
Setelah makan malam, seperti biasa, Hanan dan Zahra ke kamar mereka. Zahra terbengong di depan cermin sambil merapikan rambutnya.
"Ini adalah pertama kalinya aku meminta sesuatu kepada mas Hanan. Dia setuju atau tidak ya"
"Zahra, kenapa bengong"
"Eh, nggak mas. Udah malam yuk tidur"
Zahra berjalan ke kasurnya dan lalu membaringkan tubuhnya, begitu juga Hanan. Hanan mematikan lampunya dan mulai memejamkan matanya. Zahra sendiri masih ragu dan berfikir, namun apa salahnya mencoba, akhirnya dia membalikkan badannya dan menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Hanan. Jantung sudah tak terkontrol karena ragu.
"Mas Hanan"
"Hmm.. "
Zahra melihatnya lekat. Hanan pun membuka matanya.
"Ada apa"
"Mas..."
"Kenapa? Ada apa?"
"Mas"
"Iya kenapa mas di sini"
"Maaassss"
Hanan pun memeluknya.
"Kenapa hm"
"Iiisshhh"
Zahra mendorong tubuh Hanan untuk sedikit memberinya jarak.
"Lahh tadi manggil"
"Aku boleh minta sesuatu nggak"
"Kenapa tanya, katakan saja"
"Kita panggil pembantu lagi, kasian bi Fitri ngurusin rumah gede ini sendirian. Aku tadi siang juga bantuin dia. Rasanya capek banget mas"
"Mau berapa"
"Ya terserah mas, yang penting ada yang buat ngebantuin"
"Nanti mas minta bantuan mama. Mama yang paling ngerti soal pembantu"
"Jangan mama mas, kasian. Mas aja yang cari"
"Cari di mana"
"Orang desa kan banyak"
"Kamu aja yang cari"
"Kan aku lagi minta ke mas"
"Iya, insyaallah besok mas cari"
"Terimakasih mas"
__ADS_1
" Sama-sama, nahhh.. Sering-sering minta ya, mas seneng jadinya.. "
"Alasannya"
"Mas berasa menjadi orang yang di butuhkan di dalam hidup kamu dan menjadi orang untuk melengkapi hidup kamu"
"Iya mas, ya udah, tidur, besok mas harus kerja, aku juga harus sekolah"
"Iya cup.... , selamat malam"
"Malam"
Malam yang panjang begitu cepat berlalu rasanya. Zahra kini terbangun dengan langkah malasnya ke kamar mandi. Setelah itu dia pun ke ruang ganti untuk memakai baju seragam nya.
"Mas, aku lagi males koh, aku nggak berangkat ya"
"Ya jangan begitu, buang rasa malas itu, kamu harus semangat tanpa mas. Mas juga tetep semangat walaupun nggak ada kamu, cukup simpan di hati kamu saja, hmm"
"Iya, ya udah turun yuk mas sarapan"
Mereka berdua pun turun dari kamar dan sarapan. Setelah sarapan mereka ke tujuan mereka masing-masing.
*****
Hari-harinya sungguh hampa, tak ada Hanan yang selalu mengawasinya. Hari-hari nya terus berlanjut dan hubungan mereka semakin melenggang dan tak ada waktu satu sama lain.
Hari berlanjut bagaikan hanya terlihat 1 detik. Setiap malam Zahra hanya memandangnya sebentar dan terpisah lagi karena sebuah pekerjaan. Tak ada waktu luang dan sungguh, kini dia merasa bahwa dia merindukan nya.
Kini Zahra tengah duduk di taman belakang rumahnya. Satu minggu berlalu dan hari-harinya masih sama. Belum ada guru baru di sekolah yang menggantikan Hanan.
"Huh, aku rindu mas Hanan"
"Non Zahra, makan siang sudah siap" ucap bi Narti, pembantu baru Zahra.
"Iya bi, bi tolong di bungkusin ya bi, aku ingin makan di kantornya mas Hanan"
"Bukan begitu bi"
"Nggak usah malu non, patut saja rindu kan suami jarang di rumah, di hari libur pun terkadang sibuk. Tapi begitu lah non, namanya juga istri seorang pengusaha pasti jarang di perhatiin. Saya ke dapur sebentar ya non bersiap menyiapkan makanan non sama tuan"
"Iya bi, saya akan ke atas dulu"
Zahra ke atas berganti baju. Sambil memesan sebuah taksi. Setelah dia siap, dia pun turun.
"Ini non makan siang nya"
"Terimakasih bi, saya pergi dulu. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam, hati-hati non"
Dia masuk ke dalam taksi yang dia pesan. Butuh waktu satu jam untuk sampai karena jalanan yang begitu macet membuat perjalanannya lama. Setelah itu dia pun keluar dan mulai memasuki kantor Hanan.
"Huh.. Bismillah..."
Dia pun masuk, namun di cegah oleh karyawan. Karyawan itu kemudian menelepon Hanan dan mengizinkannya masuk ke ruangannya. Dia menggunakan lift yang biasa di gunakan karyawan dan memencet lantai 75 keberadaan ruangan Hanan.
Begitu dia sampai, dia langsung masuk ke ruangan Hanan. Begitu terkejut nya saat Zahra sampai di ruangannya. Dia langsung meninggalkan pekerjaannya dan memeluknya. Perasaan yang di tunggu Zahra, akhirnya tercapai hari ini. Mereka berdua pun duduk di sofa.
"Mas udah makan"
"Kebetulan belum"
"Aku bawain makan siang nih, yuk mas makan"
__ADS_1
Hanan yang membuka rantang tersebut. Hanya ada satu wadah yang berisi nasi dan kedua wadah di isi lauk pauk.
"Ini cuma ada satu wadah, kamu nggak makan"
"Memang nya makan bareng mas nggak bisa"
"Ya sudah, mas paham."
Hanan menuangkan lauk pauk di dalam wadah nasinya, kemudian menyuapi Zahra. Zahra tak menerima nya, dia membelokkan tangan Hanan ke dirinya.
"Mas dulu yang makan, aku setelah mas"
Hanan mengangguk, kemudian mengambil lagi untuk Zahra. Zahra tak menolak dan menerimanya. Zahra merebut sendok Hanan dan mengunyahnya dengan cepat dan memasukkan makanannya sendiri ke mulutnya. Hanan hanya tersenyum dan Zahra mulai menyendokkan lagi lalu menyuapinya kepada Hanan.
Ketukan pintu membuat mereka mengalihkan pandangan dan Hanan pun menyuruh nya masuk setelah dia meminum air.
"Assalamualaikum, oohh.. Ada nona Zahra ya, ini hari libur kenapa ke sini non"
"Memangnya tak boleh ke perusahaan suaminya sendiri"
"Bercanda nona, ini Nan berkas, biasa ya. Maap ganggu makan siang kalian"
"Iya, terimakasih"
"Sama-sama"
Hanan dan Zahra kembali melanjutkan makan siang. Hanan yang mengambil alih sendok dan menyuapkannya kepada Zahra. Zahra terus melihatnya tanpa mengalihkannya ke samping ataupun ke bawah. Hanan jahil dan menggerakkan bedanya ke kanan atas dan ke kiri bahkan ke bawah. Zahra menepuk bahu Hanan, sedangkan Hanan hanya tertawa.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu"
"Aku rindu mas"
"Mas juga rindu Zahra di setiap detik. Bagaimana rindu berat bukan"
"Iya mas berat banget kaya yang di katakan Dillan. Aku nggak kuat mas, sungguh. Rindu membuat ku lelah"
"Tapi mas merindukan kamu justru membuat mas semangat dan menginginkan pulang lebih cepat sehingga beban mas mudah untuk di tangani karena merindukan kamu"
"Ahhhh.... Cukup rindu nya, iissshhhh..."
Zahra pun akhirnya merebut sendok dan menyendokan makanan ke mulutnya.
"Mas, aku boleh minta sesuatu"
"Boleh saja"
"Mas besok libur ya"
"Baiklah mas akan libur besok"
"Semudah itu?"
"Memangnya kenapa, apapun mas lakukan buat kamu"
"Atau mas besok memang libur ya"
"Nggak, mas nggak libur, tapi karena kamu yang minta mas akan libur"
"Baiklah, setelah mas makan aku ijin pulang ya"
"Kamu udah terlanjur di sini, pulang nanti sore saja bareng mas, katanya rindu"
"Iissshhhh .... Mas nih.."
__ADS_1
"Hahahaha...."
//**//