Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Belanja


__ADS_3

Tes hari kedua pun selesai dan kali ini Hanan yang menunggunya di depan kelaa Zahra.


"Mari pak Hanan" ucap pengawas saat keluar dari ruang tesnya.


"Iya pak"


Tak lama Zahra keluar dari ruangannya dan mendapati Hanan sedang menunggunya.


"Ra, gue duluan ya" ucap Fany yang melaluninya dari ruangan di sebelahnya.


"Iya Fan"


"Bapak nunggu saya" ucapnya kemudian.


"Siapa lagi, yuk pulang"


"Iya pak"


Zahra membalikkan badanya dan berjalan mendahului Hanan.


"Tunggu Ra" teriaknya.


"Kenapa pak"


"Jangan berbalik badan, tunggu sebentar" ucapnya sambil melepaskan jaket yang dipakainya.


"Memangnya kenapa"


"Cepat"


"Ini juga masih madep depan pak pak"


Hanan memasangkan jaket tersebut di pinggang Zahra.


"Bapak, apa yang bapak lakukan"


"Nembus" bisik di telinga Zahra.


Zahra bertindak cepat menerima jaketnya dan mengikatnya di pingganggnya. Mukanya memerah sekaligus malu karena ini pertama kalinya dia bocor di sekolah.


"Terimakasih pak"


"Beruntung saya yang melihatnya, kalau orang lain apa jadinya. Ayo cepat jalan, kita pulang terlebih dahulu lalu kita ke makam"


"Emang ngga papa pak"


"Nggak papa kok, ayo kamu jalan duluan"


Zahra menurut dan berjalan pelan hingga sampai di parkiran guru yang sudah lumayan sepi.


"Mas, aku duduknya gimana"


"Tinggal duduk aja"


"Ih masss, nanti nambah gimana"


"Memangnya kamu mau terus berdiri di dalam mobil"


"Laahhh.. mas gimana kohhh"


"Duduk miring aja"


"Hahh...lah gimana"


"Ya miring, atau mas gendong sampai ke rumah"


"Apaan mas iihhh... iya deh iya lah." ucap Zahra pasrah


"Baru kali ini gue ngalah sama orang" gerutunya dengan suara kecil namun masih terdengar samar di telinga Hanan.


"Apa kamu bilang"


"Ada semut kecil mau ngginggit, udah ayo mas cepetan pulang"


"Iya masuk, udah di bukain pintu kan"

__ADS_1


Zahra hanya mengerucutkan bibirnya dan Hanan berjalan menuju ke pintu pengemudi. Dia terperanjat kaget saat Zahra menghadap ke arahnya.


"Jangan menghadap ke sini, menghadap sana "


"Isshh.. nyebelin banget"


Zahra menurutinya dan menghadap ke jendela.


Sesampainya di rumah, Zahra langsung berlari secepat mungkin menuju ke kamarnya tanpa memberi salam sedikitpun. Hanan yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya.


"Assalamualaikum, bi Sari"


"Wa'alaikumasalam Tuan, nona Zahranya dimana"


"Udah di kamar"


"Apa dia ada masalah tuan"


"Masalah perempuan bi, saya nggak mungkin ngasih tau aib istri saya sendiri. Saya ke kamar dulu ya bi"


"Iya tuan"


Zahra dan Hanan selesai dengan kesibukan masing-masing dan memakai pakaian yang senada tanpa di sengaja.


"Loh mas, kok mas punya baju senada kaya aku si"


"Mau ke makam kan, pakainya warna hitam lah, kalau nggak putih, kalau kamu nggak mau di senadain ya sudah kamu ganti saja. Lagipula ini tidak di sengaja bukan? mungkin ini takdir"


"Mas jangan buat mood aku down dong, daripada ganti mendingan langsung berangkat aja yuk mas, males ganti baju lagi"


"Iya ayo"


Hanan dan Zahra berjalan menuruni tangga bersama. Bi Sari yang sedang menyapu lantai menatap mereka kagum.


"Non dan Tuan mau kemana"


"Kami mau ke makam bi, kami tinggal dulu ya bi, Assalamualaikum" ucap Zahra.


"Iya non. Wa'alaikumasalam"


"Iya tuan"


.....Di makam..


"Assalamualaikum mama, bapak.. Zahra datang bersama mas Hanan, kalian yang melihatnya dari kejauhan senang bukan Zahra udah akrab sama mas Hanan. Zahra hanya mau meminta doa restu dari kalian di sana agar kami bahagia dan Zahra bisa sesegera mungkin menerima mas Hanan. Dan doakan Zahra semoga tes Zahra berjalan dengan lancar dan mendapat nilai yang lebih baik dari sebelumnya. Mas tolong pimpinin doa"


Hanan mengangguk dan memimpin doa untuk almarhum kedua orangtua Zahra. Setelah itu mereka berdua menaburkan bunga tabur dan menyiramkan air ke kedua makam tersebut.


Setelah mereka selesai mereka kembali ke dalam mobil dan melanjutkan tujuan mereka selanjutnya.


"Pulang?"


"Kita belum makan siang, makan siang yuk"


"Dimana"


"Terserah mas yang penting makanannya sehat dan jangan seafood ya"


"Nggak ganti baju dulu"


"Oiya, ya udah ayo"


"Kemana"


"Pulang lah ganti baju dulu"


"Habis itu kencan"


"Makan bukan kencan, ayo mas buruan"


Hanan melajukan mobilnya dan sampainya di lampu merah, Hanan membelokkan mobilnya ke arah lain.


"Loh mas, ini bukan jalan menuju ke rumah"


"Nggak usah pulang kelamaan, beli baju saja"

__ADS_1


"Boros mas kalau beli baju"


"Nggak boros cuma keluar beberapa ribu doang kok"


"Gini nih kelakuan sultan"


"Sekali-kali biar mas bisa tambah dekat sama kamu"


Zahra diam membisu dan membuang pandangannya ke arah luar jendela. Hanan yang melihatnya hanya tersenyum kecil.


Tak lama akhirnya mereka sampai di sebuah mall yang besar dan menjulang tinggi.


"Mas, ini apa"


"Mall"


"Gede banget dah, aku nggak pernah ke mall selama 16 tahun ini"


"Makanya mas ajak ke sini, beli baju sekalian makan di sini saja ya"


Zahra tidak menggubris dan hanya memandangi sebuah gedung tinggi dari atas bawah sampai ke puncak gedung.


"Ayo Zahra, kenapa terus di sini"


"I-iya mas"


Zahra mengikuti Hanan, Hanan yang tidak mendapati Zahra ada di sampingnya langsung menghadap ke belakang.


"Mas kenapa berhenti, ada yang ketinggalan" ucapnya sambil melihat ke belakang.


Tanpa berfikir panjang Hanan menggandeng tangan Zahra dan sedikit menariknya agar berjalan di sampingnya.


"Sini jangan jauh jauh dari mas, nanti kamu bisa ilang. Mas gandeng ngga papa kan"


"Ih mas, malu tau. Kalau ada yang kenal kita apa yang mau kita katakan nanti"


"Selain istriku kau juga adik dan sahabatmu. Kau yang memintanya bukan. Ayo jalan"


Zahra mengangguk dan menatap Hanan yang berdiri di sampingnya. Lalu memandang tangan yang di gandengnya.


"Gini ya rasanya jalan sama cowo, baru pernah aku rasain aku sebahagia ini." gumamnya.


Zahra tersenyum sambil menunduk dan mungkin wajahnya sudah memerah sekarang. Hanan yang melihat Zahra tertunduk menghentikan langkahnya.


"Kamu sakit, kita makan dulu"


"Eh.. nggak mas, beli baju dulu aja"


"Muka kamu merah ada apa"


"Hah.. ahh.. nggak papa kok, ayo mas jalan"


Hanan menuntun Zahra di sebuah eskalator.


"Mas, ini gimana naiknya"


"Sini mas tuntun"


Zahra mengikuti langkah gerak Hanan dan sesampainya di puncak eskalator dia sedikit melompat.


"Nggak perlu lompat gitu, kamu gemesin banget si" ucapnya dengan senyum mengembang sambil mengusap kepalanya.


"Diem mas lah, aku yang tambah malu tau ishh"


"Yuk pilih baju dulu"


Zahra mengangguk dan menurutinya sambil melihat ke sekelilingnya.


"Mas ini bagus nggak" ucap Zahra sambil memegang salah satu baju.


"Bagus, ambil aja semau kamu"


"Nggak mas, beberapa aja nggak perlu berlebihan. Bantuin yuk mas"


Hanan mengangguk dan membantu Zahra memilih beberapa baju.

__ADS_1


//**//


__ADS_2