Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Pencarian


__ADS_3

Waktu sudah semakin sore, Zahra masih di sekap dengan penjagaan yang ketat. Sesekali juga perut Zahra berbunyi karena merasa kelaparan.


Sementara itu mama Kirana sedang merasa cemas karena putrinya yang tidak kunjung pulang padahal hari sudah sore. Khawatir dan cemas menyelimuti dirinya saat ini.


Mama Kirana akhirnya memutuskan untuk menelepon guru agama Zahra, karena pikir mama Kirana hanya pak Hanan lah yang tau keberadaan Zahra.


"Halo pak, Assalamualaikum" ucap mama Kirana dengan cemas.


"Wa'alaikumsalam, maaf dengan siapa ya"


"Aahh.. Ini pak saya ibunya Zahra"


"Iya bu, ada apa ya"


"Begini pak, Zahra belum pulang, apa bapak tau dimana Zahra berada"


"Belum pulang bu, saya juga tidak tau itu bu. Soalnya saya juga tidak mengajar di kelas Zahra hari ini, saya mengajar di kelas Zahra hanya hari Rabu dan Sabtu"


"Ohh.. Begitu ya pak. Pak saya minta tolong bantu cari Zahra ya pak"


"Insyaallah bu, saya akan bantu cari. Ibu jangan khawatir ya bu"


"Tolong jemput saya ya pak, saya ikut bapak"


"Tapi akan bahaya jika ibu ikut, biar saya aja bu"


"Seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya terluka sedikit pun, saya mohon pak"


"Iya iya bu, saya segera ke sana"


Mama Kirana akhirnya bersiap dan segera mengganti bajunya. Pak Hanan memutuskan untuk menelepon Gavin untuk membantunya mencari Zahra.


"Assalamualaikum Vin, tolong bantu saya cari murid saya Zahra sekarang ya. Cari bantuan orang lain juga. Atau bantu dengan anak buah kamu"


"Sekarang kamu dimana"


"Saya sedang perjalanan ke rumah Zahra sekarang, cepatlah jangan lama-lama"


"Iya Nan, siap"


Pak Hanan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah mama Kirana. Gavin dan para rekannya mencari tau keberadaan Zahra.


Pak Hanan dan mama Kirana mencari di sekitar desanya sambil menunjukkan foto Zahra. Perasaan khawatir yang masih berkalang kabut membuat mereka tidak tenang.


"Oiya pak, bapak tau rumah nak Leon"


"Leon, memang kenapa bu"


"Tadi pagi Zahra di jemput sama dia di rumah"

__ADS_1


"Rumah Leon, saya tau bu."


"Ya sudah kita sekarang ke sana ya nak"


"Iya bu, ibu pegangan ya, saya mau ngebut"


Bu Kirana mengangguk lalu memperhatikan jalan dengan penuh seksama. Sekitar 20 menit akhirnya mereka sampai di rumah Leon.


"Assalamualaikum" teriak mama Kirana.


"Wa'alaikumsalam " ucap pembantu di rumah Leon dan membukakkan pintunya.


"Eh bu, Mari bu masuk dulu"


Bu Kirana mencoba untuk tenang dan masuk dengan pak Hanan. Terlihat Leon keluar dari kamarnya bersama dengan temannya. Mereka langsung menemui pak Hanan dan menyalami nya.


"Pak Hanan, bu" ucap Leon.


"Dimana kamu sembunyikan anak saya" ucap mama Kirana tanpa basa basi.


"Maaf bu, maksud ibu apa ya" tanya Leon bingung.


"Anak saya Zahra kamu sembunyikan dimana"


"Zahra, anak itu. Maaf bu, saya tidak tau"


"Kamu yang menjemput dia tadi pagi bukan"


"Permisi bu, ada apa ya" ucap bu Lili ibu dari Leon.


"Tadi pagi anak ibu menjemput anak saya dan hari ini dia belum pulang. Ibu tau dia dimana"


"Maaf bu, tetapi hari ini Leon tidak berangkat di karenakan sakit sudah dari 3 hari yang lalu Leon tidak berangkat" ucap bu Lili.


"Ada apa ini ribut-ribut" ucap papa Danu, ayah dari Leon.


"Maaf pak saya membuat keributan di sini, anak saya hilang dan sekarang dia belum pulang. Kalau semisal dia ke rumah temannya dia akan pulang terlebih dahulu dan tidak pernah telat seperti ini"


"Bagaimana bisa" tanya papa Danu yang semakin bingung.


"Anak saya tadi pagi di jemput ke sekolah bersama dengan anak bapak."


"Oiya bu, maaf menyela lagi, tadi pagi saya tidak melihat Zahra di sekolah" ucap Andre sambil mengingat ingat.


"APAAA" teriak mama Kirana.


Mama Kirana akhirnya lemah tak berdaya dan duduk lemas di lantai, mama Sari mencoba menenangkan mama Kirana.


"Seperti nya, Zeon yang melakukan semua ini" ucap pak Danu

__ADS_1


"Zeon?? " ucap semua dengan bingung.


" Siapa Zeon pah" tanya Leon.


"Dia adalah kembaran kamu." ucap pak Danu.


"A-apa?! Kembaran!? Maksudnya apa mah pah, tolong jelasin semua ini"


"Sebenarnya waktu Zeon kecil dia sering sakit-sakitan dan sering nular ke kamu. Hingga akhirnya mama dan papa memutuskan untuk menaruhnya di pinggir jalan pada saat dia berumur 5 tahun. Waktu itu juga papa sama mama mencarinya namun dia tidak ketemu, dia sudah menghilang. Hingga sekarang pun itu masih belum ketemu"


"Kenapa? Kenapa mama sama papa tega ngelakuin hal ini? Ini lah hukuman buat kalian karena tidak mau merawat anak, akhirnya Aku juga yang kena kan sekarang, aku benci dengan kalian, lebih baik Leon mati daripada harus sembuh di tangan orang yang telah membuang anaknya sendiri. Aku jijik" ucap Leon dan langsung menuju ke kamarnya.


"Leon tunggu" ucap Andre yang langsung mengikuti nya.


"Astagfirullah" ucap pak Danu.


Mama Sari hanya menangis dan merasa sangat bersalah dengan tindakan nya itu. Mama Kirana pun menatap nya dengan tatapan tidak suka.


"Inilah balasan anda semua yang sudah mencampakan anugerah Allah yang sangat berharga. Maaf jika omongan saya lancang" ucap pak Hanan.


"Tidak pak, itu memang benar kami salah dan ini balasan nya.. Sebagai gantinya saya akan membantu mencari anak ibu" ucap pak Danu.


"Maafkan saya bu, karena ulah saya, anak ibu yang menjadi korban" ucap bu Lili.


"Jika putri saya lecet walau hanya 1 cm saja, saya akan laporkan kalian ke polisi atas tuduhan membuang anaknya"


"Iya bu, saya akan tanggung akibatnya"


Pak Hanan dan Pak Danu juga ikut mencari Zahra. Bu Lili dan Mama Kirana memutuskan untuk ikut karena suasana hati mama Kirana yang terlalu berkalang kabut memikirkan putrinya tersebut.


****


Hari semakin gelap, pencarian terus dilakukan. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke kantor polisi karena paksaan dari mama Kirana.


"Maaf bu, bukannya kami menolak, namun pencarian bisa dilakukan oleh polisi setelah 24 jam dari jam hilang bu" ucap pak polisi.


"Apa pak 24 jam. Bapak harus berfikir bagaimana keadaan saya yang sudah khawatir. Jika anda di posisi saya, apa yang anda akan lakukan. Apa bapak tega melihat seorang ibu yang terus menangis memikirkan anaknya yang hilang. Jika bapak tidak mau membantu saya, siap siap saja balasan dari Allah ta'ala" ucap mama Kirana dengan geram.


"Ba-baik bu, kami akan bantu. Kalian cepat kirim pasukan" ucap polisi yang sudah merasa dirinya akan di kutuk.


"Sabar bu sabar. Lebih baik ibu berdoa supaya Zahra bisa segera di temukan" ucap pak Hanan.


"Iya bu, biar polisi yang mencarinya sekarang"


"Tidak, anak saya sedang sendiri an di suatu tempat, bagaimana saya bisa tenang. Dia putri saya satu satunya"


"Iya bu, sabar sabar. Mari bu kita ikut" ucap bu Lili.


Dengan cepat mereka bergerak mencari Zahra bersama dengan polisi. Mereka terus menerus mencari kebeberapa tempat selama ber jam-jam penuh.

__ADS_1


//**//


__ADS_2