Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Tidur Aja Ribet


__ADS_3

Zahra tetap saja menunduk sambil menyatukan kedua tangannya menuruni tangga perlahan bersama pak Hanan menuju ke meja makan. Disaat mereka sudah sampai di tangga yang dasar, Zahra terpeleset dan terjatuh bersamaan dengan pak Hanan.


"Innalillahi" ucap mereka berdua.


Pak Hanan terjatuh membentur lantai di bagian kepala belakang nya, beruntung tidak terlalu keras sedangkan Zahra terjatuh menimpanya.


"Astagfirullah, pak.. Maaf kan saya" ucap Zahra dan langsung berdiri membantu Hanan.


Hanan juga berdiri sambil mengelus kepalanya.


"Bapak, nggak papa kan. Ada yang luka? Dimana yang sakit? " ucap Zahra sambil memutari tubuh Hanan.


" Sudah, nggak papa kok. Kan udah saya bilang tadi, jangan terlalu nunduk."


"Iya pak maaf, saya salah. Sini pak saya lihat sebentar"


"Sudah nggak papa, ayo makan"


"I-iya pak"


Bi Sari yang melihatnya langsung menuju ke arah mereka.


"Tuan, Nona, kalian tidak apa"


"Tidak bi, kami baik-baik saja kok" jawab Hanan.


"Syukurlah."


Mereka berdua makan bersama, sedangkan bi Sari memilih makan di pos bersama dengan pak Johan. Bi Sari selalu menolak saat di ajak makan bersama dan lebih memilih makan di pos.


Setelah acara makan selesai, Zahra membersihkan nya dan langsung mencucinya. Setelah itu dia menuju ke ruang tamu untuk menonton film kesukaan nya. Hanan pun juga menonton tv bersama dengan Zahra.


"Zahra" ucap Hanan.


"Kenapa pak"


"Ini, handphone buat kamu. Handphone dulu rusak kan, dan ini kartu ATM buat keperluan kamu. Pakailah sesuka kamu"


"Buat apa pak"


"Kamu lupa siapa kamu sekarang. Ini sudah kewajiban Saya untuk menafkahi kamu, jadi terima saja"


"I-iya pak, terimakasih"

__ADS_1


"Tidak perlu berterima kasih. Saya sudah mencatat nomor baru kamu dan jika kamu mau menelepon saya, tekan dan tahan saja angka satu. Kalau butuh bantuan mama tekan nomor dua, supaya mudah bagi kamu"


"Iya pak, terimakasih banyak."


"Ya sudah, saya mau sholat isya dulu, kamu udah"


"Astagfirullah saya lupa pak, bantuin bi Sari jadi lupa"


"Ya sudah ayo sholat bersama. Aku akan belajar menjadi imam yang baik untuk kamu" ucap Hanan sambil mengusap kerudung Zahra.


Zahra tercengang dengan perlakuan Hanan. Jantung nya terasa terhenti secara tiba-tiba. Sedangkan Hanan hanya heran dengan sikap Zahra yang masih terduduk tenang di tempat nya dengan tatapan kosong.


"Mimpikah? Biasanya dia dingin banget" gumamnya


"Zahra... " ucap Hanan yang membuat Zahra bangun dari lamunannya.


"I-iya pak"


Mereka pun bersiap dan memilih sholat bersama di kamar Zahra yang berada di samping kamarnya. Setelah sholat Hanan kembali ke kamarnya. Mereka bersiap untuk tidur di kamar yang berbeda.


Sudah berjam-jam Zahra mencoba untuk tidur, namun usahanya selalu gagal. Pukul 10 malam Zahra memutuskan untuk pindah di kamar yang lain, namun tetap saja usahanya gagal pukul 12 malam dia pindah ke kamar yang lainnya dan tetap saja usahanya masih gagal.


"Astagfirullah ya Allah, kenapa gue jadi susah tidur begini. Apa gue belum bisa beradaptasi di sini. Gue harus bagaimana sekarang. Gue terlalu canggung di sini. Haduhhhh, andai aja nomor Fany ada pasti gue udah ada temen bercanda sekarang. Ya ampun Zahra tidur aja ribet. Tapi gue nggak ngantuk hissss.. Gimana sih.. Di sini semua kamar nuansa nya putih semua jadi ngebuat aku nggak betah kali ya. Kamar gue walaupun sederhana tapi bikin betah, lah ini kamar gede gede peralatan lengkap kaga bikin gue ngantuk, heran sama diri sendiri. Bukannya seneng dapet suami tajir tapi malah ngerasa gue nggak pantes. Gue pikir pak Hanan orang biasa eh.. Malah rumahnya gede banget bak istana. Bener ya memang, rumah besar belum tentu membuat nyaman, lebih baik sederhana yang terpenting kebahagiaan tercipta... Haisshh Zahra Zahra, bukannya bersyukur malah ngeluh, heran gue. Apa yang harus gue lakuin sekarang."


Ucap Zahra pada dirinya sendiri sambil menggerutu kesal seakan berbicara dengan makhluk tak kasat mata. Zahra berbicara sambil memegang kepalanya.


Zahra membanting tubuhnya kasar di kasurnya. Sungguh membuat hatinya kacau.


"Apa sebaiknya aku minta pak Hanan suruh ngecat dinding nya lagi ya. Yang ada nuansa warna lain gitu ngga pucet gini. Eehhhhh... Tapi nggak enak juga... Hhhhaaaiisshh bagaimana ini... Eehhhhh... Tapi gue harus nerima apa adanya, gue nggak perlu ngeluh, ini juga rumah orang bukan rumah gue sendiri. Gue harus nerima apa adanya, kamar mewah, rumah mewah, fasilitas lengkap, gue harus bersyukur atas semua ini. Oke sekarang gue coba kembali ke kamar atas dan semoga aja gue ngantuk. Aminnn"


Zahra mulai berjalan menaiki tangga secara perlahan. Dia memutuskan untuk pindah ke kamarnya lagi, namun langkahnya terhenti saat melihat Hanan keluar dari kamarnya sambil mengucek sebelah matanya.


"Loh, bapak belum tidur"


"Saya mau ambil minum di dalam habis, juga kepala saya sakit jadi kebangun"


"Yang tadi masih sakit mas, coba saya lihat"


"Tu-tu-tunggu.. Kamu panggil saya apa tadi"


"Panggil apa apanya pak"


"Bukan, bukan itu"

__ADS_1


Zahra berkomat kamit sambil mengingat ingat yang dia katakan tadi, dan selang beberapa detik dia mengingat apa yang di maksud Hanan.


"Ma-maaf pak, tadi saya refleks. Coba bapak hadap ke belakang dulu"


Hanan menurut dan melihat kepalanya sedikit bengkak.


"Ya ampun pak, ternyata bengkak. Bapak balik ke kamar, biar saya yang ambil minum. Bapak duduk di kamar dengan tenang ya pak, saya akan kembali sebentar lagi, ayo pak, ayo balik.. "ucap Zahra sambil mendorong nya untuk masuk ke kamarnya.


" Ta-tapi..."


"Nggak ada tapi tapian pak, debatnya nanti saja." ucap Zahra


Dengan cepat Zahra menuruni anak tangga. Hanan hanya tersenyum kecil melihat tingkah Zahra. Hanan yang menyadari dia tersenyum memegang bibir nya lalu masuk ke dalam kamarnya kembali.


Zahra bergegas mengambil air dari termos dan juga memberi sedikit air dingin. Tidak lupa dia juga membawa minum untuk Hanan. Berjalan perlahan melewati setiap tangga menuju ke kamar Hanan.


"Pak, ini minumnya. Oiya pak bentar, perlengkapan obat di mana pak"


"Persiapan obat sudah habis, saya lupa setiap mau beli. Besok pulang sekolah kita beli bersama"


"Kita pak"


"Oiya besok kamu nggak berangkat, ya sudah saya saja."


"Pak, menghadap belakang pak, biar saya kompres"


"Biar saya sendiri, kamu tidur saja"


"Pak udah malem kaga usah debat, mending bapak diem, saya cape debat sama bapak. Sekali-kali nurut saya pak"


"Iya iya. Kenapa kamu bangun malam malam"


"Saya nggak bisa tidur pak, saya sudah mencoba semua kamar tapi belum ada yang cocok karena belum bisa beradaptasi di sini"


"Perlahan pasti bisa"


Zahra mengompres Hanan secara perlahan dan teliti. Hanan merasakan kenyamanan dan juga merasa sedikit lebih baik dari sebelumnya. Tak berselang lama Zahra menguap dan merasa ngantuk.


"Udah mendingan kan pak. Sekarang bapak tidur, saya juga mau tidur. Ini biarkan di sini ya pak. Selamat malam"


"Terimakasih"


"Iya pak sama-sama"

__ADS_1


Zahra pun keluar dari kamar Hanan dan berjalan menuju ke kamarnya. Sudah pukul 1 malam dia baru merasakan ngantuk dan langsung menuju ke alam mimpi nya di kasur barunya.


//**//


__ADS_2