
Keesokan harinya, Hanan dan Zahra mempersiapkan makan pagi di halaman belakang dengan kedua pembantu nya.
"Semenjak aku bekerja di kantor, kami berdua memang jarang berdua seperti ini. Baiklah, sore ini aku akan membuatmu bahagia, dan lebih bahagia dari hari sebelumnya"
Mereka sarapan bersama layaknya sedang berpiknik. Kedua pembantu hanya makan dari jauh karena bagaikan seorang nyamuk. Sungguh membuat mereka iri dan memutuskan sarapan di karpet yang berbeda.
"Mas Hanan, aku hari ini nggak berangkat ya, pliissss"
"Tapi kan pelajaran kamu penting"
"Kan mas bisa ngajarin, ya mas ya..."
"Nggak boleh, kalau kamu minta hal ini mas nggak setuju, minta yang lain saja"
"Yaaahh...mas Hanan mahhh"
"Kamu nurut sama mas nanti dapet pahala"
Hanan membelai kerudung Zahra. Zahra tertunduk karena rindunya yang masih tersimpan di dalam hati nya begitu dalam, sehingga enggan jauh dengannya. Lalu Hanan mencium kening nya.
"Udah sana siap-siap, mas yang antar"
"Mas jangan kerja oke"
"Iya, mas nggak kerja. Nanti mas jemput Zahra tepat waktu"
"Iya mas, aku siap-siap dulu"
Zahra pun bersiap-siap dan berangkat ke sekolah. Seperti biasa sewaktu bel masuk, dia bergegas mengantarkan tugas bersama dengan Fany.
"Kapan si pengganti mas Hanan dateng"
"Kayaknya hari rabu dateng Ra, aku denger-denger si"
"Hah udah ada"
"Kamu gimana si, bukanya bersyukur malah ngeluh lagi"
"Alhamdulillah"
"Ya udah yuk balik ke kelas"
Zahra mengangguk, namun saat jam pelajaran sungguh dia ingin sekali pulang. Tak ada semangat sedikit pun.
"Ra, lo kenapa lagi"
"Aku pengen pulang"
"Masih jam 8 ra, pelajaran mulai satu jam yang lalu. Kalau nggak semangat sekolah mending nggak usah berangkat."
"Huhhhh"
"Kalau gini terus, gue aduin sama pak Hanan loh"
"Aaahhhh... Jangan-jangan, ntar gue yang kena ceramah"
"Tapi seneng kan di ceramahin sama pak Hanan, ngaku deh"
"Zahra, Fany perhatikan ke depan" ucap guru matematika.
"I-iya bu"
Mereka pun menghadap ke depan dengan seksama.
"Lo sih Ra"
"Sstt, diam, ntar di marahin lagi"
Fany terdiam dan memperhatikan ke depan. Begitu lama bagi Zahra dan akhirnya bel istirahat pun berbunyi. Zahra menggendong tas nya.
"Eh, lo kemana bawa tas"
"Pulang"
"Zahra, ini jam istirahat bukan waktu pulang"
"Astagfirullahal'azim, gue kenapa si"
"Makanya jangan rindu melulu, oleng kan jadinya"
"Rindu siapa nih" tanya Intan.
"Bukan siapa-siapa. Fany ke kantin yuk, gue traktir"
__ADS_1
"Lah gue nggak"
"Ayo sekalian"
"Yang bener"
"Cepetan ikut, sebelum gue berubah pikiran"
Intan dan Erina pun ikut membuntuti Fany dan Zahra ke kantin dengan cepat. Setelah ke kantin mereka pun kembali ke kelas.
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya pulang sekolah tiba. Zahra paling semangat keluar dari kelas dan berlari menuruni tangga dan menuju ke depan sekolah.
Benar, Hanan sudah menunggunya. Zahra pun berlari dan bersalaman dengannya.
"Cepet banget keluar nya, kangen banget sama mas"
"Sssttt, cepet pulang yuk mas, emm... Mobil mas mana"
Zahra celingak celinguk mencari keberadaan mobil Hanan, namun tak mendapatinya. Kemudian dia pun menatap Hanan bingung.
"Mas naik ini"
Hanan menyenderi motor ninja yang ada di sampingnya. Motor baru tentunya, karena
"Motor?Ya ampun, jadi mas kepanasan dong di sini. Nunggu dari kapan"
"Mungkin setengah jam"
"Mas keringetan tuh sampe netes di dahi"
"Waktu itu kamu juga kepanasan. Udah yuk, lebih baik pulang, banyak anak yang keluar"
"Iya mas, ta-tapi.."
"Kenapa lagi"
"Naiknya gimana ini"
"Kayak naik motor biasa, bismillah dulu pasti bisa"
Zahra pun berusaha menaiki motornya dan akhirnya berhasil. Hanan menyalakan motornya.
"Mas ribet si pake motor kek gini segala"
"Ya udah sekalian mas ganti"
"Kamu ke susahan, jadi mas akan ganti, sekalian jalan"
"Aku belum ganti baju"
"Itu gampang, pegangan"
"Dasar sultan"
Hanan melajukan motornya dengan sangat pelan. Membuat Zahra bosan dan akhirnya memukul pundak nya.
"Mas aku pegel, kapan sampenya lama banget"
"Kamu aja nggak pegangan"
"Emang nya harus"
"Harus dong, nanti jatuh luka terus..."
"Terus apa"
"Nggak apa, pegangan... "
Tiba-tiba Hanan mengebut dan Zahra pun terpaksa berpegangan dengan erat. Tak lama mereka sampai di salah satu toko motor. Zahra pun turun dari motor yang ia tumpaki dan mengikuti Hanan.
Hanan membuka pintu toko dan langsung tertarik pada satu motor berwarna abu bermerk beat dan langsung memesan motor tersebut begitu juga dengan plat nomor nya. Zahra hanya melihat arah pandang Hanan sambil tertegun tak percaya.
"Tingkah sultan gini amat ya, Astagfirullahal'azim, suami gue kesambet apa hari ini Ya Allah.... " batin.
"Mbak, motor hitam di depan antar ke alamat ini dan motor ini saya bawa sekarang. Saya bayar cash"
Hanan mengeluarkan kartu ATM-nya. Setelah selesai dia langsung membawa motor tersebut bersama dengan Zahra.
"Mas, boros banget si"
"Nggak kok, cuma ngeluarin beberapa lembar doang"
"Mas kok nada bicara nya kayak abg-abg sultan"
__ADS_1
"Kalau mas bicara kayak orang dewasa, mas keliatan tua"
"Emang udah tua mau ngelak"
"Zahra..."
"Kenapa" jawabnya sewot.
"Sudahlah, mas minta maaf, mau kemana sekarang"
"Pulang"
Hanan melajukan motornya dan kembali ke rumah. Zahra dan Hanan begitu terkejut karena ada seseorang kurir mengirimkan paket ke rumahnya.
"Permisi bang, ada apa ya"
"Eemm.. Apa benar ini kediaman nona Zahra"
"Saya sendiri"
"Ini ada paket buat non dari tuan Leon"
"Leon?"
"Kenapa Zahra" tanya Hanan yang menyusulnya.
"Ini dari kak Leon"
"Terima saja"
"Iya, sini mas. Terimakasih banyak"
"Permisi non, tanda tangan di sini sebagai tanda terima"
"Saya aja bang yang tanda tangan"
"Oiya tuan silahkan"
Setelah sang kurir pergi, Zahra membawa hadiah tersebut ke kamarnya. Begitu juga Hanan.
"Mas, buka nanti, aku mau mandi dulu"
"Silahkan saja"
"Mas aku laper banget, aku minta tolong bawain makanan ke sini ya, perut aku udah lumayan sakit"
"Lebih baik makan dulu aja"
"Udah keburu gerah"
Zahra langsung ke kamar mandi, dan Hanan pun turun mengambil makanan sendiri, karena kedua pembantunya sibuk.
"Tuan bisa panggil saya" ucap bi Fitri.
"Nggak usah bi, bibi lanjut saja. Saya akan bawa ini ke kamar. Saya permisi dulu."
Bi Fitri mengangguk dan kembali ke pekerjaannya. Hanan membawa satu piring dan sendok namun dalam porsi besar. Kemudian dia kembali ke kamar dan mendapati Zahra sudah rapi dengan baju santainya.
"Makasih mas"
Zahra merebut piring yang di pegang Hanan dan memakannya dengan lahap. Hanan hanya menghela nafas panjang dan hendak meninggalkan Zahra. Zahra tersenyum di tengah makannya dan menarik tangan Hanan.
"Nih aaakkk..."
Zahra tersenyum dan Hanan pun membuka mulutnya. Namun Zahra tidak memasukkan nya malah memasukkannya ke mulutnya sendiri. Hanan kesal dan meninggalkan Zahra.
"Mas ngambek ya, aku bercanda mas nih, kali ini aku serius"
"Awas kalau nanti ngeledek lagi"
" Nggak mas, aku khilaf ngeledek suami sendiri, tatapannya Uuuhhh... Setajem pedang"
"Nggak papa, kamu makan aja, mas ambil di dapur"
"Jangan mas jangan, maafin aku. Nih.."
"Nggak Zahra, kamu makan aja"
"Cup"
Zahra terpaksa mencium pipi kanan Hanan. Hanan hanya terpaku di tempat.
"Udah diem kan, mesti nurut, aakkk"
__ADS_1
Benar, Hanan langsung menurutinya seperti sedang terhipnotis olehnya.
//**//