Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Belajar untuk lebih baik


__ADS_3

"Zahra kamu sudah siap" tanya mama Kirana.


"Sudah mah, ayo kita pulang"


"Tunggu bapak jemput"


"Bapak masih ke sawah ma"


"Iya masih"


"Terus ke sini sama siapa"


"Sama guru kamu"


"Lahh.. Kok bisa"


"Lihat saja nanti"


Tiba-tiba orang yang sedang di bicarakan datang.


"Assalamualaikum" ucap pak Hanan dan bapaknya.


"Wa'alaikumsalam, panjang umur"


"Kenapa ma"


"Nggak kok pak, bener sudah semua kan Ra"


"Sudah mah" ucap Zahra sambil menggendong tasnya.


"Biar saya yang bawa" pinta pak Hanan dan hendak mengambil tas Zahra.


"Tidak usah pak, saya bisa kok. Bapak ngga usah repot-repot"


"Biar bapak yang bawa nak" pinta bapaknya.


Zahra mengangguk lalu memberikan tasnya.


"Mari, saya antar"


Pak Hanan menyuruh orang tua Zahra dan Zahra untuk berjalan terlebih dahulu. Zahra mengangguk lalu berjalan di depannya. Mereka masuk ke mobil pak Hanan.


Zahra duduk di bangku depan sebelah pak Hanan dan orang tuanya di belakang.


"Pak Guru ngga ngajar di sekolah pak"


"Tidak, tadi bapak ijin sebentar."


"Kenapa bapak harus ijin. Kami bisa naik taksi atau Angkot"


"Anggap saja ini sebagai rasa tanggung jawab saya kepada kamu"


"Tanggung jawab bapak sudah cukup bagi kami, bapak juga sudah membayar biaya administrasi jadi tidak perlu berlebihan."


"Saya memberikan nya dengan ikhlas dan tulus. Saya juga tidak mengharapkan balas budi, jadi kamu tenang saja"


"Baik pak, sekali lagi terima kasih banyak atas bantuan bapak. Emm.. Ngomong omong bapak membayar administrasi dari mana pak"


"Emm.. Itu dari uang tabungan saya"


"Maaf ya pak, tabungan bapak jadi berkurang karena saya. Kalau boleh tau, tabungannya buat apa pak"


Pak Hanan terdiam sejenak dan fokus ke arah jalan. Zahra memandang nya lalu menghela nafas panjang.


"Maaf ya pak, saya bersikap tidak sopan sama bapak. Dan mungkin ini masalah pribadi bapak. Saya minta maaf"


"Tidak, bukan seperti itu. Sebenarnya uang itu akan bapak pakai pergi ke Mekkah suatu saat nanti"


"Oohh, bapak hanya bekerja sebagai guru"


Pak Hanan mengangguk.


"Mobil ini juga hasil kerja keras bapak"


"Ini bapak pinjam dari kakak saya, karena mobil ini menganggur dan akhirnya bapak pinjam. Juga karena motor bapak yang sudah tua"

__ADS_1


"Bapak bukan pengusaha"


Pak Hanan menggelengkan kepalanya. Zahra terdiam memandang jalanan kota. Butuh waktu setengah jam untuk sampai ke rumah.


"Gue pikir pak Hanan guru yang punya kaya di film, ternyata kagak. Tapi kenapa hati gue rasanya berbunga gitu ya. Juga kok gue nyaman di samping pak Hanan. Ehhhh, tapi kaga boleh. Gue kagak bisa suka sama guru gue sendiri. Kaga Boleh!! " gumam Zahra.


"Saya pikir kamu akan memakai jilbab yang saya berikan kepada melalui teman dekat kamu. Ternyata tidak" gumam pak Hanan.


Tak lama mereka akhirnya sampai di rumah Zahra.


"Mari mampir dulu pak" ucap mama Kirana.


"Maaf bu, lain kali saja. Soalnya saya juga harus mengajar di sekolah"


"Ya sudah, hati-hati ya nak" ucap pak Nanto.


"Iya pak. Zahra cepat pulih. Teman-teman kamu banyak yang merindukan mu"


"Iya pak terima kasih "


" Baiklah, saya permisi pak, bu, Zahra. Assalamualaikum "


" Wa'alaikumsalam"


Zahra dan kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah setelah pak Hanan meninggalkan mereka.


"Zahra"


"Iya mah"


"Besok bapak sama mama mau pergi. Kamu baik-baik ya di rumah"


"Mau ngapain mah"


"Bapak sama mama mau ikut menanam padi di ladang sawah pak lurah, kamu baik-baik ya di rumah."


"Iya mah, mama hati-hati ya"


"Iya, kamu sekolah yang bener, setiap pulang sekolah jangan lupa masak. Kalau makanan abis beli di warung. Kalau ngga ada uang ambil di kaleng. Sekolah yang baik-baik biar jadi orang sukses ya"


"Iya lah mah, mama bilang gitu kaya mau pergi lama aja. Siap lah mah"


"Iya ma"


"Zahra, ini duit 50 ribu buat besok sekolah. Lebihnya buat jajan di rumah ya"


"Terimakasih pak. Zahra ke kamar ya"


Zahra berlalu ke kamarnya. Dia juga mengecek beberapa buku.


"Oiya, buat apa ya gue ngecek buku. Gue kan kaga sekolah. Dasar emang" ucap pada dirinya sendiri.


Zahra mengecek jam di hpnya. Lalu membuka ikon whatsapp. Dia mengetikkan sebuah nama di kolom pencarian. Lalu langsung menulis pesannya.


^^^Zahra^^^


^^^Fan, lagi istirahat kan. Nanti siang datang ke rumah ya. Gue mau minta tugas yang udah ketinggalan.^^^


Fany


Dih, tumben? Biasanya paling males soal beginian. Kesambet apa lu


^^^Zahra^^^


^^^Kesambet - Kesambet, ngga lah. Bantuin gue berubah napa biar jangan jadi orang yang badung terus di sekolah.^^^


Fany


Iya atuh... Gue siap bantuin. Gue seneng kalau lu mau berubah sedikit. Gue bantuin.


^^^Zahra^^^


^^^Lu malu ya punya temen badung kek gue^^^


Fany

__ADS_1


Gue seneng kok punya temen kaya lu. Walaupun lu badung, nyebelin, ngeselin gue tetep seneng jadi temen lu, karena lu baik dan ngga munafik. Daripada temen yang kalem, sok baik, belum tentu dia setia kaya lu.


^^^Zahra^^^


^^^Makasih Fan, lu memang sahabat baik gue, yang selalu ada buat gue di saat gue seneng sama susah. Lu ngga pernah menyandang fisik gue yang miskin. Lu juga ngga bedain gue sama yang lain, padahal lu orang yang mampu daripada gue. Terimakasih banyak ya Fan.^^^


Fany


Sama-sama temanku tercinta. Sebaiknya kamu istirahat sekarang ya. Kita ketemu nanti siang.


^^^Zahra^^^


Ya sudah selamat beristirahat di sekolah. Aku tinggal. Assalamualaikum.


Fany


Wa'alaikumsalam.


*****


Fany pun datang ke rumah Zahra setelah satu jam menunggu.


"Maaf Ra telat"


"Ngga papa kok Fan. Lagian udah kebiasaan kamu kalau ke rumah temen telat. Aku udah ngerti jadi ngga papa"


"Maaf ya tadi juga aku nyari buku yang ada tugasnya dan belum di kerjain"


"Enggak papa Fany. Ya udah mana yang ada tugasnya. Biar aku saling dulu"


Fany memberikan bukunya dan menjelaskan beberapa mata pelajaran yang sekiranya belum Zahra mengerti.


"Ra, kalau boleh tanya, kenapa lu tiba-tiba rajin gini" tanya Fany dengan rasa penasaran nya.


"Aku cuma ingin menjadi diriku yang lebih baik dari sebelumnya. Gue sadar gue anak yang terlalu badungan di sekolah, dan gue juga mau ngebahagiain orang tua gue sampai akhir hayat mereka"


"Amiin.. Gue doain Ra. Lu pasti bisa. Akan gue bantu"


"Makasih Fan, sekarang tinggal mapel apaan Fan"


"Mapel agama nih Ra, suruh di kumpulan besok di mejanya"


"Oke. Oiya Fan, gue juga mau nanya. Maksud murid kesayangan itu gimana si"


"Siapa yang bilang" tanya Fany penasaran dengan wajah kagetnya.


"Pak Hanan lah siapa lagi"


"Bilang gimana Ra, kok bisa bilang gitu"


"Ya gue ngga bisa cerita sebelum lu beri tau gue apa itu murid kesayangan"


"Ya gue kaga bisa kasih tau kalau belum tau awalnya gimana. Murid kesayangan itu kan banyak alasannya"


"Oke jadi gini Ra, kan gue tanya tuh sama dia kenapa si peduli banget sama gue.. Ini itu.. Nah terus tuh dia jawab, Saya ingin merubah sikap kamu agar kamu lebih baik dari sebelumnya dan lebih beriman dan bertakwa lagi kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kau tahu kau adalah salah satu murid kesayangan Bapak karena kamu satu-satunya murid yang butuh kasih sayang dari seorang guru itu maksud dan tujuan saya bukan hal yang lain. Gitu Fan jawabnya. Udah gitu ngomongnya cepet banget lagi kaya orang lagi ngerap"


Fany terkekeh mendengar ucapan Zahra. Zahra bingung dengan sikap temannya yang tertawa sampai terbahak-bahak.


"Eh.. Lu kenapa Fan, gue serius"


"Gue tau. Ngga usah pura-pura gak tau deh Ra. Kan jawabannya udah ada di dianya sendiri. Artinya lu murid yang istimewa di mata dia, dia ingin melihat kamu lebih baik dari ini. Dia ingin kamu tidak di marahi lagi sama guru yang lain. Intinya yang lebih baik deh. Muter-muter gue ngomongnya"


"Ohh gitu ya. Ya udah ngga usah di lanjutin. Gue ngga paham bagian ini, jelasin dong"


"Lu mencoba mengalihkan pembicaraan bukan? "ucap Fany sambil mengangkat kedua alisnya.


" Ngga Fan, gue serius, nanti ini ngga selesai"


"Kaga ngaku lagi"


"Fan!! "


" Iya maap-maap"


Akhirnya mereka melanjutkan tugasnya bersama-sama tanpa ada perdebatan mengenai pak Hanan.

__ADS_1


"semoga dia kaga curiga" gumam Zahra.


//**//


__ADS_2