
Pak Hanan datang dan mengambil kan minum untuk Zahra lalu meletakkan nya di meja.
"Minumlah, pasti kamu lelah"
"Tidak pak, saya baik kok, bapak saja yang minum"
"Kamu pucat lebih baik kamu yang minum"
Dengan terpaksa dia mengambil nya dan meminum nya. Hanan duduk di depan nya sambil memainkan ponselnya.
"Bapak sebaiknya mandi, saya akan bebenah rumah terlebih dahulu. Semuanya berantakan sekarang"
"Saya akan bantu kamu"
"Tidak usah pak, bapak mandi saja dulu, nanti saya buat kan makanan"
"Saya akan bantu kamu"
"Tidak usah bapak..."
"Saya sekarang suami kamu jadi kamu tidak boleh menolak perintah suami itu akan berdosa untuk kamu"
"Ya sudah terserah, aku lelah debat sama bapak "
Zahra bangkit dari duduk nya dan mengambil sapu sedangkan Hanan menyapu bagian luar rumah. Setelah berjam jam berbenah akhirnya mereka selesai.
" Bapak sebaiknya membersihkan diri bapak, saya akan menyiapkan makanan"
"Memangnya kamu bisa masak"
Zahra terdiam sambil menunduk.
"Sebaiknya kamu yang mandi terlebih dahulu dan saya yang akan memasak"
Zahra hanya pasrah dengan kemauan gurunya yang sekarang menjadi suaminya. Zahra memutuskan untuk berkramas dan membiarkan rambutnya tergerai. Dia keluar dari kamar mandi dan melewati Hanan yang sedang memasak begitu saja.
Dia masuk ke kamarnya dan mulai mendandani dirinya dan membiarkan rambut nya tergerai. Setelah sibuk di kamar Zahra pun keluar untuk makan.
"Kamu makanlah terlebih dahulu, saya akan mandi. Bisa kau mengambil kan handuk"
"Bapak ambil sendiri saja, ini kan juga rumah bapak"
"Saya tau, tetapi saya tidak tau letak handuk nya dimana"
"Iya pak iya.. " ucap Zahra malas.
Zahra mengambil kan handuk dan langsung memberikan nya. Pak Hanan langsung menuju ke kamar mandi. Zahra kembali duduk di meja makan dan menatap makanan yang ada di depannya yaitu nasi goreng yang sudah tersaji di dua piring.
" Sebaiknya aku makan nanti, lagi pula aku menyandang status istri sekarang. Huh... Berat juga ya jadi istri, apa-apa harus nurut." gumamnya.
Tak lama Hanan keluar dengan pakaian yang masih sama.
"Loh pak kok belum ganti"
"Saya akan mengambilnya di mobil, kamu sudah makan"
__ADS_1
"Belum pak, saya sengaja menunggu bapak. Cepatlah aku sudah lapar"
"Kamu makan saja dulu"
"Bapak, saya kan istri bapak masa iya kenyang sendiri. Sudah cepat bapak"
Hanan mengangguk dan setengah berlari menghampiri mobilnya yang berada di luar gang dari rumah Zahra. Pak Hanan kembali dan langsung memasuki kamar mandi kembali. Setelah siap akhirnya acara makan bersama pun bisa dilaksanakan dengan tenang.
Setelah mereka makan, Zahra membersihkan meja makan lalu mencuci nya.
"Pak, saya nitip ini dulu, tadi hampir jatuh di kamar mandi karena sedikit longgar" ucap Zahra sambil meletakkan cincin yang tersemat di jarinya.
Pak Hanan mengangguk dan membiarkan Zahra menjalankan tugasnya tanpa perlu perdebatan. Setelah Zahra selesai dia kembali dan duduk di ruang tamu untuk menonton televisi.
Di saat sedang asiknya menonton, tiba-tiba tangan seseorang mencoba mengalungkan sesuatu di lehernya dengan cepat dia menepis kannya.
"Pak Hanan, bapak mau apa, jangan macam-macam ya pak"
"Saya mau memasang kan cincin ini, kata kamu longgar, sebaiknya jadikan ini sebagai kalung saja dan agar orang lain juga tidak curiga dengan cincin yang terpasang di jari kamu" ucap Hanan.
"Haisshh.. Bilang dulu dong pak jangan main asal pasang aja, saya kan kaget jadinya"
"Pegang rambut kamu dulu" ucapnya sambil memberikan rambut panjang Zahra yang tergerai.
Hanan memasang kannya dan duduk di samping nya sambil menonton tv bersama.
"Sudah pak"
"Sudah, saya duduk boleh"
"Silahkan saja pak, kenapa harus ijin" ucap Zahra.
"Iya lah, terserah bapak aja"
"Saya juga mau ngomong"
"Ngomong apa pak"
"Tentang kamu ikut saya ke rumah"
"Tentang itu, aku ikut pak, soalnya juga semua guru dan teman-teman pasti akan heran kenapa saya tinggal sendiri di rumah. Nanti malah mereka bilang yang nggak nggak lagi"
"Syukur deh kalau begitu. Kamu mau ikut saya atau mama"
"Maksud pak guru"
"Bisakah kau memanggil ku dengan sebutan yang lain. Ini di rumah bukan di sekolah Zahra"
"Iya udah pak deh tapi ngga ada gurunya. Nggak ada penolakan ya pak, bapak juga ngga bisa maksa saya"
"Terserah lah.. Maksud saya itu sebenarnya saya tidak tinggal serumah dengan orang tua saya karena rumah terlalu jauh dari sekolah jadi saya beli rumah yang sedikit lebih dekat dengan sekolah"
"Kalau menurut bapak, saya ikut siapa"
"Ikut saya, karena kan kamu istri saya sekarang, lagi pula mereka taunya kamu adik angkat saya sekarang. Dan sebenarnya saya ingin memulai ini dari nol bersama kamu. Kamu jangan berfikir macam-macam, aku tidak akan melarang mu untuk tidur di kamar lain, namun aku tidak mau kamu tidur di rumah orang lain" ucap Pak Hanan.
__ADS_1
"Bapak bantu saya berbenah ya sekarang"
"Hmm.. Sekarang"
"Iya pak, lebih cepat pindah dari sini akan lebih baik karena di sini terlalu banyak kenangan bersama dengan orang tua saya yang sulit saya lupakan sepanjang hidup saya. Saya tidak mau terus memendam kesedihan di sini"
"Baiklah kalau begitu"
Mereka berbenah sekitar kurang lebih setengah jam. Membereskan semua keperluan dan barang-barang Zahra bersama.
"Sekarang sudah mau magrib, sebaiknya kita bersiap untuk sholat dan setelah sholat kita langsung ke rumah nanti"
"Iya pak"
Mereka pun sholat magrib bersama dan setelah itu mereka bergegas menuju ke rumah Hanan.
"Pak, besok saya ijin tidak berangkat dulu. Saya masih sedikit lelah" ucap Zahra membuka keheningan di dalam mobilnya.
"Iya, akan saya katakan kepada guru mapel kamu. Besok mapel apa? "
"Matematika, Animasi dan Agama"
" Saya mengajar di kelas kamu kan di hari rabu dan Sabtu Zahra, besok kan hari kamis"
"Astagfirullah, saya lupa pak"
"Besok Bahasa Indonesia, PJOK dan PPkn"
"Iya sudah akan saya sampaikan. Saya mau menelepon mama dulu, mau ngasih tau kalau kita sedang ke rumah saya sekarang."
"Iya mas, tepikan dulu mobilnya kalau mau menelepon"
"Tidak, kamu yang telfon. Nih hpnya. Kamu tekan aja yang lama di nomor 2"
"Iya pak"
Tak butuh waktu lama, akhirnya telfon nya pun tersambung.
"Assalamualaikum mah, ini Zahra"
"Wa'alaikumsalam, ada apa nak"
"Begini mah, sekarang aku sama mas Hanan menuju ke rumah nya mas Hanan sekarang. Bagaimana pun sekarang aku kan sudah menjadi istrinya, aku harus mengikuti kemanapun suami ku pergi"
"Baguslah kalau begitu, mama ikut seneng denger nya. Perlahan pasti kamu akan mengerti dan bisa bersikap lebih dewasa lagi"
"Iya mah, kalau begitu Zahra tutup telfonya. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Zahra pun menutup telfonya dan masih memegang handphone Hanan. Sedangkan Hanan hanya masih fokus menyetir.
//**//
Terimakasih sudah setia menunggu dan baca..
__ADS_1
Salamku.
Dewi M