
"Eh.. Itu siapa" tanya seseorang yang ada di lobi.
"Anak barukah"
"Tak tau"
"Kok mirip Zahra ya"
Zahra tidak menghiraukan omongan omongan orang di sekitarnya. Dia tetap berjalan rapi menggunakan seragam dan tambahan jilbab di kepalanya.
Zahra memasuki kelasnya, semua orang memandang nya kaget dan penuh dengan heran. Pandangan mereka mengikuti arah langkah Zahra. Semuanya kagum dan berbinar melihat nya.
"Zahra" ucap Fany kaget saat melihat Zahra yang mendekat ke arah nya.
"Iya kenapa"
"Ini bener Zahra" tanya murid yang lain.
"Iya gue Zahra Zanira, kalian kenapa? Istigfar, jaga pandangan kalian"
"Tumben bijak" ucap temannya yang lain.
Alvero datang dan pergi menuju ke mejanya, namun dia mengurungkan niatnya dan menuju ke arah kerumunan.
"Ada apa nih"
Alvero menyelinap hingga ke depan. Alvero benar-benar kaget saat melihat Zahra menggunakan jilbab.
"Astagfirullah halazim" ucapnya sambil memegang dadanya.
"Kenapa lu, kaget"
"Kirain gue setan"
Zahra menatap nya dengan tatapan matanya yang tajam sambil mengepalkan tangannya.
"Ampun.. Maaf Ra, maaf"
"Kenapa kalian pada ngerumun, udah si minggir. Bentar lagi juga guru pasti udah mau ke sini"
"Gimana ya reaksi para guru melihat Zahra kaya gini. Terutama guru agama. Dia kan murid kesayangan nya" ucap Alvero.
"Al, jangan bawa-bawa murid kesayangan deh di sini. Di sini tuh ngga ada hubungan nya. Udah lah, kalian minggir dari hadapan gue. Bisa ngga si"
Dengan nada tegasnya teman-temanya langsung berpindah dari tempat Zahra. Zahra berbincang dengan Alvero dan Fany.
"Ra, gue seneng banget di sini. Akhirnya lo berubah. Gue seneng liatnya"
"Sama aja gue yang jadi puper di sini"
"Apaan tuh puper ra" tanya Alvero.
"Pusat perhatian"
"Dari dulu juga Ra, seharusnya lo udah biasa ngadepin itu, ehh.. Sekarang malah ngeluh"
"Udah lah, jangan bikin gue pusing. Lebih baik kalian duduk sana"
__ADS_1
"Ini jilbab dari pak Hanan kan" tanya Fany sambil memegang kain jilbab nya.
Zahra mengangguk.
"Bener-bener tinggi selera pak Hanan"
"Maksudnya Al" tanya Zahra penasaran.
"Wwwoooyy.. Ngapel mulu bertiga. Pak Hanan lagi otw ke sini" teriak salah satu teman sekelas mereka.
Mereka bertiga langsung kembali ke tempat duduk mereka dan menyiapkan buku mereka. Zahra terpaku di tempat, dia memutuskan untuk menopang kepalanya di meja. Memalingkan wajahnya ke arah tembok.
Pada jam pertama adalah mapel agama. Zahra bingung dan juga panik apa yang harus dia lakukan, namun bagaimana pun ini adalah konsekuensi nya.
"Apa yang harus gue lakuin sekarang. Duh.. Jantung kenapa ngga bersahabat banget ya. Dag..dig..dug gini. Sampai ni meja juga rasanya getar gara-gara jantung gue. Huhh..ayolah..Ya Allah tenangkan jantung ku ini. Bantulah aku untuk menghentikan jantung yang demo ke gue... Bla.. Bla.. Bla... "
Begitu lama ia bergumam hingga melakukan sampai pembacaan doa dan asmaul husnanya selesai, bahkan hingga namanya di panggil pun juga masih melamun.
" Zaahhrraaa" teriak semua orang yang ada di kelas nya.
"Ahh.. Ehh.. ya kenapa"
Tanyanya gelagapan hingga ia menongakkan kepalanya. Pak Hanan terdiam memandang Zahra saat melihat nya memakai jilbab yang diberikannya.
"Absen Zahra" ucap Fany kemudian.
"Oohh..ee..anu...eee..5 pak" jawabnya ragu.
Pak Hanan menutup buku absen nya.
"Buka buku kalian, bapak mau melihat tugas kalian sudah atau belum"
"Duh mati gue mati.. Ahh.. Mati gue. Kalo di tanya jawabnya gimana. Jawab apaan gue"
Dia membaca surah al-fatihah sambil berkomat-kamit. Dia juga menutup matanya seperti orang yang sedang membaca mantra.
"Lagi ngapain kamu" ucap pak Hanan saat melihat tingkah aneh Zahra.
"Ngga papa pak, saya lagi berdoa aja biar bapak ngga marahin saya"
"Marahin kenapa? Kamu murid rajin sekarang. Tugasmu bisa selesai semua bagus-bagus." puji pak Hanan.
"I-iya pak terimakasih"
"Terus tadi kenapa, kamu kesambet"
"Astagfirullah pak, ya ngga lah. Bapak jangan bicara seperti itu dengan saya. Kan bapak pernah ngomong ucapan itu doa"
"Uuuuuuuuuuuuuuuuuuuu" goda seluruh teman-teman yang ada di kelasnya.
Seketika Zahra langsung menutup mulutnya saat tersadar apa yang baru saja dia katakan.
"Maafkan bapak. Bagus, tingkatkan belajar kamu seperti yang lainnya. Belajar dengan giat dan sungguh-sungguh" ucap pak Hanan sambil mengelus kepala Zahra.
Zahra tercengang dengan sikap pak Hanan kepadanya. Pak Hanan yang tersadar akan hal itu langsung menurunkan tangannya.
"Emm.. Maaf-maaf, tadi sedikit kotor jadi saya bersihkan"
__ADS_1
"Oohh..i-i-iya pak, ngga papa kok. Saya juga berterima kasih sudah di bersihkan"
Pak Hanan mengangguk. Dia langsung berjalan ke arah meja guru dan kembali mengajar.
"Jantung bisakah kau tenang, pak Hanan sudah berlalu dari sini. Berhentilah melonjak dari tempatmu. Ayo diamlah" gumamnya sendiri.
Zahra mencoba konsentrasi pada pelajaran nya. Sambil membaca buku yang ada di hadapan nya. Sungguh tidak tenang dirinya sekarang, tetapi itulah yang dia rasakan saat ini.
Jam pelajaran selesai. Sekarang adalah jadwalnya mapel matematika sebelum jam istirahat. Pak Hanan keluar dari ruang kelas Zahra.
"Ra, lihat" tunjuk Fany pada sebuah ponsel yang tergeletak di meja.
"Mungkin itu punya pak Hanan deh Ra. Kembaliin sana"
"Kenapa harus gue, kamu sendiri kan bisa"
"Pdkt sana"
"Dihhh.. Pdkt Pdkt...kga ada nanti juga di ambil sendiri"
"Katanya mau berubah menjadi lebih baik"
Zahra memutar bola matanya. Dia menuju ke arah meja dan mengambil ponselnya, Zahra dan Fany mau mengembalikan kepada pak Hanan, namun guru mapel matematika nya datang lebih cepat hingga mereka mengurungkan niat mereka.
*****
Pak Hanan menuju ke kelas lain setelah dari kelas Zahra. Pak Hanan tidak merasa bahwa ponselnya tertinggal. Dia masih mengajar dengan jeli dan di tata dengan rapi hingga para muridnya paham.
Setelah jam pelajaran selesai waktunya istirahat. Ruang guru dan seisi sekolah SMK Arjuna 2 heboh dengan rumor Zahra yang menggenakan hijab.
Sepanjang perjalanan dari kelas menuju ke kantin, dia menjadi pusat perhatian semua orang.
"Gimana Ra, heboh lagi kan elu si" ucap Alvero.
"Loh kok gue si, yang di bikin heboh kan mereka gue mah biasa aja" jawab Zahra santai
"Udah kalian jangan ribut , kita cari kursi dulu buat duduk" ucap Fany menengahi.
Mereka duduk di salah satu meja paling pojok. Dan mulai memesan makanan.
"Ra, udah di balikin hpnya"
"Belum, yuk temenin gue Fan"
"Sekarang"
"Iya lah sekarang, kalau nanti keburu di cari terus gue di sangka pencuri bisa tambah rumit. Percuma juga gue nyuruh loh balikin, lo juga ngga bakal mau. Udah yuk cepetan"
"Lahh gue gimana" tanya Alvero bingung.
"Di sini dulu, gue cuma bentar"
"Awas aja kalo ngapel"
"Ngomong apa si Al, ngga jelas banget. Udah yuk Fan"
Zahra menarik tangan Fany. Fany hanya menurut pasrah. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti sahabat nya itu.
__ADS_1
//**//