
Zahra kembali ke rumah dengan cepat dan langsung masuk di mobil Hanan. Zahra yang sangat lelah dan mengantuk, terlelap lagi di dalam mobil Hanan.
Sesampainya di rumah, Hanan membopong Zahra seperti biasa namun tidak ke kamarnya, tetapi ke kamar bawah, terlalu lelah baginya untuk naik ke atas tangga. Pak Johan hanya membawa kan tas mereka hingga ke kamarnya. Hanan meletakkan tubuh Zahra pelan. Setelah itu dia pun mandi.
Hanan memutuskan untuk tidak ke atas melainkan tidur bersama dengan Zahra, entah apa yang dia pikiran, intinya dia sangat letih sekarang. Sebelum dia tidur, dia terlebih dulu meminta izin kepada Zahra yang sudah terlelap untuk tidur di samping nya, karena di kamar itu tidak ada sofa panjang yang tersedia.
"Mas ijin tidur di sini ya, mas batasin sama guling. Mas cape kalau keluar lagi, selamat malam" ucapnya lirih.
Dia mematikan lampunya dan mulai terlelap.
*****
Zahra bangun sekitar pukul 7 pagi, dia mengerjapkan matanya dan melihat ke sekelilingnya.
"Mas Hanan" ucapnya lumayan keras dan langsung menutup mulutnya.
"Mas Hanan tidur di sini, Ini di kamar bawah ya, pasti mas Hanan lelah gendong aku semalam dan... Ya ampun, gue nggak mandi semalam... Bodoamat lah" gumamnya.
Dia memindahkan bantal guling lalu memandang Hanan yang masih terlelap di tidurnya.
"Mas Hanan manis kalau lagi tidur.... Kalau di giniin terus aku bakal betah sama mas... Emm, aku kerjain aahh"
Zahra membaringkan tubuhnya lalu menghadap Hanan, lalu tangan Hanan di taruh di pinggang nya. Lumayan geli baginya karena baru pertama kali, lalu ia pun memejamkan matanya.
"Nggak bereaksi" gumamnya.
Tak lama Hanan menandakan akan membuka matanya, dengan segera Zahra pun memejamkan matanya. Hanan memerjapkan matanya berkali-kali lalu menatap lekat Zahra. Zahra pun membuka matanya.
"Mas Hanan" ucapnya sambil melempar tangan Hanan.
"Ma-maaf Zahra, maafkan mas, mas terlalu lelah tadi malam jadi tidur di sini, lagipula kamar ini nggak ada sofa panjang"
"Omong kosong, buktinya aja tadi, terus apa ini"
"Tadi malam mas udah taro bantal guling di sini"
"Mana bantal guling nya, ngga ada kan"
"Mas bersumpah, tadi malam mas udah taruh di sini"
"Mas nggak ada bukti, pokoknya mas harus tanggung jawa"
"Tunggung jawab bagaimana, mas kan suami kamu"
__ADS_1
Zahra membungkam mulutnya dan sudah salah berdialog, lalu memikirkan cara lagi agar Hanan marah kepada Zahra.
"Intinya aku nggak mau tidur selain sama orang yang aku cintai"
"Kamu nggak mencintai mas"
"Nggak, kan aku bilang nya menerima mas, bukan mencintai mas" ucap nya enteng.
Hanan bagaikan tersambar petir di pagi hari, dan dengan jengah dia turun dari tempat tidur. Zahra tersenyum senang lalu memeluk Hanan dari belakang.
"Kena sekarang... Hahahaha" ucapnya lantang.
"Maksud kamu apa" ucap nya sambil melepaskan tangan Zahra.
"Mas Hanan kena prank... Yeyeye"
"Prank kamu seketika membuat mas lemah Zahra"
"Terus kalau aku bilang aku mencintai mas gimana"
"Maksud kamu"
"Nggak ada pengulangan..."
Zahra hendak pergi dari hadapan Hanan, namun tangan Zahra di pegang oleh Hanan.
"Aku mencintai mas Hanan"
" Sejak kapan itu"
"Ih mas, kok gitu si jawabnya. Kalau aku tanya mas Hanan kaya gitu jawabannya apa coba"
"Bagaimana kamu bisa mencintai mas"
Zahra menghela nafas panjang lalu memegang tangan Hanan.
"Jika mas bertanya pada ku, apa yang mas katakan"
"Jawab mas Zahra"
"Nyebelin banget si, harusnya aku yang tanya sama mas Isshh.. "
Zahra melepaskan tangannya dan membalikkan badan nya.
__ADS_1
"Bagaimana mas bisa mencintai kamu, jawaban itu mudah bagi mas. Karena waktu itu kamu yang menarik perhatian mas hingga mas tidak bisa berpaling dari kamu hingga sekarang. Kamu juga yang menarik mas dalam sebuah Cinta hingga mas merasakan hal berbeda dengan mu. Hingga kini mas selalu memakan buah cinta itu. Tak tau sejak kapan mas mencintai kamu, yang pasti rasa ini muncul begitu saja dan jatuh untuk kamu. Dan dengan mudah nya takdir menyatukan kita tanpa kesengajaan, hingga kita sudah berjalan sejauh ini. Mas terus berusaha untuk menarik cinta kamu untuk mas, membuat mu nyaman dan bahagia itu adalah tugas mas. Hingga akhirnya pada waktu ini pun tiba, kau mengungkapkan rasa yang selama ini mas tunggu hingga mas ingin mendengar nya lagi sebagai sebuah kepastian, dan mas tanya sekali lagi, apakah rasa itu nyata atau tidak" ucap nya yang sudah berada di belakang Zahra.
Jantung Zahra berpacu begitu cepat, Zahra sungguh bingung rasanya saat ini. Memang benar Zahra sudah mencintai nya namun mengungkapkan nya begitu sulit baginya. Rasa gugup yang membuat jantung nya tak terkontrol membuat pikiran nya juga tidak bisa berhenti berfikir.
"Bagaimana, bisa katakan sekali lagi"
Zahra mengambil nafas dengan panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Lalu mengangguk kan kepalanya.
"Katakanlah, buktikan kalau kamu benar mencintai mas"
"Iya... Aku mencintai mas" ucap nya dengan lantang dan wajah yang sudah memerah.
Zahra membalikkan badannya lalu memeluk Hanan yang ada di belakangnya dan menyembunyikan wajah nya yang sudah memerah.
"Aku juga mencintai mu" ucap nya lalu mencium kepala Zahra.
"Mas tadi tanya kan, kapan aku mulai mencintai mas. Sebenarnya aku udah lama mencintai mas, namun Zahra takut dan ragu untuk mengungkapkan nya duluan. Aku juga memastikan apakah diriku benar-benar mencintai mas atau belum, namun kemarin rasanya itu berbeda dari biasanya. Saat mas tidak satu bus dengan ku, perasaan ku lemas seperti kekurangan daya, dan malas rasanya kalau nggak ada mas. Hingga di siang hari waktu itu saat aku mendengar suara mas, dayaku kembali lagi dan kembali bersemangat, hingga saat aku mendengar mas belum makan, rasaku ingin menyuapi mas juga, apa itu jika bukan cinta. Dan kemarin saat bersama mas, aku merasa sangat bahagia, sangat sangat bahagia. Namun ada hal yang aku takut kan"
"Apa itu"
"Aku takut semua akan terbongkar tentang rahasia kita selama ini, aku takut orang orang yang menyayangi kita menjadi membenci kita, aku juga takut jika akan ada yang memisahkan kita. Apalagi menyangkut tentang status kita saat ini yang hanya di hadapan publik adalah sebagai guru dan murid, apa reaksi mereka kalau mereka tau semua itu. Hingga terkadang aku mengurungkan niatku untuk menyatakan ini lebih dalam, agar aku bisa menerima semua yang mungkin terjadi dengan ikhlas dan tanpa beban. Namun sikap mas kepada Zahra membuat hati Zahra benar-benar jatuh kepada pelukan mas, hingga tidak bisa berpaling."
"Zahra percayalah kepada mas, dan berdoa lah selalu agar apa yang kamu pikirkan tidak terjadi, selalu bawa pikiran kamu dalam hal yang positif, apa kamu mengerti"
"Aku mengerti, namun terkadang pikiran itu menghantui aku"
"Sssttt.. Sudah lah, jangan terlalu di fikirkan. Terimakasih sudah menyatakan nya kepada mas"
"Aku juga berterima kasih sudah menjadi pelengkap Zahra"
Dan tiba-tiba "cup", Zahra mencium pipi Hanan.
"Aku sayang mas, aku mandi dulu. Mas jangan lupa bernafas" ucap nya sambil berjalan keluar dari kamar.
Hanan terpatung dan memegangi pipinya.
"Ini bukan mimpi" gumamnya.
Dia melihat dirinya sendiri melalui cermin dan mencubit tangannya.
"Aaww.. Ini bukan mimpi" ucap nya sekali lagi.
________________________________
__ADS_1
......" *Cinta... Apa itu? Semua orang tidak bisa mengartikan nya dengan pasti, tetapi itu adalah rasa yang tidak dapat di hindari. Tak tau akan jatuh kepada siapa dan untuk siapa, namun cinta tak pernah membedakan sebuah status dan harta. Tak peduli perbedaan status mereka dan seberapa banyak harta yang mereka miliki, namun dengan adanya cinta menguatkan rasa itu bahwa mereka bisa menghadapinya bersama tanpa peduli siapa mereka dan beban yang akan di lewati bersama nantinya "......
...~Zahra & Hanan*~...