
2 hari menjelang ulang tahun Hanan.
Zahra menemui Hanan yang sedang duduk santai sambil menonton film aksi. Tak lupa ia juga membawa segelas kopi untuknya.
"Mas" panggilnya.
"Kenapa?"
"Mas kan 2 hari lagi ulang tahun. Aku nggak punya kado apa-apa buat mas tahun. Bagaimana kalau mas yang ngasih kado buat Zahra?"
"Memangnya apa mau kamu?"
"2 hari ini kita liburan. Tapi jangan jauh-jauh, nginepnya di hotel."
"Mau ajak boros?"
"Isshh, bukan mas. Kan hotel mas ada banyak. Nginep sana ya."
"Kenapa nggak nginep di rumah?"
"Memangnya nggak boleh ya, kan pengen aja mas. Sekali-kali gitu nginep di hotel."
"Padahal kemaren waktu di Korsel nginep di hotel. Masih kurang?"
"Maasssssss... Isshh..."
"Iya iya. Mau sekarang atau besok."
"Sekarang boleh besok boleh. Mending sekarang aja."
"Kamu sehat kan?"
Hanan menyentuh kening Zahra dengan punggung tangannya, namun segera disingkirkan oleh Zahra.
"Aku sehat mas. Ya.."
"Iya.. Iya.. Sekarang bersiap."
Hanan dan Zahra langsung menuju ke kamarnya untuk membawa barang secukupnya. Setelahnya mereka pun segera menuju ke hotel permintaan Zahra.
Cukup sekitar 1 jam, mereka sampai di Hotel. Zahra sengaja memilih hotel yang jauh dari rumah mereka. Mereka langsung menurunkan barang-barangnya dan membawanya ke kamar yang telah disediakan khusus untuk mereka berdua.
"Mas. Duduk sini."
Zahra menepuk samping tempat yang di dudukinya dan kemudian Hanan pun duduk di tempat tersebut.
"Kenapa lagi?"
"Mas, habis lulusan aku nggak kerja ya."
"Itu terserah kamu aja. Mas akan dukung kamu selagi kamu meminta yang benar. Jadi, kamu nggak pengen jadi sekretaris mas?"
"Pengen si pengen mas. Tapi kayaknya Zahra milih untuk istirahat dulu. Kan Zahra juga udah pernah jadi sekretaris mas waktu kelas 11 dulu."
"Ya, kalau itu mau kamu, silahkan saja. Tapi, kamu yakin mau begitu."
"Iya lah mas. Kalau aku pengen bantuin mas di kantor boleh ya."
"Ya boleh."
"Iya udah. Sekarang udah malem. Lebih baik kita tidur. Aku cape."
"Iya ayo."
Keesokan harinya, Hanan bangun lebih pagi dari biasanya. Zahra heran dengan Hanan yang sedang di kamar mandi sambil muntah-muntah.
__ADS_1
"Mas, mas nggak papa? Mas sakit?"
"Nggak tau. Biasanya kalau mas kaya gini mas lambungnya naik. Padahal udah lama nggak, tapi kayaknya kambuh lagi."
"Mas mending mas jangan ke kantor dulu deh hari ini. Mas istirahat saja di sini. Aku telepon dokter dulu ya."
Hanan mengangguk dan kemudian Zahra segera menelepon Linda untuk membantunya, karena kebetulan rumah Linda dan hotel milik Hanan agak dekat dari rumah sakit yang biasa Hanan pakai.
"Cepet ke sini ya Lin. Bawa rekan kamu juga yang laki."
"Oke Ra, aku paham kok. Ya udah tunggu sana 10 menit."
"Iya."
Setelah menelepon Linda, Zahra memilih untuk membuatkan bubur sambil menunggu Linda datang.
"Mas makan bubur dulu."
"Nggak, mas nggak ingin."
"Nggak ingin pun kalau mau sembuh makan. Ayo dimakan buburnya."
Tak lama telepon yang ada di ruangan Zahra berbunyi. Zahra segera beranjak dari ranjangnya dan mengangkat gagang telepon tersebut.
"Maaf bu, ini ada dokter Linda yang mau menemui ibu. Apakah benar."
"Iya benar. Suruh dia ke atas segera."
"Baik bu."
Zahra menutup teleponnya dan hanya waktu 3 menit. Zahra menuju ke pintu saat bel berbunyi dan setelahnya menyuruh Linda dan temannya masuk.
"Mari masuk."
"Dimana suami kamu?" tanya Linda.
"Oh.. Perkenalkan saya Alex. Saya yang akan memeriksanya."
"Silahkan masuk saja ke kamar."
Alex pun masuk dan segera memeriksa Hanan.
"Bagaimana Lex?" tanya Linda.
"Pak Hanan asam lambungnya naik, mungkin karena akhir-akhir ini dia lalai dalam menjaga makannya. Saya akan memberikan resep obat. Jika semakin parah bisa temui saya lagi."
Hanan mengangguk. Dan kemudian Linda memegang tangan Zahra.
"Ra, aku sama Alex pamit dulu ya. Soalnya masih ada urusan." ucapnya sambil mengedipkan satu matanya.
"Iya, kalian hati-hati."
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam."
Setelah mereka berdua pergi, Zahra memaksa Hanan untuk makan dan minum obat.
"Makan ayo mas."
Hanan yang melihat bubur itu mendekat ke mulutnya langsung tak tahan dan segera meninggalkan Zahra. Zahra pun juga ikut ke kamar mandi untuk memijat tengkuknya.
"Aku nggak tega liat mas sakit terus kaya gini. Makan ya mas, habis itu diminum obatnya."
Hanan terpaksa mengangguk dan kemudian kembali ke ranjangnya. Zahra dengan senang hati menyuapi Hanan dan makan untuk dirinya sendiri pula. Mereka makan hingga habis dan kemudian menyuruh Hanan untuk meminum obatnya.
__ADS_1
"Dah ya mas. Zahra tinggal dulu mau cuci piring. Mas istirahat."
Hanya anggukan sebagai jawabannya. Dan Zahra segera bergegas menuju ke dapur untuk menuntaskan tugas selanjutnya.
*****
Tiba waktunya hari ulang tahun Hanan. Hanan masih sering mual dan muntah. Dia belum pulih sepenuhnya. Zahra sebenarnya ingin menunda acaranya, namun semua telah di persiapkan dengan matang. Oleh keluarga nya dan dibantu oleh teman-temannya.
"Mas Hanan, nggak papa pulang sekarang?"
"Iya nggak papa. Habis nganterin kamu, mas ke kantor ya."
"Mas libur aja dulu beberapa hari. Tunggu pulih dulu."
"Mas nggak akan telat makan lagi kok. Lagipula udah ada obat dari sahabat kamu."
"Terserah mas deh. Aku ganti baju dulu ya."
"Iya."
Begitu Zahra keluar, Hanan tercengang dengan pakaian yang Zahra kenakan. Gaun kebaya brukat berwarna kuning langsat dengan setelan rok batik berwarna hitam menambah keanggunannya.
"Mau kemana?"
"Aku mau kondangan mas. Nanti ada yang jemput di rumah."
"Cewe atau cowo."
"Cowo mas. Boleh kan?"
"Nggak cuma berdua kan?"
"Nggak kok. Banyak orang juga."
"Ya udah. Tapi jangan macam-macam."
"Iya mas."
"Gimana mau macam-macam mas, mas. Orang mau kondangan di rumah sendiri. Xixixixi." batin.
Satu jam mereka sampai dan langsung di sambut beberapa petasan yang menghujani mobil mereka saat mereka sampai. Mulai dari gang hingga depan rumah mereka berdua. Setelah persis sampai di gerbang mereka pun turun dan para tamu mulai dari karyawan Hanan dan papanya mulai menyambut mereka. Hanan dan Zahra turun secara bergandengan, dan Hanan memandang Zahra penuh dengan rasa senang.
"Katanya nggak nyiapin apa-apa?"
"Memang nggak mas. Aku cuma ngerencanain dan membuat mas pergi dari rumah."
"Kamu ini."
Tiba-tiba, lampu sorot mengarah ke arah Hanan dan Zahra. Zahra pun sedikit menjauh dan menerima mikrofon yang diberikan oleh Gavin.
"Bismillahirrohmanirahim. Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh."
"Selamat pagi semua, sebelumnya saya mau mengucapkan terimakasih kepada Allah swt yang telah memberikan kita nikmat dan umur panjang sehingga kita bisa dipertemukan di acara ini. Terimakasih untuk mama, papa, bang Hendra dan teman-teman semuanya yang telah membantu menyiapkan acara ini, sehingga persiapannya matang dengan sebaik mungkin. Saya juga selaku istri dari Hanan Dwi Hartato Hartato mengucapkan terimakasih banyak atas kedatangan kalian semua di acara ini. Mungkin dari mas Hanan mau menyampaikan sesuatu."
"Sebelumnya, Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh."
"Terimakasih atas kedatangan saudara semua. Terimakasih juga yang sudah menunggu kami berdua datang. Terimakasih untuk istri tercinta yang telah menyiapkan acara spesial ini. Mama, papa dan bang Hendra yang sudah membantunya menyiapkan acara ini. Bukan hanya mereka, terimakasih juga untuk teman-teman Zahra yang sudah turut serta membantunya, semoga kalian mendapatkan rezeki yang melimpah. Aminnn.. Mungkin itu saja yang dapat kami sampaikan. Untuk acara selanjutnya saya alihkan kepada pihak penyelenggara."
Hendra yang melihatnya langsung merebut microfon Hanan dan menyampaikan rangkaian acara ulang tahun yang di gelar hingga malam hari.
Dari acara meniup lilin, memotong kue dan bahkan mereka juga menyiapkan beberapa lomba yang diadakan untuk menambah kemeriahan acara tersebut.
__ADS_1
Hanan dan Zahra juga ikut beberapa lomba ringan mengingat kondisi tubuh Hanan yang masih belum sepenuhnya fit. Dan ini pun karena permintaan Hanan yang terlalu antusias sehingga melupakan kondisi dirinya. Zahra hanya pasrah dan mengikutinya saja.
//**//