Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Khawatir


__ADS_3

Kekhawatiran Zahra begitu mendalam, hingga ia merasa tidak lapar dan melewatkan waktu makan siang. Kini ia tengah duduk di ruang keluarga sambil menunggu Hanan pulang hingga makan malam tiba.


Orang yang dia khawatirkan pun pulang, dan tanpa menjawab salam dari Hanan, dia pun berlari dan langsung memeluknya. Isak tangis langsung membanjiri pipinya. Hanan yang bingung juga langsung membalas pelukannya erat.


"Loh.. Loh.. Kamu kenapa... Ada apa kenapa menangis" ucap nya yang akan melepaskan pelukan Zahra.


Zahra hanya menggeleng di pelukan Hanan. Zahra memeluk nya begitu erat seakan tidak mau berpisah dari Hanan. Hanan yang bingung dengan sikap Zahra mengelus punggung dan kepala Zahra.


"Sstttt.. Sudah, apa mereka mengolokmu lagi, kamu kenapa bisa cerita ke mas, kamu kenapa jangan buat mas khawatir. Duduk yuk duduk, mas baru pulang kerja loh, kamu udah kangen sama mas"


Zahra langsung melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya. Hanan juga membantunya mengusap air matanya dan menatap Zahra lekat.


"Yuk duduk"


Hanan memegang kedua bahu Zahra dan duduk di ruang keluarga yang tak jauh dari sana.


"Mas ambilkan minum sebentar"


Hanan hendak beranjak, namun tangan Zahra memegang tangannya untuk tetap duduk di sampingnya.


"Bi Sari, tolong ambilkan air putih hangat" teriak Hanan.


Bi Sari yang tengah membuat makan malam langsung mengambil kan air putih hangat dan pergi ke ruang keluarga untuk memberikan segelas air putih kepada Hanan.


"Ini tuan, nona kenapa"


"Nggak papa bi, siapkan makan malam saja bi" jawab Hanan.


"Iya tuan"


Hanan memberikan minum kepada Zahra, dan dengan tenang Zahra meminum hingga setengah gelas. Hanan menatap nya lekat dan memegang kedua pipi Zahra.


"Kenapa hmm.. Ada apa"


Lagi-lagi Zahra menangis dan memeluk nya erat. Hanan hanya di buat bingung dan terheran heran dengan sikap Zahra saat ini. Banyak pertanyaan demi pertanyaan yang membuat nya harus berpikir negatif.


"Zahra, siapa yang melukai kamu hingga kamu menangis, dan apa alasannya kamu menangis, kamu bisa cerita sedikit ke mas, ada apa sebenarnya. Jangan buat mas bingung dan khawatir gini"


Zahra mengusap pipinya dan matanya lalu menundukkan kepalanya.


"Yang buat Zahra begini itu mas"


"Kok mas"


"Mas kenapa tadi siang nyuekin Zahra, terus nggak bilang kalau mas pulang duluan dan nggak ngabarin Zahra dan Zahra berfikir kalau.."


"Kalau?"


"Kalau mas kecewa sama Zahra karena nggak bisa menang badminton"


"Hahahaha.. Jadi itu toh masalahnya... Nggak usah nangis gitu. Mas nggak kecewa kok, mas bangga karena kamu udah berusaha sebaik mungkin. Masa mas kecewa, tentu saja nggak.. Bangga banget malah... Walaupun kamu ikut kejuaraan antara daerah atau provinsi kamu nggak menang pun mas nggak masalah, karena apa.. Kamu udah berusaha sebaik mungkin... Allah belum memberikan kamu kesempatan tahun ini, masih ada 2 tahun lagi kan, kamu pasti bisa kalau tetap berusaha. Dan mas minta maaf untuk masalah tadi siang, mas ada rapat sama guru terus papa telfon suruh mas segera ke kantor dan ada meeting mendadak jadi mas ngga bisa ngabarin kamu kerena terburu-buru, mas juga lupa ngga bilang sama pak Johan kalau mas ke kantor, mas minta maaf ya.. "


Zahra mengangguk.

__ADS_1


" Udah jangan cengeng murid kesayangan ku"


Hanan menarik hidung Zahra yang sudah memerah karena menangis, karena Zahra tampak lebih menggemaskan bagi Hanan, hingga dorongan untuk mencubit hidung Zahra datang dalam dirinya.


"Ih mass... Tambah merah nanti"


"Ya udah jangan nangis lagi, mas mau mandi sekarang. Kamu tunggu mas di meja makan ya. Udah makan siang kan?"


Zahra menggeleng lagi.


"Mas sangat sangat minta maaf sama kamu, karena mas membuat kamu khawatir hingga melewatkan makan siang. Mas minta maaf ya.."


"Nggak papa mas, mas mandi saja sana. Kalau mau isya jangan lupa ajak aku ya mas"


"Tentu saja, ya udah mas ke atas ya, awas jangan nangis lagi, nanti di tinggal malah nangis lagi"


"Nggak mas, udah jangan ngledek lagi, keburu laper akunya"


"Iya iya"


Setelah makan malam, mereka berdua pun kembali sholat di kamar Hanan dan membaca al-qur'an sejenak, setelah itu Zahra pun melipat mukenanya.


"Mas, Zahra tidur di sini ya.. "


" Hmm.. Tumben, kamu kenapa, takut tidur sendiri"


"Kalau nggak boleh, ya nggak papa kok"


"Tentu saja boleh, asalkan kamu nyaman aja"


"Kalau itu yang kamu inginkan, nggak papa, mas nggak bisa terlalu mengekang kamu"


"Ya udah mas, aku nyimpen ini dulu sekalian gosok gigi, ntar ke sini lagi"


Hanan mengangguk dan membiarkan Zahra melakukan yang ia mau. Tak lama Zahra pun kembali dengan pakaian baju tidur dan tidak lupa membawa boneka beruang berwarna coklat nya.


Tanpa pikir panjang Zahra pun berbaring setelah melepaskan kerudung nya. Namun tangannya di cegah oleh Hanan.


"Kenapa di lepas"


Zahra melanjutkan nya dan melepaskan kerudung nya dan menampakkan rambut tergerainya.


"Kenapa mas aneh ya, bukannya mas juga udah pernah liat rambut Zahra waktu itu, pas memakaikan kalung ini. Bahkan mas sering liat di sekolah dulu. Tapi kan itu dulu, sekarang mas udah jadi suami unik Zahra, jadi apa salahnya"


"Suami unik kok bisa"


"Iya unik karena... Jarang seorang murid yang menikahi guru agamanya sendiri dan menikah nya secara mendadak gini, dan murid nya masih bisa sekolah lagu, bukankah itu unik"


"Hmm.. Benar"


"Sebenarnya banyak banget yang ingin Zahra ceritain ke mas, dan ada satu hal penting yang ingin aku ucapkan ke mas"


"Ada apa"

__ADS_1


"Mas harus berjaga dari kak Leon sekarang karena dia udah curiga dengan ku sekarang karena aku menjauhinya."


"Bukannya kamu dulu yang mengejarnya, kenapa sekarang sebaliknya"


"Iih... Mas, mas gimana si, dulu sama sekarang itu beda karena... "


"Karena yang ada di hati kamu sekarang adalah mas, benar?" lanjut Hanan melengkapi perkataan Zahra.


"Hhmm" ucap nya sambil mengangguk.


"Kamu jangan khawatir, Leon tidak akan bisa mengetahuinya. Ingat... Kamu jangan pernah khawatir dan panik oke.. Sekarang kamu tidur"


"Hanya aku, mas juga tidur dong"


"Iya mas tidur, mas matiin lampu dulu"


Setelah mematikan lampu Hanan pun berbaring membelakangi Zahra.


"Mas Hanan"


"Hhmm..ada apa"


"Nggak baik ngomong kalau nggak sambil liat orang nya"


Hanan membalikkan tubuhnya dan tatapan mereka pun bertemu. Tak ada pembatas di antara mereka, hanya boneka kecil yang di peluk oleh Zahra. Seperti ada yang mendorongnya untuk menatap nya lekat, sangat lekat.. 1 menit... 2 menit .. Mungkin cukup lama mata mereka saling memandang.


"Entah kenapa dengan mata ini. Kenapa aku tidak bisa menghindari matanya, bahkan untuk melirik saja mataku tidak bisa" gumam Hanan.


"Jantung ini berdebar begitu cepat, mata ini, kenapa aku tidak bisa berpaling." Gumam Zahra.


Tiba-tiba Hanan mengusap rambutnya dengan lembut dan tersenyum manis ke arahnya.


"Ada apa, tadi manggil. Kalau nggak ada ya udah tidur aja. Besok pembagian hadiah kan


"Tapi aku nggak juara"


"Kamu juara ke dua Zahra"


"Maaf ya mas, cuma juara dua"


"Nggak papa, yang penting kamu juara pertama yang bisa menaklukkan hati mas"


"Bucin lagi, udah lah mas aku ngantuk, selamat malam"


"Malam juga"


Zahra dan Hanan pun memejamkan matanya dan terlelap di mimpi yang indah.


//**//


Terimakasih ya para readers Murid Kesayangan Guru Agama, mungkin malam ini Author nggak bisa up karena besok Author mau tes. Sekalian Author juga mau minta doanya agar Author naik kelas...


Author sangat sangat berterima kasih karena kalian yang udah memberi suport dan semangat hingga membuat Author semangat up nya... Dan sekali lagi Author mohon doanya ya,terimakasih banyak... 🙏🙏

__ADS_1


Sekian dari Author..


Dewi M


__ADS_2