
Tujuan mereka bukan pulang sekarang. Hanan membelokan motor nya ke arah lain dan mereka memakan sate di pinggir jalan.
"Makasih mas, lama banget aku nggak makan sate"
"Mau nambah lagi"
"Nggak mas, udah kenyang. Pulang yuk"
"Yakin mau pulang"
"Eeeuuummm.... Terserah si"
"Ya udah kita pulang aja, lagipula kan kamu tadi siang nggak keburu istirahat"
"Iya udah aku nurut"
"Pengen lebih lama sebenarnya, tapi ya tak apa lah" batin.
Merekapun akhirnya pulang setelah seharian berkencan.
*****
Keesokan harinya...
Zahra terlambat bangun dan dia pun telat masuk sekolah. Apel juga sedang di laksanakan di lapangan hingga akhirnya dia di hukum bersama dengan teman-teman yang telat.
Entah ada keberuntungan apa, Fany juga terlambat dan akhirnya berdiri di samping Zahra.
"Lo terlambat"
"Kalau gue di sini, tentu aja terlambat dong."
"Kok bisa terlambat"
"Gue lelah kemarin jalan-jalan"
"Sama dong. Andai aja pasangan kita nggak ngelarang kita bareng, pasti kita udah doble date"
"Kalian berdua diam" ucap salah satu guru di belakang mereka.
Akhirnya mereka pun diam walaupun sesekali berbicara pada saat ada kesempatan. Butuh waktu 30 menit apel selesai, dan pada saat selesai, Zahra dan Fany mencoba untuk kabur, namun usaha mereka gagal karena para senior mencegah mereka.
"Semuanya, siap grak. Istirahat di tempat grak" ucap pak Chandra sebagai pengganti pembina PKS.
Semua siswa yang di hukum menurut dan mulai mengunci mulutnya rapat.
"Begini kalau tidak ada apel, kalian sengaja terlambat. Jika dibiarkan ini akan terus berlanjut. Beruntung sekolah ini melaksanakan apel setiap pagi, karena beberapa minggu terakhir tak apel jadi para guru mengkoordinasikan dengan OSIS, untuk mengadakan apel mendadak. Dan benar saja, banyak yang telat sekarang. Bapak tidak akan memberi kalian sedikit hukuman sekarang. Untuk para anggota PKS, tolong berikan hukuman untuk putra lari 50 putaran dan putri 30 putaran. Kalian paham"
"Siap, paham"
"Kalau begitu bapak permisi. Bapak percayakan kepada kalian"
Chandra pun pergi dari hadapan mereka dan bergabung dengan guru lain. Sementara para murid berdecak kesal karena sikap Chandra yang begitu tidak wajar bagi mereka.
"Pak Chandra kejam banget" ucap Fany di tengah larinya.
"Iya tuh orang ke sambet apa dah"
"Deketin lagi Ra"
"Isshh, jangan ngomong sembarangan lo. Lo aja sana. Gue hanya punya mas Hanan dan mas Hanan hanya milik gue, nggak ada yang lain"
"Lo yakin Ra, di posisi pak Hanan yang CEO itu nggak mungkin kan kalau nggak ada yang suka sama dia"
"Fan, jangan racunin otak gue sama pikiran negatif lo ya. Mas Hanan tuh kuat iman, insyaallah nggak ada lah. Kalau ada pun aku tampol orangnya nanti. Kalau nggak gue bawa raket nyamuk sekalian"
"Lo nggak takut"
__ADS_1
"Takut si nggak, cuma sedikit khawatir juga. Lah udah lah, jangan di pikirin. Mending cepetan nih di selesaiin, baru berapa coba"
"Mungkin sekitar 2 atau 3 putaran"
"Isshh, ya udah ayo cepetan"
Mereka pun melanjutkan lari, baru hingga sampai 15 putaran. Zahra ambruk dan memutuskan untuk duduk.
"Aduh Fan, perut gue sakit banget"
"Hah, jangan-jangan lo keguguran"
"Mulutnya dijaga dong" ucapnya sambil memukul pundak Fany.
"Aku juga nih, sengkil banget"
"Kalian berdua kenapa duduk, berdiri cepet nanti pak Chandra kesini kalian bakal di marahin lagi"
Mereka berdua terpaksa melanjutkan dan Zahra begitu tidak kuat hingga akhirnya dia pingsan. Bukan Chandra yang membawanya, melainkan pak Saeful yang sedang mengawasi hukuman mereka.
Dengan Zahra yang pingsan, akhirnya semua siswa di perbolehkan untuk ke ruang kelas masing-masing. Fany masih setia menunggu Zahra sambil berbaring di ranjang satunya dan mencuri kesempatan untuk tidur.
Sekitar satu jam mereka beristirahat dan Zahra pun terbangun. Dia mengerjapkan matanya dan mendapati pak Chandra di sana.
"Sudah bangun, ini makan dan minum obatnya. Ini juga berikan kepada temanmu jika sudah terbangun nanti."
"No again..."
"Bapak nggak perlu repot-repot pak. Saya udah mendingan kok. Tetapi saya minta lain kali jangan berlebihan pak hukumannya"
"Tergantung orangnya, kalau banyak, saya tambahkan kalau sedikit saya kurang kan. Bapak masih ada pelajaran. Bapak permisi assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Setelah Chandra keluar, dia pun menghampiri Fany yang tertidur pulasnya dan mengguncang tubuhnya.
"Apaan si Ra, kenapa lo di rumah gue"
"Sadar Fan Sadar... Lo masih pake seragam loh ini. Kita di sekolah bukan di rumah"
Fany pun bangun dari tidurnya dan melihat sekeliling.
"Loh kok bisa"
"Lo tidur, gue mesti pingsan, jadi otomatis tidur juga. Lo pusing nggak, obatnya makan tuh"
"Gue nggak pusing, cuma cape. Laper pula"
"Pak Chandra bawain makanan nih, makan yuk, nanti mubazir"
"Alhamdulillah rejeki, yuk"
Mereka berdua membuka bungkus nasi dan mulai memakannya. Zahra yang baru saja membuka mulutnya terperanjat kaget karena tiba-tiba tangannya di tarik dan memasukkan makanan itu ke dalam mulut Hanan.
"Mas Hanan, kenapa ke sini? Kok bisa tau? Mas nggak kerja?"
"Jangan di makan"
"Hah, mas Hanan kenapa si"
"Lah, gue jadi nyamuk"
"Bawa Alvero ke sini" ucap Hanan.
"Hah"
"Iya, bawa dia ke sini. Telfon-telfon"
__ADS_1
"I-iya pak"
"Astagfirullahal'azim, ni suami temen gue kenapa dah"
Fany menelepon Alvero di tengah jam pelajaran. Beruntung karena jam pelajarannya kosong dan Alvero menjawab nya dengan cepat.
"Isshh, mas kenapa si. Ada apa di makanan ini?"
"Nggak ada apa-apa. Kamu makan yang mas bawain aja. Ini bubur ayam. Mas juga bawa buat Fany."
"Lahh kalo saya makan itu, makanan ini di kemanain pak"
"Suruh Alvero yang makan. Dah kalian makan mas juga makan"
"Mas kesini di kasih tau sama siapa"
"Wali kelas kamu lah"
"Oohh"
"Assalamualaikum, eh.. Ada pak Hanan toh, kebetulan."
"Al, sini makan" ajak Hanan.
Alvero dengan segera duduk di samping Fany.
"Nih, kamu makan ini" ucap Fany sambil memberikan nasi bungkus yang hendak dimakannya tadi. P
"Makasih"
"Mas kenapa si, aneh banget. Takut makanan ini di guna-guna ya"
"Nggak juga, kamu kan habis larian karena telat juga kamu pingsan, masa iya makan yang berat. Biar nggak susah ngunyah kan lebih baik makan bubur"
"Terserah mas lah"
"Maafin mas juga, kamu telat gara-gara mas juga bangun kesiangan"
"Yang bangun kesiangan itu aku mas, seringan juga aku yang bangun duluan. Jadi, nggak papa lah"
"Fany bisa telat kenapa"
"Saya telat karena ban motor Alvero kempis"
"Jadi kalian berdua telat, kenapa Alvero nggak ikutan di UKS"
"Ntar kalau ikutan di kira ngapain, ya udah balik ke kelas aja, juga biar Fany nya istirahat. Fany telepon dan bilang pak Hanan di sini jadi saya ke sini. Kalau nanti guru tanya saya tinggal jawab di panggil pak Hanan, beres."
"Baiklah. Alvero antar Fany aja kalau Fany mau pulang. Zahra kamu pulang aja, takut kamu drop"
"Emang aku baterai mas, insyaallah aku kuat kok"
"Nggak usah di paksakan, mas ijin dulu sama wali kelas kamu. Fany kalau pulang silahkan, saya akan wakilkan juga"
"Nggak pak, saya akan ke kelas saja"
"Nggak lebih baik pulang istirahat di rumah. Yang di katakan pak Hanan bener. Jangan dipaksain kalau nggak kuat, malah nambah parah ntar. Yuk pulang"
"Iya deh, terimakasih pak Hanan"
"Sama-sama. Zahra, mas ke kantor sebentar ya. Selesaikan makanya dan mas akan ke sini lagi"
Hanan mengelus kepala Zahra. Zahra hanya mengangguk dan tersenyum kecil kepadanya. Hanan keluar dan diikuti dengan Fany dan Alvero. Kini tinggal Zahra seorang di UKS.
"Udah makan"
//**//
__ADS_1