lalu mengusap usap wajahnya dengan lembut.
"Sstt... Tidak ada apa-apa... Bangun... Ini mimpi... Sstt bangun.... Aku di sini"
Zahra mengedipkan matanya lalu langsung memeluk pak Hanan dengan eratnya.
"Hiks.. Aku takut... Hiks.. Aku takut... Tolong... "
"Tenang, saya di sini sekarang.. Tenang lah.." sambil mengelus punggung dan kepalanya.
Zahra tenggelam di pelukan dada pak Hanan, perasaan nyaman juga detakan yang begitu menyentuh di sekitar wajahnya membuat jantung nya juga berpacu bersamaan. Pak Hanan menenangkan nya lalu mengambil kan minum untuk nya.
"Minumlah.. " ucap pak Hanan.
Zahra meminum hanya 2 teguk saja, dia teringat mamanya juga terluka.
" Mama.. Dimana mama saya pak"
"Tenang lah, mama kamu sedang tidur di samping kamu sekarang. Lihatlah"
Zahra bernafas lega lalu berjalan ke arah mamanya dengan bantuan dari pak Hanan.
//**//
Maaf ya baru bisa Up, terimakasih sudah setia menunggu novel karangan saya. Tinggal kan like, komen, vote dan hadiahnya ya.. Kalau nggak pun juga nggak papa😁😁..
Salamku
Dewi M
__ADS_1