
Zahra kembali ke kamarnya dan melihat Hanan sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dengan tangan di taruh di bawah kepalanya. Zahra pun memutuskan untuk mengganti bajunya dengan baju tidur setelah itu menyusul Hanan yang sedang terbaring.
"Mas Hanan udah tidur."
"Belum." melihat ke arah Zahra. "Ada apa?"
Tanpa perlu basa basi, Zahra pun mengutarakan isi hatinya.
"Mas, bantuin Zahra."
"Bantu kenapa? Ada masalah?"
"Alvero sama Fany mas."
"Terus mau di apain?"
"Mereka lagi berantem, Fany curiga kalau Alvero selingkuh. Soalnya dia melihat Alvero sedang menggendong Alexa saat Alexa lagi mabuk."
"Alexa? Siapa dia?"
"Katanya mantan mas."
"Oohh.. Mantan.."
"Plis ya mas, mau ya.. Tolonglah.."
"Iya, iya. Mas akan berusaha."
"Terimakasih."
Mereka berdua pun tertidur untuk mempersiapkan diri besok kembali ke Indonesia.
*****
Keesokan harinya, mereka berdua pun menuju ke bandara. Mereka terkejut saat berpapasan dengan Fany.
"Fany, kamu mau ke Indonesia?"
"Iya, udah bosen di sini."
"Kamu kan paling cinta banget sama negara ini."
"Sekarang lain cerita Ra."
"Sekalian aja masuknya bareng."
"Tapi...."
"Nggak papa Fan, lagian kamu kan sendirian." ucap Hanan.
"Terimakasih pak."
__ADS_1
Tak lama kemudian, mereka pun masuk ke pesawat setelah ada pengumuman. Zahra duduk di dekat kaca jendela dan Hanan duduk di sampingnya, sedangkan Fany duduk di belakang mereka.
Hanan dan Zahra tetap bergandengan tangan. Zahra melihat ke arah luar dan kemudian menaruh kepalanya di pundak Hanan. Hanan juga memiringkan kepalanya di atas Zahra.
Sementara itu, Fany duduk sendiri di belakang Hanan dan Zahra tepat di samping jendela. Dilihatnya bandara yang masih diam di tempat. Dia merasakan ada yang duduk di sampingnya namun dia hiraukan dan lebih memilih melihat dunia luar yang sudah di bawah kakinya.
"Fany.."
Fany yang tadinya fokus ke arah luar langsung melihat ke arah sampingnya dan ternyata yang duduk di sampingnya tak lain adalah Alvero. Dia langsung membuang pandangannya lagi.
Alvero memberanikan dirinya untuk menggandeng tangan Fany. Fany yang menyadarinya pun menghempaskan tangan Alvero kasar.
Sebenarnya sakit rasanya, namun sebisa mungkin dia berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya. Ingin sekali memberontak, namun dirinya tak mampu mengeluarkannya.
Dia hanya bisa menangis di dalam hatinya. Tak tau harus berbuat apa. Ingin memeluk sambil memukulnya, namun dia tahan sebisa mungkin. Matanya mulai mengeluarkan cairan bening, namun langsung ia usap.
"Menangislah jika kau ingin. Jangan pernah di tahan."
Ucapan Alvero seketika membuat tangisnya pecah, membuat suara selirih mungkin takut orang di sekelilingnya dengar. Alvero pun dengan berat hati merangkulnya dan mengusap pundaknya.
"Maafkan aku jika aku salah."
Fany semakin menangis, ingin sekali dia menjauh dari Alvero, namun hatinya menyuruhnya untuk tetap diam merasakan kenyamanan dari Alvero.
"Ragaku ingin menjauh darimu, namun hati ini memilih untuk tetap tinggal. Aku tak tau pasti apa yang terjadi, namun hati ini tak bisa di bohongi" batin.
Mungkin karena merasa lelah karena menangis, dia pun tertidur di pundak Alvero.
*****
"Zahra, Pak Hanan, saya duluan ya."
"Bareng sama kami aja."
"Terimakasih pak, saya sudah lelah dan ingin sampai di rumah. Saya sudah memesan taksi, jadi saya permisi."
Hanan dan Zahra mengangguk. Sekitar 3 menit kemudian, Alvero melihat Hanan dan Zahra sedang berdiri tak jauh darinya.
"Pak Hanan, Zahra."
Mereka berdua langsung melihat ke arahnya.
"Lah, Alvero. Barusan tadi Fany keluar."ucap Zahra terkejut.
"Kalian pulang hari ini juga?"
"Iya, malah kami satu pesawat sama dia. Dia malah duduk di belakang kami"
"Aku duduk sama dia, tapi dia keluar duluan. Ya udah kalau begitu aku duluan."
"Iya hati-hati."
__ADS_1
Begitu Alvero keluar, tak lama supir Hanan dan Zahra datang. Supirnya pun keluar dan memasukan koper Hanan dan Zahra.
"Maaf tuan, saya sedikit terlambat, tadi di jalan sedikit macet."
"Tidak apa pak."
Hanan dan Zahra pun memasuki mobil dan mulai meninggalkan area bandara. Begitu sampai di rumahnya, mereka langsung memisahkan pakaian kotor dan bersihnya, baru mereka berbersih diri dan makan siang.
"Mas, nggak kerasa udah mau wisuda bentar lagi."
"Berapa bulan lagi?"
"Sekitar 5 bulan."
"Loh.. Padahal baru kemarin kamu masuk udah mau Wisuda aja."
"Cuma 2 tahun lebih 8 bulan, wah.. Istri mas hebat."
"Siapa dulu yang ngajarin."
"Oiya, mas mau ke Bandung besok selama beberapa hari, kamu nggak papa kan di rumah sendirian?"
"Nggak papa mas, masih ada bi Fitri dan bi Narti."
Hanan hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah mereka makan siang, merekapun duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi dan menyiapkan beberapa hidangan.
Mereka menonton film Komedi dan hingga tawa mereka bergema di seluruh ruangan. Hanan merasa lelah dan membaringkan tubuhnya berbantalkan pangkuan Zahra. Tanpa Zahra sadari Hanan sudah tidur di pangkuannya. Zahra melihat ke bawah lalu mengelus kepalanya dengan lembut.
"Mas kalau mau tidur di kamar, jangan di sini. Aku nggak bisa gendong mas."
Hanan hanya menggeliat dan tidur nyenyak kembali. Zahra hanya menghela nafas pasrah dan memilih untuk mengganti film lainnya.
Hingga dua jam kemudian, Hanan baru bangun dari tidur nyenyaknya. Dia duduk di samping Zahra sambil mengucek matanya.
"Sudah nggak ngantuk mas? Kalau ngantuk tidur lagi di kamar sana."
"Emm.. Maaf ya, pegel nggak.."
"Ya nggak lah mas. Biar seger sana cuci muka."
Hanan mengangguk dan berlalu meninggalkan Zahra menuju ke kamar mandi. Setelah Zahra tidak melihat Hanan, dia pun berdiri sambil meregangkan ototnya yang selama dua jam duduk.
Dia memilih untuk mematikan televisinya dan naik ke kamarnya. Hanan yang sehabis keluar dari kamar mandi di bawah pun memilih ke kamarnya karena tidak mendapati Zahra di ruang keluarga.
Begitu dia masuk, dia melihat Zahra sedang tertidur pulas. Dia pun melihat ke arah jam yang terpajang di dinding yang menunjukkan waktu pukul 2 siang. Dia pun mengusap rambut Zahra dan tak ketinggalan mencium keningnya.
Setelahnya, Hanan lebih memilih waktunya untuk mempersiapkan perlengkapan secukupnya untuk besok dan mengecek perkembangan kantornya yang ia tinggalkan selama beberapa hari melalui laptopnya.
Di tengah kesibukannya memainkan laptop, dia juga berfikir tentang bagaimana cara untuk membantu Alvero dan Fany. Sebenarnya, Hanan enggan untuk mencampuri urusan orang lain, apalagi tentang sebuah hubungan, namun keinginan Zahra membuatnya harus berbuat sesuatu agar Zahra merasa tenang dan tidak terlalu khawatir, karena kegigihannya yang ingin menjadi makcomblang antara Alvero dan Fany.
//**//
__ADS_1