Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Di bawah langit jingga


__ADS_3

Di sore harinya, mereka pun berkemas. Dan sisa waktu mereka, mereka gunakan untuk kembali menikmati sunset.


"Pak Hanan, Zahra, kami bermain di sana ya..."


"Iya Al"


"Kalian hati-hati"


"Siap pak" ucap Alvero dan Fany kompak.


Hanan dan Zahra menatap kepergian Alvero dan Fany.


"Langit nya lagi cantik banget.. "


" Iya kamu"


"Isshh.. Mas, sepertinya mereka saling menyukai, benar tidak"


"Sepertinya begitu"


"Jangan-jangan mereka pacaran diam-diam lagi mas kaya metode kita"


"Jangan berprasangka buruk dulu. Apapun hubungan mereka, kita doakan semoga mereka bahagia sesuai dengan takdir Allah"


"Amiiinnn"


"Kita doain aja yang terbaik buat mereka, yang terpenting mereka sama-sama bahagia"


"Amiiinnn..."


Tiba-tiba Hanan meletakkan tangan Zahra yang sedari tadi ia pegang di lengannya.


"Kenapa mas"


"Nggak papa, syukurlah jika cincin ini sudah pas di jari kamu"


"Aku kayaknya tambah gemuk loh mas."


"Ya Alhamdulillah kalau gemuk, tandanya kamu makmur hidup sama mas"


"Nggak mau lah, intinya diet"


"Nggak boleh diet ntar sakit"


"Cuma olahraga masa nggak boleh kan yang penting nggak sampe diet makanan. Mana bisa aku diet makanan"


"Ya sama aja nambah gemuk. Cukup makan makanan yang seimbang"


"Insyaallah"


"Nah yang nurut dong"


"Hanan.. Zahra"


Dari kejauhan, Thomi memanggil mereka berdua.


"Maaf mengganggu waktu liburan kalian. Kata pegawai ku kalian akan pulang besok siang, apa benar"


"Benar"


"Kira-kira pukul berapa"


"8 mungkin"


Hanan menjawab sambil menatap Zahra. Sedangkan Zahra, memilih untuk diam sambil menatap pemandangan.


"Ya elah di pandang mulu, Zahra nggak kemana mana kok"


"Soalnya kemaren pernah tersesat di ragunan"


"Yang benar saja. Oiya... aku juga akan ikut sekalian menjenguk mak dan abah, sekaligus membawa mereka pulang bersama ku"

__ADS_1


"Kalau itu maumu, tidak apa, benar kan sayang.." ucap nya sambil merangkul pundak nya.


"Isshh... Di bilangin juga... "


Zahra menyingkirkan tangan Hanan.


" Iya maaf.."


"Tapi maaf Ra, mak sama abah mau abang bawa pulang"


"Ya nggak papa"


"Terus tadi kenapa"


"Nggak papa kok. Bang Thomi emang nya mau nikah di mana"


"Rencananya mau di Jakarta, kan keluarga besar abang rata-rata di sana"


"Oohh... Semoga kalian langgeng ya, kapan mau di kenalin ke kita"


"Sabar Nan, nanti juga dia ke sini, tuh dia"


"Hai..."


Seseorang melambaikan tangannya kepada mereka bertiga. Tak begitu jelas namun nyata. Rambut nya tergerai hingga lengan namun masih menggunakan pakaian tertutup


"Temen mas Thomi kah"


"Iya, ini Hanan dan ini istrinya Zahra"


"Maria"


Maria memberikan tangannya kepada Zahra dan Zahra pun menerimanya. Maria memberikan tangannya namun dia membalasnya dengan menyatukan kedua tangannya sambil mengangguk.


"Oohh iya, maaf. Kalian pengantin baru ya, keliatan banget mukanya"


"Iya mbak"


"Boleh"


Maria mengeluarkan handphone nya, dan mereka berselfie ria bersama.


"Zahra, suasananya lagi bagus, bagaimana kalau kita foto juga"


"Terserah mas"


"Sini biar aku fotoin. Kalian gaya ya... Satu... Dua... Dan Cekrik"


Beberapa foto mereka ambil secara bergantian dengan berbagai gaya dan sangat romantis. Alvero dan Fany yang melihat mereka dari kejauhan pun merasa iri dengan mereka bertempat.


"Jadi pengen..."


" Sama gue yuk"


"Lahh ogah, gue pengennya sama tuh oppa oppa korea"


"Udah tua juga tetep di sukain"


"Mereka nggak tua, seumuran sama pak Hanan"


"Pak Hanan mah beda, udah yuk kaga usah jauh jauh, gue juga ganteng"


"Huueekk... Enek gue"


"Lo berani ngeremehin gue, awas aja kalau gue udah glow up melebihi oppa korea mu jangan coba ngejar gue"


"Ya kali gue ngejar lo, mimpi apa coba"


"Susah ya merjuangin lo, keliatannya sia-sia dari apa yang gue liat"


"Maksud lo, lo suka sama gue. Kok ngomongnya gitu"

__ADS_1


"Apa lagi"


"Yang jelas napa kalo ngomong, jangan bikin gue deg degan gini"


"Lo deg degan di deket gue, tandanya lo cinta sama gue"


"Ya belum tentu kali, gue aja berdiri di depan semua siswa waktu di suruh maju aja deg degan, cinta namanya"


"Karena ada gue yang liatin lo tiap hari, jadi lo dag dig dugan di deket gue"


"Ya nggak tiap hari juga"


"Terus jika gue nyatain perasaan gue di bawah langit Jingga ini boleh nggak"


Seketika Fany terpaku, tak bisa berkata, tak bisa berkutik dan tak bisa berfikir dengan jelas rasanya seperti jantung yang hanya hidup sendirian di dalam tubuh Fany. Semuanya kalang kabut.


"Ya Allah, gue harus jawab apa di bilang kaya gini, bagaimana ini.. "


Tiba-tiba Alvero berjongkok di depan Fany.


" Ih.. Liat tuh mas. Itu Alvero kan, kenapa jongkok di depan Fany"


"Itu temen-temen kalian"


"Iya mbak"


"Oohh" jawabnya singkat.


"Kayaknya mau ada pasangan baru ini"


"Tapi mereka kelihatan masih seperantaran anak SMA" pikir Maria.


"Iya begitulah, namanya juga anak muda. Kalau udah kepentok cinta ya buat apa nolak"


"Itu si terserah mereka"


"Namanya siapa Ra" lanjut Maria.


"Fany sama Alvero"


Di sisi lain, Fany hanya terdiam, tak menyadari bahwa sahabat nya dan temannya kini sedang melihat tingkah laku mereka.


" Haduh ngapain ni anak, kaya film drakor aja si pake jongkok jongkok segala. Kan baper akunya... Duh jantung kenapa lo ngga bisa tenang... Gue ikutan panik ini"


"Tangan yang begitu dingin.. Suasana hati yang kalang kabut dari dalam tubuhku.. Mungkin juga jantung mu... Di bawah sinar matahari ini, di saksikan oleh lautan yang luas tanpa ujung... Di bawah langit Jingga ini... Akan ku nyatakan sesuatu padamu... Tak tau rasa ini datang kapan... Tak tau hati ini bisa ku lempar kepadamu, tapi yang pasti saat ini adalah... Aku mencintaimu..."


"Fannyyyy.... Terima yuk.. Kita triple date... Hahahaha"


Teriak Maria meledek yang membuat jantung Fany tak karuan. Sungguh bingung bagi Fany saat ini. Tak karuan... Itulah yang ia rasakan. Di satu sisi ada rasa bahagia, namun di sisi lain rasa dilema juga muncul.


"Bagaimana ini.. "


"Bagaimana Fan, lo mau kan?"


"Aduh gimana ya Al..."


"Tangan lo dingin banget"


"Lo berdiri dulu"


"Hah"


"Iya lo berdiri dulu, lo kaga cape terus jongkok kaya gitu"


"Rasa lelahku tak akan terasa sampai kau menerima ku. Gue tau gue anak yang bandel, kadang kaga nurut. Gue juga nggak pinter kaya lo, gue juga nggak ganteng seperti oppa oppa lo yang ada di sana. Gue emang banyak kekurangan, jadi gue paham atas jawabannya lo. Kalau gue kasih waktu pun percuma, karena orang yang mencintai nya dengan tulus, langsung memberikan jawaban tanpa banyak pertimbangan.. "


Alvero berbalik badan dan berniat meninggalkan Fany.


" Tunggu... "


//**//

__ADS_1


__ADS_2