Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Tentang Hanan


__ADS_3

"Apakah kalian juga seperti ini saat bersama dengan pak Hanan"


Pertanyaan itu membuat para pelayan tercengang.


" Non belum tau, Tuan Hanan jarang di rumah. Terkadang dia juga mampir ke perusahaan Tuan Besar yang sedang di kelola oleh Tuan Hendra, kakaknya Tuan Hanan yang menjabat sebagai CEO di sana." ucap bi Sari.


"Pe-perusahaan"


"Iya non, Tuan besar itu pemilik perusahaan DE" tambah bi Reni


"DE" ucap Zahra yang tambah bingung.


"Iya non, perusahaan besar itu. Pak Hanan di sana hanya sebagai General manajer saja di sana sambil menekuni bidang keperguruannya"


"General Manager?, padahal gaji yang di hasilkan lebih besar di perusahaan kan, kenapa menjadi guru juga? Apa gaji itu kurang"


"Cita-cita nya Tuan bukan bekerja di sebuah perusahaan, namun menjadi guru." ucap Bi Sari.


" Alasannya bi"


"Bibi nggak tau non, bibi nggak sempet nanya. Kasihan lihat dia kecapean jadi bibi nggak nanya"


"Bi Reni sama bi Tuti tau"


"Nggak non, kami saja baru setengah taun kerja di sini. Kenal dekat sama tuan aja nggak non. Paling cuma sekilas doang udah" jawab bi Tuti.


"Terus kerja di sekolah jadi guru udah berapa lama bi"


"Baru satu tahun non"ucap bi Sari.


"Jadi pak Hanan PNS ya bi"


"Nggak non, kan dia anaknya tuan besar yang punya perusahaan, jadi sama tuan besar nggak boleh jadi PNS, terus Tuan Hanan milih kerja di sekolah swasta non"


"Oohh gitu, saya pikir pak Hanan juga orang sederhana, rumahnya tingkat dua, ya.. rumah ini memang tingkat dua, maksudnya nggak seluas dan segede ini"


"Non baru tau, non sekolah baru berapa tahun" tanya bi Reni


"Enam bulan bi, sebentar lagi masuk semester genap"


"Oohh.. Kapan tesnya non" tanyanya lagi


"Paling bentar lagi bi, ini udah awal bulan desember paling di pertengahan Desember bi"


"Oohh, liburan mau kemana non" ucap bi Tuti


"Nggak tau bi, harapan saya si, kemanapun saya pergi dan tinggal adalah tempat dimana ada ketenangan dan ketentraman di dalamnya yang bisa membuat saya nyaman."

__ADS_1


"Cita-cita non sendiri apa" ucap bi Sari


"Saya ingin menjadi sekretaris di sebuah perusahaan bi, tadinya ingin mengubah hidup dengan kerja keras sendiri, namun malah udah sukses tanpa kerja keras sama sekali"


"Pantes saja tuan meminta untuk merahasiakan sampai waktunya tepat" ucap bi Tuti.


"Ada yang mau di tanyakan lagi non" ucap bi Reni.


"Nggak ada kok bi. Jadwalnya pulang ya bi"


"Iya non" Jawab bi Reni dan bi Tuti bersamaan.


"Kenapa harus pulang bi, kamar banyak yang nganggur." ucap Zahra.


"Saya harus ngurus anak non, udah kelas 4 sd si, tapi kan namanya juga bocah non. Nggak baik di tinggal tinggal terus" ucap bi Reni.


"Oohh, bi Tuti sendiri"


"kan memang sudah jam kerja saya non, kami berdua di cari untuk kerja pagi sampai siang untuk mengurus rumah yang gede ini non. Lagi pula gajinya lumayan jadi saya mau aja non, yang penting halal" ucap Tuti.


"Oohh begitu ya bi. Bi Reni kan ada alasan nih, bi Tuti sendiri nggak, kenapa nggak menjadi tetap saja"


"Nggak non, saya kan punya rumah masa iya mau di tinggal gitu aja non"


"Iya sudah, bi Tuti sama bi Reni hati-hati ya bi"


"Iya non. Kami permisi, Assalamualaikum"


"Saya juga ke belakang dulu ya non, mau bersih-bersih diri, tuan sebentar lagi pulang kalau nggak ada urusan mendadak"


"Iya bi silahkan. Saya ke atas ya bi"


"Iya non"


Zahra berjalan menuju ke kamarnya dengan langkah cepat. Dia duduk di sofa sambil menyala kan tv. Dia bukan fokus dengan filmnya namun fokus dengan pertanyaan yang menggejolak hatinya tentang pak Hanan.


"Pak Hanan seorang pengusaha. Terus kenapa jadi guru. Terus kenapa bilang nya mobil itu milik kak Hendra. Kenapa dia berbohong. Kenapa dia menyembunyikan nya dari gue. Lahh.. Kenapa gue jadi kepo gini ya... Ya ampun Ra... Apa yang harus gue lakuin... Males kalo nanya langsung palingan ujungnya jadi debat kaya mapel bahasa Indonesia. Hedeh... Pusing gue mikirin nya. "


Zahra terus menerus mengarungi pertanyaan demi pertanyaan yang menggejolak di otaknya sekarang. Tak lama dia memutuskan untuk keluar dan berjalan jalan di taman. Dia membuka pintu lalu keluar dan menutup nya. Saat dia berbalik dia bertabrakan dengan Hanan.


"Astagfirullah.. Apaan nih gede banget"


Zahra mendongak dan benar saja ternyata Hanan yang ada di depannya. Zahra refleks mendorong nya, beruntung Hanan tidak sampai terjatuh dan bisa menyeimbangi tubuhnya yang di dorong oleh Zahra.


"Maaf pak, bapak si datang tiba-tiba kayak setan, otomatis saya kaget"


"Apa kah wajahku seperti setan yang kamu bilang."

__ADS_1


"Nggak si pak, lagian bapak si, tau kan saya kerdil makanya jadi nggak lihat bapak"


"Kan saya udah pernah bilang jangan terlalu nunduk jalannya, sampai salah masuk kamar gini"


Zahra tercengang dan melihat pintu itu lalu beralih ke pintu yang lain. Sungguh mukanya sekarang memerah saat dia baru sadar dirinya masuk ke kamar yang salah.


"Lagian bapak si nggak ngasih nama di pintu itu. Semuanya warna putih lagi pak, kan ngeri jadinya. Dinding kamar juga putih semua mana bisa bedain pak. Bapak gimana si"


"Suami pulang bukannya di sambut malah di marahi"


"Istri terus yang disalahin. Untung istri bukan murid, kalau saya peran jadi murid bapak pasti udah di hukum di sekolah"


"Mau saya hukum sekarang sebagai suami"


"Kalau bapak mau lakuin, lakuin aja nanti saya laporin sama pengadilan bapak udah KDRT ke saya"


"Saya mau masuk terus mandi, kamu mau biarin saya berdiri terus di sini."


"Ya bodoamat dong pak, mau di mana pun bebas, ini rumah saya juga kan" ucap nya sambil melipat kedua tangannya di dadanya.


Tanpa berdebat lagi, Hanan meletakkan tasnya di depan dinding lalu membopong tubuh Zahra dan di pindahkan belakang nya.


"Eehhh.. Pak.. Turunin"


"Udah"


Pak Hanan langsung membuka pintu dan menutup nya.


"Dasar guru menyebalkan. Dan untuk jantung ku, berhenti berdebat juga ya.. "gerutu Zahra.


Dia melangkah kan kaki besarnya dan terhenti secara tiba-tiba.


"Eh.. Tadi gue mau kemana ya tadi. Tuh kan lupa.. Pak Hanan si... Nyebelin banget harus debat dulu" gerutunya kesal.


"Zahra, buatkan saya kopi ya" ucap Pak Hanan dan langsung menutup pintunya lagi.


Zahra mengatur emosi nya dengan menarik nafas dan mengeluarkan nya beberapa kali, dan dia turun dengan tenang untuk membuatkan kopi.


"Sabar Zahra Sabar " ucapnya lirih.


//**//


Sabar banget jadi Zahra, tapi nggak papa si, setidaknya Zahra nggak sedih terus... Ya nggak..


Like, komen, vote tinggalkan ya..


Terimakasih

__ADS_1


Salamku


Dewi M


__ADS_2