
Mereka pun meletakkan kado tersebut ke dalam kamarnya. Dan menyusunya dengan rapi.
"Mas, tadi kenapa kita nggak tanya soal penyakit nya dia"
"Kita nggak boleh mencampuri urusan orang lain, apalagi itu dengan penyakit nya. Mas sengaja nggak tanya karena kita harus menghormati orang yang di tinggalkan. Jika kita bertanya, sama aja membuat orang itu lemah. Lagipula kita juga nggak boleh mencampuri urusan orang lain, jadi biarlah Leon di akhirat dengan tenang"
"Iya mas."
Zahra memalingkan wajah nya dan mengusap air mata yang hampir terjatuh.
"Zahra kamu kenapa"
"Aku kelilipen mas"
"Jangan di kucek matanya. Sini mas tiupin"
Hanan meniup mata Zahra yang baik-baik saja. Zahra pun menghalangi nya dengan tangannya.
"Udah nggak mas. Sekarang kita cari hadiah yang terakhir. Tapi bagaimana kita bisa menemukannya"
"Lihat kado ini baik-baik. Di sini ada nomor satu, kotak yang tadi kita buka pertama pun belum selesai di buka semua. Ini ada kotak lagi, coba ayo kita buka dulu. Kalau yang terakhir pasti nomor yang paling besar"
"Iya mas"
Hanan dan Zahra membuka kotaknya terdapat boneka kecil dan robot di dalamnya. Zahra mengambil surat yang ada di dalamnya lalu membacanya.
...Ini untuk putri kecil kalian nanti, kalau yang ini untuk putra kalian. Aku tak tau mana yang akan lahir duluan kelak jadi aku membeli keduanya. Semoga mereka suka....
"Lucunya"
"Sekarang kita cari kado yang terakhir"
Hanan dan Zahra mencari kado terakhir dan mereka menemukannya di salah satu paper bag berukuran sedang berwarna kuning keemasan.
"Ini mas, nomor paling besar, 15"
"Coba buka"
Zahra mengambil isi di dalam paper bag tersebut. Isinya adalah sebuah kotak berisi buku harian. Di depannya terdapat sepucuk surat bertuliskan "Tolong di baca ya". Zahra pun duduk di ranjangnya. Hanan pun duduk di sampingnya. Zahra mulai membukanya dan membacanya.
_______________
24 September....
Ini adalah pertama kalinya aku menulis di buku ini. Ini adalah pertama kalinya aku mencurahkan isi hatiku kepada buku ini. Pertama kalinya juga aku merasakan jatuh cinta pada saat yang bersamaan.
Mungkin, aku memang lelaki sedikit norak yang menulis buku harian seperti ini, namun mungkin suatu saat dengan buku inilah aku bisa mencurahkan isi hatiku kepada seseorang.
Sekarang memang aku kelas 12, namun terkadang aku ragu, apa yang harus aku lakukan setelahnya sedangkan kondisi fisikku tak membantuku untuk melakukan sebuah pekerjaan yang berat.
Yang lebih menyebalkan lagi adalah seseorang sedang mengejarku. Kenapa dia mengejar ku, menyebalkan sekali. Aku paling tidak suka seseorang mengejarku, apalagi dia anak sok cantik dan adik kelas pula. Intinya dia adalah anak menyebalkan di sekolah, itu saja, sisanya akan ku ceritakan besok.
___________
6 Oktober ...
Di rumah sakit kembali dan sungguh membosankan. Penyakit yang di derita ku, apakah begitu langka? Sampai aku harus bolak balik ke rumah sakit tanpa henti. Sungguh mengerikan hidupku.
Kenapa penyakit itu menyerangku? Kenapa dia tak mencabut saja nyawaku jika hidupku di dunia hanya sebagai beban? Kenapa Engkau mendatangkan penyakit Liver kepada ku? Kenapa aku harus hidup jika aku hanya sebentar di dunia?
Namun apa gunanya mengeluh sekarang. Aku hanya bisa pasrah apapun yang terjadi. Jika aku di panggil secara tiba-tiba pun aku sudah siap.
Ya Allah, tolong bantulah hamba juga, agar bisa melewati ini. Kedepannya bantulah aku agar bisa membantu orang lain.
___________
20 Oktober ...
Zahra....
Nama itu sekarang menghilang, aku tidak suka dia mengejarku, namun entah mengapa, aku rindu dia, apakah aku mungkin menyukainya. Tidak mungkin, jangan dulu, dari tingkahnya sekarang dia sepertinya sedang dekat dengan orang lain karena mulai menjauhiku.
Namun aku harus segera mencari tau apakah dia sudah ada yang memiliki atau belum. Aku harap, aku bisa membalas rasa sukanya sebelum terlambat.
___________
25 Oktober ....
Di pagi ini aku melihat sosok yang lebih bersinar dari sebelumnya. Aku tak menyangka dia akan berubah secepat itu. Tapi, apakah benar yang aku lihat hari ini adalah Zahra? Tapi, bagaimana mungkin dia berubah secepat itu. Apakah karena aku terlalu lama di rumah sakit sehingga aku tak melihatnya berubah? Atau apakah sudah ada pengisi di dalam dirinya sehingga dia lebih baik sekarang. Jika benar siapa dia? Dan apakah dia tulus mencintai nya? Aku penasaran dan akan mencari tau secepatnya.
___________
30 Oktober...
Aku sangat terkejut hari ini, ternyata aku memiliki seorang saudara kandung. Saudara kandung yang begitu jahat. Aku tak menyangka ini bisa terjadi.
Bukan hanya kakakku, orang tuaku pun juga begitu. Tega membuang anaknya sendiri yang sehat. Sungguh keterlaluan orangtuaku. Mereka tak patut di sebut orang tua.
Dan kini, nyawa orang dalam bahaya. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan, tetapi aku akan meminta maaf soal ini kepada Zahra suatu saat nanti.
__________
24 November...
Hari ini aku bertemu dengan Zahra, sikapnya begitu berbeda dengan yang dulu. Dia sudah memiliki imam yang dipilihkan orang tuanya. Apakah dia dijodohkan? Namun dengan siapa? Apakah dia baik? Ku harap, pilihan orang tuanya adalah orang yang tepat dan selalu menjaga nya. Jadi selama ini aku benar, bahwa dia berubah karena seseorang.
Baiklah, mungkin sekarang aku menyadari bahwa aku jatuh cinta kepadanya. Namun, aku terlambat menyadari ini.
Ternyata sakit ya, jika cinta bertepuk sebelah tangan. Sakit juga jika aku mencintainya dan dia lebih mengharapkan orang lain. Tapi, sudahlah aku akan terus mencari tau siapa yang sudah menempati posisi di hatinya.
_____________
18 Desember....
Tak ku sangka, ternyata orang yang dekat dengan Zahra selama ini adalah pak Hanan, dan tak ku sangka dia sudah resmi menjadi suaminya. Sungguh itu membuatku sakit.
__ADS_1
Aku sempat berfikir untuk merebutnya, namun pak Hanan adalah orang yang paling tepat untuk menemani Zahra. Sedangkan aku sendiri adalah orang yang tak berdaya.
Aku hanya berharap semoga mereka bahagia. Aku hanya bisa berharap mereka akan bahagia selamanya. Aku hanya bisa mendukung mereka dari kejauhan.
_____________________
15 Januari..
Mungkin waktu ku sudah tak lama lagi di dunia ini. Jika waktunya itu tiba, aku ingin mengatakan sesuatu hal kepada seseorang. Dan ketika aku berfikir, inilah cara yang dapat aku lakukan.
Aku tak tau apakah kamu sedang membacanya dengan suamimu atau tidak. Tetapi bukankah kamu sudah membaca semua tulisan ku sebelumnya Zahra.
Sebelumnya aku mau minta maaf kepada suamimu jika dia juga ikut membaca ini. Tapi yang ku harap dia tidak marah denganmu. Aku ingin menyampaikan bahwa aku mencintaimu..
Sangat... Sangat... Mencintaimu.
Memang aku tidak berhak mengatakan ini kepadamu apalagi di depan suamimu. Namun, kau adalah orang yang pernah mendekati hatiku.
Aku sangat minta maaf telah mengatakan itu. Aku juga minta maaf karena telah memata-matai kalian. Namun akhirnya aku tau siapa yang menjaga mu Zahra. Aku lega sekarang dan aku sudah dapat pergi dengan tenang jika suatu saat Allah swt memanggilku.
Aku juga minta maaf atas nama kakakku kepadamu dan suamimu. Sekarang dia sedang menjalani hukumannya dan pasti kalian sudah tau itu. Tapi aku juga harus meminta maaf kepada kalian.
Aku sebenarnya juga sudah mulai memesan sebuah hadiah kepada kalian mulai pada tangga yang tertera sebelumnya. Aku harap kalian akan menjaganya.
Sebelum kalian membaca buku ini pasti kalian sudah membuka kado yang pertama pastinya. Bagaimana? Cocok? Semoga itu cocok. Hadiah yang lainnya pasti juga sedikit norak... Maafkan aku, karena belum tau yang namanya pernikahan jadi aku membeli apa yang kalian butuhkan suatu saat dan semoga itu bermanfaat.
Dan kalian tenang saja. Aku memberi hadiah ini dengan ikhlas. Walaupun kalian tidak begitu dekat dengan ku, tetapi aku juga pernah hadir di kehidupan kalian. Aku tau, kalian tidak begitu akrab dengan ku, dan sebagai permintaan maafku, aku hanya memberikan ini agar kalian memaafkan semua kesalahan ku.
Kalian jangan khawatir, aku juga belum memberi tahu kepada orangtuaku kalau kalian sudah menikah, namun mereka perlahan pasti bisa mengetahuinya suatu saat. Aku sudah meminta izin juga kepada orang tuaku untuk membeli semua hadiah ini untuk pernikahan temanku.
Mungkin cukup sampai di sini surat ku.Kalian bahagia selalu. Aku mendoakan kalian dari jauh. Selamat tinggal :-)
_____________
Zahra pun meletakkan kepalanya di pundak Hanan. Hanan merangkulnya dan mengelus bahunya.
"Kenapa jadi aku yang merasa bersalah ya mas"
"Kenapa, apa kamu masih suka sama dia"
Tiba-tiba Zahra kesal dan memukul bahu Hanan.
"Tadi juga kak Leon udah bilang jangan salah paham dulu, Isshh..."
"Bagaimana suami nggak cemburu kalau ada orang lain nulis itu"
"Kok mas cemburu amat si jadinya"
"Ya bagaimana mas rela kalau..."
"Cup"
Kali ini bukan kening, bukan pipi atau apapun. Namun dia menciumnya atas di bagian tengah antara hidung dan dagu, pasti kalian paham itu..
Hanan terdiam seketika, sementara itu Zahra kabur ke dalam kamar mandi dan menguncinya dengan rapat.
Sementara Hanan memegang bagian yang tadi di kecup Zahra. Tak bisa berkata dan berfikir dengan jernih sekarang. Hanan akhirnya memutuskan untuk tidur dan tidak menyadari bahwa Zahra masih di kamar mandi.
Zahra di kamar mandi hanya terkantuk kantuk sambil duduk di kloset.
"Isshh, mas Hanan udah tidur belum ya"
Akhirnya dia pun mengindap keluar dengan pelan lalu menuju ke ruang ganti untuk mengganti bajunya. Setelahnya dia memutuskan untuk tidur di sofa.
Tak lama Hanan menghampiri nya dan mengangkatnya ke tempat tidur lalu mendekatinya, Zahra terbangun kemudian berteriak.
"Aaaaaaaaaaaaaaa............"
"Zahhrraaaa... Kamu kenapa, sadarlah... Kenapa berteriak di kamar mandi"
"Kamar mandi?"
Zahra melihat ke sekelilingnya dan ternyata benar dia di kamar mandi. Zahra reflek mendorong tubuh Hanan dan masuk ke ruang ganti.
"Astagfirullah, kenapa aku bisa tertidur di sana."
Zahra pun keluar setelah mengganti bajunya. Dan tidur membelakangi Hanan yang sedang memainkan ponselnya.
"Apakah kau akan tidur secepatnya itu"
"Besok aku sekolah, memangnya kenapa"
"Kita nggak buka bungkus kado itu dulu"
"Lain kali, aku lelah"
"Ya sudah, selamat malam."
Hanan mengelus kepalanya dan tak lupa mengecupnya. Hanan juga memeluknya dari belakang.
"Lepas mas, tangan mas berat"
"Terimakasih"
"Untuk?"
"Lupakan, besok kamu sekolah"
Bukannya tidur, tetapi jantung Zahra yang tidak bisa dikontrol membuat nya sulit untuk tertidur. Semalaman keringat dingin membasahi tubuhnya karena grogi dengan perlakuan Hanan. Dia mencoba memindahkan tangan Hanan, namun tetap tidak berhasil lalu dia menghempaskannya secara paksa dan membatasinya dengan bantal guling.
"Kalau begini terus, bagaimana aku bisa tidur"
*****
Semalaman Zahra tak tertidur dan membuatnya mengantuk di sekolah.
__ADS_1
"Ra, lo kenapa"
"Jangan ganggu gue, gue mau tidur, semalaman gue nggak tidur"
Fany kaget dan langsung menariknya dan membawanya ke kamar mandi.
"Hei, lo kenapa bawa gue ke sini"
"Haaahhh... Semalem lo ngapain nggak tidur. Lo nggak bakal lakuin hal itu di saat masih sekolah gini kan. Gue tau lo udah jadi istri tapi ra lo juga siswa"
"Ngomong apaan si lo, kaga jelas banget.. Hooaammm"
"Nih, Cuci muka dulu biar sadar"
Fany mencipratkan air ke wajah nya.
"Apaan si Fan..."
"Lo semalem udah MP?"
"MP?"
"Jangan pura-pura nggak tau deh Ra, udah kan, atau jangan-jangan ngelakuin udah lama"
"Apaan"
"Malam pertama" ucap Fany berbisik.
Zahra melototkan matanya kepada Fany.
"Nggak usah melotot gitu"
"Lo ngomong apaan si Fan, nggak dan belum pernah sama sekali"
"Terus lo semalam nggak tidur kenapa"
"Aduh, gimana ya masa iya gue ngomong aib gue sendiri"
"Terus"
"Suatu saat pasti lo paham. Tapi jangan mikir macem-macem. Awas lo. Cabut yuk"
"Eehh.. Ra.. Ceritain dong pengalaman pertama lo Ra..."
Zahra membuka kunci kamar mandi tanpa memperdulikan Fany. Fany terpaksa mengejarnya sampai ke kelas. Saat mereka sampai di kelas, bel sudah masuk, tetapi guru belum masuk.
"Ra, lo udah denger kan Kak Leon meninggal, dia kenapa si"
"Nggak mungkin gue cerita soal ini"
"Gue nggak tau, eh.. Gue harus nganterin ini. Temenin yuk"
Kebetulan waktu Zahra berdiri guru mapel bahasa Inggris masuk dan memerintahkan semua murid untuk duduk termasuk Zahra dan Fany yang hendak beranjak dari tempat duduknya.
"Anak-anak, guru baru mapel Agama sudah datang. Silahkan pak.."
Guru baru itu pun masuk dengan setelan seragam guru. Setelah itu dia pun memperkenalkan dirinya.
"Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh"
"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh" jawab semua murid.
"Perkenalkan nama saya pak Candra, guru baru kalian. Semoga kalian bisa nyaman diajar dengan saya."
"Iya, ini adalah pak Candra. Guru baru agama kalian. Pak, untuk materi yang di berikan minggu lalu, bapak bisa tanyakan kepada Zahra"
"Zahra, kelas berapa dia"
"Kebetulan dia di kelas ini pak. Itu dia pak"
Pak Candra mencari anak yang di tunjuk guru bahasa inggris dan Zahra pun otomatis mengangkat tangannya.
"Baik, Zahra setelah ini ikut bapak. Saya pinjam sebentar bu"
"Iya silahkan pak."
"Kalau begitu saya permisi"
"Iya pak. Zahra..."
"Iya bu"
"Ikut pak Candra ke kantor"
"I-iya bu"
Zahra menarik Fany namun Fany menggeleng.
"Jangan Ra, kelihatannya dia galak"
"Temenin lah"
"Nggak ra, jangan gue"
"Isshh"
"Zahra, cepat.. Lagi di tungguin itu"
"I-iya bu"
"Ayo Fanu" ucap Fany sambil menarik tangannya.
"Sendiri saja Zahra"
" Iya bu"
__ADS_1
//**//
Aku kasih bonus nih, di hari weekend, maka dari itu up nya malem. Seharusnya kemarin, tapi hari minggu nya sekarang jadi Author kasih sekarang. Biasanya Author up cuma sampai 1000 kata, dan alhamdulillah ini aku bisa kasih lebih. Terimakasih sudah membaca, tunggu part selanjutnya.