
Tak terasa., kandungan Zahra sudah menginjak 5 bulan dan pada saat ini pula Zahra tengah bersiap-siap untuk melaksanakan wisudanya dengan di temani suami dan orang tua Hanan. Fany dan Alvero juga datang. Mereka sengaja tak mengikuti acara hingga selesai karena takut Zahra kelelahan.
Hanya hingga sampai pukul 11 siang, mereka pun memutuskan untuk pulang. Begitu mereka sampai Zahra langsung mengganti bajunya dan kembali ke ruang keluarga untuk berkumpul dengan keluarga dan teman-temannya.
"Zahra, Hanan. Lebih baik kalian pindah kamar di bawah saja. Kasian nanti Zahra yang harus naik-turun tangga."
"Iya mah, rencananya juga mau gitu."
Sementara itu, Fany tengah sibuk berbicara dengan bayi yang masih di kandung oleh Zahra. Zahra hanya menggeleng dengan tingkahnya.
"Oiya Ra, aku hampir lupa. Aku juga mau bilang. Aku dan Alvero akan menikah 2 bulan lagi."
"Alhamdulillah kalau gitu. Kok acara lamaran nggak undang."
"Acara lamarannya lusa." Saut Alvero.
"Alhamdulillah. Semoga lancar sampai hari H." ucap mama Hana.
"Amin tante."
Zahra masih memperhatikan Fany yang betah mengelus-elus perutnya.
"Fan, udah dong elusnya, kayaknya gemes amat si sama perut aku."
"Iya gemes. Dulu kan aku sering nampol nih perut waktu masih kerempeng, nah sekarang udah ada isinya aja."
"Fan, sebaiknya kita biarkan Zahra istirahat. Kita pulang." ajak Alvero.
"Ya sudah. Dadah baby kecil."
Setelah mereka semua pulang, Zahra dan Hanan memutuskan untuk beristirahat. Sore harinya, mereka duduk di ruang keluarga dengan Zahra memakan buah apel yang di kupaskan oleh Hanan.
"Mas, bentar deh."
Hanan pun menatapnya dan kemudian meletakkan pisau dan apelnya di tempatnya.
"Ada apa?"
Zahra mengelus perutnya dengan heran dan membuat Hanan ikut cemas dan ikut mengelusnya.
"Kenapa? Sakit?"
Hanan pun mendekatkan telinganya ke perut Zahra dan merasakan suatu denyutan kecil yang menyentuh pipinya.
"Mas"
Hanan mendongak ke atas sambil memegang pipinya.
"Perut kamu benjol?"
Zahra menepuk pundaknya dan membuat Hanan mengaduh.
"Emang perutnya udah benjol mas."
"Terus tadi 'nyut' kaya ada yang nyentuh pipi apa?"
"Kayaknya babynya udah mulai aktif deh."
"Mana coba."
Hanan tak merasakan apapun saat mengusapnya.
"Mana?"
__ADS_1
"Bobok kali?"
"Yahh.."
Hanan melepaskan tangannya dan Zahra kembali memegang perutnya.
"Tuh mas, nendang kan."
Hanan memegang perutnya lagi dan tak kembali mendapatkan pergerakan apapun dari dalam perut Zahra.
"Ini babynya lagi ngajak main papa ya. Hmmm.. Anak nakal coba tendang perut mama."
Zahra menepuk pundaknya dengan keras hingga membuat Hanan kesakitan.
"Isshh.. Mas ya. Jangan ya nak, ya.. Kan sakit.."
"Masa papanya nggak boleh merasakan tendangan dia si. Kayaknya babynya cewe deh, suka ngerjain papanya."
"Mana mas tau, kan belum keliatan."
"Biasanya anak cewek suka jail sama papanya, kalau cowok pasti dingin sama papanya."
"Nah kan tadi nggak dapat respon dari papanya, berarti cowok."
"Mau cewe atau cowo mas seneng. Udah, papa ngalah deh, baik-baik di dalam perut mama ya. Muuaachh.."
Entah beruntung atau kecewa, entah menendang atau meninju, hentakan itu terasa tepat pada saat Hanan mencium perut Zahra.
"Mas, dapet bonus tuh."
"Babynya nendang atau ninju?"
"Nggak tau juga. Tapi kan kalau dia nendang atau pun ninju nandain sama-sama nggak boleh di cium."
"Sabar ya mas. Aku pengen donat mas. Beliin ya, nanti malah mas tambah di cuekin sama baby, mending mas beliin donat."
Hanan mendengus kasar dan menunduk pasrah.
"Iya, mas pergi cari donat dulu."
Hanan bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Zahra sendirian.
"Udah mulai nakal kamu sama papa ya nak. Nanti jangan lagi ya, kasian papa."
Zahra mengelus perutnya dan rasanya gemas karena baru di perut sudah bertingkah menggemaskan.
*****
Keesokan harinya, Zahra bangun pagi dan memilih untuk memasak di dapur. Bau harum khas masakanya menyebar di sekitar ruangan. Hanan yang baru bangun langsung menemuinya di dapur.
"Emm.. Tuan.." ucap sang bi Fitri khawatir Hanan akan marah, karena telah mewanti-wanti pembantunya untuk tidak membuat Zahra lelah.
"Eh mas.. Udah bangun. Bentar lagi matang, tunggu bentar ya."
"Kenapa kamu di sini?. Biar Bi Fitri saja yang melakukannya."
"Aku pengen masak mas, masa nggak boleh, lagian ini kan makanan khas yang Zahra buat, bi Fitri juga baru ngeliat Zahra masak ini."
"Memang apa yang kamu masak?"
"Nggak tau."
"Loh, kan kamu yang masak sendiri?"
__ADS_1
"Aku cuma percobaan aja. Dari baunya si udah aku kira enak."
"Bahan utamanya apa?"
"Ikan salmon, pake tomat terus apa ya tadi."
"Kamu dapet resep dari mana?"
"Ya Internet lah mas, udah matang nih. Zahra cicip dulu."
Zahra mengambil sendok dan sedikit mengambil makanan yang telah ia masak. Zahra hendak membuka mulutnya, namun segera di ambil oleh Hanan.
"Kenapa di ambil?"
"Kalau nggak enak nggak baik buat baby, aku yang nentuin baru kamu cobain."
"Iya udah cepetan."
Hanan memasukkan sendok tersebut ke dalam mulutnya. Matanya langsung terbuka lebar saat makanan tersebut menyentuh lidahnya.
"Duh.. Nggak enak ya mas. Maaf ya, bi Fitri ambilkan minum."
"Jangan bi."
Hanan langsung menghentikan bi Fitri yang hendak pergi. Dan bi Fitri pun diam memperhatikan.
"Sajikan di meja makan. Kita makan sama-sama."
"Mas belum jawab pertanyaan aku loh."
"Di meja makan aja nanti. Kamu pasti lelah, sekarang duduk dulu. Bi Fitri, tolong cepat ya."
"Baik Tuan."
Zahra pun menuruti Hanan dan duduk di ruang makan.
"Mas, gimana koh?"
"Cobain sendiri nanti."
"Isshh, jangan buat penasaran. Kalau mas nggak kasih tau aku nggak makan."
Hanan pun dengan pasrah memberitahunya.
"Masakan yang kamu masak sangat lezat dan enak Zahra. Kalau mas nggak bilang nggak enak pasti udah mas suruh tambah ini itu, mas kan minta langsung di sajikan."
Setelah makanan tertata rapi di meja makan. Zahra mengambil nasi dan lauk untuk Hanan dan beberapa pembantunya. Tak lupa juga dia mengambil untuk dirinya. Zahra pun langsung memasukan nasi dan hidangan tersebut ke mulutnya dan dia kagum dengan masakan buatannya.
"Alhamdulillah enak. Zahra nggak pernah masak seenak ini sebelumnya. Ini sangat luar biasa."
"Mungkin calon jabang bayinya juga Non yang punya bakat masak."
"Masa si bi?"
"Terkadang begitu non. Itu kan kata jaman dulu. Apapun yang di sukainya sejak kecil atau saat di kandungan biasanya memengaruhi masa depan non."
"Oohh.. Begitu ya."
"Tapi, nggak tau juga non, itu kan kata orang jaman dulu-dulu."
"Begitu ya bi. Ya udah bi, bahas nanti saja. Lebih baik kita makan dulu."
Mereka pun melanjutkan sarapan hingga semua yang terhidang di meja habis.
__ADS_1
//**//