
Zahra duduk di bangku yang tersedia di samping ranjang mamanya. Zahra memegang tangan mamanya dengan tatapan sendu. Mamanya pun bangun saat ada tangan yang menyentuh nya.
"Zahra"
"Mama, mama sudah bangun"
"Mama bangun dari tadi nak"
"Bu, Zahra, saya keluar sebentar" ucap pak Hanan.
"Kenapa keluar nak, sini duduk"
"Tapi bu.. "
" Nggak ada tapi-tapian duduk" perintah mama Kirana.
Pak Hanan pun duduk di samping Zahra. Zahra hanya memandang gerak gerik pak Hanan dan kembali melihat mamanya.
"Bagaimana keputusan kamu" tanya mama Kirana to the point.
"Maksud mama keputusan apa"
"Tu-tunggu dulu, sebaiknya kamu baca ini" ucap pak Hanan gugup sambil menunjukkan sebuah amplop coklat.
"A-apa ini"
"Baca saja dulu" ucap pak Hanan.
Perasaan dag-dig-dug terus menyelimuti nya, keringat dingin sudah mulai terasa di tubuh Pak Hanan dengan keputusan Zahra selanjutnya. Zahra membuka amplop itu dan langsung membacanya.
......Zahra, ini surat dari bapak nak. Maafin bapak ya sudah pergi ninggalin kamu sama mama. Bapak kangen kamu nak, maaf ya bapak sedih nggak bisa ngeliat kamu di saat terakhir bapak. Tetapi apa daya bapak, umur bapak hanya bisa sampai di sini. Maafkan bapak ya nak, nggak bisa jadi wali ketika kamu menikah di masa depan nanti. Bapak berpesan kepada mama supaya nanti sebelum mama nyusul bapak, mama harus jadi wali nikah kamu agar bisa di ceritakan kepada bapak di syurga nanti. Tolong ya nak, bantu bapak tenang di sini. ......
...Bapak minta, kamu bersanding dengan pak Hanan ya, guru agama kamu. Akhlak nya baik, sopan kepada orang tua dan patuh membuat bapak tersentuh. Bapak hanya yakin kepada dia karena dari wajahnya bapak sudah bisa menebak akhlak nya. Bapak minta agar dia menjaga kamu di dunia agar bisa menuntunmu menuju jalan syurga dan bisa berbahagia bersama kelak. Bapak tau ini berat, tetapi apakah kamu ingin membuat bapak tidak tenang di alam kubur? Apakah kamu akan tega memikul beban mama kamu yang sudah menerima wasiat ini? Jadilah anak yang penurut ya nak. Jika saja kakek nenek mu masih hidup, pasti bapak akan suruh kamu tinggal bersama nya, namun takdir berkata lain. ...
...Masalah sawah, bapak akan menyerahkan semuanya kepada kamu dan biarkan kamu yang mengurus nya nanti. Terserah kamu mau di apakah, nanti kamu bisa merundingkan hal ini bersama dengan Hanan. Pikirkan keputusan yang terbaik ya nak, jangan sampai mengecewakan dan melupakan orang yang ada syurga ini. Bapak pamit nak, semoga berbahagia. ...
Zahra meremas surat wasiat tersebut dan matanya mulai berlinang air mata. Pikirannya mulai berkalang kabut memikirkan keputusan nya. Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di dalam pikirannya hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi menenangkan pikiran nya.
"Ma, aku ke luar dulu cari udara segar"
__ADS_1
"Mama tau nak yang ada di pikiran kamu, namun tolong bapak sama mama ya nak"
"Tunggu saja nanti. "
" Mau saya bantu Ra" ucap pak Hanan yang mencoba memeganginya.
Zahra tidak menjawab dan hanya menghempaskan tangan pak Hanan dan keluar perlahan dari ruang rawat nya.
"Nak, saya mohon penuhilah wasiat ini ya nak"
"Ibu, saya mengerti, namun semua keputusan ini hanya ada di tangan Zahra. Semua keputusan saya berada di tangannya"
"Kenapa kamu tidak menolak ini nak"
Pak Hanan menghela nafas panjangnya.
" Dan jujur bu, saya sebenarnya juga ragu dengan keputusan ini. Bagaimana saya menolak dari sebuah wasiat. Saya akan merasa berdosa jika saya langsung menolak ini bu. Lagi pula nama saya sudah tercantum dalam wasiat itu, saya tidak bisa berkutik lagi"
"Kamu lajang bukan"
"Iya bu"
"Sekarang cari dia, ibu takut dia kenapa kenapa di luar sana"
"Loh, kemana dia" ucap pak Hanan panik. Dia langsung mencari ke sana kemari di setiap sudut rumah sakit. Dia juga memeriksa di setiap lantai rumah sakit dan bertanya kepada orang sekitar. Dia juga mencari di sekitar luar rumah sakit.
"Pak lihat gadis memakai baju rumah sakit ngga pak, tingginya sekitaran se pundak saya"
"Seperti nya saya lihat dia naik ke lift tadi"
"Oiya pak, terimakasih banyak. Saya permisi"
Pak Hanan kembali memasuki rumah sakit dan menuju ke atap Rumah sakit dan benar Zahra sedang berdiri sambil menikmati pemandangan kota untuk menenangkan pikiran nya.
"Syukurlah kamu di sini"
"Kenapa bapak cari saya. Bisakah bapak menjauhi saya"
"Jadi kamu tolak soal wasiat ini"
__ADS_1
"Ini hanya sebuah wasiat yang tidak masuk akal pak. Bapak tau bapak adalah guru saya dan saya adalah murid bapak, namun kalau di pikir-pikir ini tidak lah mungkin. Lagipula saya juga masih ingin bersekolah, jika semua guru dan murid tau, entah apa yang akan mereka pikirkan nanti. Saya juga masih memiliki cita-cita yang sangat luas dan amat di dambakan pak"
"Memang nya apa cita-cita kamu"
"Saya ingin bekerja di sebuah perusahaan dan menjadi pegawai di sana. Saya juga ingin memberangkatkan kedua orang tua saya di saat saya sudah sukses nanti, namun apa, semua itu hanya semu belaka. Takdir tidak ingin mengizinkan aku melihat kebahagiaan kedua orang tua di dunia"
"Namun mereka masih bisa tersenyum di syurga kelak jika melihat kamu bahagia di dunia."
"Maksud bapak? Apakah bapak benar-benar ingin melaksanakan wasiat ini"
"Saya akan menunggu keputusan kamu. Tadi mama kamu khawatir dan menyuruh saya untuk mencari kamu" ucap pak Hanan yang hendak pergi sambil membelakangi Zahra.
"Kenapa bapak tidak menolak. Apakah benar bapak mencintai saya selama ini" teriak Zahra.
Langkah pak Hanan terhenti dan menghembuskan nafasnya kasar lalu membalikkan tubuhnya menghadap Zahra.
"Saya pun juga tidak tau. Cepat lah turun, mama kamu sudah menunggu kamu"
Dengan langkah yang lebar dan cepat, Zahra melalui nya dan Pak Hanan hanya bisa menatap kepergian nya. Dia frustrasi akan semua yang terjadi saat ini. Di terus menjambaki rambutnya dan merasa banyak beban di dalam pikirannya. Namun Pak Hanan juga bingung mengapa hatinya tidak bisa menolak nya. Sungguh membuat Angga merasa frustrasi sendiri dengan keputusan yang akan di ambil Zahra.
Sementara itu Zahra kembali memasuki ruangan nya dan terduduk di samping mamanya.
"Mama, apakah mama akan meninggalkan ku dan pergi untuk menemui bapak"
"Kenapa kau bertanya seperti itu nak" sambil mengelus pipi Zahra.
"Mama, aku tau mama rindu dengan bapak, Zahra pun juga rindu ma, tapi mama ngga boleh ninggalin Zahra sebelum Zahra sukses dan melihat mama tersenyum bahagia di samping Zahra" ucapnya sambil berlinang air mata.
Mama Zahra pun tersenyum.
"Lihat mama sudah bahagia sekarang. Kau tau nak jika ingin melihat mama tersenyum, penuhilah permintaan terakhir mama ya. Mama yakin kamu pasti saat ini juga sedang memikirkan pak Hanan"
Zahra terdiam sambil mengusap usap wajahnya yang basah.
"Mama tau, kamu juga menyukai pak Hanan Walaupun bagi kamu itu tidaklah mungkin. Namun hati tidak bisa berbohong Zahra. Tadi mama lihat kamu juga memeluk pak Hanan karena kamu ketakutan"
"Mama, itu Zahra refleks karena Zahra takut. Jadi tolong lah mah"
"Tolong penuhilah permintaan mama ya" sambil memegang kedua tangan Zahra
__ADS_1
Zahra pun mengangguk pasrah.
//**//