
Keesokan paginya Zahra bangun lebih awal dari teman-temannya dan memulai sholat subuh dan berbaring lagi di tengah teman-teman nya yang masih tertidur sambil menonton televisi yang tersedia.
Sudah pukul setengah 6, Zahra memutuskan untuk mandi dan bersiap menggunakan seragam osis nya sesuai dengan apa yang di perintah kan. Setelah Zahra siap dia baru membangunkan teman-teman nya.
"Bangunnn eeyyy.. Malah masih molor aja... Kalian semua kebo (kerbau) emang, bangun nanti kita ketinggalan bus"
"Uuummm... Bus.. Mana bus" ucap Intan kaget.
"Brisik banget si" ucap Erina.
Sedangkan Fany masih terlelap.
"Dasar emang kalian, mandi cepet kita sarapan terus mulai kunjungan.. Malah molor mulu"
"Jam berapa si sekarang" ucap Fany dengan nada terkantuk.
"Jam setengah 7, setengah jam lagi kita di suruh sarapan, jam 8 kita berangkat... Ayo cepetan"
"What udah jam setengah 7, ya ampun kenapa nggak bangunin kami" ucap Erina.
"Lagian kalian juga si, kebo banget, di bangunin dari tadi juga padahal gue liat tv keras kalian masih nggak bangun... Ya ampun."
"Udah jangan berantem cepetan ayo mandi" ucap Intan.
"Gue dulu" ucap Erina yang langsung menyambar handuk yang tergantung.
Pukul 7 seperempat, mereka berempat baru keluar dari kamar untuk bersiap makan pagi di lantai 13. Sebagian siswa dari lantai 14 hingga 24 di arahkan untuk makan di lantai 13 dan sebagian lagi di lantai 2 sesuai dengan kebijakan dari hotel.
Zahra dan Fany duduk di meja nomor 224 yang tak jauh dari meja Hanan. Tak ada percakapan di pagi hari layaknya di rumah. Bahkan mereka tak saling menyapa satu sama lain. Mereka hanya sibuk dengan teman-teman mereka masing-masing.
"Eh Ra, lo kan tinggal sama pak Hanan, gimana rasanya asik nggak? Suka di kasih apa sama pak Hanan? Orang tua baru lo baik nggak? Nyaman nggak Ra tinggal sama pak Hanan" ucap Intan bertubi-tubi.
"Satu satu dong tanyanya, gue bingung jawab mana dulu"
"Intinya gimana tinggal sama pak Hanan"
"Seneng, di sayang layaknya anak kandung dan adik kandung dan gue merasakan kasih sayang yang bertubi-tubi dari keluarga itu hingga gue nggak ngerasa bahwa gue itu sendiri"
"Rumahnya gimana"
"Sederhana si, nggak gede gede amat" ucap nya dengan tenang karena pertanyaan ini sudah pasti akan di tanyakan.
"Sederhana apanya" ucap Fany.
"Ya sederhana kan, cuma tingkat 2" ucap Zahra sambil menendang kaki Fany.
"Oouucchh" keluh Fany sambil mengusap kakinya.
"Kena karma tuh" ucap Zahra.
"Kenapa, Fany ngapain kamu" ucap Kirana.
"Tadi malam nendang aku pas lagi tidur" bohong nya.
"Yang ada lo kali ra nendang gue"
"Udah diem kalau gini terus kapan kelar makannya"
Setelah mereka makan, mereka pun diarahkan untuk menuju ke bus dan duduk di bangku nya masing masing.
"Loh pak Agus, pak Hanan mana, tanya Zahra"
"Di tukar di bus PBS, kamu tenang saja besok kamu sama pak Hanan lagi kok" jawabnya.
Guru guru yang ada di samping nya hanya tersenyum senyum mendengar nya.
"Zahra, gimana tinggal sama pak Hanan, seneng kan, nyaman kan" tanyanya.
"Alhamdulillah iya pak"
"Syukurlah"
Memang benar jika dia di tukar dengan kelas PBS karena jurusan yang berbeda dan seperti tahun tahun sebelumnya dia selalu mendampingi kelas PBS. Akhirnya Zahra memutuskan untuk menghubungi nya.
__ADS_1
^^^Zahra^^^
^^^Mas^^^
Mas Hanan 😇
Maafin mas Ra, mas nggak bisa nemenin kamu.
^^^Zahra^^^
^^^Ngga papa, besok di sini kan?^^^
Mas Hanan 😇
InsyaAllah ya
^^^Zahra^^^
^^^Ya sudah mas, hati-hati..^^^
Mas Hanan 😇
Kamu juga 👋
Bukannya senang jauh dari orang menyebalkan bagi Zahra, namun rasa cinta nya yang mulai tumbuh tidak menginginkannya untuk jauh dari Hanan saat ini. Seharusnya hari dimana dia harus lebih dekat membuat mereka terpisah karena sebuah alasan yang membuat mereka terpisah.
"Eh, bengong aja, kenapa si, gara gara nggak ada pak Hanan ya"
"Sssttttt, jangan kenceng kenceng ngomong nya"
"Iya maap maap.. "
Zahra kembali terdiam lalu memutuskan untuk memakan camilan. Tujuan pertama mereka saat ini adalah ke studio tv salah satu di Jakarta. Sedangkan Hanan ke salah satu Bank Muamalah. Tujuan selanjutnya, Zahra menuju ke salah satu percetakan buku, sedangkan Hanan menuju ke Bank Syariah. Semakin jauh jarak mereka saat ini.
"Zahra, mau turun nggak"
"Nggak lah, gue cape banget. Laper lagi, kita dari tadi belum makan siang"
"Ya udah gue ngikut"
"Nggak, kalian aja. Gue lemes banget"
"Kamu nggak turun Ra" ucap pak Agus.
"Nggak pak, lemes banget pengen makan. Udah telat 2 jam dari waktu makan siang jadi rasanya lemes"
"Ya sudah, kamu tunggu di mobil aja. Fany ayo turun"
"Tapi pak kasian Zahra sendirian"
"Udah nggak papa, sana Fan gabung sama Erina dan Intan."
"Iya beneran. Ilmunya jangan lupa nanti di bagi oke"
"Iya Ra, cepat sembuh ya"
Zahra mengangguk dan memutuskan untuk tidur sejenak. Sudah setengah jam berlalu, perut Zahra semakin tak karuan, namun dia berusaha untuk tidak mengeluarkan nya. Sungguh bosan di bus sendirian, namun setelah ada yang memanggil nya dia langsung terperanjat senang.
"Zahra"
"Mas Hanan" ucap nya dengan senang.
Hanan tersenyum lalu duduk di sampingnya.
"Ini kotak makan ke bawa sama bus yang do tumpangi mas, kamu lapar kan. Cepat makan mas mau pindahin yang di mobil dulu"
"Iya mas"
Zahra membuka kotak makanya dan mulai memakannya dengan lahap. Hanan hanya sibuk memindahkan kotak makan ke bus Zahra. Setelah selesai, dia duduk di samping Zahra dan memberikan susu kotak untuk Zahra.
"Makasih mas, mas udah makan"
"Belum, mas nanti aja"
__ADS_1
Zahra kembali menyendok makanannya, namun bukan untuknya melainkan untuk Hanan.
"Mas" panggil Zahra.
Hanan yang sedang memainkan ponselnya melihat ke arah Zahra. Zahra hanya mengisyaratkan matanya sambil melirik sendok yang di pegang nya. Hanan yang paham tanpa ragu dia juga memakannya.
Setelah mereka selesai makan bersama, Hanan membuang kotak makannya, dan Zahra memutuskan untuk keluar dari bus untuk mencari udara segar.
"Zahra, tolongin mas fotoin kayak lagi nyetir bus"
"Iya sini handphone nya"
Zahra memotret beberapa gaya lalu duduk di bangku Hanan.
"Mas foto yuk, kamera mas bagus"
"Mau mas fotoin, sini"
"Fotbar ayo"
"Iya iya"
Zahra memegang handphone nya dan "Cekrek" sebuah foto dia dapatkan.
"Eh mas, kok ngadep sana si. Kamera nya kan di sini"
"Maaf, tadi kirain udah pada keluar"
"Sekali lagi ayo"
"Iya iya"
Zahra dan Hanan berpose dengan dua jari di si samping pipi dan satunya, sambil memegang dagu.
"Nah gini. Nanti share ya mas"
"Iya"
Zahra menggeser geser foto yang Hanan ambil saat di Bank, lalu tak sengaja dia menemukan foto kedekatan Hanan dan Hendra.
"Ih mas, dulu sering banget deket sama bang Hendra ya, liburan aja bareng"
"Iya, ini dulu waktu kami ke pantai"
Geser lagi
"Ini lagi ngapain mas, kok bang Hendra dorong mas"
"Ini kalau nggak salah mas di suruh ngambil apa ya, mas lupa"
"Yayaya"
Geser lagi
"Ini mas, hahahaha"
"Mas Hanan ganteng juga di foto"
"Iya, kenapa"
"Cute"
Geser lagi
"Ini waktu bang Hendra di suruh sama mbak Wina nginep di rumah mas, waktu lagi mengandung Indri"
"Ngidam ya mas, hehehe kok ada si, biasanya kan kepenginnya deket kok ini malah di suruh nginep.. "
" Nggak tau, tapi bang Hendra juga waktu itu nggak mau tidur di kamar lain, pengen nya tidur sama mas... Kayaknya ngidam juga"
"Hahaha... Udah lah mas, terlalu banyak cerita, nanti nggak selesai. Anak-anak juga kayaknya udah kembali."
Zahra dan Hanan pun turun dari bus. Zahra langsung di gandeng Fany dan dia ajak berfoto bersama dengan yang lain. Perjalanan berikut nya adalah mereka menuju ke studio tv live. Dan kali ini Zahra dan Hanan tidak terpisah lagi.
__ADS_1
//**//