
4 tahun yang lalu..
.
.
.
Hari ini adalah hari pertama Zahra PKL (Praktik Kerja Lapangan). Dia di rekrut oleh kantor Hanan. Sungguh mengejutkan baginya, namun itu kenyataannya. Pihak sekolah menyetujuinya karena yang merekrut bukan Hanan, tapi papanya yang turun tangan.
Papanya mengetahui bahwa sudah beberapa minggu mereka sibuk dan jarang menyempatkan waktu berdua, hingga papanya memutuskan untuk merekrutnya dan beberapa temannya yang berpotensi untuk bermagang di kantornya dan Hanan. Zahra sangat antusias dan selalu bangun pagi, malah sangat pagi dari biasanya.
"Kamu semenjak direkrut magang di kantor mas, kamu sangat antusias."
"Iya dong mas, siapa yang nggak seneng magang di kantor suaminya."
"Tapi ntar kamu kecapean."
"Masalah kecapean si bisa diatasi mas, tapi masalah rindu sama mas yang ngga bisa di obati..ehh.."
Zahra langsung menutup mulutnya dan Hanan hanya bisa tersenyum saat Zahra keceplosan mengatakan hal itu.
"Kamu bisa aja kalau ngegombal."
"Siapa yang ngegombal mas, tadi cuma iseng kok, mau ngerjain mas kepedean nggak."
"Nggak lah"
"Heleh"
Mereka pun akhirnya sampai di kantor Hanan, seperti biasa, para pegawai pun langsung menggunjingnya.
"Itu adik Pak Hanan bukan?"
"Iya benar."
"Dia di sini magang bukan?"
"Iya, bersama beberapa temannya."
"Merepotkan."
"Sudahlah."
Zahra dan Hanan tak mempedulikannya, mereka berdua terus berjalan hingga sampai di ruangan Hanan. Gavin sudah menunggu mereka berdua di ruangan Hanan dengan jengah dia memutar kursi tempat dimana Hanan duduk. Hanan memandangnya tidak suka, Gavin yang mengerti langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Silahkan Tuan"
Hanan pun melepaskan jasnya dan duduk di tempatnya. Sedangkan Zahra sendiri memilih untuk duduk di sofa.
"Ada apa kamu pagi-pagi di sini?"
"Hanan, bukankah hari ini adalah hari pertama anak sekolah Zahra magang, pertama kita akan memperkenalkan tempat ini kepada mereka, kemudian baru kita akan membagi mereka ke tempat mereka masing-masing. Untuk nanti yang memperkenalkan tempat ini biar Zahra saja, dia sudah tau banyak tentang tempat ini. Bagaimana nona Zahra?"
"Aku mau kok kak."
"Jangan, ntar kamu kecapean."
"Kecapean itu hal biasa mas, sekali-kali deh aku bebas. Posesif banget si."
__ADS_1
"Jangan kaget non, dia memang seperti itu orangnya."
"Bukannya ngelarang, mas cuma khawatir"
"Khawatir mas berlebihan. Kak Gavin, maksimal anak magang berangkat pukul berapa dan pulang jam berapa?"
"Berangkat paling lambat pukul 8 pulang paling lambat pukul 8 malam. Jadi sistem kita dibagi menjadi dua shift. Satu shift 6 jam. Untuk shift pagi dari pukul 8 hingga pukul 2, sedangkan sift sore dari pukul 2 sampai jam 8 malam."
"Loh,padahal mas Hanan pulangnya selalu jam 5 sore loh, kok ini lain ceritanya bagaimana kak?"
"Namanya juga kangen istri pasti pengen pulang cepet, kalau nanti Hanan pulang jam 8 malam kamu pasti curiga."
"Iya si, pantesan aja pekerjaan selalu dilanjut di rumah. Kok kak Gavin tau si?"
"Dia pernah berbicara seperti itu kepadaku."
"Benarkah? Kalau kak Gavin sendiri memang pulang jam berapa?"
"Aku jomblo sih bebas. Mau pulang atau nggak pulang tetap dikasih gaji, ya kan Nan?"
Gavin menaik turunkan alisnya secara bergantian dan Hanan hanya acuh kepadanya. Dia pun membuka laptopnya.
"Sebaiknya kau kembali ke ruanganmu, untuk selanjutnya aku serahkan kepadamu. Untuk tempat Zahra, akan aku pikirkan nanti."
"Tentu saja boss."
"Mas Hanan, aku ngapain?"
"Kamu di sini aja duduk yang tenang sambil menunggu teman-teman kamu, setelah teman-teman kamu datang, ajak mereka jalan-jalan dan setelah selesai, kamu ke ruangan Gavin atau ke ruangan mas untuk membagi tugas kalian."
"Ya sudah, aku permisi dulu"
"Mas, kalau ngomong yang lembut dikit napa aku jadi takut sama mas kalau mas ngomongnya gitu"
Hanan menghela nafas panjang dan sedikit menutupkan laptopnya lalu dia pun memandang Zahra.
"Apa mas kurang lembut?"
"Isshh, apaan si mas?"
"Tadi kamu bilang mas kurang lembut, jadi mas harus bagaimana?"
"Ah.. Sudahlah. Aku mau keluar mas mau lihat apa teman-teman sudah datang atau belum."
"Kamu duduk aja dulu pasti nanti ada yang manggil."
"Ih selalu aja, padahal aku nggak kemana-mana cuma keluar doang loh mas."
"Mas bilang jangan, ya jangan.."
"Dasar posesif."
"Terserah kamu mau bilang apa"
Tak lama benar, Gavin datang lagi dan memanggil Zahra. Zahra pun turun dan bergabung dengan teman-temannya.
"Wahhhh... Gila bener, ini perusahaan milik abang lo, hebat."
"Diam Ren, nggak boleh gegabah di sini"
__ADS_1
"Oohh iya"
Gavin pun mulai berbicara kepada mereka. Mata mereka berbinar dengan ketampanan Gavin saat berbicara. Setelah mereka selesai, merekapun mulai berkeliling.
"Wah Ra, gue nggak nyangka abang lo hebat juga dalam hal ini."
"Sudah, kalian diamlah. Ini adalah tempat tertinggi di sini dan ini juga tempat dimana ruangan mas Hanan dan kak Gavin berada. Itu ruangan mas Hanan yang bertuliskan CEO dan ruangan kak Gavin sendiri yang bertuliskan COO."
"Emang COO apaan ra?"
"Kalian baru pernah denger ya, nanti aku jelaskan."
"Selain ruangan CEO dan COO apa lagi itu Ra?"
"Aku nggak hafal, aku pernah mencatatnya, namun catatanku ketinggalan di ruangan mas Hanan, kalian mau ikut atau di sini dulu aja. Kalau nunggu di sini kalian jangan kemana-mana, kalau kalian ilang, gue yang akan Kena imbasnya nanti."
"Siap nona"
Zahra pun berlari, dan tanpa mengetuk pintu dia langsung masuk ke dalam ruangan Hanan. Hanan yang diam di tempatnya kaget. Zahra langsung mengambil catatannya dan keluar kembali.
"Astagfirullah, ada apa dengan istriku?" batin.
Dia mengelus dadanya dan kemudian membenarkan dasinya dan kembali bekerja. Zahra kembali dengan membawa catatan kecilnya.
"Kamu udah nulis semua?"
"Udah waktu itu."
"Bagaimana ceritanya?"
"Mas Hanan pernah cerita tentang jabatan di sini, aku pun mengingatnya dan menulisnya. Aku juga cari di internet untuk menyimpulkannya."
"Aku minta catatan mu Ra, mungkin ini juga berguna untuk laporan nanti."
"Baiklah, oiya, mas Hanan tadi berpesan kalau setelah jalan-jalan kita di suruh ke kantin. Kebetulan ini waktu makan siang, kita ke kantin sekarang?"
"Kami ikut saja."
"Baiklah, ayo"
Mereka pun menuju ke kantin yang berada di lantai bawah mereka. Merekapun duduk di meja yang muat untuk 7 orang.
"Kalian pesan saja, mas Hanan yang traktir."
"Ini kan perusahaan kakak kamu Ra, masa iya bayar."
"Maka dari itu, pesan yang kalian inginkan."
"Nasi goreng aja Ra?"
"Yang lain?"
"Samain"
"Minuman?"
"Es teh"
Zahra memanggil pelayan dan memesan yang mereka mau.
__ADS_1
//**//