
Zahra mengompres Hanan dengan hati-hati.
"Ganteng juga kalau tidur... Hehehe... Eehhhhh... Nggak.. Nggak boleh.. Nyebelin gini di bilang ganteng... Gue tarik kata-kata tadi... Ni orang nggak bangun bangun lagi... Udah turun belum ya.. "
Zahra pun memegang kening Hanan dan membandingkan dengan kening nya. Membolak balikan tangannya untuk mengecek apakah benar-benar sudah turun dari demam nya.
Tiba-tiba Hanan membuka matanya, Zahra kaget dan langsung menurunkan kedua tangannya.
"Sudah mendingan pak"
"Kamu mengkhawatirkan saya"
"Ddiihh siapa bilang pak"
"Terus kenapa kamu mengompres saya? , kenapa kamu nggak nyuruh bi Sari?"
"Eehhhhh pak, Bi Sari juga butuh istirahat. Lagian bi Sari juga masih sibuk nyiapin makan malam. Jangan seenaknya nyuruh bi Sari dong, kasian dia"
"Bilang saja kamu khawatir"
"Nggak bapak guru yang menyebalkan...."
"Kenapa tadi kamu menghadang saya"
"I-itu saya tadi mau tanya sama bapak.. Eh.. Malah bapak pingsan. Bapak tuh berat tau, malah pingsan di depan saya"
"Kenapa kamu nggak ngebiarin saya jatuh"
"Kalau saya ngebiarin bapak jatuh, nanti kepala bapak bocor gimana? Kan tambah repot juga. Saya juga masih memiliki hati nurani pak, masa iya di biarin gitu aja"
"Itu namanya kamu khawatir"
"Nggak pak.. Biasa aja.. Nih ya pak.. Khawatir itu tuh sampe nangis nangis, terus pegang tangan.. Terus pegang pipi.. Kaya yang di film film tu"
"Kamu tadi pegang kening saya"
"Haisshhh pak, bapak nggak mau ngalah ya.. Itu saya lagi ngecek suhu badan bapak sudah normal atau belum, gitu"
"Oohh"
"Gue bilang panjang lebar cuma di jawab "oh" doang. Bener-bener nih guru satu nyebelin banget"
Hanan pun beranjak dari tempat tidur nya. Dan Zahra menghadangnya lagi.
"Eehhhhh, bapak mau kemana"
"Ke atas lah"
"Loh kok bapak tau ini kamar bawah"
"Saya yang punya rumah, tentu saja saya tau setiap inci dari rumah ini. Saya mau ke atas mau mandi"
"Nanti bapak pingsan lagi gimana"
"Ada kamu"
"Dih, saya nggak mau, kalau mau ke atas, sendiri saja. Saya mau bantu bi Sari"
Zahra keluar dengan langkah besarnya menutup pintu hingga mengeluarkan suara yang keras.
"Astagfirullah" ucap pak Hanan sambil menggelengkan kepalanya.
Tanpa pikir panjang Hanan pun menyingkirkan selimut dan menuju ke kamarnya.
__ADS_1
"Bi.. Saya bantu ya"
"Kenapa non, ada masalah? Tuan Hanan sudah bangun"
"Udah bi, bi kenapa si pak Hanan nyebelin banget"
"Nggak tau non, selama ini dia hanya diam kok non"
"Diam apanya bi, dia tuh debat mulu sama saya. Saya sampe bingung bi ngadepinnya"
"Sabar non sabar. Memang semenjak ada non, saya lihat Tuan sedikit berubah, namun entah dari kapan"
"Lahh udah bi jangan di bahas. Sini bi yang udah matang, saya bawa ke meja makan ya"
"Iya non"
*****
Setelah makan malam, mereka pun sholat isya bersama, namun kali ini tidak berdua, melainkan dengan Bi Sari. Pak Johan sudah di ajak, namun memilih untuk sholat di pos sendirian.
"Non, kok nggak di cium tangan suaminya"
"Harus ya bi"
"Harus lah, kan non istrinya"
"Iya bi iya"
"Pak Hanan" panggil Zahra.
Pak Hanan yang mengerti pun langsung memberikan tangannya dan bersalaman dengan Zahra. Setelah itu Zahra juga menyalami bi Sari. Zahra beranjak pergi, namun di cegah oleh bi Sari.
"Mau kemana non"
"Non duduk dulu saja, Tuan Hanan akan membacakan ayat suci Al-qur'an"
"Oohh, iya bi"
Zahra pun duduk kembali setelah melepaskan mukena nya, dan dia begitu kagum mendengar Hanan membaca al-qur'an dengan begitu fasih dan juga merdu.
"Lantunan ini, yang pernah aku dengar waktu di masjid. Ternyata pak Hanan, hebat juga. Pantas saja dia menjadi guru agama"
Sekitar 15 menit sudah Hanan pun menutup Al-qur'an nya dan melihat ke belakang, betapa terkejut nya saat melihat Zahra tidur di pangkuan Bi Sari.
"Bibi langsung ke bawah saja. Saya yang akan membawa Zahra ke kamarnya"
"Iya tuan."
Hanan membopong tubuh Zahra dan dengan cepat Bi Sari membukakan pintu kamar Hanan dan juga kamar Zahra tanpa melepas mukenanya. Bi Sari langsung ke bawah dan meninggalkan mereka berdua.
Hanan meletakkan tubuh Zahra dengan hati-hati. Menutup tubuh Zahra dengan selimut hingga di dadanya. Hanan mengelus kepala Zahra yang masih memakai kerudung.
Semenjak Zahra tinggal di rumah Hanan, dia selalu memakai kerudung tanpa melepaskan nya, kecuali saat dia mandi atau keramas. Namun dia tidak menunjukkan nya kepada orang lain, dia hanya melepaskan nya saat di kamarnya saja.
"Tidur yang nyenyak, murid kesayangan ku" ucapnya.
Hanan pun meninggalkan Zahra dan tak lupa mematikan lampu kamarnya saat keluar.
*****
"Loh.. Sejak kapan gue di sini. Kemarin malam.. Astaghfirullah.. Gue ketiduran waktu pak Hanan baca Al-qur'an. Mesti ini pak Hanan yang bawa tubuh gue saat nyawa gue berkeliaran kemana-mana ini. Eeiittt.. Tunggu, jam berapa sekarang"
Zahra mengambil ponselnya, dan dia membuka kedua matanya lebar saat waktu masih menunjukkan pukul 02.48.
__ADS_1
"Ya ampun, ini masih pagi banget. Bangun dulu deh, sholat tahajud dulu"
Setelah bermonolog dia bersiap dan mulai menggosok giginya juga mencuci mukanya. Setelah itu dia berwudhu dan memutuskan untuk membaca al-qur'an terlebih dahulu sebelum waktunya menunjukkan pukul jam 3 tepat. Setelah sholat Tahajud dia kembali membaca al-qur'an hingga subuh.
Kali ini Zahra mandi lebih pagi dan memutuskan untuk membantu bi Sari sedikit.
"Loh non udah bangun"
"Udah bi, saya bantu ya"
"Nggak usah non, nanti baju pramuka non kotor dan bau bumbu nanti"
"Tapi bi.. "
" Sebaiknya nona ke kamar Tuan saja non, cari tau dia sudah sembuh atau belum"
"Iya bi"
Zahra menurutinya dan sekaligus ingin meminta ijin yang tertunda tentang Fany yang akan menginap di rumahnya.
"Assalamualaikum pak Hanan"
Tidak ada balasan dan dengan segera dia membuka pintu kamarnya tanpa jawaban.
"Dimana dia"
Zahra celingak celinguk mencari Hanan.
"Sedang apa kamu di sini" ucap Hanan dari kamar mandinya yang sudah menggunakan kaos biasa dan celana pendek selututnya.
"Cari bapak lah, masa iya cari setan"
"Ada apa kamu mencari saya"
"Uuuhhh dingin banget."
"Butuh jaket, nanti saya belikan"
"Nggak bapak... Saya ke sini mau tanya, sudah mendingan belum"
"Khawatir ya"
"Nggak, cuma nanya."
"Sudah sembuh Alhamdulillah, terimakasih"
"Sama-sama."
"Kalau sudah selesai, sana keluar, saya mau ganti baju."
"Ishh bapak, saya belum selesai"
"Nanti kamu telat, turun dulu nanti saya menyusul"
"Nyebelin banget si"
"Oiya, bapak hari ini tidak akan masuk ke kelas. Saya nitip tugas buat Kelas 12 TBSM 2, kelas 11 PBS 1, dan kelas 10 MM 2."
"Lahh kok saya pak"
"Kan kamu berstatus adik saya di sekolah, ya wajar lah. Nanti saya berikan. Sekarang kamu keluar atau mau membantu saya berganti baju di sini"
"Dih ogah. "
__ADS_1
//**//