
Zahra pun pulang dan menuju ke kamarnya sendiri, dia berniat untuk mandi namun dengan herannya semua baju milik Zahra tidak ada di lemarinya. Semua barang miliknya juga tidak ada di sana.
"Jangan-jangan " gumamnya.
Dia langsung bergegas ke kamar Hanan dan betapa terkejut nya saat kamar Hanan telah di make over dengan serapi dan sebaik mungkin. Perpaduan antara hitam dan pink yang menambah kelembutan di kamar tersebut. Di tambah hiasan dinding yang membuat kamar itu terlihat elegan dan beberapa foto dirinya dan juga Hanan yang di pajang di meja samping tempat tidurnya, begitu terkesan indah di mata Zahra. Lemari yang juga begitu besar tersedia di sana. Tanpa pikir panjang dia menghampiri lemari besar itu.
"Ini gimana bukannya"
Zahra meraba raba pintu lemari. Dia sama sekali tidak menemukan lubang kunci sekalipun. Begitu bingung baginya hingga dia melihat ke arah samping lemari tak menemukan apapun.
"Oiya mas Hanan"
Begitu ia menyebutkan namanya, ternyata Hanan sudah melihatnya dari ambang pintu sambil tersenyum-senyum melihat tingkah laku Zahra.
"Eh mas Hanan, ini kuncinya mana. Aku mau mandi soalnya"
Hanan pun menghampiri nya. Tangannya di taruh di belakang dan dengan bingung nya Zahra mengintip intip ke belakang nya.
"Mas sembunyiin apa tuh"
"Nih, mau di taruh di mana"
"Romantis sekali, mas Hanan belajar dari mana" gumamnya senang.
"Makasih mas"
"Sama-sama, kamu mau buka lemarinya"
Zahra mengangguk.
"Sini tangan kamu"
Zahra memberikan tangannya dan Hanan menempelkan nya pada kunci sandi telapak tangan yang tersedia. Tiba-tiba pintunya bergeser sendiri dan betapa takjubnya saat dia melihatnya, sungguh tak percaya baginya.
"Mas ini pasti mahal, nggak perlu gini juga. Yang sederhana juga aku udah suka"
"Nggak kok, ini nggak mahal"
"Terus ini kan pake sidik telapak tangan, terus kalau mas mau buka gimana"
"Ini bisa pake dua sidik telapak tangan, yang satu tangan kanan kamu dan satu lagi tangan kanan mas jadi lemari ini hanya bisa di buka sama kita aja"
"Kalau gini aman dong"
"Insyaallah, menurut kamu gimana kamarnya"
"Indah, sangat indah. Aku nggak nyangka mas. Sungguh, aku sungguh takjub mas sama semua ini. Terimakasih banyak atas semuanya"
__ADS_1
"Sama-sama, kalau ada yang kurang bilang aja"
"Nggak mas, ini sangat cukup bagi Zahra dan menurut Zahra ini juga terlalu berlebihan"
"Satu lagi yang mas mau tunjukkan"
"Apa lagi mas, ini udah banyak loh"
Hanan menuntun Zahra ke sebuah meja rias, dan di dudukan Zahra di kursi yang tersedia. Zahra melihat beberapa peralatan make up yang sangat banyak.
"Mas ini apa lagi, bahkan aku pun nggak bisa pakai kaya ginian. Ini semua apa, aku nggak ngerti"
"Mas juga nggak tau kamu suka atau nggak, tapi biasanya perempuan suka kan make up"
"Mas, dengerin.... Aku nggak perlu di beliin kaya gini. Aku nggak butuh semua ini, tapi Zahra butuhnya itu cuma hati mas, nggak ada yang lain. Aku mau tanya, ini semua dari mana"
"Mas tanya sama bi Sari dan menyuruh bi Sari untuk membeli kan beberapa peralatan make up, mas pikir ini kurang bagi kamu"
"Mas ini sangat cukup bagi Zahra, sangat cukup... Uang bulanan yang mas kasih ke rekening Zahra pun masih banyak dan itu sangat cukup. Jadi mas nggak perlu berlebihan gini. Its oke aku akan memakai ini, tapi lain waktu, Zahra butuh belajar... Mubazir juga kalau nggak di pake, sekali lagi terimakasih banyak ya mas. Aku sayang sama mas"
Zahra mencium pipi Hanan dan memeluknya. Tiba-tiba ia terisak di pelukan Hanan. Sangat beruntung bagi setiap orang yang memiliki pasangan hidup seperti Hanan dan Zahra sangat bersyukur tentang hari ini.
"Kenapa menangis hmm... "
" Aku cuma terharu aja mas, jarang ada loh yang seromantis ini sama istrinya. Dan Zahra baru pertama kali merasakan rasa sebahagia ini."
"Udah mas, jangan buat Zahra semakin terharu lagi, aku mau taruh bunga ini dulu habis itu aku mandi dan sholat bersama"
Setelah mereka sholat, tak lama Fany dan Alvero pun datang. Mereka langsung menduduki ruang tamu.
"Pak Hanan"
"Ini buat camilan kalian"
"Ikut gabung sini pak" Ajak Alvero
Tanpa menolak Hanan pun duduk di samping Zahra.
"Ngomong-ngomong nih pak, bapak kan lagi senggang, kami boleh nggak bicara sama tunangan bapak" ucap Alvero penasaran.
"Alvero, sopan sedikit napa si, mau lo embat ya" ucap Fany sambil memukul nya.
"Penasaran soalnya"
"Kapan-kapan ya, bapak akan perkenalkan di Bali"
Zahra hanya tercengang mendengar jawaban Hanan, rencananya dia akan memberitahukan sekarang, namun dia tak tahu apa yang sedang di pikirkan Hanan sekarang.
__ADS_1
"Wih, yang bener pak"
"Iya, yang terpenting kalian siapkan mental kalian dan kalian harus janji jangan beritahu siapapun setelah mengetahuinya. Satu hal lagi, jangan membenci saya ataupun tunangan saya saat itu juga"
"Tentu saja pak, buat apa kami benci iya nggak Ra" ucap Fany semangat.
"I-iya"
"Saya ke kamar dulu, kalian bicaralah"
Mereka bertiga mengangguk dan mulai saling berbicara satu sama lain.
"Maksud pak Hanan apa Ra"
"Mana gue tau, udah jangan di pikirin. Gue akan bahas masalah Rena sekarang"
"Memangnya ada apa dengan Rena" ucap Alvero penasaran.
"Kata papa aku ayah Rena itu kerjaannya cuma jadi OB di perusahaan papa ku, masa iya pergi ke Jepang, emang gaji OB berapa setiap bulan"
"Hah...OB jangan bercanda dong Ra"
"Gue ngga bercanda Al, gue serius. Itu yang papa katakan kepada ku waktu itu, waktu gue di rundung sama Fany, ingat kan. Jujur gue agak sedikit khawatir dan curiga, namun gue nggak tau apa yang terjadi selanjutnya"
"Berdoa lah Zahra, semoga semua nya baik dan semua yang lo pikirin sekarang adalah salah"
"Amiiinnn Fany, semoga saja. Dan satu hal lagi yang harus kalian tau tentang mas Hanan.. "
" Apa Ra"
"Ada yang aneh dengan mas Hanan, dia sering banget ke kantor secara tiba-tiba dan alasannya itu meeting"
"Nah pasti dia ketemuan tuh sama tunangannya"
"Nggak mungkin, gue nggak mikirin ke situ, tetapi rasa gue... "
Zahra terdiam sejenak dan menghela nafas nya dengan panjang. Dia menunduk dan kembali menatap kedua teman yang ada di hadapannya sekarang.
"Kenapa Ra?" ucap kedua temannya.
Zahra masih terdiam, lalu Fany memegang tangannya.
"Cerita sama gue Ra"
"Gue rasa.. "
//**//
__ADS_1