
"Sekarang kita mau ngapain di sini"
"Aku mau nenangin pikiran dulu"
"Maafkan mas"
Zahra menghela nafas panjang lalu menatap Hanan yang berada di samping nya.
"Mas sebaiknya kita duduk dulu"
Hanan mengangguk dan Zahra juga duduk di samping Hanan. Zahra menyenderkan kepalanya di bahu Hanan.
"Aku udah maafin mas, tapi jangan ulangi lagi, mas pasti tau sebenarnya aku masih kesel sama mas, tapi mau bagaimana lagi, semua ini sudah terjadi. Untuk apa kita marah dengan orang yang kita sayangi. Benar kan mas.. Lagian juga nggak baik apalagi untuk kita yang sudah berumah tangga"
"Murid ku sudah dewasa dan mengerti arti soal pernikahan ternyata"
"Di sini aku bukan murid mas. Terkadang gini, aku tuh merasa hidup aku ada di dua dunia, sebagai remaja siswi di sekolah dan seorang istri di rumah. Kadang juga aku terus mikirin, kok bisa ya aku jadi murid sekaligus jadi istri gurunya, kan langka banget"
"Syukurilah semua, jodoh Allah yang ngatur, kita tinggal jalanin apa yang Allah kehendaki"
"Mas, lulus sekolah aku boleh kuliah kan"
"Tentu saja boleh, mas akan usahakan semuanya"
"Tapi kan sekarang mas"
"Kamu nggak usah khawatir dengan keadaan sekarang, insyaallah secepatnya perusahaan akan kembali"
"Amiiinnn. Terus mas, setelah kuliah aku boleh kerja kan"
"Kamu pernah bilang, dulu kamu bercita-cita menjadi sekretaris kan. Mas paham sama kamu, jadi gapailah mimpi itu"
"Oke baiklah, tapi mas yang cari tempat kerjanya"
"Sudah ada kok"
"Hah.. Dimana"
"Di hati mas"
"Aku lagi serius loh mas, malah di bercanda in"
"Mas juga serius"
"Logikanya gini pemikiran orang serius, emang bisa ya orang segede aku masuk ke hati mas terus kerja di sana, caranya gimana gitu loh mas"
"Kamu tinggal senyum aja ibaratnya udah masuk ke hati mas"
Kali ini Zahra tak bisa menahan senyumnya, dia mendorong pelan bahu Hanan.
"Gini ya mas rasanya orang pacaran"
"Maksud kamu"
"Mas nggak berasa jadi anak ABG yang lagi pacaran gitu"
"Memang nya mas udah tua"
"Nah tuh buktinya lupa umur"
"Mas udah punya istri kok"
"Giliran aku bercanda, mas serius, giliran aku serius mas bercanda"
"Namanya juga pasangan saling melengkapi bukan"
"Hmmm.. Iya si... Mas,kok aku jadi penasaran ya sama tu kotak"
__ADS_1
Zahra menunjuk kotak yang di belakang mereka. Hanan pun mengambil kotak tersebut.
"Buka sekarang"
"Kalau di pikir-pikir jangan sekarang deh, besok aja"
"Ya udah, sekarang ayo kita masuk, hari semakin larut dan udara juga semakin dingin"
"Hmm"
//**//
Keesokan harinya, Zahra bangun lebih awal dan melaksanakan sholat subuh. Setelah subuh, dia memutuskan untuk keluar mencari udara pagi di pantai Bali tersebut.
Hanan juga sholat subuh di kamarnya, dan memutuskan untuk membuka tirai dan menuju balkon. Tak sengaja die melihat Zahra tengah berdiri di pantai dari kejauhan.
"Anak itu, keluar nggak pakai jaket lagi, lagian kan masih dingin banget, nggak takut masuk angin. Sebaiknya aku susul"
Hanan menyusul Zahra dan membawa jaket untuk Zahra. Begitu dia sampai di belakang Zahra, dia langsung memakai kan jaket untuk nya.
"Astagfirullah hal'azim, mas Hanan"
"Maaf"
"Kok mas bisa tau aku di sini"
"Liat dari balkon tadi"
"Mas bawain aku jaket, mas sendiri jaket nya mana"
"Ini kan jaket mas"
"Mas nggak kedinginan"
"Lumayan si, tapi nggak papa daripada kamu yang sakit"
"Ck.. Kebiasaan"
"Kurang lebar nih jaket nya, harusnya yang muat dua orang"
"Kamu aja yang pake"
"Aku pake, mas juga harus pake dong, kalau gitu ya udah aku buang nih jaket nya"
"Bentar mas, pikir dulu. Tapi takut kamu nya nggak mau"
"Iya gimana"
"Sini jaket nya"
Zahra memberikan jaketnya dan kemudian Hanan memasang kan nya di tubuhnya.
"Terus aku, nggak papa si biar.... "
Ucapan Zahra terhenti saat Hanan mendekap tubuhnya dari belakang. Zahra kaget sekaligus malu. Jantung mereka kini berpacu dengan cepat, namun Hanan mencoba untuk tenang. Zahra sendiri hanya terdiam dan wajah nya mulai memerah.
" Hangat bukan"
"Emm.. I-iya"
Zahra dan Hanan menikmati pemandangan laut di pagi hari bersama.
Fany dan Alvero sendiri masih terpejam di kamar mereka masing-masing. Alvero yang tidak mendapati tubuh Hanan pun bangun dari tidur nyenyak nya.
"Loh, pak Hanan udah bangun, dimana dia. Pak Hanan.. Pak"
Alvero berteriak sambil mencari nya di kamar mandi dan seluruh ruangan yang tersedia di kamarnya, namun semuanya nihil, Hanan tidak ketemu.
__ADS_1
"Di kamar Zahra kali ya"
Alvero pun keluar dan memencet bel pintu kamar Fany.
"Fany, Zahra.. Kalian udah bangun belum. Fan, Ra.. Udah bangun belum.. FAN, RA.. " panggil Alvero dengan suara yang semakin meninggi namun tak ada jawaban.
" Mereka masih molor atau gimana si, di panggil nggak nyaut-nyaut, atau Jangan-jangan gue di tinggal lagi. Nggak bisa di biarin ini"
Akhirnya Alvero membuka pintu yang tidak terkunci lalu ke kamar Zahra dan mendapati Fany masih tertidur dengan pulasnya.
"Nih anak belum bangun, tapi Zahra kemana, pasti pergi nih sama pak Hanan nggak ngajak-ngajak"
Alvero mendekati Fany dan menarik selimut nya. Fany yang kaget langsung berteriak kencang.
"Aaaaaaaaaaaaaaaa....... "
Alvero dengan cepat menutup mulut Fany.
" Gila lo ya, malah teriak, nanti di kira gue maling gimana"
Fany menarik tangan Alvero dengan kasar.
"Lo yang gila main masuk ke kamar gue segala, nanti Zahra bangun gimana"
"Lo belum sepenuhnya sadar atau gimana si, liat..Zahra aja nggak ada"
"Lahh dia kemana, Zahra... Zahra... "
" Kayaknya dia keluar bareng sama pak Hanan deh, pak Hanan juga nggak ada di kamar gue"
"Mereka cari sarapan kali"
Tak lama ada yang memencet pintu kamar Fany.
"Seperti nya mereka, coba buka"
"Ya lo yang buka lah, masa gue, ntar di kira lagi ngapain lagi"
"Nyebelin banget si, ya minggir"
Alvero menjauh dari tempat tidur. Fany terpaksa beranjak dari tempat tidur dan menuju ke pintu utama kamar.
"Permisi, ini makanan dari hotel, silakan dinikmati"
"Ini siapa yang pesen pak"
"Dari pemilik hotel ini"
"Bukan yang dari atas nama Zahra atau Hanan"
"Bukan"
"Kalau begitu tolong taruh di meja. Oiya pak, tadi orang yang di kamar 16 juga bilang sarapan nya suruh taruh di sini"
"Iya"
Setelah pelayan itu meletakkan semua makanan, dia pun permisi. Fany menutup pintu kamar nya dan terperanjat kaget saat mendapati Alvero bersembunyi di baliknya.
"Astagfirullahal'adzim, Alvero... Seneng banget bikin gue jantungan"
"Udah diam, gue cuma heran, tuh kakak adek kemana. Pesen makanan nggak, terus mereka kemana"
"Mana gue tau lah, mending lo cuci muka sekalian mandi, habis itu kita sarapan terus cari tuh dua saudara"
Alvero setuju dan langsung meninggalkan kamar Fany, setelah itu dia pun kamarnya dan mandi. Setelah mandi, dia berniat untuk membuka lemari besar, namun pandangan nya teralihkan ke sebuah kotak besar yang terpajang di meja kamarnya.
"Ini kotak apa"
__ADS_1
Alvero mengangkat kotak tersebut dan melihatnya dengan teliti. Dia tertarik dengan kertas yang tergantung di antara pita lalu membacanya.
//**//