Murid Kesayangan Guru Agama

Murid Kesayangan Guru Agama
Kejutan


__ADS_3

Bukan Chandra dan bukan Hanan yang menanyainya. Melainkan pak Saeful sendiri yang datang menanyainya.


"Sudah pak"


"Syukurlah, tadi pak Hanan udah di sini. Apa dia juga sudah ke sini"


"Sudah pak"


"Ya udah, bapak tinggal ke bengkel. Cepat sembuh"


"Iya pak"


Setelah pak Saeful pergi, dia pun merapikan tempat tidur yang dia tempati dan juga tempat tidur yang belum sempat Fany rapikan.


"Ayo Ra, pulang"


"Tapi"


"Udah ayo pulang"


"Baiklah"


"Mas Hanan liat kah?"


Mereka pun pulang, namun hanya ada hening di antara mereka berdua.


"Mas kok murung"


"Nggak murung kok"


"Mas setelah ini ke kantor"


"Iya, kamu juga mas bawa ke kantor sekalian biar di rumah nggak nunggu"


"Oiya mas, kalau boleh setiap pulang sekolah ikut mas ke kantor boleh"


"Boleh, tapi ganti baju dulu di rumah"


"Iya lah, masa ke kantor mas pake baju seragam"


"Boleh saja, mas nanti siapin baju juga di kantor"


"Nggak mau lah, terlalu ramai"


"Terserah kamu saja"


Zahra akhirnya bernafas lega karena Hanan tak marah kepadanya.


*****


Mereka sampai di kantor Hanan dan para karyawan sudah tak kaget lagi dengan kedatangan Zahra. Mereka bergandengan santai dan menyapa para karyawan.


"Mas, para karyawan di sini ada yang goda mas nggak"


"Kenapa kamu tanya begitu"


"Mas kan CEO, pasti banyak yang naksir."


"Kamu cemburu?"


"Ya cemburu lah mas, masa ada yang deketin suami sendiri nggak cemburu"


"Kamu tenang aja, nggak ada kok"


"Alhamdulillah kalau gitu, lumayan lega"


"Bener kan pak Saeful suka kamu"


"Sepertinya, tapi aku akan menjauhinya sejauh mungkin"


"Mas mulai kerja ya"


"Iya mas"


"Kamu istirahat aja, kamu masih pucat."


"Iya mas"


"Cup"


Hanan mencium kening Zahra dan tak lupa mengusap kepalanya.


"Dah, sana"


Zahra tersenyum dan menuju ke kamar rahasia Hanan. Di waktu makan siang, Hanan membangunkan Zahra dan mengajaknya makan siang.


"Mas, aku ajarin kerjaan mas"


"Kamu perempuan, mana bisa"


"Mas, inget ya, aku juga pengen jadi sekretaris, tolonglah ajari aku sekarang"


"Kamu tuh sebaiknya belajar buat film animasi, tentang percetakan dan pengeditan foto, tata cahaya, perfilman, membuat poster, banner dan lain-lain. Kalau masalah beginian nanti aja waktu kerja kan di ajarin"


"Lebih baik di pelajari sejak dini bukan?"

__ADS_1


"Iya, tapi kan kamu juga masih tahap belajar, makanya pelan-pelan. Kalau kamu belajar ini, pelajaran kelas kamu juga nanti akan terabaikan. Lebih baik belajar pelajaran mu dulu"


"Aku minta guru pribadi"


"Boleh, akan mas carikan nanti"


"Jangan cari. Di sini kan ada mas yang pinter banget"


"Amiiinnn, boleh deh, nanti malam ya"


"Iya mas. Eh mas, soal perusahaan DE gimana"


"Alhamdulillah sudah tertangkap"


"Siapa dia"


"Orang tua Rena"


"Astagfirullahal'azim, bagaimana mungkin"


"Sebenarnya, ayahnya yang telah membuat perusahaan DE bangkrut karena kelicikannya. Tapi, kamu jangan pernah membully dia. Oke"


"Buat apa aku membully nya mas, itu tidak berguna. Walaupun aku pernah dalam posisi itu, tapi sakit rasanya. Membully pun rasanya tak sanggup aku lakukan."


"Kamu adalah yang terbaik"


Kini, mereka berdua tak perlu khawatir satu sama lain. Mereka terpisah disaat Zahra sekolah dan bertemu kembali setelahnya. Tawa mereka semakin merekah di setiap waktu.


Keesokan harinya, Zahra berpapasan dengan Rena dan Rena hanya menunduk. Rena hendak pergi namun Zahra mencegah tangannya.


"Kenapa?"


"Bukan apa-apa"


"Aku tau, kamu takut kalau aku akan membully kamu dan memberitahukan semua yang terjadi kepada seluruh isi sekolah bukan"


Rena melepaskan tangannya dengan kasar dan menatapnya dengan berkaca-kaca.


"Kau tak perlu lakukan itu. Semua orang di sini juga sudah tau apa yang di lakukan ayahku. Dan aku yakin mereka akan merundungku setiap hari. Puas kamu.."


"Tunggu dulu Ren"


Zahra meraih tangannya lagi dan di hempaskan kembali oleh Fany.


"Apa lagi Hah"


"Pasti kau sudah tau bukan rasanya di rundung itu seperti apa. Sakit bukan? Itulah yang aku rasakan pula Ren."


"Benar, kamu menang sekarang dan aku... Aku hanyalah anak dari seorang korupsi. Aku kalah telak. Sekarang tak ada lagi yang mau mendekatiku, itu pasti"


"Aku mau berteman denganmu. Kebanyakan orang bilang, berteman dengan musuh sendiri adalah sebuah jebakan bagi diri sendiri. Namun, dengan apa yang aku lalui selama ini, aku tidak ingin hal itu terjadi kepada setiap orang. Aku juga tak suka menaruh dendam kepada siapapun. Jadi, bisa kah kita berteman"


"Kau mau kemana"


"Aku tidak akan tinggal di sini lagi untuk sementara waktu. Aku dan ibuku akan pindah ke luar kota. Aku sedang terburu-buru, jadi maafkan aku"


"Tunggu dulu Ren"


Rena pun membalikkan badannya. Zahra memeluknya dan mengelus punggungnya.


"Jaga dirimu baik-baik."


Rena mengangguk dan tersenyum kecil. Rena berlari ke arah ruang guru, namun bukan ruang guru yang ia datangi, melainkan ke kamar mandi untuk mengurung diri sejenak.


"Sebaik itukah dia. Aku sangat kejam kepadanya. Sungguh memalukan diri ini. Mengapa bisa aku memperlakukan diriku sendiri kepada orang sebaik dia. Memang orang baik selalu dikatakan lemah, namun tidak membuat mereka goyah akan sebuah kebahagiaan. Tak selamanya orang yang lemah itu selalu lemah, pasti mereka selalu menguatkan diri untuk kuat. Jadi, aku juga harus bisa menghadapi ini"


Rumor tentang Rena pindah pun tersebar di seluruh penjuru sekolah. Dan kini Zahra hanya bisa memandang bangku kosong yang tak jauh dari dirinya.


"Benar ya, Rena pindah"


"Begitu lah"


"Itulah yang akan dia dapatkan ketika dia merendahkan seseorang"


"Sudah Fan, kita lupakan saja. Tidak perlu mencampuri urusan orang lain. Lebih baik kita memikirkan masa depan kita sekarang"


"Benar, apa gunanya"


Zahra hanya bisa beristigfar di dalam hatinya. Dia kini juga sudah lebih tegar dari biasanya.


*****


Tak terasa, kini Zahra sudah menjalani ujian. 2 tahun dia lalui di sekolah dengan pengalaman yang lebih berbeda dari teman-temannya. Pengalaman menjadi siswa dan menjadi istri. Seolah-olah dia bekerja dalam satu waktu yang sama. Sungguh melelahkan memang, namun itulah yang ia jalani sekarang.


Dia sedang menunggu Hanan yang sedang mengambilkan hasil ujian untuk nya. Dia merasa gugup walaupun di waktu sebelumnya dia bisa meraih peringkat pertama di semester kedua dan hingga terakhir. Walaupun begitu, tetap saja dia gugup.


Tak lama, orang yang ia tunggu pun keluar dan memberikan hasil ujiannya.


"Lulus dan.."


"Dan?"


"Yang tertinggi, selamat sayangku... Emm, maksud mas adik kesayanganku"


"Terimakasih banyak, ini juga bantuan mas aku bisa meraih peringkat ini"

__ADS_1


"Ini juga kerja keras mu."


"Uwwaaawwww... Selamat Zahra, kamu naik besar dan menandingiku sekarang. Pasti karena pak Hanan yang menjadi guru pribadimu"


"Bukan hanya guru pribadi. Dia adalah guru kesayanganku"


"Dan dia adalah murid kesayangan ku, selamanya"


Hanan mengusap kepala Zahra dan tersenyum. Hanan juga tersenyum kepadanya.


"Malam ini traktir dong"


"Tidak malam ini, mungkin besok. Saya sudah menyiapkan sesuatu untuknya"


"Baiklah, kami akan tunggu kabar besok. Dan bersenang-senanglah nanti malam"


"Memangnya ada apa pak nanti malam"


"Ada deh"


Selepas mereka pulang dari sekolah mereka langsung jalan-jalan. Pertama yang mereka datangi adalah sawah Zahra yang Hanan rawat dengan baik. Setelahnya, mereka jalan-jalan mengelilingi kota yang besar. Dan kebetulan ada pasar malam.


Mereka akhirnya masuk dan menaiki beberapa wahana, bahkan wahana komedi putar pun mereka naiki. Setelahnya mereka pun pulang. Tiba-tiba, di tengah keasikan mereka. Ada yang menelepon Hanan dan menyuruhnya untuk pulang.


Hanan mengajak Zahra pulang, namun dengan satu syarat dia harus menutup matanya dengan kain. Zahra pun menurutinya. Sepanjang perjalanan, jantung nya berdegup kencang dan tak melepaskan gandengan tangannya pada Hanan. Hanan yang melihatnya hanya tersenyum.


Mereka pun sampai di rumah. Hanan melepaskan penutup mata Zahra dan betapa terkejutnya saat rumahnya sudah di tata dengan rapi dan cantik serta dengan dekorasi yang indah.


"KEJUTANNNN"


Sebuah balon yang ada di atasnya di letuskan dan membuat kelopak bunga yang ada di dalamnya jatuh menimpa Hanan dan Zahra. Semua orang yang melihatnya langsung bertepuk tangan.


"Selamat sayang"


Mama Hana memberikan buket bunga dan memeluknya dengan erat. Papa Nanda juga memeluknya.


"Kamu telah berusaha dengan baik. Selamat..."


"Iya, mah pah, terimakasih. Ini semua kalian yang buat"


"Tentu saja"


"Zahraaaaaaa....."


Zahra mencari orang yang berteriak dan ternyata adalah teman-temannya yang juga datang pada malam tersebut.


"Selamat Zahra" ucap satu persatu temannya dan memeluknya secara bergantian.


"Terimakasih"


"Kalau ini sih, kita namanya duluan perpisahan. Udah gitu mewah lagi di adain malam-malam." ucap Fany.


"Kalau itu mau kalian, baiklah, papa yang akan jadi sponsor dan memberikan dekorasi gratis untuk sekolah kalian. Besok papa akan ke sekolah kamu dan memberi ijin kepada guru kamu"


"Papa nggak perlu berlebihan, ini aja udah cukup loh pa"


"Tidak apa, kamu nggak usah khawatir"


"Iya pa, terimakasih banyak"


Kini Zahra tak bisa lagi menahan air matanya dan menangis. Hanan yang melihatnya langsung memeluknya.


"Aku ingin peluk papa" bisiknya di telinga Hanan.


Hanan pun memegang pundaknya dan menghapus air matanya.


"Dia ingin memeluk papa, jadi, peluklah"


Papa Nanda melebarkan kedua tangannya dan Zahra langsung menghamburkan dirinya ke pelukannya. Tangisnya pecah. Entah kenapa tiba-tiba dia rindu kepada almarhum kedua orang tuanya sehingga membuatnya menangis.


Setelah memeluk papa Nanda, dia juga memeluk mama Hana. Seketika sekejap kedua mertuanya seakan bayangan almarhum dari kedua orang tuanya.


"Sudah nak, kamu harus ganti baju. Atau kamu ingin pesta dengan baju ini"


"Aku tidak memiliki baju pesta"


"Mama udah nyiapin. Ayo ikut mama"


Zahra mengangguk dan mengikutinya. Setelah Zahra siap, Zahra pun keluar dan memakai dress berwarna mocca dengan motif bunga. Hanan juga memakai pakaian yang senada dengannya.


Di tengah mereka berpesta, mereka kedatangan tamu para guru Zahra. Mereka pun menyambutnya. Yang lebih mengejutkan lagi pak Saeful mendatangi Zahra dan memberikan buket bunga kepadanya. Semua para guru tersenyum, waktu yang pak Saeful tunggu akhirnya datang.


"Zahra, maaf jika ini mendadak, namun aku tak bisa memendam perasaan ini lagi. Aku juga tidak bisa tinggal diam, walaupun aku tau ini sangat mendadak dan di depan semua orang, maukah kau menemani hidup ku"


Hanan sebenarnya tak tahan, namun dengan aba-aba Zahra, Hanan tetap tenang dan menuruti keinginannya. Zahra tersenyum kecil, lalu dia pun menarik Hanan yang tidak jauh dari tempatnya.


"Mas, di pakai kan"


"Apa"


Zahra mengangkat tangan kananya, Hanan yang mengerti juga mengangkat tangan kanannya. Zahra menatap Hanan dan tersenyum kepadanya.


"Maaf pak, saya sudah memiliki masa depan sekarang. Dan dia adalah guru agama ku sendiri, Pak Hanan. Dan aku adalah murid kesayangannya"


"Murid Kesayangan Hanan selamanya" lanjut Hanan.

__ADS_1


*Bersambung


//**//


__ADS_2