Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
S2. Penyusunan rencana beberapa hari yang lalu.


__ADS_3

Keesokan paginya..


Zahra terbangun di jam subuh. Melihat tangan suaminya yang terus berada di atas perut Zahra dari semalam. Dia mengelusnya kemudian melihat ke arah suaminya.


"Mas, bangun. Subuh yuk. Mass.."


Zahra menggerakkan tubuh Hanan dengan pelan. Hanan pun mengerjapkan matanya dan mengusap wajahnya.


"Hmm.. Selamat pagi, my wife and my baby." dengan suara khas bangun tidurnya.


"Pagi juga my husband. Udah... Nanti lebaynya. Sekarang mas mandi terus wudhu."


"Iya-iya."


Baru saja Hanan duduk, perutnya sudah tidak karuan. Rasanya ingin memuntahkan sesuatu dari perutnya. Zahra hanya menggeleng kasihan melihat suaminya yang sedang mual-mual di kamar mandi sambil mengelus perutnya.


"Kasian papa mu nak. Jangan terlalu lama oke"


Tak berselang lama Hanan keluar dan sudah rapi menggunakan baju kokonya seperti biasa dan di susul oleh Zahra untuk melaksanakan sholat subuh.


Setelah sarapan, Zahra duduk di ruang televisi. Dan Hanan juga ikut duduk di sampingnya dan berbaring di atas pangkuan Zahra dengan mengelus perutnya.


"Mas kenapa nggak ngantor?"


"Kamu kenapa nggak ngampus?"


"Malah balik nanya. Aku jadwalnya nanti siang mas. Sekarang mas yang jawab pertanyaan aku."


"Mas males ngantor. Pen sama baby."


"Terus yang cari nafkah siapa kalau bukan mas? Kan mas tanggung jawabnya makin gede sekarang."


"Nanti sekalian antar kamu. Oiya, kamu udah kasih tau mama papa, kalau mereka mau punya cucu dari kita?"


"Belum mas. Aku pikir kita tunda dulu."


"Kenapa? Tunggu ultah mama papa, atau pas anniversary mereka. Keburu buncit dong perut kamu."


"Bukan gitu. Dengerin dulu. Aku mau curhat nih."


"Iya, mas dengerin. Kenapa?"


"Dulu.. Aku pernah di nasehati sama almarhum mama. Kalau aku hamil suatu saat nanti, jangan beritahu siapapun sebelum kandungannya sampe 3 bulan. Aku juga nggak tau kenapa, tapi ini kan nasihat orang tua juga."


"Ya sudah kalau begitu. Jadi, siapa aja yang tau?"


"Baru mas sama dokter Linda."


"Sahabat kamu?"


"Iya."


"Mas, bikinin aku susu. Tadi, aku lupa ngasih tau bi Fitri.."


"Siap nyonya laksanakan."


Hanan segera bangkit dan membuatkan susu untuk Zahra. Tak butuh waktu lama susu sampai di tangan Zahra.


"Terimakasih."


"Sama-sama."


Hanan kembali berbaring di pangkuan Zahra yang sedang meminum susu tersebut. Hanan yang gemas pun mengelus perutnya.

__ADS_1


"Sehat-sehat sayang di dalam perut mama."


Zahra pun memberikan gelas wadah susunya kepada Hanan dan Hanan meletakkannya di meja.


"Mas Hanan ternyata udah menanti lama ya."


"Nggak kok. Mas juga sebenarnya was was karena usia kamu juga masih muda."


"Nggak usah khawatir gitu. Zahra kan kuat, Zahra malah seneng kalau mas juga seneng gini."


"Tapi, terimakasih banyak."


"Buat apa si mas. Ehh.. Mas main game lagi yuk, Zahra jadi ketagihan ini."


"Ini keinginan baby atu ibunya."


"Ini keinginan ibunya. Film di tv banyak pelakornya bosen, mending main rekomendasi anak."


"Ya ampun Sayang. Sebelumnya mas mau nanya sama kamu."


"Nanya apa mas?"


"Bagaimana kamu bisa tau kamu hamil? Terus bagaimana kamu ngerencanain rencana yang begitu luar biasa."


"Baiklah, aku akan cerita."


FLASHBACK ON


4 hari sebelum ulang tahun Hanan..


Linda ke rumah Zahra dan berbincang panjang lebar hingga sore hari.


"Maaf ra, aku mau ke kamar mandi. Kamar mandinya dimana?"


"Oiya Ra."


Linda pun pergi ke kamar mandi dan beberapa saat kemudian dia kembali lagi menemui Zahra di ruang tamu.


"Maaf ra ngeropotin. Kamu masih punya itu?"


"Roti tawar?"


"Iya."


"Oh iya ada. Bentar ya"


Zahra naik ke kamarnya dan mengambil benda yang ia maksud di lemarinya. Dia menyadari kalau masih ada banyak stok roti tawar dari bulan kemarin. Dia pun mengecek tanggal yang tergantung di kamarnya.


"Sekarang udah tanggal 2, terakhir aku m*nstruasi kapan ya? Bentar, udah telat satu bulan kan? Biasanya aku lancar terus. Sudahlah nanti ku tanyakan kepada Linda." pikirnya dan kemudian segera turun dari kamarnya lalu langsung memberikannya kepada Linda.


Setelah dia kembali dari kamar mandi, dia kembali duduk di ruang tamu. Dia heran melihat Zahra seperti orang yang sedang bingung.


"Kamu kenapa Ra?"


"Aku telat dapet kayaknya udah sekitar mau satu bulan. Padahal aku lancar terus loh, tapi kok tiba-tiba nggak lancar ya."


"Jangan panik. Mending ke rumah sakit aku aja yuk cek. Nggak baik kalau kamu berfikiran negatif."


"Ya baiklah. Bentar, aku ambil tas dulu."


Zahra pun mengambil tasnya dan kemudian meninggalkan rumahnya. Kira-kira setengah jam, mereka sampai di rumah sakit milik Linda, bukan, tepatnya akan menjadi milik Linda karena rumah sakit ini masih berada di tangan ayahnya.


Tanpa pikir panjang mereka pun masuk. Linda masuk ke ruangannya dan memeriksa keadaan Zahra. Linda mengecek darah Zahra dan kemudian memeriksanya. Linda tersenyum sekilas lalu memerintahkannya untuk masuk ke ruangan laboratorium.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, Zahra pun kembali ke rumahnya bersama dengan Linda. Di dalam mobil Zahra tampak canggung, dan berfikir tentang apa yang terjadi dengan dirinya.


"Bagaimana Lin?"


"Tak usah khawatir. Aku akan bawa hasilnya besok. Kamu tenang saja, jangan di buat panik oke."


Keesokan harinya, sepulang dari kampus, Zahra ikut kembali ke rumah sakit Linda. Dan Linda pun memberikan amplop putih kepada Zahra.


"Nih, baca sendiri."


Tanpa pikir panjang, Zahra pun membukanya dan membacanya dengan detail. Dia tersenyum dan kemudian menitikkan air matanya.


"Aku.. Aku hamil.. Ini benar kan?"


"Iya, kamu hamil. Selamat ya. Kalau masih nggak percaya aku ambilkan testpeck sebentar."


Linda mengambilkan testpeck dan kemudian di berikan kepada Zahra. Zahra langsung mencobanya dan sekitar 10 menit kemudian, Zahra kembali ke ruangan tersebut dan langsung memeluk Linda.


"Aku.. Aku hamil... Hiks.."


"Sstt.. Jangan nangis loh. Nggak baik buat baby kamu yang ada di dalam perut sini. Selamat untuk kamu."


Zahra melepaskan pelukannya dan mengusap pipinya. Linda juga ikut mengusap pipi dan perutnya yang masih rata.


"Ini adalah kado terindah untuk mas Hanan nanti."


"Mumpung kamu di sini, sekalian cek yuk di USG."


Zahra benar-benar bahagia setelah mengetahui dirinya hamil. Dia pulang ke rumah dan di antarkan oleh Linda.


Di rumahnya, dia langsung menyusun rencana bersama dengan teman-temannya dan mertuanya juga kakak iparnya. Zahra menyuruh mereka datang sekitar pukul 1 siang untuk menyusun sebuah rencana yang dipersiapkan dengan matang.


Setelah semua selesai. Zahra pun ke kamarnya dan membungkus kado untuk Hanan. Dia tak pernah menyangka, ini adalah kado terindah sekaligus pemberian dari Tuhan yang telah ia nanti selama ini..


FLASHBACK OFF


"Terus, kok kado itu bisa ada di tengah-tengah ranjang?"


"Waktu aku lagi beberes waktu itu. Kamu kan keluar kamar, aku ambil kado itu di lemari terus aku taruh di ranjang."


"Oohh."


"Udah kan. Sekarang main ya."


"Iya baiklah, untuk istri ku apa si yang nggak."


Hanan hanya pasrah dengan keinginan Zahra dan kali ini pun mereka bermain masak-masakan online lagi.


Siang harinya sekitar pukul 10 siang, Hanan mengantarkan Zahra ke kampusnya. Kebetulan juga Linda melewatinya.


"Eh Zahra. Masuk bareng yuk."


"Dokter Linda, jaga istri saya ya."


"Siap. Tuan tenang saja, saya akan menjaganya dengan baik."


"Kalau begitu mas ke kantor. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Hanan melajukan mobilnya meninggalkan universitas yang Zahra tempati. Sementara, Zahra dan Linda langsung masuk ke kelas.


//**//

__ADS_1


__ADS_2