
Keesokan paginya...
Seperti biasa, Hanan dan Zahra memulai untuk sholat subuh bersama layaknya pasangan pasutri pada umumnya. Lagi pula tidak baik sholat sendirian di kala imamnya sedang di rumah. Zahra kembali ke kamarnya dan memutuskan untuk mandi lebih awal, lebih cepat lebih baik bukan.
Waktu menunjukkan pukul setengah 7 dan Zahra pun tengah bersiap untuk turun dan sarapan. Dia duduk di meja makan dan mendapati bibi Sari sedang menyiapkan makanan. Zahra yang melihatnya pun membantunya seperti biasa. Tanpa perlu perdebatan dan karena bi Sari yang sudah mengerti sifatnya hanya membiarkan nya.
"Bi, banyak sekali. Mana bisa habis di makan berdua. Bibi juga makan ya"
"Nggak non, nggak bisa"
"Bibi mah selalu gitu."
"Non duduk dulu saja, pak Hanan segera turun sebentar lagi"
"Iya bi"
"Non mau di buatkan susu"
"Boleh bi"
"Sebentar ya non"
Zahra mengangguk dan hanya memandangi ponselnya sambil menunggu Hanan. Selalu di bukannya aplikasi berwarna hijau untuk melihat notifikasi, namun apa dayanya yang hanya memiliki 2 nomor yaitu nomor Hanan dan nomor mama Hana.
"Selamat pagi"
"Dia hhhh.. Geli gue" gerutunya dalam hati.
"Pagi, pak nggak usah nyapa gitu dah, merinding dengernya"
"Iya maaf maaf, udah nunggu lama"
"Nggak si"
"Non, ini susunya sudah matang."
"Iya bi, terimakasih banyak. Susu sapi murni ya bi"
"Iya non. Saya ke belakang dulu, permisi"
" Bibi, duduk sini, ayo makan bersama. Makanan banyak loh ini, mubazir kalau nggak habis"
"Nggak papa non, tuan sama nona makan dulu saja"
"Sini bi ikut duduk. Ajak pak Johan sekalian bi" ajak Hanan.
"Nggak tuan, nggak papa"
"Ayo bi, tuan rumahnya aja nggak ngelarang kok. Kalau bibi tetap nggak mau saya minta gaji pembantu di sini di kurangi setengah, gimana bi"
"Ja-jangan non. Ya sudah saya akan ajak pak Johan"
Zahra tersenyum senang, Hanan hanya memandangi senyum Zahra.
"Baru kali ini aku melihat Zahra tersenyum seperti ini. Syukurlah kalau dia mulai menata hatinya lagi yang pernah rapuh bertubi-tubi" gumam Hanan.
Bi Sari dan pak Johan duduk di sebelah mereka. Zahra yang melihat mereka hanya terdiam dan terpaku mengambil centong nasi dan piring pak Johan lalu meletakkan beberapa centong nasi ke dalamnya.
"Lagi pak" ucapnya sambil memperlihatkan nasinya.
"Cukup non"
"Bapak mau lauk apa pak"
__ADS_1
"Tahu sama tempe saja non"
Zahra menggeleng dan mengambil kan sayur, ayam dan tahu tempe yang pak Johan bilang.
"Nanti sisa kan mubazir, udah nih pak"
"Te-terima kasih non"
"Iya pak"
Zahra mengambil piring bi Sari namun menghalangi nya.
"Nggak non saya ambil setelah tuan dan nona"
"Nggak bi, terlalu lama menunggu kami. Karena dari mata pelajaran agama yang saya pelajari waktu SMP itu yang mengambil makanan itu yang tua terlebih dahulu sebelum yang muda. Jadi nggak papa bi"
"Tapi non"
"Udah bi nggak papa, saya dulu juga suka seperti ini, mengambil kan makanan orang tua dulu baru saya. Kecuali kalau saya sedang terburu-buru saya yang mendahului bu"
"Tapi non bisa telat nanti sama tuan"
"Tenang bi, pak Hanan kan guru, tak jarang kok gurunya telat. Sini bi piring nya"
Bi Sari melihat Hanan untuk meminta persetujuan, Hanan hanya mengangguk dan mengedipkan kedua matanya.
"I-iya non"
Zahra langsung mengambil kan makanan untuk Bi Sari dengan porsi yang sama dan lauk yang sama, begitu juga Hanan yang membiarkan Zahra mengambilkan makanan untuknya. Dan untuk dirinya sendiri dia hanya mengambil 1 centong nasi dan lauk pauk yang sedikit.
"Loh non, kok makannya sedikit banget"
"Kan udah ada susu bi, kalau kebanyakan bisa kembung nanti"
"Lagu pula Zahra udah seneng bisa makan bareng sama kalian, berasa hidup ini rumah. Nggak seperti kemarin sampai Zahra merasa kesepian. Nanti siang lagi ya, sama bi Tuti dan bi Reni.
" Insyaallah non"
Mereka memulai makan dan hanya suara ketukan piring dan sendok. Zahra habis terlebih dahulu karena porsinya hanya sedikit lalu meneguk susunya hingga habis.
Zahra masih diam di tempat sambil melihat ketiga orang di sekelilingnya yang sedang sarapan. Seukir senyum mendarat di bibir nya lagi.
"Zahra ayo kita berangkat"
"Iya pak. Bi Sari pak Johan, kami berangkat ya"
"Iya non, hati-hati"
"Assalamualaikum" ucap Zahra dan Hanan bersamaan.
"Wa'alaikumsalam"
Zahra dan Hanan berjalan beriringan menuju ke mobil Hanan. Pak Johan juga mengikutinya untuk membukakan pintu gerbang. Pak Johan kembali lagi ke dalam dan menyempatkan untuk minum yang tadi sempat tertunda.
"Nggak nyangka ya bu, kalau nona Zahra baik banget sama kita. Orang nya nggak pemilih dan cepat akrab dengan orang lain" puji pak Johan.
"Iya pak, ibu tadinya juga berfikir kalau nona Zahra akan menyuruh kita bekerja lebih keras karena menuruti kemauan nona, namun nona dengan senang hati membantu kita tanpa pamrih."
"Nona sangat cantik, juga hatinya baik, cocok bener sama Hanan. Semoga mereka langgeng sampai akhir khayat ya bu"
"Amiin pak"
*****
__ADS_1
Sekitar 15 menit sudah, akhirnya mereka sampai di sekolah Zahra.
"Uuuhhh... Jam berapa pak"
"7 lewat 5 menit"
"Telat 5 menit kan, bapak si"
"Ini kan karna kamu juga, sudah sana masuk ntar tambah telat"
"Iya pak iya, siapa juga yang betah di sini"
Zahra keluar dari mobil Hanan dan menutup mobilnya dengan keras. Hanan yang masih bersiap di dalam mobil kaget sambil menggelengkan kepalanya.
Zahra melangkah dengan terburu-buru melewati setiap kelas dan sedikit berlari menuju kelasnya yang ada di lantai 2 sekolah tersebut.
"Assalamualaikum" ucap Zahra.
Teman-teman nya yang melihatnya pun menjawabnya dan dia segera duduk di bangku nya.
"Telat lagi Ra" ucap Alvero
"Udah tau telat ditanya"
"Udah sembuh Ra" tanya Fany.
"Udah kok Fan. Udah duduk gih.. nanti bu Yaya dateng loh"
"Lahh gue nggak bawa buku seni budaya" ucap Alvero.
"Di tumpuk broo" ucap Fany.
"Ooohhhhh.. Yayaya oke oke"
"Kok buku gue di rumah"
"Lahh kan lo libur waktu itu"
"Astagfirullah gue lupa"
"Beri salam.. " ucap sang ketua kelas.
Dengan segera teman-teman Zahra berhamburan menuju ke tempat duduknya masing-masing sambil memberi salam.
Zahra mengikuti pelajaran dengan seksama, kini dia benar-benar sudah mulai memperbaiki dirinya secara perlahan dan tidak mencoba untuk kabur saat pelajaran.
"Zahra kamu sudah sembuh" ucap bu Yaya.
"Alhamdulillah sudah bu"
"Syukurlah, untuk kamu Zahra silahkan kerjakan hal 33 dan yang lainnya merangkum bab selanjutnya ya"
"Iya bu"
"Saya tinggal dulu sebentar"
Semuanya langsung berbaur dengan yang lainnya sambil mengobrol. Zahra sendiri masih fokus dengan apa yang di perintahkan gurunya.
"Sabar ra, ini susulan ulangan kemarin"
"Ohh gitu ya udah ngga papa. Kamu lanjut saja sana"
Fany yang duduk di samping nya hanya mengangguk dan tersenyum melihat perubahan Zahra, biasanya Zahra akan kabur dan pergi ke kantin untuk makan, namun tidak kali ini.
__ADS_1
//**//